Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
3M


__ADS_3

Seutas benang takdir telah mengikat dua hati, di mana akan ada perasaan rindu saat jarak memisahkan, ada rasa sakit saat harus terpaksa berpisah, ada rasa bahagia saat kembali bersama, dan akan ada duka saat maut yang menjadi jalan mereka untuk berpisah.


Alfin telah merasakan rasa rindunya saat lelaki itu jauh dari Namesya, perasaan yang awalnya ia sangkal dan berusaha ia tolak semakin menjadi dan semakin tumbuh. Hingga lelaki itu memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Namun, jarak kembali membuat mereka harus berpisah karena Namesya memutuskan untuk kembali ke apartemen gadis itu sendiri. Tak ada alasan untuk Alfin berkunjung ke apartemen Namesya selama gadis itu belum menerima pengakuannya.


"Dokter tidak perlu mengantarku."Cegah Namesya saat Alfin ingin ikut mengantarnya kembali ke apartemen bersama Andin.


"Tidak. Aku akan mengemudi di belakang kalian. Aku harus memastikan kalian pergi dengan aman."bantah Alfin.


"Sudahlah. Biarkan saja dia mengawal kita. Dia akan susah dibujuk kalau sudah punya keinginan."kata Andin menengahi.


Namesya menatap Alfin dan Andin bergantian,"hhhh..."ia menghela napas,"Ya sudah."gumamnya dan bergegas memasuki mobil Andin.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka tiba di depan gedung apartemen Namesya. Alfin sudah keluar dari mobil saat hendak mengikuti Namesya, namun panggilan dari rumah sakit membuatnya tak bisa melancarkan keinginannya mengantar Namesya sampai ke depan pintu apartemen gadis itu.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai ke atas."kata Alfin setelah panggilan dari rumah sakit berakhir.


"Ada kak Andin. Dan lagi aku bukan anak kecil yang harus dokter jaga kemanapun aku pergi."ujar Namesya.


"Aku tahu."gumam Alfin.


"Sudah. Cepat sana pergi."perintah Andin,"ada aku di sini."


"Baiklah. Aku pergi."Alfin hendak membalikkan tubuhnya, namun kembali pada posisi awal menatap Namesya sebelum mengulurkan tangannya menyentuh rambut Namesya,"Aku terpaksa melepasmu sekarang. Aku akan menanti jawabanmu dan menunggu keputusanmu."katanya seakan tidak peduli akan keberadaan Andin di sana yang terlihat bingung dengan sikap Alfin serta perlakuan laki-laki itu, tapi kemudian wanita itu tersenyum setelah mengerti maksud dari apa yang terjadi di hadapannya saat ini.


"Dokter akan terlambat."lirih Namesya yang berusaha sekuat hatinya agar tidak terlena dengan sikap Alfin, di tambah lagi gadis itu masih terpikir akan keberadaan Andin di sana,"Ayo kak kita naik."Gadis itu beralih menatap Andin seolah ingin memberitahu Alfin, 'disana masih ada Andin. Pasti akan timbul banyak pertanyaan dalam pikiran andin'


Dengan perasaan tak rela membiarkan Namesya pindah lagi ke apartemen, Alfin melangkah pergi dari tempat itu dan langsung meluncur menuju rumah sakit.


###


Tibanya di apartemen, Namesya cukup tercengang melihat tata ruangan di sana belum di ubah kembali oleh Alfin. Masih ada banyak barang-barang laki-laki itu di sana seperti foto, sandal, bahkan pakaian laki-laki itu masih tergantung di dalam lemarinya.


"Hhhh... Dia benar-benar sudah terlanjur betah tinggal di sini."komentar Andin seraya merebahkan diri di tempat tidur Namesya yang dibalut sprei warna biru langit dengan motif gambar Doraemon.


"Dia bahkan memakai spreiku."gumam Namesya menyadari Alfin memasang sprei milik gadis itu.


"Apa kamu membeli apartemen ini sendiri?"tanya Andin.


"mmm..."Namesya menggaruk belakang telinganya,"Tidak juga. Kak Kevin ikut andil saat aku membeli tempat ini. Dia yang merekomendasikan tempat ini. Dia juga ikut membayar separuh harga dari apartemen ini."


Andin sudah duduk di tepi tempat tidur dan mengangguk mendengar penjelasan Namesya,"Kakakmu sangat menyayangimu."komentarnya mengenai Kevin.


"Saking sayangnya dia sangat posesif padaku. Saking sayangnya dia akan selalu mengajakku ikut jalan-jalan saat dia sedang jalan-jalan dengan pacarnya. Aku sampai merasa seperti orang ketiga yang mengganggu waktu berdua mereka. Huh."kata Namesya mengingat beberapa kenangannya setiap kali pergi bersama Kevin dan Tasya, Namesya selalu menolak ajakan Kevin untuk ikut bertamasya, namun kakaknya itu tidak pernah mengindahkan penolakannya.


"Oh... Jadi kakakmu sudah punya pacar."komentar Andin seraya berdiri dari duduknya dan melangkah menuju jendela kamar itu.


"Tapi sudah meninggal. Belum lama. Karena kecelakaan."tutur Namesya yang sedari awal hanya duduk di sofa kecil kamarnya.


Andin menoleh menatap Namesya,"Oh. Aku turut berduka."ujarnya.


Namesya mengedikkan bahunya sebelum beranjak bangun dan merebahkan diri ke tempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya, menghirup udara kamarnya dengan mata terpejam, Indra penciumannya membuatnya merasakan adanya perbedaan aroma kamarnya.


"Aroma ini..."gumamnya seraya mengendus tempat tidurnya, di sana ia baru menyadari akan keberadaan kemeja Alfin yang tergeletak di dekat bantal.


"Mesya."Panggil Andin.


"Ya."balas Namesya yang tidak jadi mengambil kemeja Alfin.


"Ponsel kamu tuh getar terus."Andin menggerakkan dagunya ke arah meja tempat keberadaan ponsel Namesya.


"Oh."gumam Namesya sebelum beranjak dari tempat tidurnya,"Arumi."gumamnya lagi saat melihat nama kontak Arumi yang menghubunginya.


"Aku pinjam toilet."pamit Andin sebelum pergi ke arah pintu kamar mandi yang ada di kamar itu.


Namesya mengangguk sebelum menjawab panggilan Arumi,"Ya. Arumi."sapanya.


"Kak Mesya ngga di rumah?"tanya gadis itu.


"Ah. Aku lupa kasih tahu kamu."Namesya menepuk dahinya sendiri karena kemarin lupa tidak memberitahu Arumi tentang rencana kepindahannya.


"Ada apa?"tanya Arumi.


"Begini Aku sudah pindah ke apartemenku. Aku lupa kasih tahu kamu kemarin."jawab Namesya.


"Oh... Kak Mesya sudah pindah ke apartemen. Aku kira kak Mesya lagi pergi kemana."ujar Arumi,"boleh minta alamat apartemennya ngga?"tanyanya.


"Boleh dong. Nanti aku sharelock ya."balas Namesya.


"Oke. Ya udah kak Aku mau lanjut kerja."pamit Arumi.


"Loh. Emang hari ini kami ada jadwal kerja di rumah dokter Alfin?"tanya Namesya.


"Ah... itu... Aku... Aku pindah ke rumah dokter Feres. Tapi jangan bilang bibi ya. Soalnya bibi masih belum kasih aku ijin buat terima kerjaan ini."kata Arumi.


"Oh... Tapi kamu kok tahu q ngga di rumah?"tanya Namesya.


"Tadi mampir aja kak. Bibi nitip makanan."jawab Arumi.

__ADS_1


"Oh... Ya udah. Kalau gitu kamu lanjut kerja. Hati-hati ya."kata Namesya.


"Ya kak. Jangan lupa alamatnya."balas Arumi tak lupa mengingatkan Namesya untuk memberinya alamat apartemen pada Arumi.


Namesya langsung mengirimkan alamat tempat tinggalnya pada Arumi sebelum melanjutkan aktifitasnya untuk membenahi kembali apartemennya.


##


"Gimana udah dapet alamatnya?"


Arumi menatap wanita paruh baya di sampingnya yang sejak awal menguping pembicaraannya dengan Namesya. Siapa lagi kalau bukan Meylani. Gadis itu tersenyum dan langsung membuka pesan yang baru saja terkirim dari Namesya.


"Sudah nyonya."jawab Arumi seraya menyodorkan ponselnya.


"Ih kamu ini. Jangan panggil nyonya. Panggil Tante aja. Tante ngga terlalu suka di panggil nyonya begitu."oceh Meylani pada Arumi.


"Maaf nyo-eh. Tante."lirih Arumi.


"Nah gitu."ujar Meylani seraya melihat pesan Namesya yang menuliskan alamat apartemen gadis itu pada Arumi.


Nyatanya Arumi tidak sedang di rumah Feres, tapi sedang berada di cafe bersama Meylani. Tapi tentang makanan yang di bawa Arumi memanglah benar adanya. Gadis itu membawa masakan bibinya untuk di bawanya ke rumah Alfin, namun saat tiba di rumah Alfin tidak ada orang lain selain ibu Alfin yang kebingungan karena mendapati kamar Namesya yang sudah kosong.


Alhasil, Meylani menyuruh Arumi menghubungi Namesya untuk menanyakan alamat rumah Namesya saat ini.


"Oke. Nanti kita kesana sama-sama. Tante mau kasih surprise."kata Meylani seraya menyerahkan ponsel Arumi.


"Maaf Tante. Kayaknya Arumi ngga bisa ikut. Arumi mesti pergi ke rumah dokter Feres."tolak Arumi.


"Oh... Begitu yah. Hmmm... ya sudahlah."ujar Meylani,"tapi kamu ngga usah khawatir. Mesya ngga akan marah kok sama kamu meskipun kamu kasih bocoran alamatnya sama Tante."imbuhnya mengingat sebelumnya Arumi mengungkapkan kekhawatirannya jika Namesya akan marah jika ia memberitahu alamat Namesya tanpa sepengetahuan gadis itu.


"iya Tante."balas Arumi,"Kalau begitu Arumi pamit pergi sekarang Tante."pamitnya.


"Ya sudah. Semangat kerja ya."Meylani mengusap rambut Arumi dengan lembut,"Kamu anak baik."pujinya.


Arumi tersenyum dan buru-buru beranjak dari kursi cafe. Di depan cafe, Arumi menghentikan taksi dan langsung masuk seraya mengatakan alamat tujuannya.


Saat ia pulang dari rumah Alfin, Arumi mendapati Feres berada di rumahnya dan tampak tengah mengobrol. Namun bibinya langsung menyuruh Feres pulang dengan alasan sudah malam.


Arumi mengira kalau Feres tengah membujuk Bu Sasmi agar Arumi di ijinkan untuk bekerja di rumahnya. Karena itulah diam-diam Arumi mengirimkan pesan pada Feres kalau dirinya menerima tawaran untuk bekerja di rumah laki-laki itu. Beruntung ia menyimpan nomor Feres yang di berikan Namesya padanya.


Hari ini Arumi memutuskan untuk pergi ke rumah Feres yang katanya sedang di renovasi bagian gudang dan beberapa ruang lain di rumah itu.


Tak butuh waktu lama, Arumi telah sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Ia hendak menekan bel saat pintu tiba-tiba terbuka otomatis.


"Wah. Ternyata secanggih ini rumah orang kaya."komentarnya,"Pasti ada cctvnya. Buktinya pintu langsung terbuka sebelum aku menekan belnya."gumamnya sembari melangkah masuk.


Ggrrreeeekkk


"Ah. dia punya lesung kecil di dagu."gumam Arumi menyadari Feres memiliki lesung kecil di dagu saat tersenyum,"Aku juga punya lesung kecil di dagu."gumamnya lagi mengingat dirinya juga memiliki lesung kecil di dagu juga pipinya.


"Kamu pamit sama Bibi?"tanya Feres.


Arumi tersenyum serba salah dan menggeleng,"Takut ngga dapet ijin."ujarnya.


"Dasar bandel kamu."komentar Feres seraya mengacak puncak kepala Arumi.


"Eh."Arumi refleks mundur satu langkah karena perlakuan Feres padanya.


"Oh maaf. Aku terlalu terobsesi ingin punya adik perempuan sejak kecil. Jadi aku suka saja kalau lihat gadis kecil seperti kamu."kata Feres.


"Aku bukan gadis kecil lagi. Dan lagi apa hubungannya antara aku dan keinginan dokter ingin punya adik perempuan."protes Arumi sembari membenahi rambutnya.


Feres mengedikkan bahu dan tersenyum,"Siapa tahu akan ada keajaiban yang bisa membuatmu menjadi adikku."kata Feres.


'dokter ini kenapa aneh begini. Perasaan kemarin-kemarin tampak normal. tapi kenapa sekarang ngomongnya aneh begitu.'batin Arumi dengan kening berkerut tajam sembari menatap Feres.


"Ah. Sampai lupa suruh kamu masuk. Ayo masuk. Akan aku beri tahu tugasmu di sini."ajak Feres.


"Tunggu sebentar."Arumi merasa enggan untuk melangkah masuk.


"Kenapa?"tanya Feres.


"Kenapa sepi? Katanya rumah ini di renovasi?"tanya Arumi.


"Mereka di belakang. Cuma dua orang. Renovasinya sudah hampir selesai. Tinggal bikin kolam renang."jawab Feres.


"Oh. Kalau sudah hampir selesai kemarin-kemarin siapa yang masak buat mereka?"tanya Arumi.


"Beberapa hari asisten dari rumah orang tuaku yang pulang pergi ke sini. Tapi dia sedang sakit jadi aku harus mencari penggantinya."jawab Feres.


"Oh. begitu."gumam Arumi, masih merasa enggan dan curiga.


"Kamu takut? Tidak percaya padaku? Kamu akan tahu seperti apa aku kalau kamu sudah tinggal di sini. Aku memang selalu memperlakukan gadis kecil seperti aku memperlakukan adikku sendiri. Maaf kalau perlakuanku membuatmu tidak nyaman."ujar Feres menyadari kewaspadaan Arumi terhadapnya.


Arumi menghela napas dan mengangguk,"Jadi aku harus mulai dari mana?"tanyanya.


"Kebetulan hari ini aku sudah pesan makanan untuk para pekerja. Jadi kalau kamu bisa buatkan saja camilan untuk mereka."kata Feres sembari melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti Arumi.

__ADS_1


"Camilan."gumam Arumi.


"Ya apapun itu. Yang kamu bisa. Misalnya kue kering atau apa untuk camilan."balas Feres seraya menggarahkan Arumi menuju dapur.


"Oh..."gumam Arumi.


"Ini dapurnya."kata Feres.


"Ya. Aku tahu ini dapur."gumam Arumi.


Feres tersenyum kecil mendengarkan gumaman Arumi."Kalau begitu aku pergi ke rumah sakit sekarang. Tidak apa-apa kau ku tinggal."pamitnya.


"Rumah sakit?Oh. Aku lupa kalau anda seorang dokter. Tentu saja ke rumah sakit untuk kerja."kata Arumi yang sempat lupa kalau Feres itu seorang dokter.


"Tentu saja untuk kerja. Kamu ini pelupa sekali."komentar Feres yang hampir menyentuh puncak kepala Arumi lagi, namun gadis itu keburu menghindar dan langsung pergi menuju lemari yang ia duga berisi sesuatu yang mungkin bisa ia buat untuk ia jadikan camilan.


Feres mengedikkan bahu dan langsung pergi meninggalkan Arumi di dapur rumahnya. Lelaki itu pergi menuju rumah sakit sesuai perkataannya pada Arumi. Tapi bukan untuk berkerja, melainkan untuk mengecek perkembangan tes DNA yang ia minta.


"Bagaimana? Kapan hasil tesnya keluar?"tanya Feres pada temannya, mereka sedang berada di kantin rumah sakit.


"Baru beberapa hari. Aku sudah bilang butuh satu Minggu untuk mengetahui hasilnya."jawab temannya.


"Apa tidak bisa dipercepat."protes Feres.


"Tidak bisa."jawab pasti temannya.


"Hhhh... Kalau hasilnya baik, aku akan sangat senang sekali."kata Feres.


"Kamu bilang itu DNA ayahmu?"tanya temannya.


"Ya."jawab Feres.


"Tapi dengan siapa? Kenapa kamu menamainya nona x?"tanya temannya meminta penjelasan.


"Akan aku jelaskan setelah semuanya jelas."jawab Feres.


temannya menggelengkan kepala dan menghabiskan sisa minumannya,"aku harus kembali."pamitnya.


"oke. Kabari aku secepatnya."pesan Feres.


"tunggu empat atau lima hari lagi."jawab temannya sebelum pergi.


"Huh."Feres membuang napas dan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi kantin.


"Kenapa?"tanya Alfin yang sudah duduk di hadapan Feres.


"Ada masalah kecil."balas Feres.


"hhhh..."Alfin membuang napas dan memutar cangkir kopinya yang masih mengepulkan uap.


"Ada apa dengan wajahmu?"tanya Feres begitu melihat wajah Alfin yang tampak murung.


"Namesya pindah ke apartemen."jawabnya.


"Oh. Kenapa mendadak?"tanya Feres.


"Kevin menemukan persembunyiannya."balas Alfin.


"Apa? Kevin... bagaimana bisa?"Feres tidak percaya Kevin bisa menemukan Namesya.


"entahlah."gumam Alfin.


"Kamu murung karena Namesya pindah? Apa dia juga memutuskan untuk berhenti membantumu?"tanya Feres.


"Hhh... Aku merindukannya."gumam Alfin.


prrrut


Feres menyemburkan kopi dari mulutnya yang baru saja ia teguk,"a-apa?"tanyanya kurang yakin dengan pendengarannya.


"Aku merindukannya setelah melepaskannya. Dan aku akan menunggunya."Alfin mengulang sekaligus memperjelas ucapannya.


"kamu menyukainya."tebak Feres.


Tanpa ragu Alfin mengangguk,"Apa aku salah kalau aku menyukainya?"tanyanya lebih kepada dirinya sendiri, seolah lupa kalau Feres pernah mengakui bahwa Namesya adalah cinta pertama Feres.


"Terkadang cinta datang tidak kenal waktu dan tempat."komentar Feres.


"yah. Kamu benar. Aku harus rela melepasnya, menunggunya sampai aku mendapatkan kesempatan untuk memilikinya."kata Alfin.


*Melepas, Menunggu hingga waktu memberi kesempatan untuk saling Memiliki. Saat kesempatan untuk memilikinya datang, tak akan ada kesempatan untuk kembali melepaskannya. Tak akan ada.


.


.


.

__ADS_1


.


😊😊😊✌️✌️*


__ADS_2