
"Tuan."
Tirta memasuki ruangan Arlan, memanggil Tuannya seraya menghampiri lelaki yang kala itu tengah berdiri di depan dinding kaca menatap ke arah sebuah puncak bukit, tempat di mana villanya berada.
Lelaki itu menoleh sekilas dan kembali menatap puncak bukit. Tindakan kecil itu cukup untuk memberitahu Tirta agar asistennya itu melaporkan hasil dari tugas yang Arlan timpahkan.
"Saya sudah membasmi semua Tikus kecil yang mengusik anda sampai tuntas."kata Tirta menggunakan kode untuk seluruh kumpulan orang-orang Hiro sebagai sekumpulan Tikus,"Termasuk raja Tikusnya."imbuh Tirta menyebut Hiro sebagai Raja tikus pemimpin kumpulan tikusnya.
"Bagus."komentar Arlan yang hendak mematik api untuk rokoknya, namun ia urungkan dan bertanya pada Tirta,"Apa kau sudah punya kekasih?"
"Siapa tuan? Saya?"tanya Tirta bingung dengan pertanyaan Tuannya yang keluar dari jalur serius seperti biasanya.
"Lupakan."balas Arlan dan kembali melanjutkan mematik rokoknya hingga mengepulkan asap, menyesapnya dengan tenang, menikmatinya.
Tirta tidak mengambil pusing semua perkataan Arlan dan berkata,"Kalau begitu saya permisi Tuan."
"Tunggu."cegah Arlan.
"Ya tuan."Tirta kembali menyiapkan dirinya jika kemudian tuannya memberinya tugas yang lain.
"Kau sudah menyiapkan ruangan untuk Mesya bukan?"tanya Arlan dan melanjutkan,
"Dan Batalkan semua rapat untuk empat hari ke depan. Dan pastikan tidak ada yang mengusikku selama empat hari itu dengan urusan pekerjaan."Perintah Arlan.
"Ruangan untuk nona Mesya sudah siap Tuan. Dan akan saya pastikan empat hari kedepan tidak akan ada yang mengusik anda dengan urusan pekerjaan."patuh Tirta yang sudah harus menggempur tenaga dan pikirannya untuk memenuhi perintah tuannya sampai waktu empat hari itu berlalu.
"Baiklah. Kau bisa pergi."Ujar Arlan yang telah meraih kunci mobilnya dan berlalu dari ruangannya.
Arlan melajukan mobilnya sendiri menuju Villa di tengah hutan kecil miliknya. Ingin melihat secara langsung keadaan Raya meskipun selama beberapa hari ini ia tidak di sana ia masih tetap mengetahui apa yang wanita itu lakukan melalui CCTV.
Tiba di sana hari sudah gelap. Dan seperti biasa, Arlan akan masuk ke kamar yang selalu dalam keadaan gelap. Wanita itu selalu mematikan seluruh penerangan di kamar itu. Kala itu Arlan melihat wanita itu meringkuk di atas tempat tidur.
Ctak
Arlan menyalakan lampu untuk memudahkan dirinya melihat Raya yang tampak tidur pulas dengan napas teratur. Hanya terlihat gerakan teratur puncak dada wanita itu yang naik turun.
"Kenapa tidur tidak memakai selimut."gumam Arlan dan bermaksud hendak menyelimuti Raya, namun manik matanya melihat darah di atas tempat tidur itu dan menghentikan gerakannya menarik untuk Raya,"Raya."lelaki itu memanggil wanita tidur itu bermaksud untuk membangunkan,"Raya... Bangunlah..."Lelaki itu mengguncang tubuh Raya yang tetap diam tak menunjukkan tanda-tanda untuk bangun.
Arlan mengerutkan dahi dan menyentuh dahi Raya yang terasa panas."Panas sekali."gumamnya sebelum beranjak dari tempat itu, melangkah menuju pintu, membukanya dan berkata pada penjaga,"Ambilkan aku air hangat dan kain."
"Baik Tuan."penjaga langsung bergerak tanpa mempertanyakan untuk apa air yang di minta Arlan.
Arlan kembali masuk ke dalam kamar, menghampiri Raya, lelaki itu menatap darah di sprei dengan rasa penasaran,"Darah apa ini?"gumamnya tanpa mengingat jika manusia yang sedang bersamanya itu adalah seorang perempuan yang setiap bulannya akan ada tamu yang tak di undang dan tak bisa di tolak meskipun ingin menolaknya.
"Ini tuan air hangat dan kainnya."Penjaga datang bersama air dan kainnya.
"Letakan di meja."perintah Arlan dan bertanya,"Apa hari ini dia mengeluh sakit?"
"Tidak Tuan. Tapi Nona Raya seharian ini tidak keluar kamar. Dan tidak mau makan apapun selain minum teh hangat sore tadi."balas Penjaga.
"Kenapa tidak memberitahuku!"bentak Arlan kesal bercampur cemas mengetahui seharian ini Raya tidak makan apapun selain teh hangat saat sore.
"Ma. Maaf Tuan."Penjaga itu langsung berlutut, takut Arlan akan menghukumnya.
Arlan menghela napas dan berkata,"pergilah. Jemput Dokter Gading sekarang."
"Baik Tuan."Penjaga itu bergegas melaksanakan perintah.
Arlan bergerak mengompres kening Raya dengan telaten, juga khawatir."Ah sial. Seharusnya aku menyiapkan dokter pribadi di tempat ini."umpatnya saat mengingat jarak villa menuju kota membutuhkan waktu dua jam dalam sekali perjalanan, itu artinya ia harus menunggu empat jam lamanya untuk penjaganya menjemput Dokter pribadi keluarganya.
"Ergh..."Raya merintih dan menggerakkan tubuhnya memiringkan tubuh yang semula terlentang dan kini memunggungi Arlan.
Terlihat sangat jelas bercak darah di celana pendek yang di kenakan Raya di bagian belakang.
"Raya..."lirih Arlan memanggil Raya.
"Hemmm..."Raya menyahut, namun tidak membuka matanya.
"Kau sakit..."kata Arlan.
"Hemmm..."Raya tampak mengangguk dan tetap memejamkan matanya.
"Kau demam dan perutmu juga sakit."kata Arlan lagi.
"Hemmm..."Raya kembali membalas dengan gumaman yang sama.
Arlan menghela napas, dan tak mengurangi rasa cemas dalam hatinya. Lelaki itu terus menempelkan kain hangat yang akan ia ganti jika hangat kain itu telah berkurang.
"Maafkan aku."lirih Arlan dengan perasaan tulus,"Hidupmu tersiksa karena aku."
Rasa bersalah atas apa yang terjadi pada hidup Raya yang tersiksa karena berawal dari kebodohan Arlan menolak perjodohan dengan wanita itu dan melempar wanita itu pada Hiro.
"Ergh..."Raya kembali mengerang dan membalik posisi miringnya yang kini menghadap Arlan, kelopak mata wanita itu terlihat berkedut antara terbuka dan tertutup.
"Raya... Apa kau mendengarku?"tanya Arlan seraya membelai rambut Raya dengan lembut.
__ADS_1
Raya terlihat membuka kelopak matanya dengan tatapan malas, juga lemah. Mata indah yang terlihat sayu itu berkedip-kedip pelan.
"Kau sakit. Aku memanggil dokter untukmu."kata Arlan.
"Kenapa baru datang?"lirih Raya lemah.
"Maaf. Ada banyak hal yang harus aku lakukan di kota."balas Arlan seraya membelai rambut Raya.
"Hhhh..."Raya menghela napas,"Kenapa aku bermimpi seperti ini. Tak seharusnya aku memimpikan lelaki sepertimu mengkhawatirkan keadaanku. Aku lelah. Aku bosan bermimpi indah, tapi saat aku bangun kenyataan pahit yang harus aku hadapi."keluh Raya yang beranggapan dirinya sedang bermimpi, efek dari demam wanita itu yang membuatnya tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.
"Apa kau tak ingin bangun dari mimpi indahmu?"tanya Arlan.
"Ya."Balas Raya yang memejamkan matanya.
"Aku akan membuat mimpimu menjadi nyata."kata Arlan,"Cepatlah sembuh dan bangunlah dari mimpimu."lelaki itu mengecup dahi Raya, cukup lama.
Raya kembali terlelap, tubuhnya masih demam, panas dan berkeringat dingin. Namun napasnya terlihat teratur.
Malam itu Arlan menjaga Raya sampai Dokter Gading tiba dan langsung memeriksa Raya.
"Dia hanya demam biasa."kata Dokter Gading,"Mengenai darah itu. Sepertinya wanitamu itu sedang menstruasi. Kau tak perlu khawatir."imbuhnya.
"Kau yakin itu hanya darah menstruasi?"tanya Arlan.
"Kau meragukan keahlianku."kata Dokter gading yang mengenakan kaca mata, meskipun tak mengenakan jas dokter, namun lelaki itu adalah seorang dokter.
"Baiklah. Aku tak punya pilihan selain percaya padamu."kata Arlan.
"Aku sudah meresepkan obat demam dan vitamin untuknya."kata Dokter Gading.
"Ya."balas Arlan.
"Ngomong-ngomong bolehkan aku menginap di sini malam ini? Kebetulan aku sedang cuti jadi aku tidak bekerja di rumah sakit."kata Dokter gading.
"terserah."balas Arlan.
"Oke."Dokter Gading tersenyum dan langsung keluar dari kamar itu mencari kamar yang akan lelaki itu tempati malam itu.
"Hhhh... Cuma menstruasi..."gumam Arlan merasa lega mengatahui darah yang ada di sprei dan celana Raya hanyalah tamu bulanan wanita itu,"syukurlah."Lelaki itu menggenggam tangan Raya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, tak lama kemudian lelaki itu terlelap dalam posisi duduk dan tetap menggenggam tangan Raya.
Keesokkan harinya, Raya terbangun. Kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya terasa berat. Wanita itu samar-samar mengingat kejadian yang ia anggap sebuah mimpi. Namun ia merasa apa yang terjadi terasa begitu nyata.
"Hhhh..."Raya menghela napas,"Kenapa aku bermimpi seperti itu."gumamnya menganggap kejadian semalam benar-benar sebuah mimpi.
"Kapan dia pulang?"tanyanya lirih seraya menatap tangan yang melingkar di perutnya,"Kenapa aku tidak tahu kalau dia pulang?"
Raya mencoba mengingat apa yang kemarin ia lakukan. Dan wanita itu terakhir mengingat dirinya tidur di waktu sore setelah lelah menahan rasa bosan dan rasa sakit di perutnya karena sedang menstruasi. Setelahnya ia tak banyak mengingat apa yang terjadi selain saat ia melihat Arlan dalam ingatannya yang ia pikir itu adalah mimpi.
"Apa semalam itu bukan mimpi?"tanyanya lirih.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"Suara Arlan terdengar dari balik punggung Raya.
Raya menoleh, namun melihat Arlan masih memejamkan matanya,"Kapan kau pulang?"tanyanya.
"Semalam."jawab Arlan masih dengan mata terpejam.
"Semalam."gumam Raya.
"Erghh..."Arlan mengeratkan pelukannya atas Raya,"Aku masih mengantuk. Bisakah kau berhenti bergerak-gerak."
"Aku capek miring terus seperti ini. Lagian kalau masih mengantuk tidur saja lagi dan lepaskan aku."balas Raya.
"Kalau capek ganti posisi."balas Arlan seraya membuka matanya dan mengangkat kepala demi menatap Raya.
Raya mendengus dan tak berkomentar apapun ataupun mengeluhkan apapun. Wanita itu hanya diam dan tak berniat untuk berganti posisi dari posisi saat ini.
Arlan kembali menempelkan kepalanya ke bantal, namun menempelkan wajahnya di punggung Raya.
"Semalam kau demam. Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?"kata Arlan.
"Aku... Aku baik-baik saja."balas Raya.
"Kau sedang menstruasi?"tanya Arlan meskipun sudah mengetahui jawabannya.
"Ya."jawab Raya singkat.
"Hhh... Kenapa tidak menyuruh penjaga untuk membelikanmu itu. Aku terkejut melihat banyak darah di sprei dan celanamu."kata Arlan.
"Ish..."Raya menepis tangan Arlan dari perutnya, malu mendengar Arlan membahas tentang keadaannya saat ini.
"Ada apa?"tanya Arlan bingung melihat Raya menepis tangannya.
"Ssshhhh..."Wanita itu merintih saat hendak bangun namun kepalanya terasa begitu berdenyut sakit.
"Berbaringlah lagi. Aku akan menyuruh koki menyiapkan sarapan. Setelah sarapan minumlah obatmu."perintah Arlan yang sudah beranjak bangun dan menyuruh Raya untuk tetap berbaring.
__ADS_1
"Aku hanya pusing sedikit."bantah Raya.
"Tapi semalam kau demam. Menurutlah. Oke."Arlan bersikeras menyuruh Raya untuk tetap berbaring.
"Tapi aku..."Raya ragu untuk mengatakan dirinya sudah tidak nyaman dengan keadaan celananya saat ini, lembab karena darah menstruasinya.
"Kenapa?"tanya Arlan.
"Aku ingin ke kamar mandi. Aku... Aku harus mengganti celanaku."Raya akhirnya memilih untuk jujur.
"Baiklah."Arlan langsung turun dari tempat tidur dan sebelum Raya bergerak bangun, lelaki itu sudah lebih dulu menggendong wanita itu dan membawanya menuju kamar mandi setelah sebelumnya Raya memekik kaget atas tindakan Arlan.
"Aku bisa sendiri."Kata Raya setelah Arlan menurunkan wanita itu di dalam kamar mandi.
"Aku akan dengan senang hati membantumu jika kau meminta bantuan ku."goda Arlan.
"Ish."Desis Raya dengan mata melotot menatap Arlan.
Arlan terkekeh,"Baiklah. Baiklah... Aku keluar. Tapi jangan kau kunci pintunya. Aku takut kau jatuh nanti."katanya.
Tanpa menanggapi ucapan Arlan, Raya langsung membalikkan tubuh Arlan dan mendorong lelaki itu keluar dari kamar mandi.
"Raya... Kau melupakan handukmu..."Teriak Arlan dari balik pintu.
Raya sudah terlanjur membuka pakaiannya dan hanya mengeluarkan tangannya dari pintu kamar mandi.
"Boleh aku masuk."Goda Arlan lagi.
"Tidak. Awas kalau kau masuk tanpa ijin."tegas Raya.
"Ini rumahku. Kenapa aku harus meminta ijin."timpal Arlan.
"Mana handuknya..."Raya meminta handuk sembari menggerakkan tangannya, sementara dirinya ada di balik pintu.
"Ini..."Arlan menyerahkan handuk ke tangan Raya dan membiarkan wanita itu membersihkan diri.
Setelah membersihkan dirinya, Raya keluar dan kembali mengenakan celana tanpa bantalan lagi.
"Besok ikut aku kembali."kata Arlan yang telah kembali masuk ke dalam kamar, lelaki itu membawa nampan dan di atasnya ada semangkuk bubur hangat tawar dan potongan buah serta air minum, juga tak lupa vitamin dan obat demam.
"Kembali."Raya mengulang ucapan Arlan.
"Ya."balas Arlan,"Atau kau ingin tetap tinggal di sini bersamaku."imbuhnya.
"Tidak."balas Raya cepat.
"Baiklah. Sekarang makan dan minum obatnya. Aku tidak akan membawamu kembali jika kau belum sembuh."Perintah Arlan.
Dengan patuh, Raya memakan buburnya sampai habis dan menelan obatnya. Sekarang perutnya terasa kenyang dan hatinya merasa lebih tenang memikirkan dirinya akan pulang besok.
"Kau manis sekali."Kata Arlan seraya mengusap sudut bibir Raya yang terdapat sedikit sisa bubur yang di makan wanita itu dengan begitu lahap.
Raya mengerjapkan matanya dan langsung merasa gugup karena ulah Arlan. Ia menunduk sembari mengelap mulutnya sendiri.
"Kenapa kemarin tidak makan?"tanya Arlan.
"Itu... Perutku kram dan sakit. Aku tidak ingin makan apapun kemarin."jawab Raya.
"Apa karena menstruasi juga?"tanya Arlan yang langsung mendapatkan jawaban dari anggukan kepala Raya.
"Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Itu biasa terjadi di hari pertama dan kedua saat aku menstruasi. Hari ini aku tidak apa-apa."kata Raya.
Arlan mengusap kepala Raya yang tampak begitu manis,"Syukurlah kalau kau sudah baik-baik saja. Jangan sakit lagi."katanya.
"Kenapa kalau aku sakit?"tanya Raya.
"Aku akan mencemaskanmu saat kau sakit."balas Arlan yang tiba-tiba langsung mencium bibir Raya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.😊😊😊😊
__ADS_1