
"Raya..."Pekik Namesya saat melihat Raya yang berdiri di balik pintu apartemennya yang baru saja ia buka.
Raya tersenyum melihat wajah Namesya dengan ekspresi terkejut bercampur bahagia karena kepulangannya. Dua wanita itu saling bertukar pelukan hangat dan rindu karena perpisahan singkat yang terasa lambat bagi keduanya.
"Akhirnya kamu di bebasin sama Arlan..."kata Namesya setelah mengendurkan pelukannya,"tapi kamu ngga diapa-apain kan sama dia?"selidiknya seraya memperhatikan Raya dengan cermat.
"Aku baik-baik aja..."balas Raya.
Itu adalah hari setelah Raya sembuh dari sakitnya selama di villa. Dan Arlan menepati janjinya membebaskan Raya setelah wanita itu benar-benar sembuh. Sekarang Raya telah kembali ke Apartemen Namesya.
"Apa dia membiarkanmu pulang sendiri? Atau pengikutnya yang mengantarmu?"tanya Namesya.
"Boleh ngga kalau aku jelasinnya di dalam? masa temannya baru bebas dari dekapan dibiarin berdiri di depan pintu terus."Kata Raya mengingatkan Namesya jika mereka masih berada di ambang pintu.
"Ukh."Namesya menepuk dahinya dan tersenyum,"Maaf. Aku terlalu senang kamu kembali sampai lupa mengajakmu masuk."ujarnya.
Mereka masuk dan Raya mulai menceritakan semua yang dialaminya di villa Arlan selama tinggal di sana. Dan Namesya tentu menjadi pendengar yang baik dan membiarkan Raya menceritakan semuanya hingga Arlan membiarkan Raya bebas dari villa lelaki itu.
"Katanya sebenarnya yang semula dijodohkan denganku itu Arlan, bukan Hiro."Jelas Raya di akhir ceritanya.
"Bagaimana bisa begitu?"tanya Namesya.
Raya mengedikkan bahu,"Entahlah. Katanya perusahaan keluarga Hiro punya masalah dan memiliki banyak hutang. Dan itu membuat Arlan meminta Hiro yang menggantikan perjodohan itu dengan keluargaku."
Kepala Namesya mengangguk sebelum menghela napas dan kembali memeluk Raya,"Yang terpenting sekarang kamu sudah lepas dari Hiro. Setidaknya Arlan tidak memperlakukanmu dengan buruk selama kamu di sana."
"Tapi dia menitipkan ini untukmu."Raya mengeluarkan secarik undangan pada Namesya.
"Bukankah ini undangan untuk acara ulang tahun perusahaan. Kenapa dia mengundangku? sudah jelas aku karyawannya tentu saja aku akan datang karena aku punya tugas dalam kelangsungan acara."Namesya mengamati sampul undangan itu sembari membukanya.
"Dia mengundangmu bukan sebagai karyawannya. Tapi kamu diundang sebagai seorang tamu di sana."kata Raya menjelaskan mengenai maksud Arlan memberikan Namesya undangan.
Namesya menggaruk pelipisnya karena bingung dengan jalan pemikiran Arlan,"Dasar laki-laki aneh. Mengundang karyawan sendiri yang jelas-jelas sudah pasti akan datang bertugas di sana."komentar Namesya.
"Melihat jenis undangannya... Seharusnya itu undangan untuk orang-orang penting perusahaan."kata Raya setelah mengamati jenis undangan yang diperuntukkan Namesya.
"Terserahlah. Aku tak peduli dengan jenis undangan seperti itu. Aku hanya menganggap dia sedang membuat lelucon denganku. itu saja."kata Namesya.
"Ah. Sudahlah. Mungkin dia punya maksud sendiri kenapa dia mengundangmu seperti ini. Yang terpenting sekarang pikirkan apa yang akan kau kenakan nanti saat pesta."timpal Raya.
"Aku ada beberapa gaun yang mungkin cocok."kata Namesya dengan wajah ragu, mengingat dirinya tak membawa banyak gaun ke apartemennya.
"Pakai yang baru dan yang lebih mewah."kata Raya.
"Buang-buang uang."komentar Namesya.
"Dasar pelit."Raya mengolok Namesya.
"Yah... Sekarang pepatah sudah aku ganti dari Hemat pangkal kaya menjadi pelit pangkal kaya."balas Namesya sebelum tertawa kecil karena gurauannya sendiri.
"Kau pelit maka hidupmu akan semakin sulit."Raya tak mau kalah dan ikut menimpali.
Kedua wanita itu tertawa bersama sebelum sama-sama berhenti tertawa saat pintu kamar Namesya terbuka dari dalam.
"Eh."Raya menatap Namesya setelah melihat Alfin yang baru keluar dari kamar Namesya,"Apa kalian tidur bersama?"bisiknya.
"Ya."Jawab Namesya dengan entengnya, karena kenyataannya memang demikian.
"Apa kalian sudah..."Raya menyatukan kedua telunjuknya sebagai isyarat,"Melakukannya juga?"
"Gila."umpat Namesya seraya menampik tangan Raya,"Tidak. Kami tidak melakukan apapun."imbuhnya.
Raya menyipitkan mata menatap Namesya dan sekilas melihat kearah Alfin yang sedang membuka kulkas mengambil air. Laki-laki itu tampak tak peduli dengan keberadaan Raya di sana."Benarkah?"tanyanya kemudian.
pluk
Namesya menimpuk kepala Raya dan berkata,"Kosongkan pikiran kotormu itu. Dia tidak seperti apa yang kau pikirkan."
"Ya. ya... terserah kau saja."balas Raya.
"Oh ya. Apa kau sudah mengetahuinya?"tanya Namesya.
"Apa?"tanya Raya.
"Tentang siswa legendaris di sekolah kita dulu."kata Namesya.
__ADS_1
"Oh... Itu."gumam Raya.
"Dia Arlan."kata Namesya.
"Hah. Arlan."timpal Raya tampak tak percaya,"Tapi Dia bilang kalau yang menjadi siswa legendaris itu Alfin, pacar Doktermu itu."lanjutnya seraya menggerakkan dagu menunjuk Alfin yang tampak sedang berkutat dengan peralatan masak di dapur minimalis Namesya.
"Dia bilang kalau yang jadi siswa legendaris itu Arlan."Timpal Namesya sesuai dengan apa yang diceritakan Alfin.
"Jadi, siapa yang berbohong di antara mereka?"Raya menatap Alfin dengan kening berkerut samar.
"Ah. Sudahlah. Ngapain dibikin pusing. Ngga penting siapa diantara mereka yang menjadi siswa legendarisnya. Yang penting sekarang Alfin punyaku dan Arlan punyamu.'balas Namesya.
"Eh. Sejak kapan dia menjadi punyaku. Hem."Balas Raya seraya bangun dari sofa tanpa berani membalas tatapan Namesya yang tersenyum penuh arti padanya.
Raya bergegas menuju kamar sedangkan Namesya menggelengkan kepala dan ikut bangun dari sofa untuk menghampiri Alfin yang sedang membuat sarapan.
"Lagi bikin apaan sih? Serius banget sampe ngga sempet nyapa sahabat pacarnya."kata Namesya yang sudah memeluk Alfin dari belakang.
"Nanti kamu cemburu kalau aku nyapa temenmu."balas Alfin seraya membiarkan kepala Namesya menyembul dibawah ketiaknya, melihat wajah kekasihnya dan mengecup bibir Namesya sekilas.
"Ish. Kalau nyapa Raya aku ngga cemburu. Tapi kalau yang kamu sapa itu cewek seksi yang kaya kemarin aku cemburu."balas Namesya mengingat saat Alfin memberikan senyumnya pada Sherly di rumah sakit kemarin.
"Cemburunya sama Sherly..."goda Alfin,"Dia itu ke sana mau nemuin Feres. Dia ke rumah sakit ya buat ketemu sama Feres lah."imbuhnya menjabarkan kemustahilan yang tidak mungkin terjadi.
Namesya masih tetap memeluk Alfin dari belakang dan menyembulkan kepala di bawah lengan lelaki itu, dengan bibir cemberut.
"Jangan cemberut terus dong... Nanti aku cium lagi mau. Atau aku gendong ke kamar."goda Alfin.
"Ih. Apaan sih."protes Namesya seraya mencubit pinggang Alfin dengan wajah tersipu malu.
"Jadi gimana?"tanya Alfin mempertanyakan hal yang tidak jelas.
"Apanya?"tanya Namesya.
Alfin mendekatkan wajah untuk berbisik di telinga Namesya,"Kapan kita nikah?"
Alhasil Namesya melepaskan pelukannya dan hanya mencium pipi Alfin sebelum meninggalkan lelaki itu menuju ke kamar.
####
Malam pesta ulang tahun perusahaan pun tiba. Suasana begitu meriah dan gemerlap. Tanpa tahu alasannya, Namesya benar-benar tak mendapatkan tugas apapun dari perusahaan dalam pelaksanaan acara. Menjadi terasa misterius untuk diabaikan begitu saja. Akhirnya Namesya memenuhi undangan itu dan datang bersama Alfin.
"Selamat datang nona Mesya."Tirta datang menyapa.
Namesya menyipitkan mata menatap Tirta,"Aku benar-benar datang sebagai tamu Tuan Asisten."katanya.
Tirta hanya tersenyum kecil dan memberikan isyarat agar Namesya menuju meja tamu yang dikhususkan untuk tamu istimewa.
"Aku curiga. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di dalam kepala kepala mereka."kata Namesya setelah duduk di kursi.
"Kita lihat saja nanti. Aku juga tidak tahu kenapa Arlan mengundangku."balas Alfin.
"Sekalipun dia tidak mengundangmu, kau juga pasti akan datang bersamaku."timpal Namesya.
"Tentu saja. Hanya aku yang boleh menjadi pasanganmu di pesta manapun."balas Alfin.
Namesya tersenyum kecil dan mengusap pipi Alfin, lelaki itu tak kalah romantis juga mengecup punggung tangan Namesya. Kelakuan mereka memang seakan tak ada orang lain di sekitar mereka saat ini.
"Ini seperti Reuni kecil-kecilan."komentar Alfin pada akhirnya.
"Hmmm... Yah. Kurasa juga begitu. Kita berempat pernah sekolah di sekolah yang sama."balas Namesya.
"Tidak hanya kita berempat. Ada Tirta juga Kakakmu juga."balas Alfin seraya menggerakkan dagu ke arah Kevin yang terlihat baru memasuki aula pesta bersama seorang wanita yang mengenakan hijab.
"Ah. Aku melupakan mereka."Gumam Namesya.
"Apa Kakakmu menyuruh Andin untuk berhijab?"tanya Alfin.
"Tidak tahu. Setahuku Kak Kevin tidak pernah menuntut apapun untuk penampilan kekasihnya. Mungkin itu kemauan kak Andin sendiri."balas Namesya,"Apa kau juga ingin aku berhijab seperti kak Andin?"tanyanya.
Alfin menatap Namesya dan mengusap pipinya,"Aku juga tidak akan menuntut apapun untuk penampilanmu. Aku hanya akan mendukung apapun keinginanmu. Apa yang membuatmu nyaman maka lakukanlah selama itu baik."
"Terimakasih."Lirih Namesya.
"Terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku."balas Alfin.
__ADS_1
Mungkin saat ini akan ada emoticon hati bertebaran saat Alfin dan Namesya saling menatap, tak hanya emoticon hati, mungkin ada bunga-bunga bertebaran yang entah darimana datangnya, ada simbol matahari menyinari keduanya di dalam ruangan tertutup di waktu malam.
"Boleh kakak gabung di sini?"Suara Kevin memecah semua emoticon dan simbol-simbol cinta lainnya yang ada di sekitar Alfin dan Namesya.
"Eh. Kak Andin."Namesya menyapa Andin yang tampak begitu cantik dan bersinar karena mengenakan hijab.
Andin duduk di kursi yang dekat dengan Namesya,"Kau sudah lama?"tanya Andin.
"Belum juga."Balas Namesya.
Dua pasang kekasih itu terlibat dalam obrolan masing-masing. Sampai kehadiran Arlan dan Raya menyita perhatian para tamu undangan yang hadir. Selama perusahaan dipimpin oleh Arlan, ini adalah malam pertama Arlan mengadakan pesta untuk perusahaan di waktu malam. Sebelumnya pesta akan diadakan di siang hari, perubahan ini cukup membuat beberapa orang penasaran.
Setelah kedatangan mereka cukup menyita perhatian. Acarapun resmi di mulai dengan suara pembawa acara yang menuntun serentet acara. Setelah Ayah Arlan memberikan sambutan sebagai pemilik perusahaan tibalah giliran Arlan sendiri yang memberikan sambutan.
Setelah mengucapkan beberapa patah kata sambutannya, Arlan lanjut memperkenalkan Raya yang duduk di kursi memperhatikan lelaki itu.
"Mungkin kalian bertanya-tanya siapa wanita yang datang bersamaku malam ini."kata Arlan,"Maka aku di sini akan memperkenalkannya pada kalian semua."lelaki itu membawa mix turun dari panggung dan menghampiri Raya yang duduk kebingungan di sana karena apa yang dilakukan Arlan saat ini sama sekali tidak terpikirkan oleh Raya.
"Apa yang kau lakukan? Kau hanya memintaku menemanimu. Jangan berulah lagi."kata Raya dengan gigi terkatup sembari berusaha tetap tersenyum kecil karena menjadi pusat perhatian.
Arlan pun mendekat untuk berbisik,"Bukankah kau seharusnya menjadi istriku sejak lama. Jadi aku akan mewujudkannya dengan segera."
Raya membolakan matanya dan menatap tatapan Arlan yang menatapnya serius.
"Oke semuanya dengarkan aku."Arlan mulai berbicara menggunakan mixnya, melayangkan pandangannya menatap wajah kelabu semua orang dan kembali menatap wajah raya yang tetap berwarna dalam pandangannya,"Perkenalkan. Wanita ini adalah seseorang yang tetap berwarna meski semuanya terlihat kelabu. Dia adalah Soraya, Satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku."kata Arlan seraya menatap Raya dengan pasti, mengunci tatapan Raya dengan tatapannya.
"Bukankah selama ini kau selalu berharap ingin bertemu denganku."bisik Arlan lagi.
"Apa maksudmu?"tanya Raya.
Arlan tersenyum dan merapihkan anak rambut Raya, lanjut membelai pipi wanita itu,"Bukankah kau selalu ingin bertemu dengan siswa legendaris itu."katanya.
"Bukankah katamu..."Raya menoleh kearah Namesya dan Alfin,"Katamu siswa itu Alfin."
"Tapi Aku yang kau cari."timpal Arlan sebelum meraih wajah Raya dan mencium bibir wanita itu, cukup untuk membuat raya terkejut tanpa memberikan penolakan yang hanya akan sia-sia.
Sebab kenyataannya, Raya merasa bahagia saat ini. Wanita itu tak bisa memungkiri perasaannya sendiri.
"Jadi bagaimana?"tanya Arlan setelah lelaki itu melepas ciumannya.
"hah."Seperti orang linglung, Raya menatap Arlan bingung.
"Jadi satu-satunya wanitaku."balas Arlan.
"Itu... Aku..."Raya tak tahu harus berkata apa.
"Baiklah. Aku anggap jawabanmu adalah iya."Kata Arlan.
Raya menghela napas,"Terserah."gumamnya.
Setelah sesi singkat momen Arlan dan Raya, Arlanpun menjawab rasa penasaran yang pasti sedang dirasakan Namesya mengenai undangan yang laki-laki itu titipkan pada Raya.
"Dan untuk nona bergaun putih di sana."Arlan menunjuk Namesya,"Saya akan berikan jawaban atas rasa penasaran Anda mengenai undangan yang saya berikan untuk anda."
Namesya menoleh menatap Alfin, Kevin dan Andin. Semakin penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Arlan selanjutnya.
"Mulai hari ini. Anda telah menjadi pemegang saham tertinggi setelah saya tentunya. Dalam acara ini saya akan mengangkat anda menjadi CEO perusahaan."
Ucapan Arlan benar-benar membuat Namesya hanya semakin kebingungan. Dirinya yang hanya baru beberapa waktu menjadi seorang sekretaris tiba-tiba telah di tunjuk untuk menjadi CEO sekaligus memiliki jumlah saham tertinggi setelah Arlan.
"Apa maksudnya ini?"tanya Namesya, ia menatap orang-orang di sekitarnya.
"Untuk penjelasannya akan saya jelaskan dalam rapat seluruh pemegang saham Minggu depan."imbuh Arlan,"Malam ini cukup nikmati semua yang sudah ada dalam pesta ini."
Tanpa memberikan penjelasan apapun, Arlan pergi membawa Raya keluar dari pesta itu setelah menyerahkan mix dan membiarkan pesta lanjut di pimpin oleh ayah lelaki itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
😊😊😊😊