Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Akhir penantian


__ADS_3

Semua orang akhirnya menghela napas lega setelah cukup lama menunggu operasi Alfin berlangsung. Alfin langsung di pindahkan ke kamar rawat inap setelah operasi selesai. Setelah kedua orang tua Alfin keluar dari kamar rawat Alfin, Namesya bergegas masuk demi melihat keadaan lelaki itu.


Namesya tertegun melihat Alfin yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di lengan lelaki itu. Sejenak gadis itu menengadahkan kepala demi menghalau air matanya, namun ujung-ujungnya tangannya ikut andil untuk menghapus air matanya yang menolak untuk tidak mengalir. Perlahan Namesya duduk di kursi, dengan hati-hati gadis itu menyentuh tangan Alfin yang tidak terpasang infus. Seakan takut mengusik ketenangan Alfin, Namesya membelai punggung tangan Alfin dengan lembut.


"Maaf aku datang terlambat."Lirih Namesya sembari berusaha tersenyum,"Kamu harus cepat sembuh. Papah ingin bertemu denganmu."


"Hiks. Hiks. Hiks. Katamu kalau aku rindu aku harus memberitahumu dan kamu akan langsung menemuiku saat itu juga. Sekarang aku sangat merindukanmu, tapi aku sudah di sini, jadi kamu tidak perlu pergi menemuiku."Namesya kembali menghapus air matanya.


Namesya terus berbicara berharap Alfin mendengar suaranya dan lekas bangun. Sementara itu Meylani menatap perlakuan Namesya dari kaca pintu dari luar dengan tatapan nanar.


"Mah. Sebaiknya kita beri waktu Mesya untuk menemani Alfin."Kata Hendra.


"Iya pah. Pasti Alfin akan sangat senang melihat Mesya saat bangun nanti."timpal Meylani.


"Permisi."


Hendra dan Meylani menoleh saat mendengar suara sapaan seseorang. Keduanya melihat laki-laki dan perempuan yang mungkin adalah sepasang suami istri, mereka tampak seumuran dengan mereka. Tak lain dua orang asing itu adalah orang tua Namesya.


"Iya. Ada yang bisa kami bantu."kata Hendra.


Di balik kaca matanya, Edi Wira menatap Meylani dan Hendra dengan seksama,"Apakah anda orang tua Alfin?"tanyanya langsung.


Meylani dan Hendra saling bertukar tatapan dan kembali menatap kedua orang tua Namesya,"Benar. Maaf kalau boleh tahu Anda siapa ya?"Hendra menjawab sekaligus bertanya.


"Kami orang tua Namesya."jawab Edi Wira.


"Ah... Orang tua Mesya. Ya ampun..."Senyum Meylani langsung merekah seraya melirik Hendra,"Pah. Ketemu calon besan pah."wanita itu menggoyang lengan Hendra."Aduh bagaimana ini. Silakan duduk dulu."Meylani menyuruh orang tua Namesya duduk di kursi tunggu depan ruang rawat.


"Terimakasih."jawab Sukma Ayu ibu Namesya.


"Maaf. Anak saya baru keluar dari ruang operasi. Dia masih dalam pengaruh obat bius jadi belum bangun."kata Meylani.


Edi Wira dan Sukma ayu hanya tersenyum kecil memberi tanggapan.


"Oh ya. Maaf kami belum tahu nama kalian. Pasti Mesya juga belum kasih tahu nama kami kan."Imbuh Meylani seraya mengulurkan tangan dan berkata,"Perkenalkan saya Meylani dan ini suami saya Hendra."


Sukma ayu menyambut uluran tangan Meylani,"Saya Sukma dan ini suami saya Edi Wira."


Hendra dan Edi Wira saling bertukar salam,"Bisa kita bicara sebentar pak Edi?"tanya Hendra.


"Tentu saja. Kebetulan saya juga ingin membicarakan sesuatu dengan anda."balas Edi Wira.


Para suami sekaligus ayah itu hanya pergi berdua tanpa istri-istri mereka. Hendra mengarahkan langkah mereka menuju kantin rumah sakit dan Edi Wira hanya mengikuti tanpa mengucapkan apapun.


"Silakan pak Edi."Hendra mempersilakan Edi Wira duduk.


Edi Wira mengangguk sembari tersenyum kecil dan duduk di kursi, sementara itu Hendra memberi isyarat pada pegawai kantin untuk mencatat pesanan mereka.


"Mau pesan apa pak?"tanya si pegawai.


"Saya kopi saja. Americano."jawab Edi Wira.


"Saya Americano tanpa gula."pesan Hendra.


"Baik pak. Mohon tunggu sebentar."


Hendra tersenyum saat Edi Wira menatapnya,"Gula darah saya tinggi pak Edi."katanya seraya terkekeh.


"Usia seperti kita memang harus ekstra menjaga kesehatan pak Hendra."timpal Edi Wira.


"Benar sekali. Bahkan saya sudah ingin sekali menimang cucu."kelakar Hendra seraya tertawa kecil berusaha mencairkan suasana dimana melihat Edi Wira yang cenderung pendiam membuat Hendra harus mengimbanginya dengan gurauan recehnya.


"Ngomong-ngomong pak Hendra punya berapa putra?"tanya Edi Wira.


"Saya punya dua pak Edi. Alfin putra sulung saya dan Ryan putra bungsu saya yang sekarang menggantikan pekerjaan saya di perusahaan."jawab Hendra,"Pak Edi sendiri punya berapa anak?"


"Sama. Saya juga punya dua. Tapi sulung saya laki-laki dan seperti yang anda ketahui, Mesya putri saya anak kedua. Dia sangat manja. Saya sering khawatir tidak bisa mendidiknya dengan benar karena kemanjaannya."kata Edi Wira sedikit curhat mengenai Namesya.


"Wajar saja kalau anak perempuan itu manja. Tapi saya lihat Mesya itu anak yang baik loh pak. Istri saya selalu membicarakan putri bapak dengan sangat antusias. Meskipun mereka baru kenal beberapa hari tapi istri saya sangat menyayangi putri pak Edi seperti putrinya sendiri."tutur Hendra.


Edi Wira menghela napas dan mengangguk pada pegawai yang meletakkan kopinya di atas meja,"Putri saya memang baik pak. Karena itu saya menaruh kepercayaan penuh padanya saat dia mulai berkencan dengan pacarnya. Tentu pak Hendra tahu siapa yang saya maksud."kata Edi.


Hendra mengangguk paham dan menyeruput kopinya perlahan,"Putri anda sempat menjadi sekretaris saya selama beberapa bulan sebelum saya melimpahkan jabatan saya pada putra saya. Selama itu saya memang sedikit mendengar tentang hubungan putri pak Edi dengan Rio. Jujur saja saya agak ragu saat istri saya memberitahu kalau Alfin memiliki kekasih dan kekasihnya itu putri pak Edi."Hendra mulai mengutarakan pengetahuannya tentang Namesya.


"Maaf atas kelancangan putri saya."tutu Edi Wira.


"Itu bukan kesalahan mesya pak. Alfin juga ikut andil. Dia yang meminta Mesya membohongi istri saya, meskipun Alfin juga terpaksa berbohong karena ulah istri saya yang memojokkan Alfin dan mengancamnya akan menikahkan Alfin dengan sembarang wanita yang istri saya pilih."tutur Hendra, lelaki itu menggelengkan kepala mengingat kekeras kepalaan istrinya terhadap Alfin.


"Tetap saja putri saya juga salah."timpal Edi Wira,"Hhh... Seharusnya dia pulang memberitahu keluarganya lebih dulu atas masalahnya. Saya pasti sudah kehilangan Mesya jika bukan karena putra anda menolongnya."keluh Edi Wira.

__ADS_1


Hendra tersenyum dan meneguk kopinya,"Semua ini takdir pak. Apa yang terjadi pada putra putri kita, semua itu tidak lain karena takdir. Tuhan yang membuat mereka bertemu dan saling melibatkan diri dalam masalah masing-masing."kata Hendra.


"Hhhh... Ya. Semuanya memang pasti sudah Tuhan gariskan."tutur Edi Wira.


"Benar pak. Saya sebagai orang tua sepenuhnya akan membebaskan mereka untuk memilih pilihan hidup mereka sendiri. Apapun pilihan mereka, jika itu akan membuat mereka bahagia saya akan mendukungnya."kata Hendra.


Edi Wira tersenyum getir sembari memandangi kopinya, lelaki itu bukannya tidak memberikan kebebasan pada Namesya, namun pengalaman membuat laki-laki itu harus sangat berhati-hati dalam segala hal.


"Pak Edi."Hendra menyentuh tangan Edi Wira yang tampak sedang melamun.


"Oh. Maaf pak. Bapak bicara apa?"Kata Edi Wira.


"Begini pak."kata Hendra,"Bisakah kita percayakan semuanya pada putra putri kita. Putra saya sangat mencintai putri anda, bisakah anda percaya pada putra saya."


Edi Wira menghela napas berat,"Apakah putra anda benar-benar sudah yakin dengan keputusannya."kata Edi Wira tampak ragu.


"Saya sangat mengenal putra saya pak. Alfin bukan orang yang melakukan hal tanpa memikirkannya lebih dulu. Dia akan selalu konsisten dengan semua keputusannya."kata Hendra meyakinkan Edi Wira mengenai Alfin.


"Hhh... Saya bisa apa pak kalau mereka memang saling menyukai."tutur Edi Wira,"Masalahnya putri saya... hhh... Apakah anda juga sudah tahu kalau putri saya sedang mengandung."


Hendra tampak menelan saliva diam-diam, namun kemudian lelaki itu tersenyum,"Jika Alfin bisa menerima Mesya apa adanya, kami tidak punya alasan untuk menyangkal pilihannya."kata Hendra kemudian.


Dua orang ayah itu sama-sama memutuskan untuk membiarkan Alfin dan Namesya menentukan pilihan mereka saat ini. Membiarkan mereka bersama jika itu adalah takdir mereka. Tak akan mengusik hubungan mereka jika mereka bahagia dengan keputusan yang telah anak-anak mereka ambil.


Sementara itu Namesya sampai tertidur di samping Alfin yang akhirnya mulai sadar dari pengaruh obat bius selama operasi. Laki-laki itu mengerjapkan mata dan memejamkannya sejenak untuk menetralkan perasaannya saat ini. Terakhir yang laki-laki itu ingat adalah sedang menghubungi Namesya sebelum rasa sakit di perutnya membuatnya kalap dan tak sadarkan diri.


"Mmm..."


Igauan Namesya membuat Alfin membuka matanya dan melihat ke samping tempat ia berbaring. Netranya menyipit melihat wajah tidur Namesya yang mulutnya terlihat sedang berkomat Kamit seperti tengah memakan sesuatu.


"Mesya."gumam Alfin seakan masih tidak percaya ada Namesya di sampingnya, Alfin mengedarkan tatapannya menyapu ruangan dan melihat dua orang wanita paruh baya tengah tertidur di sofa dalam posisi duduk.


"Siapa ibu itu?"tanya Alfin melihat ibu Namesya yang belum ia kenal tidur di samping ibu lelaki itu."Jam berapa sekarang?"tanyanya dan mengarahkan tatapannya ke arah jam kecil di atas meja dan jam itu sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam."Sudah malam. Tapi benarkah ini bukan mimpi?"Alfin kembali menatap Namesya yang masih tertidur sembari menggenggam tangan Alfin.


"Mmmm..."Namesya kembali mengigau dan mulutnya komat kamit mengundang tawa kecil Alfin.


"Sss..."rintih Alfin yang merasa nyeri di bagian perutnya saat tawa kecilnya membuat otot perutnya sedikit menegang.


Saat itulah Namesya mulai membuka mata perlahan dan melihat Alfin tengah meringis menahan nyeri karena luka jahitan operasinya."Dokter sudah sadar?"tanya Namesya yang langsung berdiri demi memeriksa keadaan Alfin,"Apa ada yang sakit?"tanya Namesya.


Alfin mencoba mengontrol rasa nyerinya yang perlahan mereda,"Aku baik-baik saja."jawabnya.


"Hei..."Cegah Alfin dengan cekalan lemahnya saat Namesya hendak pergi,"Aku baik-baik saja. Tadi cuma nyeri sedikit karena aku ketawa melihatmu."kata Alfin.


"Ketawa karena melihatku. Memangnya apa yang lucu denganku."kata Namesya.


"Ya lucu aja."jawab Alfin.


"Ih. ngga jelas banget sih."Namesya pura-pura merajuk.


"Eh. Kok malah ngambek sih. Ngga kasihan sama aku nih. Aku lagi sakit loh masa ngambek gitu."goda Alfin melihat Namesya mengerucutkan bibir.


"Ya habisnya dokter ngomong ngga jelas."timpal Namesya.


Alfin tersenyum dan sedikit menarik tangan Namesya agar gadis itu mendekat,"Duduk."perintahnya.


"Kata dokter aku harus panggil mereka kalau dokter bangun."kata Namesya yang sudah duduk di samping Alfin.


"Udah besok aja. Aku juga dokter. Aku tahu sekarang aku baik-baik saja."bantah Alfin.


"Jadi dokter ngga bisa menjamin ngga bakal kena penyakit loh ya."Namesya tidak mau kalah.


Alfin tersenyum,"Ya iya... Oke. Aku ngaku kalah deh kalau harus berdebat sama kamu. Tapi beneran aku ngga apa-apa. Cuma..."


"Cuma apa?"tanya Namesya.


"Cuma masih kangen aja."jawab Alfin.


"aish."desis Namesya seraya memutar bola matanya.


"Bisa minta tolong ngga."pinta Alfin.


"Apa?"tanya Namesya.


"Aku pengin duduk. Capek tiduran terus."balas Alfin.


"Kenapa ngga tidur lagi aja. Ini masih malem loh."perintah Namesya.


"Udah capek tidur terus. Pengin duduk sebentar aja."bujuk Alfin seraya menarik-narik tangan Namesya.

__ADS_1


Namesya menghela napas dan akhirnya membantu Alfin untuk duduk dengan membuat tempat tidur Alfin meninggi di bagian kepala."Segini cukup?"tanya Namesya.


"Udah. Segini aja."balas Alfin dan menepuk tempat tidurnya meminta Namesya duduk di sana,"Makasih."ucap Alfin setelah Namesya duduk di sampingnya.


Namesya tersenyum dan mengangguk seraya menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Alfin."Kenapa ngga kasih tahu aku kalau dokter sakit."lirih Namesya.


"Mmm... Takut kamu ngga percaya."balas Alfin.


"Ish. Mana mungkin aku ngga percaya kalau dokter bilang lagi sakit."bantah Namesya.


"Iya deh. Maaf karena ngga kasih tahu kamu kalau aku sakit."Kata Alfin yang kemudian bersandar di bahu Namesya.


"Jangan sakit lagi."lirih Namesya.


"Kamu khawatir?"tanya Alfin seraya mendongak menatap wajah Namesya dari samping.


"Kalau ngga khawatir buat apa aku di sini."timpal Namesya yang memalingkan muka karena wajah Alfin terlalu dekat dengan wajahnya dari samping.


"Madep sini dong kalau emang khawatir."Alfin memalingkan wajah Namesya untuk menghadap kearahnya yang sudah tidak lagi bersandar di bahu gadis itu.


Namesya hanya diam dan malu untuk menatap wajah Alfin,"Liatin apa? Muka aku di sini bukan di tempat lain."komentar Alfin.


"Tahu."balas Namesya dengan gumamam.


"Ngga kedengeran ngomong apa sih?"Alfin ngeles pura-pura tidak mendengar.


"Udah lewat tuh jauh keluar kamar."gerutu Namesya.


"Tuh kan lucunya kumat lagi."Goda Alfin.


"Ih apaan sih."Namesya menepuk bahu Alfin karena tak tahan dengan godaan Alfin yang terus memandangi wajahnya.


"Kangen..."Tiba-tiba Alfin memeluk Namesya sembari membenamkan wajahnya ke leher gadis itu.


Genderang kembali bertabuh, degup jantung Namesya kembali berdegup kencang karena ulah Alfin,"Ada mama. Nanti mama bangun."lirih Namesya seraya menyingkirkan kepala Alfin yang terbenam di lehernya.


"Ah. iya sampai lupa."kata Alfin yang langsung menatap ibu Namesya yang masih tampak tidur lelap,"Beliau... Mama kamu?"tanyanya.


"Iya."jawab Namesya seraya mengangguk.


Alfin mengangguk,"Apa papah juga kesini?"tanyanya lagi.


"Papahnya siapa?"tanya Namesya.


"Papahnya pacarku. Calon papah mertuaku."jawab Alfin sembari tersenyum narsis.


Namesya tidak bisa menolak untuk tersenyum jika sudah melihat Alfin tersenyum,"Papah kesini. Tapi udah pulang. Besok mau ngajar."jawab Namesya.


"Oh... Jadi udah di restuin nih?"tanya Alfin.


Namesya menghela napas, merasa sedikit dongkol dengan tingkah Alfin,"Mendingan fokus sama kesehatan dulu. Ngga usah mikir yang lain-lain dulu."


"Hmmm..."gumam Alfin.


"Ham hem apa ngga jelas?"tanya Namesya.


"Bukan apa-apa. Cuma lega aja lihat kamu di sini."Alfin menatap tangan Namesya yang ia genggam,"aku sempat takut ngga bisa ketemu kamu lagi. Aku takut kehilangan kamu."imbuh lelaki itu saat menatap namesya.


"Aku di sini. Aku ngga pergi kemana-mana. Jangan takut kehilangan aku. Oke."kata Namesya.


Alfin mengusap pucuk kepala Namesya dan mengecup kening gadis itu,"Dia apa kabar? Andin bilang dia suka rewel ya? Kangen sama ayahnya tapi mamahnya ngga mau ngomong. Kalau mamahnya ngomong pasti ayahnya langsung terbang ke tempat kalian."tanya Alfin seraya menyentuh perut Namesya dari balik pakaian gadis itu.


"Eh."Namesya terkejut dan hendak menyingkirkan tangan Alfin dari perutnya namun lelaki itu menolak.


"Dia kangen sama aku. Makanya kamu mual-mual terus. Iya kan sayang. Udah ya jangan rewel lagi. Ayah udah sama mama nih."kata Alfin pada Namesya dan kemudian beralih pada calon bayi Namesya, sedangkan Mesya hanya bisa menghela napas dan memutar bola matanya melihat tingkah Alfin.


Setelah berjuang menahan rindu, pada akhirnya penantian alfin pun terpenuhi. Rindunya terbayar sudah dengan kehadiran Namesya saat ini. Meskipun melanggar janji, namun Alfin berharap tidak akan ada rintangan apapun kedepannya dalam hubungan mereka. Sepenuhnya Alfin menerima Namesya apa adanya, bukan kesempurnaan Namesya yang Alfin harapkan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


😊😊😊😊✌️✌️✌️


__ADS_2