Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Dia menyiksaku


__ADS_3

"Halo kak. Kakak di mana sekarang? Sibuk ngga?"tanya Namesya yang sedang menghubungi Kevin.


"Ngga sibuk Sya... Ada apa?"terdengar suara Andin yang menjawab, Kevin sedang berada di rumah sakit demi mengantar makan malam untuk Andin.


"Eh. Dokter Andin..."Kata Namesya mendengar suara Andin, merasa tidak enak karena pasti ia akan mengganggu Kevin dan kakaknya itu akan mengomelinya besok atau nanti malam.


"Kenapa Sya.?"kini gantian suara Kevin yang bertanya.


"Ngga ada kak. Cuma mau tanya aja kak Kevin udah makan apa belum. Aku sama Raya mau ke warung pak Woro."balas Namesya.


"Oh... Kakak udah makan. Baru aja selesai."kata Kevin.


"Ya udah. Aku pergi sama Raya aja."balas Namesya yang buru-buru memutuskan panggilannya karena tak mau mendengar Andin yang pasti akan menyuruh Kevin mengantarnya.


"Gimana?"tanya Raya.


Namesya tersenyum kecil,"Kak Kevin lagi sama kak Andin. Terus Kak Alfin juga ada jadwal operasi setengah jam lagi. Kita naik taksi aja deh kalau gitu."katanya kemudian.


"Apa aku bilang... Nih. Untung aku gerak cepat. Udah aku pesen taksinya. Ayo kita turun sekarang."kata Raya menunjukkan aplikasi taksi onlinenya.


"Cerdas deh pokoknya."puji Namesya seraya menepuk bahu Raya.


"Sshh..."Refleks Raya meringis ngilu karena bagian yang Namesya tepuk itu masih terasa sakit jika di sentuh dengan kasar, apalagi di tepuk.


"Kenapa? Punggung kamu sakit?"tanya Namesya melihat ekspresi kesakitan Raya yang tidak masuk diakal menurutnya.


"Ya sakit lah. Kamu main tepuk segala."balas Raya menyalahkan Namesya, namun wanita itu tersenyum lebar,"Bercanda sayang..."ujarnya kemudian.


"Ish... iseng banget jadi orang."keluh Namesya.


"Udah ayo buruan turun."ajak Raya.


###


Di kantor Arlan. Lelaki itu sudah kembali dari pesta ulang tahun kliennya lebih awal dari para tamu pada umumnya. Tentu saja karena Arlan tidak betah berlama-lama tinggal di antara bayangan kelabu yang membuatnya pusing karena tak bisa membedakan setiap wajah orang-orang yang ia temui.


"Maaf Tuan. Ini koper milik nona yang tadi siang bertamu. Apa perlu kami simpan atau biarkan tetap di sini?"tanya seorang pegawai yang baru saja membersihkan ruangan Arlan.


"Koper."Arlan mengarahkan pandangannya pada benda berukuran sedang bertengger di samping sofa,"Oh. Biarkan saja di sini. Aku akan menyuruh Tirta mengantarnya ke rumah Mesya nanti."ujarnya sembari mencari kontak Tirta.


"Baik Tuan."balas sang pegawai seraya mengangguk dan berlalu dari ruangan itu.


Arlan hanya mengangguk karena panggilannya telah tersambung,"Tirta. Kamu di mana? Antar koper wanita itu ke rumah Namesya."perintah Arlan yang tak begitu jelas bagi Tirta.


"Koper siapa Tuan? Wanita yang mana? Dan di mana kopernya sekarang?"tanya Tirta.


"Datanglah ke ruanganku sekarang. Aku pulang ke kantor."perintah Arlan.


"Baik Tuan."Tirta yang baru tiba di apartemennya setelah sebelumnya mengantar majikannya itu ke pesta harus kembali keluar dari rumahnya dengan hati menangis.


Tak menunggu lama, Tirta sudah sampai dan siap mengantar koper itu ke apartemen Namesya. Sebab Arlan tahu jika dua wanita itu berteman, pasti Namesya akan menyuruh Raya mengambil koper itu di apartemen. Tidak tahu jika Raya tinggal di apartemen Namesya.


"Tahu begini tadi aku tidak pulang. Menginap saja sekalian di kantor."gerutu Tirta yang sedang memasukkan koper Raya ke dalam mobilnya.


Meskipun menggerutu, tetap saja Tirta mengantar benda itu menuju alamat tempat Namesya tinggal. Dan beruntung ia langsung melihat keberadaan dua wanita itu yang terlihat baru keluar dari dalam taksi, Namesya tampak menenteng sebuah kantong hitam.


"Nona Mesya."Serunya memanggil Namesya, dan kedua wanita itu menoleh.


"Tirta."gumam Namesya yang melihat Tirta menenteng koper yang pasti adalah koper milik Raya.


"Nona. Tuan menyuruhku mengantar koper ini kemari."Kata Tirta seraya menatap Raya dan Namesya.


"Terimakasih. Maaf sudah merepotkan Anda."kata Raya sembari mengambil kopernya.


"Sama-sama nona."balas Tirta.


Namesya tersenyum kecil,"Tidak mau mampir dulu? Aku punya bakso."katanya menunjukkan kantong kecil berisi bakso yang ia bawa pulang.


"Tidak nona. Terimakasih. Saya pamit pulang saja."tolak Tirta.


"Baiklah."balas Namesya,"Hati-hati..."imbuhnya setelah Tirta membalikkan tubuh.


###


"Sya... Mesya..."


Namesya sedang mandi saat Raya masuk kae kamarnya esok hari, Raya tidur di kamar yang biasa di pakai Alfin atau Kevin saat menginap di sana.


"Ya. Kenapa?"tanya Namesya yang hanya menyembulkan kepala berbusanya dari pintu kamar mandi.


"Aku mau keluar sebentar."pamit Raya.


"Oh. Oke. tapi hati-hati."balas Namesya.


"Siap."balas Raya.


Tak lama, Namesya keluar dari kamar mandi berbalut handuk kimono lengkap dengan rambut basah yang di gosok dengan handuk kecil.

__ADS_1


Drrrtt drrttt


Saat ponselnya bergetar, Namesya buru-buru mengambil dan menjawab panggilan dari Alfin,"Halo. Kak Alfin udah pulang lembur?"sapa Namesya.


"Iya. Kangen."keluh Alfin.


"Ih. apaan sih."komentar Namesya yang tetap tersipu hanya mendengar suara Alfin mengaku rindu.


"Temen kamu keluar. Aku boleh ngga masuk."ijin Alfin.


"Emang ada yang larang gitu? Aneh. Raya itu temenku. Sekalipun kak Alfin ke sini ada dia juga ngga masalah."balas Namesya.


"Ya kan kasihan temen kamu. Nanti dia jadi obat nyamuk."timpal Alfin yang ternyata sudah berada di dalam apartemen Namesya dan sedang menghampiri gadisnya itu yang sedang berdiri di depan jendela kamar.


"Ya udah kalau kasihan ngga usah kesini."kata Namesya.


"Tapi udah terlanjur ke sini..."Timpal Alfin bersamaan dengan lelaki itu memeluk Namesya dari belakang.


"Eh. Ya ampun. Kak Alfin... ngagetin aja sih. ih..."Namesya memukul lengan Alfin yang melingkar di perutnya.


Cup


Alfin mencium pipi Namesya,"kangen."rengeknya.


"Iya. Iya... Kangennya di terima... Sini aku obatin. mmmuuach."Namesya balas mencium pipi Alfin.


"Kurang..."kata Alfin memajukan bibirnya meminta jatah.


"Ish... Bener-bener deh. Makin genit."keluh Namesya seraya mencubit hidung Alfin.


"Auh. Sakit sayang..."keluh Alfin.


"Rasain. makanya jangan genit."balas Namesya.


"Genit sama pacar sendiri masa ngga boleh."Alfin membela diri.


Namesya menghela napas,"aku mau ganti baju nih..."katanya memberi kode agar Alfin melepaskan pelukannya.


"Berhenti kerja aja... Nggak usah kerja di sana lagi..."Alfin mengeratkan pelukannya.


"Ngga bisa gitu dong..."tolak Namesya.


"Aku kepikiran kamu terus. Takut Arlan godain kamu terus."keluh Alfin.


"Dia ngga godain aku kok... tenang aja. Lagian dia kan udah punya pacar. Dan kamu tahu sendiri aku ngga akan mudah untuk di goda."kata Namesya.


Namesya menghela napas lagi,"ini peluknya mau sampai kapan? ngga malu kalau di lihat Raya."katanya.


"Ngapain malu. Kata kamu kan dia temanmu. Jadi ngapain malu."balas Alfin.


"Katanya kasihan... Kalau Raya jadi obat nyamuk."Namesya pun membalas.


Setelah cukup lama melepas rindunya, Alfin bergegas pulang ke apartemennya karena lelaki itu harus kembali bekerja meskipun jadwalnya hari ini bertugas sedikit siang dari biasanya.


Sedangkan Namesya berangkat ke kantor di ikuti Raya yang katanya ingin pergi ke mall dekat gedung tempat Namesya bekerja. Hanya sekedar ingin berjalan-jalan di mall. Raya menyusuri beberapa sudut mall tanpa berniat untuk membeli barang-barang di sana.


"Raya. Kamu di sini."


Suara Kevin mengalihkan perhatian Raya yang sedang melihat lalu lalang orang-orang di mall dari lantai tiga bangunan itu.


"Eh. Kak Kevin di sini? Lagi cari apa? Sama siapa?"tanya Raya dan melihat tidak ada siapapun di sekitar Kevin.


"Lagi cari sesuatu aja. Tapi belum ketemu yang pas."balas Kevin.


"Cari hadiah?"tanya Raya dan Kevin mengangguk,"Kalau kakak mau, aku mungkin bisa bantu Kak Kevin cari hadiah. Untuk siapa memang? Cewek atau cowok?"


"Untuk Cewek."Balas Kevin.


"Buat Kak Andin yah..."Goda Raya dan menyenggol bahu Kevin.


"Pasti Mesya yang kasih tahu."komentar Kevin.


"Ya lah pasti memangnya siapa lagi. Tapi memangnya Kak Andin udah mau ulang tahun?"tanya Raya.


"Bukan untuk ulang tahun..."bantah Kevin.


"Terus?"tanya Raya.


"Aku pengen ngelamar dia langsung."balas Kevin mantap dengan keputusannya.


"Bukannya kata Mesya kakak baru PDKT ya."komentar Raya.


"Udah kelamaan PDKTnya."timpal Kevin.


"Ngelamar tapi belum nembak gitu."protes Raya.


"Itu kelamaan juga. Kemarin dia ngomongin temen Mesya yang udah di lamar sama pacarnya. Kakak pikir kayaknya mending lamar aja dia langsung daripada nyatain perasaan. Memangnya orang cinta itu harus selalu di nyatain, kakak udah kasih banyak sinyal dan bukti kalau kakak itu sayang dan cinta sama dia."kata Kevin.

__ADS_1


Raya menggelengkan kepalanya menghadapi makhluk satu ini,"Semoga aja ngga semua cowok itu kayak kak Kevin."katanya.


"Kenapa memang?"tanya Kevin.


"Ya itu. Kalau menurut aku nih yah... mending kakak itu nyatain perasaan dulu baru lamar. Menurut pandangan aku yang sesama cewek, perlakuan manis baik aja ngga cukup buat bukti kalau laki-laki itu suka atau cinta sama kita. Pernyataan itu juga penting buat kami para cewek."Raya menasehati.


Kevin mengangguk sedikit memahami maksud Raya,"Hhhh... Ya sudah. Kalau gitu bantu kakak cari kalung atau apa gitu buat tanda bukti nanti kalau kakak udah nyatain perasaan."kata Kevin.


"Oke. Ayo Raya temenin plus bantu pilih."Raya melangkah bersama Kevin menuju lantai dua gedung tempat para perhiasan berkumpul di dalam lemari berdinding kaca yang siap menggoda pandangan.


Tanpa mereka sadari ada kamera lagi yang mengambil gambar mereka saat sedang memasuki toko perhiasan.


Ting


Sebuah pemberitahuan internet di ponsel Raya membuat gadis itu merogoh tas kecilnya. Ternyata hanya internet tentang gosip di aplikasi ponselnya.


"Eh."Raya berhenti melangkah dan menarik jaket Kevin dengan tangan kirinya,"Kak tunggu."ujarnya sebelum mengedarkan pandangannya.


"Ada apa?"Tanya Kevin mengikuti arah tatapan Raya.


"Nih lihat."Raya menunjukkan sebuah berita berisi artikel dan beberapa foto di sebuah situs gosip,"Ini foto-foto kita waktu di bandara kan."ujarnya.


Kevin mengerutkan kening dan menghela napas,"Inilah kalau jadi artis terkenal. Jemput adik sendiri di kira jemput pacar. Udahlah ngga usah di pikirin. Itu masalah kecil, kakak akan urus nanti."katanya enteng.


"Yakin ini ngga apa-apa? Kalau kak Andin lihat berita ini terus percaya gimana?"tanya Raya.


"Hmmm... Harusnya dia tahu sih. Soalnya pernah ada foto kami juga beredar dan kata-katanya pun sama. Media bilang kalau cewek yang ada di foto itu pacar kakak, padahal waktu itu kami ngga sengaja ketemu dan belum saling kenal juga."balas Kevin mengingat kenangan beberapa bulan lalu.


Raya mengangguk mengerti,"Ya udah. Mendingan kakak cepetan pilih hadiah terus jangan lama-lama nyatain perasaan kakak sama kak Andin."perintahnya.


"Siap tuan putri..."Balas Kevin.


Raya mendengus dan kembali melangkah menuju sebuah toko perhiasan bersama Kevin,"Jadi mau beli kalung aja atau... Eh. lihat kak. Ada cincin pasangan."Raya menunjuk dua cincin pasangan yang cantik dan simpel.


"Dia ngga suka pake cincin... Katanya ribet kalau pas mau operasi mesti lepas-lepas cincin, takutnya nanti hilang kalau kelupaan."kata Kevin.


"Kalau gitu Kalung aja berarti."ujar Raya,"Coba lihat yang itu mba, yang punya mata berlian bentuk bulan."tunjuk Raya.


"Baik."balas si pegawai wanita dengan sopan dan mengambil yang di minta Raya.


"Lihat kak? Cantik ngga? Kak Andin kira-kira suka ngga?"tanya Raya.


Kevin mengelus dagunya melihat kalung di tangan Raya,"Coba kamu pakai dulu."perintah Kevin.


"Loh. Kenapa malah aku di suruh nyobain."protes Raya.


"Udah... coba aja dulu."Kevin meraih kalung di tangan Raya dan hendak memakaikannya ke leher Raya.


"Jangan Kak."cegah Raya karena takut Kevin melihat memar di leher belakangnya.


"Udah ngga apa-apa. Kakak akan bingung kalau ngga kamu coba."kekeh Kevin yang sudah berdiri di belakang Raya dan menyibak rambut panjang raya yang lebat.


Kevin di buat tertegun melihat apa yang ada di balik rambut hitam Raya, sebuah memar yang masih begitu biru. Sementara itu Raya hanya bisa menunduk diam tak berkutik.


"Hhhh..."Kevin menghela napas dan mulai melanjutkan mengenakan kalung itu ke leher Raya dan kembali berdiri di depan Raya, tatapannya menatap wajah Raya yang enggan menatapnya,"Oke. Aku pilih yang itu."kata Kevin memutuskan,"Mba tolong bungkus kalung yang... itu."Kevin menunjuk kalung dengan bentuk bandul yang berbentuk bintang tak kalah cantik dari kalung yang sudah melingkar di leher Raya.


Pegawai toko membungkus benda yang Kevin tunjuk, sementara Raya melepaskan kalung di lehernya,"Itu untukmu."kata Kevin.


"Hah."Raya tertegun,"untukku."


"Iya. Beberapa hari lalu Kakak beli kalung seperti itu untuk Mesya, dan sekarang untukmu. Kamu bisa tanya sama Mesya nanti, kalungnya sama persis."balas Kevin.


"Tapi kak-"


"Ngga ada tapi-tapi... Itu untukmu."potong Kevin,"Dan kamu berhutang penjelasan padaku."imbuhnya.


Raya menunduk menghadapi sikap Kevin yang sudah benar-benar seperti seorang kakak untuknya yang akan marah jika dirinya diperlakukan tidak baik oleh siapapun.


Setelah membayar dua kalung itu, Kevin dan Raya pergi dari mall. Kevin membawa Raya menuju kafenya.


"Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi."Kata Kevin setelah duduk di kursi bersebrangan dengan Raya.


Raya masih menunduk, memegang cangkir kopi yang Kevin bawa untuknya namun tidak kunjung meminumnya."Dia menyiksaku."itu satu kalimat pendek yang mewakili keadaan rumah tangga Raya selama ini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊


__ADS_2