Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Rahasia Keluarga Sanjaya


__ADS_3

"Bibi... Kenapa melarangku bekerja di rumah orang tadi. Padahal kan gajihnya sangat besar kalau dibandingkan dengan bekerja di gedung apartemen."protes Arumi saat Bu Sasmi sudah masuk dan duduk di kursi.


"Arumi... Apa kamu sudah tidak merasa takut kalau bekerja di rumah laki-laki. Apa kamu sudah lupa apa yang telah kau lalui saat kau bekerja tetap di rumah laki-laki. Apalagi laki-laki tadi bilang rumahnya sedang di renovasi, pasti ada banyak laki-laki di sana."jelas Bu Sasmi perihal alasan atas larangannya terhadap keinginan Arumi.


Arumi menggigit bibirnya, dengan kepala menunduk sembari mempermainkan jari-jarinya,"Aku memang masih mengingat kejadian waktu itu. Tapi aku juga ingin berdamai dengan masa lalu dan Arumi hanya ingin meyakinkan diri Arumi kalau tidak semua laki-laki itu jahat."lirih gadis itu.


Bu Sasmi menghela napas dan mendekati Arumi, membelai rambut gadis itu sebelum memeluknya dengan penuh kasih,"Bibi hanya punya kamu di dunia ini. Bibi tidak mau hal buruk menimpamu lagi seperti waktu itu. Setidaknya kamu tidak bekerja sendirian di gedung itu, dan itu berbeda dengan kamu bekerja di rumah sendirian."kata wanita itu.


"Arumi tahu. Bibi mengkhawatirkan Arumi."Balas Arumi,"Sudahlah. Bibi tidak usah khawatir, aku tidak akan gegabah lagi dalam memilih pekerjaan. Sebaiknya sekarang bibi istirahat. Aku akan memasak."


"Ya sudah."Bu Sasmi melepas pelukannya dan kembali mengusap rambut Arumi dengan kedua tangannya.


Arumi pergi menuju dapur dan berkutat dengan peralatan dapur serta bahan makanan di sana. Saat melewati jendela kaca dapur, netranya tanpa sengaja melihat kearah luar dan mendapati Feres masih berdiri di jalan depan rumah.


"Mencurigakan. Kenapa orang itu terus melihat rumahku. Hhhh... untung bibi langsung melarangku. Jangan-jangan laki-laki itu orang jahat."Gumam Arumi sembari bergidik.


Di luar rumah itu, Feres memang masih berdiri di sana menatap rumah kecil namun tetap terlihat rapi dan bersih.


"Apa mungkin gadis tadi itu... Ah. Bukankah gadis tadi menyebut Bu Sasmi dengan sebutan bibi. Dan warga yang kutemui tadi juga mengatakan kalau Bu Sasmi tinggal dengan keponakannya."gumam Feres yang akhirnya berlalu pergi dari tempat itu.


"Sebenarnya siapa Bu Sasmi itu? Kenapa ayah menyuruhku mencari beliau. Ada hubungan apa ayah dengan beliau?"Tanya Feres penasaran.


Feres secara khusus di perintahkan ayahnya untuk mencari keberadaan Bu Sasmi yang katanya adalah teman lama ayah dan ibunya. Namun ayahnya tidak memberitahu dengan jelas apa alasan ayahnya memberikan perintah itu padanya.


"Tidak mungkin kalau ayah menghianati mama bukan? Aku tahu benar sesayang apa ayah pada ibu. Aku harus menyelidiki diam-diam tentang rahasia apa yang ayah simpan selama bertahun-tahun."laki-laki itu terus berbicara sendiri sembari berjalan menyusuri jalan kembali ke tempat mobilnya terparkir.


###


Menjelang sore, Alfin memberitahu Namesya kalau malam ini dia akan pulang ke rumah. Tidak ada penjelasan mengenai alasan Alfin yang pulang ke rumah itu. Namun Namesya teringat akan permintaan Alfin semalam yang memintanya untuk tetap bersandiwara menjadi kekasih laki-laki itu.


"Apa dia akan menanyakan keputusanku?"tanya Namesya," tapi bukankah semalam dia mengatakan kalau aku tidak perlu menanggapinya dengan serius. Ah. Aku bingung. Jadi dia mau aku membantunya atau tidak."


Drrttt


Namesya menyambar ponselnya di meja dapur dan melihat layar itu berkedip menampilkan nama Arumi.


"Ada apa Arumi menghubungiku?"gumam Namesya sebelum menjawab panggilan Arumi,"Ya. Arumi."sapanya.


"Halo kak Mesya."dari sebrang Arumi menyapa.


"Iya. Ada apa Arumi? Kok kedengarannya kamu kayak lagi lari-lari?"tanya Namesya mendengar napas Arumi yang terdengar kurang teratur.


"Kak... Arumi ngga tahu harus minta tolong sama siapa, jadi Arumi hubungin kak Mesya. Kak... Arumi takut."kata Arumi yang benar-benar terdengar sedang ketakutan.


"Arumi ada apa? Kamu di mana?"tanya Mesya yang langsung merasa khawatir mendengar suara Arumi yang terdengar gemetar.


"Kak... Arumi takut..."Arumi kembali merintih lirih.


"Arumi... kamu tenang ya. Kasih tahu aku sekarang kamu di mana? Kamu jangan panik oke."perintah Namesya.


"Kak aku ... aku ada... aku... Hump."


"Arumi... Arumi... Arumi..."Teriak Namesya begitu suara Arumi tidak terdengar dan sambungan terputus.


Namesya berusaha menghubungi kembali Arumi, namun tidak mendapatkan jawaban. Alhasil gadis itu menjadi panik dan mondar-mandir di dapur mencoba mencari tahu kira-kira di mana Arumi saat ini.


"Ah. Aku harus tanya pada bibi Sasmi. Pasti beliau tahu kemana Arumi pergi."kata Namesya hendak keluar dari rumah.


Namun ponselnya kembali bergetar dan kali ini sebuah pesan berisi sebuah foto dari nomor yang tidak ia kenal.


Foto itu menampilkan Arumi yang sedang duduk di dalam mobil. Wajah gadis itu tampak ketakutan, meringkuk di atas kursi mobil memeluk lutut.


Namesya hendak menghubungi nomor itu, namun kalah cepat karena nomor itu sudah lebih dulu menghubunginya menggunakan panggilan video. Merasa penasaran dan heran, mengapa menggunakan panggilan video. Tanpa ragu Namesya menjawab panggilan itu dan keningnya berkerut tajam saat melihat wajah yang terpampang di layar ponselnya.


"Dokter Feres."katanya begitu mengenali wajah yang sedang menghubunginya.


"Halo. Mesya. Maaf pasti aku sudah membuatmu khawatir."kata Feres dengan senyum khas lelaki itu.


"Apa maksudnya ini? Dokter menculik Arumi?"tanya Namesya.


Seketika tawa Feres pecah mendengar pertanyaan Namesya,"Kau pikir aku kekurangan uang sampai harus menculik anak orang Hem. Aku justru menolongnya. Kau bicara sendiri saja dengannya."Gambar di layar ponsel seketika bergerak cepat seiring tangan Feres yang menyerahkan ponselnya pada Arumi yang duduk di kursi belakang.


"Kak Mesya..."Panggil Arumi yang masih ada sisa ketakutan di wajah gadis itu.


"Tenang. Ya. Kamu aman kok. Dokter Feres itu orang baik. Dia teman dokter Alfin."Kata Namesya,"ada apa? Apa yang terjadi tadi sampai kamu terdengar begitu ketakutan?"tanyanya.


"Kak... Aku ngga bisa cerita sekarang."kata Arumi.


"Ya udah ngga papa. Sekarang kamu mau pulang atau mau ketemu kakak."Namesya menawarkan.


"Aku mau ketemu kak Mesya aja. Kalau pulang aku takut buat bibi khawatir. Dia masih dalam pemulihan. Aku ngga mau buat bibi cemas."kata Arumi.

__ADS_1


"Ya udah. Kamu kesini ya. Dokter Feres tahu kok rumah ini."kata Namesya.


Di layar ponsel tampak Arumi mengangguk dan gadis itu mengembalikan ponsel itu kepada Feres."Alfin sudah pulang?"tanya Feres yang terlihat sedang menyetir.


"Dokter Alfin..." Namesya menoleh ke arah pintu rumah dan melihat Alfin sedang berdiri di sana."Ah. Dia baru pulang."kata Namesya.


"Oke. Ya sudah. Nanti aku akan ke rumah."Kata Feres.


"Oh. i-iya."jawab Namesya yang masih melihat keberadaan Alfin yang masih berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Laki-laki itu tampak sedang berusaha menyembunyikan perasaan kesal.


"Dok-dokter. Sejak kapan dokter berdiri di situ?"tanya Namesya seraya melangkah menghampiri Alfin yang terlihat menghembuskan napas keras.


"entahlah."jawab laki-laki itu tidak jelas sembari berlalu menuju tangga.


Namesya merasa aneh dengan sikap Alfin yang terasa dingin padanya. Biasanya laki-laki itu akan memasang wajah ramah dengan senyum yang seakan tak luntur dari bibir laki-laki itu saat menatap Namesya.


"Ada apa dengannya?"gumam Namesya.


Tap


tap


tap


Namesya kembali menatap kearah tangga di mana Alfin sedang turun dengan langkah cepat.


"Dokter. Boleh bicara sebentar?"tanya Namesya.


"Apa?"Alfin balas bertanya, dengan tatapan dingin tanpa senyum.


Namesya merasa seperti berhadapan dengan orang lain jika melihat ekspresi Alfin saat ini,"I-itu... Aku..."


"Kau tidak perlu memberi jawaban apapun tentang permintaan konyolku semalam. Aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku."potong Alfin.


"Hah. A-apa maksud dokter? semalam..."Namesya harus memutar otaknya jika harus berhadapan dengan wajah dingin Alfin yang tampak menakutkan dan membuatnya gugup."Oh. Soal semalam... Itu. Aku memang berniat membicarakannya lagi dengan dokter. Tapi kali ini aku ingin membicarakan hal lain."


"Sejak kapan kamu menyimpan nomor ponsel Feres? Darimana kamu mendapatkannya? Apa dia yang menghubungimu lebih dulu?"tanya Alfin yang entah ada perasaan apa di dalam dadanya, laki-laki itu merasa sangat kesal saat melihat Namesya melakukan panggilan video dengan Feres. Namun apa haknya untuk kesal?


Sementara itu Namesya berkali-kali mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Alfin seputar dirinya yang memiliki nomor ponsel Feres,"Tadi... Tadi dokter Feres menghubungiku karena dia ingin-"


"Ya. Aku tahu. Dia ingin kemari untuk menemuimu,bukan?"potong Alfin,"Kalau sudah selesai bicara aku harus menyelesaikan pekerjaanku di dalam."lelaki itu semakin tidak bisa mengontrol emosinya dan berjalan melewati Namesya yang heran dengan sikap Alfin saat ini,"Ah. Ya. Satu lagi. Silahkan kamu jamu sendiri Feres dan jangan menggangguku."


Brak


"Apa ada masalah di rumah sakit? Kalau masalahnya di rumah sakit kenapa marah-marahnya sampai dibawa ke rumah. Aneh. Ternyata dia bisa semenakutkan itu."gumam Namesya.


Memutus rasa penasarannya, Namesya mengedikkan bahu dan melangkah kembali ke arah pintu bermaksud ingin menunggu kedatangan Arumi dari sana. Gadis itu tidak tahu kalau ada yang memperhatikannya melalui cctv.


"Sampai menunggunya di depan pintu? Apa dia sudah tidak sabar bertemu dengan Feres. Astaga... Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa mengontrol emosiku? Oh. ayolah. tenang... Tenang... jangan sampai membuat Mesya salah paham. Pasti dia mengira aku laki-laki aneh yang marah-marah tanpa sebab yang jelas."Kata Alfin yang sedang melihat layar laptopnya, laki-laki itu meraup wajahnya dan saat kembali melihat layar laptop keningnya berkerut tajam,"Arumi. Kenapa dia datang lagi? Dia datang bersama Feres? Bagaimana bisa? Tidak mungkin kalau mereka saling mengenal. Aku saja tidak mengenalnya padahal dia beberapa kali menggantikan Bu Sasmi bekerja di sini."Gumam Alfin.


Di luar ruangan Alfin, Namesya langsung memeluk Arumi begitu gadis itu berlari ke arahnya.


"Sudah. Tidak apa-apa. Jangan takut. kamu sudah aman di sini."kata Namesya menenangkan Arumi yang masih ada sisa ketakutan.


"Dokter silakan masuk."Namesya membiarkan Feres masuk lebih dulu.


"Mana Alfin?"tanya Feres.


"Dokter Alfin ada di ruangannya. Katanya ada pekerjaan."jawab Namesya menggandeng Arumi memasuki rumah.


"Pekerjaan barunya aku tahu pasti."balas Feres,"Pasti dia sedang..."laki-laki itu mengedarkan tatapannya dan berhenti menatap ke arah cctv, senyumnya mengembang.


"Sedang apa maksudmu?"suara Alfin terdengar begitu dingin, namun tidak sedingin beberapa menit yang lalu dan laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu ruangannya.


"Oh. Sudah keluar dari sarang rupanya."kata Feres yang kemudian melangkah menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil minuman dari sana.


"Cih."Desis Alfin yang kemudian menatap kearah Namesya dan Arumi yang juga sedang menatapnya,"Khem."Alfin berdeham melihat tatapan Namesya yang jelas-jelas mempertanyakan sikapnya,"Arumi. Bukankah baru kemarin kamu bekerja di sini."katanya mencoba mencairkan suasana.


"Itu... Aku..."Arumi bingung untuk memberi jawaban.


"Dia kemari ingin menemuiku."Namesya menggantikan Arumi memberi jawaban,"Arumi. Ayo naik ke atas. Kamu bisa menceritakannya di sana."ajak Namesya pada Arumi.


"Memangnya ada apa?"tanya Alfin.


"Urusan perempuan. Dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita para dokter laki-laki."kata Feres yang langsung merangkul bahu Alfin dan menuntunnya menuju sofa.


"Ayo Arumi."Namesya kembali mengajak Arumi ke kamarnya dan di balas anggukan kecil oleh gadis itu."Oh ya. tunggu sebentar."Namesya berhenti melangkah dan beralih menuju dapur, gadis itu mengambil beberapa minuman dingin dan beberapa camilan.


Sesampainya di kamar, Arumi duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu.


"Ini minum dulu sebelum kau ceritakan semuanya padaku."Namesya menyodorkan minuman pada Arumi.

__ADS_1


Beberapa waktu yang lalu di gedung apartemen tempat Arumi bekerja...


Arumi baru saja turun dari bis yang membawanya menuju tempat ia bekerja. Ia sedang berjalan di lobi gedung dengan santai dan sesekali menyapa teman-temannya yang berpapasan dengannya. Namun saat ia cukup lengah dan tidak memperhatikan sekelilingnya tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


Bruk


"Aduh. Maaf. Saya tidak sengaja."Kata Arumi meminta maaf setelah dahinya seperti menabrak dada seseorang di hadapannya.


Karena tidak mendapat respon, Arumi mendongak untuk melihat siapa orang yang tidak sengaja ia tabrak.


"Halo. Nona Arumi."Sapa orang itu seraya melambai dan tersenyum, ternyata seorang laki-laki yang cukup tampan.


Seketika Arumi membelalakkan matanya melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapannya."K-Kau."katanya gagap.


"Ya. Ini aku."jawab laki-laki itu masih menyunggingkan senyum.


Degup jantung Arumi yang seketika itu meningkat memaksa Arumi untuk bergerak dari kebekuannya karena tanpa ia sangka dirinya harus dipertemukan dengan seseorang yang telah meninggalkan kenangan buruk dalam memorinya. Tanpa menunggu laki-laki itu meraihnya, Arumi segera berbalik dan hendak pergi.


"Kamu mau kemana."Cegah laki-laki itu yang sudah berhasil mencekal tangan Arumi.


"Tidak. Lepaskan aku."lirih Arumi, gadis itu tidak berani berteriak yang pasti akan menyebabkan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di sana. Namun percuma saja, karena dirinya sudah terlanjur menjadi pusat perhatian sejak laki-laki itu mencekal tangannya mencegah dirinya pergi.


"Aku mohon. Lepaskan aku."pinta Arumi sembari berusaha melepaskan tangannya.


"Tidak. Kita belum menyelesaikan urusan kita. Kau tidak bisa pergi begitu saja seperti saat itu. Apa kau sudah lupa kau meninggalkanku begitu saja waktu itu."kata laki-laki itu seraya menatap Arumi begitu intens.


Arumi menoleh sekelilingnya berharap ada yang membantunya lepas dari laki-laki ini, namun tampaknya dirinya tidak begitu di pedulikan oleh siapapun.


"Tolong. Lepaskan aku."Arumi masih terus berusaha melepaskan diri.


"Tidak. Aku tidak bisa melepaskanmu dan membiarkanmu pergi lagi. Ayolah. Jangan seperti anak kecil seperti ini. Setidaknya kita harus menyelesaikan masalah kita baik-baik. Ayo kita pulang. Kita bicarakan masalah kita baik-baik di rumah. Jangan seperti ini. Sayang."Kata laki-laki itu dengan tatapan licik yang sudah berhasil membuat orang-orang mungkin mengira mereka memiliki hubungan dan sedang bertengkar.


Arumi semakin ketakutan dan tanpa di sadari ia menggigit tangan laki-laki itu yang mencekal tangannya.


"Arg..."jerit laki-laki itu.


Arumi langsung melarikan diri dari laki-laki itu, berlari tanpa arah dan mencoba mencari tempat persembunyian. Arumi berlari tanpa menoleh sampai gadis itu tiba di tempat parkir dan bersembunyi di samping mobil.


Di tempat itulah Arumi menghubungi Namesya, sekaligus mendapat pertolongan dari Feres yang membekap mulutnya agar gadis itu tidak bersuara.


"Ssyuuut... Diam. Dia sedang mengejarmu menuju kemari."kata Feres masih menutup mulut Arumi.,"Aku akan menolongmu. Tetaplah di sini. Aku akan mengalihkan perhatiannya dan membuatnya pergi dari tempat ini. Oke. Percayalah padaku."imbuh Feres.


Tap


Tap


Tap


"Arumi..."Teriak laki-laki itu tidak jauh dari tempat Arumi bersembunyi.


Saat itulah Feres muncul dan menghampiri laki-laki itu,"Evan."Serunya memanggil laki-laki itu.


"Feres."laki-laki bernama Evan itu tampak terkejut melihat Feres di sana.


"Kau tinggal di sini?"tanya Feres.


"Heh. Apa urusannya denganmu."Evan tampak sinis terhadap Feres.


"Ya. Memang aku tak memiliki urusan denganmu."kata Feres.


Evan mendengus dan memalingkan pandangannya sekilas,"Tapi kau pernah mencampuri urusanku. Dan aku masih tidak terima itu."jawab Evan ketus.


"Aku akan mencampuri urusan siapa saja jika orang itu melakukan kesalahan."kata Feres menatap tajam kearah Evan.


"Aku tidak sedang ingin ribut denganmu. Sebaiknya enyahlah dari sini."usir Evan.


Feres mendengus melihat betapa sombongnya Evan yang sebenarnya adalah sepupunya dari pihak ibunya yang tinggal di Bandung.


"Tuan Evan."tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Evan.


"Ah. sial."umpat Evan karena gagal mencari Arumi dan sekarang harus menyerah mencari gadis itu karena sekretarisnya mengingatkan ia harus segera pergi menemui klien."Awas saja kau gadis kecil. Aku pasti akan menemukanmu."gerutu Evan yang berlalu setelah melempar tatapan sinis kepada Feres.


"Fiuh..."Feres menghela napas dan berbalik kembali ke tempat Arumi bersembunyi.


"Ayo. Aku akan mengantarmu pulang."Ajak Feres.


Dan akhirnya Feres mengantar Arumi menemui Namesya, tidak mengira jika rasanya dunia terasa sempit hingga mereka kembali bertemu dan ternyata sama-sama mengenal orang yang sama.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2