Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Kejutan


__ADS_3

Alfin bergegas menaiki tangga menuju kamarnya saat mendapati rumahnya yang sepi, mungkin ibunya sudah tidur. Jarak rumahnya yang terbilang jauh membuat ibunya harus menginap di rumahnya, terlebih lagi mereka sudah cukup lama tidak bertemu.


Lelaki itu bergegas membersihkan dirinya yang sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya yang lengket. Tak lama, Alfin keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya dengan celana pendek serta kaus longgar berwarna putih.


Saat sudut netranya menangkap bayangan bulan dari jendelanya yang tirainya tak tertutup rapat, keningnya berkerut saat mengingat seberapa pucatnya wajah gadis yang ia temui pagi itu.


"Kenapa aku memikirkan gadis itu."gumamnya menyadari dirinya memikirkan gadis asing yang baru sekali ditemuinya tanpa sengaja, ia kembali ke tempat tidurnya bersiap untuk menjemput mimpinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23:39, ia sengaja pulang larut agar dirinya sampai ibunya sudah tidur sehingga tak perlu ada perdebatan malam di antara mereka.


Raganya sudah cukup lelah setelah bekerja, ia tak mau menambah lelah pikirannya dengan berdebat.


Malam itu langit tak lagi menangis seperti semalam. Pucatnya sinar bulan bintang menjadi tanda bahwa malam itu cukup cerah dan indah, meski hanya secercah cahaya semu.


Di tempat lain di waktu yang sama, seorang gadis tengah duduk seorang diri di kursi depan meja rias kamar yang gelap, hanya tampak siluet bayangan gadis itu yang terkena sinar bulan dari jendela yang terbuka. Kepalanya menunduk menatap kedua tangannya yang memegang sebuah benda seukuran pulpen namun tak begitu panjang.


"Hiks... Hiks... Hiks..."Isak tangis itu terdengar jelas saat satu tangan gadis itu membungkam mulutnya sendiri, gadis itu menangis.


"Aaaaa..."teriak gadis itu bersamaan dengan tangannya yang melempar benda seukuran pulpen melalui jendela yang terbuka, dan dilanjut menangis bersimpuh di atas lantai di bawah jendela.


Di bawah gedung apartemen, Feres tengah berjalan setelah dirinya pergi ke supermarket yang buka 24 jam.


pluk


"Auh.."keluhnya saat sesuatu menimpa kepalanya, ia menunduk mencari benda yang sudah membuatnya cukup terkejut oleh kejutan kecil itu.


"Test Pack."gumamnya saat mendapati benda seukuran pulpen tergeletak di bawah kakinya, itulah yang sudah menimpa kepalanya.


Ia menoleh memeriksa sekitarnya memastikan darimana asal benda itu hingga sampai mendarat di kepalanya.


"siapa yang membuang benda ini sembarangan sampai mengenai kepalaku."gerutunya, tangannya memungut benda itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Feres lanjut memasuki gedung apartemen yang baru sebulan ini ia tempati. Rumah pribadinya sedang di renovasi, sehingga ia memilih tinggal di Apartemen yang pernah ia beli namun belum pernah ia tempati. Lelaki itu memasuki lift dan menekan angka tiga pada tombol lift, lanjut menunggu hingga lift berhenti di lantai tujuannya.


Ting


Feres menghela nafas dan keluar setelah pintu lift terbuka. Ia melangkah menuju apartemennya di nomor 503 tepat di ujung koridor lantai itu. Namun saat di depan pintu apartemen nomor 502 ia hentikan langkahnya, tatapannya tertuju pada pintu itu, seolah ia ingin sekali mengetuk daun pintu yang tertutup rapat itu.


Lelaki itu menunduk, dan lagi-lagi menghembuskan nafasnya yang terasa cukup berat. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, mencegah agar tangan itu tidak bergerak untuk mengetuk pintu itu.


"Tidak."gumamnya,"Tidak untuk sekarang. Belum waktunya aku hadir dalam hidupnya."lirihnya, dengan berat hati kakinya bergerak ke arah pintu apartemennya tepat di samping pintu apartemen yang menjadi tempat tinggal seseorang yang sudah lama mengikat hatinya.

__ADS_1


Kali ini aku tak akan menundanya terlalu lama. Apalagi sampai aku merelakanmu untuk orang lain seperti kesalahanku dahulu. Batin Feres.


Malampun terus berlanjut, hingga hangatnya sang surya mampu menghangatkan dunia di pagi yang terasa cukup dingin dan lembab. Meskipun kemarin dan semalam tidak hujan, namun cuaca di musim hujan memang tak bisa lepas dari kata lembab dan dingin.


Pagi ini, saat menuruni tangga Alfin sudah mendapati masakan ibunya terhidang hangat di meja makan, hampir semuanya adalah makanan kesukaannya.


"Selamat pagi sayang..."sapa Meylani pada putranya yang sudah tampil rapi siap untuk berangkat.


"Pagi Ma..."Alfin balas menyapa.


"Duduklah."perintah ibunya dan ditanggapi dengan anggukan Alfin yang langsung duduk.


"Semalam mama menunggumu pulang untuk makan malam. Tapi kau pulang larut sampai mama tak tahan menahan rasa kantuk mama."Kata Ibunya seraya menyerahkan seporsi makanan sehat untuk Alfin.


"Kemarin Alfin memang cukup sibuk di Rumah Sakit. Maaf sudah membuat mama menunggu Alfin pulang."kata Alfin yang cukup merasa bersalah mendengar ucapan ibunya.


"Hhhh..."Meylani menghela nafas dan menuangkan air putih ke gelas Alfin,"Kau selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu. Kapan kau bisa memikirkan dirimu sendiri. Setidaknya pikirkan dirimu sendiri dan luangkan waktu untuk berlibur. Bukankah membuat pikiranmu fresh akan membuatmu lebih fokus dan merasa lebih segar saat bekerja."


Alfin memperlambat gerakan mulutnya mengunyah makanan di mulutnya,"Alfin akan mengambil cuti di akhir tahun nanti. Jika sampai akhir tahun nanti Alfin belum menemukan gadis yang Alfin sukai, maka Alfin akan setuju dengan pilihan mama nanti."kata Alfin langsung kepada point yang sebenarnya ingin disampaikan ibunya.


Serasa mendapatkan sebuah kejutan indah dari putranya, Meylani tersenyum cerah dan meraih lengan putranya,"Kau tahu. Mama tidak akan memandang apapun pilihanmu nanti. Asal kau mencintainya dan kau bahagia bersamanya, itu sudah cukup membuat mama bahagia."ujarnya tanpa ada sedikitpun keraguan atas pilihan putranya nanti.


"Iya Ma..."balas Alfin.


Alfin tak bisa mengelak ucapan ibunya tentang sarapannya, memang dirinya jarang sekali sarapan di rumah karena tidak sempat. Tapi jika tentang keadaan tubuhnya, ia paham sekali bahwa dua bulan terakhir ini berat badannya bahkan sudah naik dua kilo.


apakah aku harus memiliki perut buncit agar mama tidak mengataiku kurus lagi. Batin Alfin.


Sebagai seorang Dokter Alfin tahu benar keadaan tubuhnya yang baik-baik saja dan sehat, bahkan bentuk tubuhnya sudah cukup ideal menurutnya. Ia rajin berolah raga setiap akhir pekan dengan berlari mengelilingi kompleks perumahan, biasanya ia akan beristirahat di taman kecil kompleks perumahan menikmati suasana sejuk taman.


"Siang nanti mama akan datang mengantar makan siang untukmu."kata ibu Alfin.


"Kenapa mama tidak pergi jalan-jalan saja. Kalau untuk makan siang Alfin biasa makan di kantin."sanggah Alfin.


"Mama bisa jalan-jalan besok atau lusa. Untuk hari ini mama ingin melihat tempat kerjamu."wanita itu membantah sanggahan putranya.


Hanya bisa menghela nafas diam-diam, Alfin melanjutkan sarapannya dan bergegas berangkat. Lelaki itu tak peduli jika ibunya nanti datang membawa makan siang untuknya, bukan karena ia malu diperlakukan demikian oleh ibunya. Hanya saja, ia memiliki firasat bahwa ibunya akan memberinya kejutan selain membawa makan siang untuknya.


"Hhhh..."Alfin mendesah, membuang nafasnya dengan keras setelah tiba di dalam mobilnya,"baiklah. Sepertinya aku harus mulai membagi waktuku agar aku bisa menemukan seseorang yang aku sukai."ia mulai menghidupkan mesin mobilnya dan kembali mendesah,"Tak peduli siapa dia, aku akan membawanya ke rumah agar mama tak mendesakku terus menerus."


Hari itu Alfin menjalani harinya seperti biasa, memeriksa pasien dan mengesampingkan pikiran tentang urusan pribadinya. Sampai waktu makan siang pun tiba, seseorang mengetuk pintu ruangan pribadi yang bersebelahan dengan ruang prakteknya. Ia mengira jika yang mengetuk pintu itu adalah ibunya, dengan malas ia membuka pintu dan...

__ADS_1


Ya.


Sesuai dugaannya. Kejutan dari ibunya sudah tiba di depan pintu ruang pribadinya, kini kejutan itu masih berdiri anggun, tatapannya berbinar saat menatapnya dengan senyum semringah menghiasi bibir bergincu yang merah menyala.


"Maaf. Ada yang bisa saya bantu?"tanya Alfin, ia pura-pura tidak tahu arti kedatangan wanita cantik yang menenteng box yang tentu berisi makanan.


Wanita itu memang cantik dan terlihat muda, namun make up yang terlalu tebal membuat Alfin tak merasakan kesan apapun terhadap wanita itu, ia tak membenci, namun juga tidak menyukai wanita itu.


"Dokter Alfin..."wanita itu menyapa Alfin,"kenalkan saya Natasya. Tante menitipkan makan siang untuk Dokter, karena kebetulan saya akan chek up di sini jadi saya yang membawanya."lanjut wanita itu.


"Oh."Alfin hanya ber'oh' ria seraya menerima kotak makan siangnya, wajahnya tetap acuh,"terimakasih. Maaf sudah merepotkan anda."ujarnya.


"Tidak masalah. Kebetulan saya mengenal Tante karena mama saya teman lama Tante saat SMA. Jadi-"


"Oh... Iya iya. Sekali lagi terimakasih. Kalau anda tidak keberatan saya bisa mengantar anda ke ruang Dokter yang akan memeriksa kesehatan anda."sela Alfin seraya tersenyum lebar.


Wanita itu terlihat mengerjapkan mata dan terlihat salah tingkah,"Ah. Kebetulan tadi Dokternya sedang tidak ada di ruangan jadi saya memutuskan untuk menundanya."kata Wanita bernama Natasya itu.


"Ah... Sayang sekali. Kalau begitu saya akan makan siang dulu, kalau tidak ada hal lain saya akan masuk kembali ke ruangan saya."kata Alfin.


Wajah cantik wanita itu tak bisa menyembunyikan ekspresi kesal atas sikap Alfin yang benar-benar tidak menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu,"baiklah. Kalau begitu saya permisi."ujar wanita itu dengan tatapan kecewa.


Alfin menyeringai menatap kepergian wanita itu dan segera masuk ke ruangannya, membuka kota makan siangnya dan melahapnya dengan tenang. Ia sama sekali tak bisa membayangkan jika harus makan ditemani oleh wanita itu, sudah pasti telinganya hanya akan merasakan panas mendengar ocehan wanita itu. Melihat penampilan berlebihan wanita itu Alfin sudah bisa menebak jika wanita itu pasti tidak akan diam saja jika ia sampai memberi celah waktu wanita itu memasuki ruangannya.


Di saat Alfin menikmati makan siangnya, wanita itu dengan langkah lebar membawa beban kesalnya meninggalkan rumah sakit. Nyatanya alasan akan menemui dokter untuk chek up kesehatan hanyalah alibi agar ia tak begitu kentara sengaja menemui Alfin atas permintaan ibu wanita itu sendiri yang memang teman lama ibu Alfin.


"Cih. Lelaki sombong seperti itu tidak akan dapat jodoh meskipun dunia ini berakhir."umpat wanita itu setelah memasuki mobilnya,"Lebih baik aku menemui Kevin daripada harus pulang dan mendengar ocehan mama."lanjutnya masih mengumpat, ia mulai menggerakkan kemudi mobilnya dengan kasar dan memasang earphone sembari menghubungi kontak di ponselnya,"Halo... sayang..."panggilnya manja,"sayang... temani aku belanja yah..."pintanya lagi dengan suara memelas, namun wajah ayunya langsung berubah cemberut setelah mendengar jawaban dari orang yang dihubunginya.


Ciiit


Wanita itu menepikan mobilnya dengan kasar sampai roda mobilnya berdecit cukup keras,"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu ngga bisa nemenin aku belanja. Pokoknya aku ngga mau tahu, aku mau kamu nemenin aku belanja hari ini. Kalau enggak kita putus."dengan wajah berapi-api ia memaksa kekasihnya yang bernama Kevin menemaninya belanja.


"Alaah... Itu cuma alesan kamu aja kan. Kamu pasti udah bosen sama aku. Atau kamu udah punya cewek baru?! siapa cewek baru kamu itu hah?! apa cewek itu juga artis sama kayak kamu?! kenapa kamu diem?! pasti benerkan kamu punya selingkuhan?! pokoknya kalau kamu ngga nemenin aku hari ini, aku minta kita putus!?"wanita itu langsung memutuskan panggilan, melempar ponselnya ke kursi samping dan membuang nafas penuh kekesalan.


Saat wanita itu melirik alat test Pack yang sudah dipakainya jeritan histeris penuh keputusasaan langsung keluar dari mulutnya,"aaaaa... sial. Kenapa aku harus hamil. Bagaimana aku menjebak Kevin agar dia bertanggung jawab sedangkan dia sudah sangat susah untuk ku ajak bertemu. Dasar Rondy brengsek. Ngga seharusnya aku selingkuh sama cowok brengsek itu. Terus aku mesti gimana... Rondy kabur, Kevin susah buat aku temuin. Bahkan dia belum pernah menyentuhku sama sekali."wanita itu dengan perasaan kalutnya kembali mengemudi tanpa arah dan tujuan.


Tiiiiinnnnn


Saat mendengar suara klakson mobil, kesadaran wanita itu sudah terlambat untuk menghindar dari kecelakaan. Sebuah truk yang berlawanan arah karena ia salah menempati jalur menghantam mobilnya yang langsung terpelanting menghantam pembatas jembatan dan tercebur ke air bersama dengan truk yang sama halnya tak bisa menghindar dari kecelakaan itu, tak luput dari dua mobil lain yang saling menghantam dan menghalangi jalan. Seketika jalanan macet akibat kecelakaan tersebut.


Tak jauh dari tempat kecelakaan itu, seorang laki-laki dengan topi hitam dan kacamata hitam serta masker menutupi sebagian wajahnya harus ikut merasakan suasana macet dan menjalankan mobilnya dengan sangat teratur dan begitu lambat.

__ADS_1


"Tasya... Kenapa tidak diangkat.."gumam lelaki itu dengan wajah gelisah, lelaki itu tak lain adalah Kevin Ardhani Kusuma seorang aktor papan atas yang tengah naik daun sekaligus kekasih dari Natasya, wanita yang mobilnya sudah terjun ke sungai.


Terkadang kemalangan akan menutupi sebuah kebohongan, tak ada yang tahu kalau Natasya telah mengkhianati seorang Kevin karena kemalangan gadis itu. Kejutan akan datang untuk siapa saja tak terkecuali Kevin yang harus segera pulang di tengah syutingnya begitu mendengar kabar bahwa adiknya pergi dari rumah, lebih tepatnya adik kesayangannya telah diusir oleh ayah mereka. Kevin Ardhani Kusuma, selain di kenal sebagai seorang aktor, tak lain dia adalah kakak dari seorang gadis bernama Namesya Ayunda Kusuma. Gadis yang saat ini tengah kalut seorang diri dalam kesendiriannya.


__ADS_2