Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Cinta di masa lalu


__ADS_3

'Mencintai seseorang dalam diam itu memanglah berat. Apa lagi jika rasa itu tak pernah sekalipun tersampaikan. Hanya mampu memandangnya dan mengaguminya dari jarak yang tak bisa di tentukan.'


Malam semakin larut, Feres berhasil meyakinkan Kevin bahwa penghuni apartemen di seberang bukanlah Namesya. Lebih tepatnya Kevin terpaksa untuk percaya.


'sepertinya aku harus menyelidikinya diam-diam.'batin Kevin.


"Kau tinggal sendiri?"tanya Kevin.


"tentu saja. Memangnya kau berharap aku tinggal dengan siapa di sini?"sahut Feres.


"Aku kira kau sudah menikah."balas Kevin yang langsung merubah senyum Feres menjadi tampak murung dan terlihat masam.


"Aku masih sibuk dengan pekerjaanku."kilah Feres.


Kevin tersenyum simpul, melirik Feres yang tengah menggoyangkan botol minuman sodanya,"Kau masih menyukai adikku."tebak Kevin.


Feres mendongak, menatap Kevin tak percaya jika sahabatnya menyadari dirinya menyukai adik sahabat dekatnya itu. Kevin terkekeh dan mengibaskan tangannya.


"Jangan tanya dari mana aku mengetahuinya."Ujar Kevin.


"Sejak kapan kau mengetahuinya?"tanya Feres.


"Sejak aku melihat kau selalu mencuri-curi pandang pada adikku."jawab Kevin.


flashback on


Sepuluh tahun lebih yang lalu...


Namesya sudah duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir sekolah. Gadis itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang hampir tak memiliki kekurangan apapun. Mungkin sudah biasa jika bercerita tentang gadis cantik yang akan menjadi rebutan banyak laki-laki. Yang tidak biasa hanyalah Namesya tak begitu antusias jika ada laki-laki yang tertarik padanya. Gadis itu cenderung cuek dan bersikap biasa saja meskipun dia tahu ada seseorang yang menyukainya.


"Kak Kevin..."Seru Namesya saat melihat kakaknya pulang dari kampus, gadis itu berlarian dari arah ruang tamu menghampiri Kevin dan langsung bergelayut di lengan kakaknya itu.


"Ada apa adik kakak yang cantik..."Sambut Kevin seraya mengacak pucuk kepala Namesya.


"Kak... Boleh minta bantuan ngga..."Pinta Namesya seraya berganti posisi berdiri menjadi berdiri di depan Kevin,"Eh."gumam gadis itu saat melihat ada laki-laki seusia kakaknya tengah berdiri diam di depan pintu, baru sadar akan keberadaan laki-laki itu di sana.


Kevin menoleh ke belakang dan berkata,"Ini teman kampus kakak. Mau ngerjain tugas kelompok."


"Halo."sapa teman Kevin yang tak lain adalah Feres.


Itu kali pertama Feres bertemu dengan Namesya, gadis yang menjadi cinta pertama lelaki itu. Laki-laki itu langsung menaruh perasaan terhadap gadis itu secara diam-diam. Mengamati gadis itu diam-diam tanpa di sadari gadis itu. Hanya Kevin yang sadar akan ketertarikan Feres pada Namesya setelah Kevin berkali-kali melihat Feres yang selalu diam-diam mencuri pandang pada Namesya saat mereka sedang mengerjakan tugas atau hanya sekedar nongkrong bersama di rumah Kevin.


"Hei. adik Lo cakep banget sih."puji salah satu teman kuliah Kevin yang bernama Andra.


"Alah. di mata Lo semua cewek juga Lo bilang cakep. manis... imut..."timpal Kevin sembari melirik Feres yang tengah memandangi Namesya yang sedang menaiki tangga menuju kamar gadis itu.


"Eh. Tapi bener kan kalau Mesya itu cantik."kata Andra seraya menepuk bahu Feres.


"Apa."Feres terkejut mendapat tepukan di bahunya.


"Ya iya... Adik gue emang cakep, cantik baik pinter... pokoknya paket lengkap. Ngga akan nyesel kalau yang jadi suaminya nanti."kata Kevin."Jadi kalau emang suka sama dia langsung ngomong aja. Jangan di pendem apa lagi cuma lirik-lirik doang. Keburu di gaet orang lain baru tahu rasa."imbuhnya.


"Wah. Kayaknya gue mesti buat adik Lo itu suka sama gue sebelum gue berangkat ke London."ujar Andra.


"Sorry bro. Kalau Lo buat adik gue suka terus Lo tinggal pergi, gue ngga bisa jamin kalau pas Lo pulang nanti adik gue udah ada yang Minang."kata Kevin sebelum terkikik.


Feres tersenyum kecil mendengar gurauan Kevin dan menghela nafas. Pasalnya lelaki itu harus melanjutkan studi kedokterannya di Negara tetangga. Menjadi Dokter spesialis Jantung adalah impian Feres dan lelaki itu tidak mungkin tetap tinggal melepaskan impiannya.


"Bilang aja Lo ngga mau punya adik ipar se-tampan gue. Takut kesaing kan Lo."cibir Andra.


"Lebih tepatnya gue ngga mau punya adik ipar mantan playboy."Kevin membenarkan sebelum tawanya pecah bersama Andra, sedangkan Feres masih berkutat dengan pikirannya.


"Eh. Lo ngapain bengong? Lagi mikirin Sherly si anak konglomerata itu?"tegur Andra pada Feres.


Feres mendengus dan berkata,"Ngga ada minat buat mikirin tuh cewek."


"Jadi laki sok jual mahal amat Lo. Kalau jadi Lo udah gue samperin tuh cewek. Ketauan banget kali kalo tuh anak naksir sama Lo."imbuh Andra.


"Tapi gue ngga tertarik. Kalau Lo mau ambil aja."balas Feres seraya meneguk habis minuman sodanya yang tinggal setengah.


Andra geleng-geleng kepala, sementara Kevin hanya tersenyum tipis. Sejak saat itu Kevin sudah menduga jika Feres memang tertarik pada Namesya, namun tidak pernah tahu jika perasaan Feres pada Namesya tetap kokoh hingga lelaki itu kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun takdir tidak berpihak padanya, sebab akhirnya ia harus mengalah sebelum bertarung. Ia harus terpaksa merelakan cinta pertamanya untuk adiknya tanpa sempat ia menyatakan cintanya pada gadis itu.


'biarlah ia menyimpan perasaan itu sebagai cinta di masa laluku.'begitu batin Feres kala itu.

__ADS_1


Flashback off


Dari sorot matanya, Kevin tahu jika saat ini mungkin Feres masih mengharapkan Namesya. Hanya saja, tidak mungkin Feres berani mengakuinya setelah apa yang terjadi antara hubungan Namesya dengan Rio yang tak lain adalah adik Feres sendiri. Kevin pun memutuskan untuk tidak lagi mengungkit masa lalu yang sudah sangat berlalu jauh di belakang waktu mereka. Yang kini harus ia lakukan adalah mencari adiknya, memastikan jika yang adiknya memang tidak tinggal di gedung itu.


"Malam ini bolehkan nginep di sini?"tanya Kevin seraya merebahkan dirinya di sofa.


"Hmmm ... tentu. Tapi bisa ngga Lo ngga usah se kaku itu. aku kamu. ngeri gue dengernya."balas Feres.


Kevin terkekeh dan tiba-tiba teringat akan seseorang."Ngomong-ngomong. Lo masih inget cewek yang dulu ngejar-ngejar Lo waktu kita kuliah."tanyanya mengubah topik pembicaraan.


"Hmmm... Sherly maksud Lo?"tanya Feres memastikan.


"iya."jawab Kevin.


"Inget namanya. Tapi ngga tahu dan ngga mau tahu tentang kabarnya."jawab Feres.


Kevin tersenyum dan berkata,"Gue ketemu sama abangnya di cafe. Lagi maksa-maksa perempuan yang katanya istrinya buat balikan."


"Abangnya?"kening Feres berkerut samar,"Gue ngga tahu kalau tuh cewek punya Abang."katanya.


"Cih. saking ngga pedulinya Lo sama dia sampai Lo ngga inget sama abangnya."cibir Kevin.


"Ya emang buat apa. Ngga penting juga kan. Lagian emang siapa abangnya? Adiknya aja songong pasti abangnya juga sama songongnya."kata Feres.


"Kalau ngga salah namanya Frengky."gumam Kevin mencoba mengingat nama kakak Sherly,"ya. Frengky Abraham kalau ngga salah."imbuhnya penuh keyakinan.


Feres mendongak menatap Kevin yang tampak sedang memejamkan mata,"Frengky Abraham. Kenapa gue kaya familiar sama nama itu."kata Feres mencoba memutar otaknya memikirkan nama itu.


"Sherlyana Abraham. mungkin Lo familiar karena na Sherly juga."kata Kevin.


"Ngga. bukan itu tapi..."Feres kembali mencoba mencari sesuatu yang seakan hilang timbul dalam otaknya,"Ah... gue inget. Itu nama suami temen dokter gue di rumah sakit. ya. namanya Frengky Abraham. itu nama suami Andin."seru Feres penuh keyakinan.


Kevin membuka matanya dan menoleh,"Suami temen dokter Lo di rumah sakit."ujarnya.


"Iya. Tadi Lo bilang dia lagi maksa istrinya buat balikan di cafe Lo. Nih gue ada fotonya Andin. Pasti dia yang Lo maksud kan."Feres menunjukkan foto Andin yang ada dalam ponselnya.


"Yakin dia temen Lo?"tanya Kevin seraya memperhatikan wajah Andin di layar ponsel Feres,"hmmm... Iya juga sih. Dia perempuan yang ada di cafe waktu itu."Kevin membenarkan ucapan Feres.


"ya... gue ngga sengaja liat aja. Dia lagi narik-narik tangan temen Lo itu. Ya gue samperin. Eh malah tuh orang marah, hampir kena tonjok sih. tapi aman gue paling anti kalau ada orang yang dengan sengaja mau ngerusak aset berharga gue ini."kata Kevin seraya mengelus wajah tampannya.


"ish."Feres berdecih dan melempar bantal sofa pada Kevin,"aset berharga Lo emang cuma itu doang."katanya.


"banyak. tapi untuk saat ini hanya ini yang harus gue jaga selalu."Kevin tertawa gelak karena ucapannya sendiri.


"Gila Lo. dari dulu ngga pernah berubah. Udah mendingan sekarang tidur. kalau mau tidur sama gue di dalem."aja Feres.


"Ngga bisa. Gue harus jaga kehormatan gue dan ngga bisa tidur sekamar dengan jomblo tulen kaya Lo."kata Kevin dan kembali laki-laki itu tertawa.


"Sialan Lo."Feres kembali melempar bantal sofa lagi pada Kevin.


Canda tawa merekapun berakhir. Kevin memilih tidur di sofa dan mau tidak mau, ferespun ikut tidur di sofa yang lain. Takut jika besok Kevin bangun lebih dulu dan ia gagal mengawasi Kevin saat pulang besok.


'Setiap hati mungkin pernah terukir kasih dan cinta untuk satu nama yang singgah, namun terkadang saat satu nama itu menghilang tinggalah ukiran kasih yang mungkin sulit tuk terhapus dalam memori kenangan. Cobalah untuk tetap tegar apapun yang terjadi dan biarlah cinta yang telah terlanjur terukir itu tersimpan sebagai cinta dari masa lalu.'


Malam itu, Namesya tak bisa tidur dengan nyenyak karena gelisah memikirkan kakaknya yang sepertinya tidur di apartemen Feres. Menjelang subuh gadis itu terbangun dan baru menyadari bahwa semalam gadis itu tidur di sofa.


Ting


Tong...


Namesya terperanjat mendengar bunyi bel apartemennya. Otaknya langsung buntu karena takut jika yang datang itu adalah kakaknya. Dengan langkah lambat Namesya melangkah menuju pintu dan melihat dari layar monitor seseorang berseragam office boy tengah berdiri di depan pintu. Namesya mengerutkan kening saat melihat wajah office boy itu.


"Dokter Alfin."gumamnya.


Merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Namesya mengucek matanya dan kembali menatap dengan seksama layar monitor itu.


"Apa Dokter Alfin memiliki kembaran? Atau orang ini hanya mirip dengannya?"tanyanya sebelum ia kembali terperanjat saat bel kembali berdenting.


Ting


tong...


Ting

__ADS_1


tong...


Kali ini bel berbunyi dua kali tanda orang di luar menekan belnya sebanya dua kali. Dengan penuh rasa penasaran, Namesya membuka pintu dan laki-laki berseragam itu langsung menyerobot masuk sebelum Namesya membuka pintu dengan lebar.


"Cepat ganti pakaianmu."perintah laki-laki itu yang ternyata memang Alfin yang menyamar sebagai office boy agar bisa mengelabui Kevin nanti.


"A-Apa maksudnya ini. Anda. Anda siapa?"Tanya Namesya tergagap.


Alfin menghela napas, membuka topinya dan menatap Namesya dengan intens.


Degh


Namesya tertegun melihat tatapan Alfin yang terlihat begitu serius, seolah memaksa Namesya untuk menuruti laki-laki itu. Namun ia harus memastikan satu hal...


"Dokter Alfin ."katanya memastikan.


"Bagus kalau kau tidak amnesia dan masih mengingat wajahku."kata Alfin.


"Ta-tapi apa maksudnya ini?"tanya Namesya seraya mengangkat paper bag yang berisi seragam cleaning servis.


"Ganti bajumu dengan ini. Dan saya akan ganti baju dengan pakaian saya."kata Alfin, berharap Namesya memahami maksudnya.


"Ya. tapi kenapa saya harus ganti dengan seragam cleaning service."cecar Namesya.


"untuk mengelabui kakakmu. Paham."kata Alfin.


"Maksud dokter saya harus pura-pura bekerja di sini untuk mengelabui kak Kevin. begitu?"tanya Namesya.


"lebih tepatnya. Untuk sementara waktu saya akan tinggal di sini. Sampai kakak kamu benar-benar percaya kalau kamu tidak lagi tinggal di sini."Ujar Alfin seraya mengeluarkan barang-barangnya dari dalam koper yang ia simpan di tong tempat cleaning service mengangkut sampah.


"Dokter akan tinggal di sini? Lalu bagaimana denganku?"tanya Namesya,"apa aku harus keluar dari sini supaya kakakku percaya aku tidak tinggal di sini?"


"Ya. Untuk sementara jangan tinggal di sini. Sampai kamu siap untuk bertemu dengan kakakmu."kata Alfin.


Namesya terdiam, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang di rencanakan Alfin saat ini."Dari mana dokter tahu aku tinggal di sini?"tanyanya.


"Tetanggamu yang memberitahuku. Sudahlah. Jangan banyak bicara dulu. Kita bicarakan nanti setelah kamu keluar dari gedung ini. Sisanya di sini biar aku yang urus. Jangan sampai kakakmu melihatmu di sini kalau kamu tidak ingin ketahuan."kata Alfin seraya mendorong Namesya mengarahkan gadis itu menuju pintu yang di yakini lelaki itu sebagai kamar,"sebaiknya ganti bajumu sekarang. lalu kamu keluar dan tunggu saya di mobil. Ini kunci mobil saya. kamu bawa dan masuk ke sana. ok. tunggu saya di sana."Alfin menyerahkan kunci mobilnya sebelum menutup pintu.


Meskipun masih penasaran dengan rencana Alfin, Namesya tetap menurut dan bergegas mengganti piyama tidurnya dengan seragam cleaning service yang di berikan Alfin padanya. Di luar Alfin juga mengganti seragam cleaning servicenya dengan kemeja.


Klek


Alfin belum mengancing kemejanya saat Namesya keluar dari kamar. Refleks Namesya berbalik badan saat melihat tubuh Alfin yang terekspos jelas terlihat oleh matanya yang sesungguhnya sudah banyak ternoda oleh pemandangan itu, bahkan lebih ternoda dari itu.


"Dokter."Namesya memanggil Alfin dengan suara sekecil mungkin.


Saat itulah Alfin baru sadar jika Namesya sudah keluar dari kamar dan masih berdiri memunggunginya. Alfin pun bergegas menyelesaikan mengancing kemejanya yang masih tersisa empat kancing lagi.


"Tunggu sebentar."Alfin mengancing kemejanya dengan asal tanpa melihat dan memeriksanya,"Sudah."katanya.


Namesya menghela napas dan berbalik dengan perlahan,"kenapa dokter tidak bilang kalau mau ganti baju?"tanya Namesya yang wajahnya merasa memanas karena bagaimanapun ia tentu malu melihat Alfin yang bertelanjang dada di depannya.


"Maaf. Lupa."jujur Alfin.


"Ish."desisi Namesya,"Jadi apa rencana selanjutnya.?"tanyanya.


"Ya kamu keluar. Tadi kan sudah saya kasih tahu. Kamu tunggu saya di mobil saya. Paham."jawab Alfin.


"Tapi..."Namesya mengamati ruangan Apartemennya yang terdapat beberapa foto miliknya.


"Tenang saja. saya akan mengurusnya. Sekarang sebaiknya kamu keluar sebelum Kevin keluar lebih dulu dan melihatmu."kata Alfin.


"hmm... ya sudah. Tapi kamarnya bagaimana? "tanya Namesya mengingat kamarnya masih berantakan dan nuansa kamarnya terlalu feminim untuk seorang laki-laki.


"Seandainya kakakmu masuk. Pasti kakakmu tidak akan lancang masuki kamar orang lain. Apa lagi kami tidak pernah mengenal sebelumnya."ujar Alfin.


"Ya sudah. Apa aku boleh pergi sekarang?"tanya Namesya.


"Sebaiknya kamu tidak perlu pergi sekalian."ujar Alfin merasa kesal dengan semua pertanyaan Namesya.


"Ya. Iya... Aku pergi."Kata Namesya yang sadar dengan raut wajah Alfin yang cukup kentara sekali sedang kesal dengannya.


Namesya keluar dari apartemennya sendiri, mengenakan seragam office boy yang kebesaran untuknya. Mendorong tempat pengangkutan sampah dengan kepala menunduk dan sesekali membenarkan letak topinya agar wajahnya tidak tertangkap kamera cctv sekalipun. Gadis itu bergegas menuju tempat parkir dan mencari keberadaan mobil Alfin sebelum memasuki mobil itu dengan sama tergesanya.

__ADS_1


__ADS_2