
Pukul delapan malam, Namesya baru selesai bertempur dengan pekerjaannya. Gadis itu duduk tegak, meregangkan otot-ototnya yang terasa begitu lelah akibat duduk terlalu lama di depan meja kerjanya. Sembari menepuk bahunya sendiri yang terasa pegal Namesya bangun dari kursi, meraih tas dan hendak berjalan keluar dari ruangan. Namun pandangannya teralih saat melihat Arlan yang tampak tidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala menyandar di sandaran sofa.
"Dimana Asisten Tirta?"gumamnya saat tidak melihat keberadaan Tirta yang biasanya begitu setia berada di dekat tuan mereka itu,"Haruskah aku bangunkan? Tapi tidak enak kalau aku membangunkannya, pasti dia capek sekali karena sejak siang keluar masuk ruangan karena meeting."
Beberapa saat gadis itu berpikir antara harus membangunkan tuannya atau membiarkan tuannya tetap tidur di sana.
"Hhhh..."Namesya menghela napas dan melangkah pelan menghampiri Arlan,"Setidaknya dia harus tidur dengan posisi yang baik."gumamnya berniat ingin merubah posisi tidur Arlan dari duduk menjadi berbaring di sofa itu.
Dengan sangat hati-hati Namesya menyentuh kepala Arlan sebelum menggerakkan tubuh lelaki itu untuk berbaring. Belum sampai lelaki itu terbaring, Namesya melihat kedua netra Arlan terbuka dan secepat kilat lelaki itu mencekal tangan Namesya dan menariknya.
"Aaahh..."Namesya memekik saat Arlan membuatnya menjadi terbaring di sofa sedangkan laki-laki itu berada di atasnya.
"Siapa kamu?"tanya Arlan seolah tidak mengenali Namesya.
"A-apa maksud tuan?"tanya Namesya gagap melihat tatapan Arlan yang tampak menakutkan.
"Aku tanya siapa kamu? Apa yang kau lakukan di sini?"Tanya Arlan lagi seperti orang kesetanan.
"Tu-tuan. I-ini aku Mesya. Namesya sekretaris tuan. Tuan. Tolong lepaskan tanganku. Apa tuan bermimpi buruk?"Namesya berusaha mengontrol ketakutannya melihat wajah Arlan.
"Apa."Arlan tampak mengerutkan keningnya mendengar ucapan Namesya,"Sekretarisku."gumam lelaki itu seperti orang linglung.
"Ya. Ini aku Namesya. Sekretaris anda."balas Namesya merasa sedikit tenang karena cekalan Arlan atas tangannya sudah melemah.
Arlan tampak kebingungan dan memandangi wajah Namesya dengan mata menyipit tajam seperti tidak mengenali wajah gadis itu.
"Tuan. Ini aku Namesya."lirih Namesya.
Arlan terlihat menghembuskan napas dan menunduk meski masih berada di atas tubuh Namesya."Maaf."lirih lelaki itu sebelum melepaskan tangan Namesya dan kembali duduk di sofa.
Wajah Arlan benar-benar kacau, mengundang pertanyaan dalam benak Namesya. Gadis itu bergegas duduk, namun tetap memperhatikan keadaan lelaki di sampingnya itu.
"Apa tuan baik-baik saja? Apa tuan bermimpi buruk?"tanya Namesya.
"Saya baik-baik saja."balas Arlan yang sedang memijit keningnya.
"Yakin anda baik-baik saja?"tanya Namesya memastikan.
"Ya saya baik-baik saja. Saya sudah terbiasa bermimpi buruk. Maaf sudah membuatmu takut."kata Arlan.
"Tapi kenapa anda seperti tidak mengenalku?"tanya Namesya.
"Itu... Bukan apa-apa. Itu karena efek mimpi burukku jadi saya tidak bisa mengenalimu saat terbangun. Sudahlah. Ini sudah malam kamu harus pulang bukan."balas Arlan.
Namesya mengangguk pelan dan perlahan bangkit dari sofa. Saat Namesya berjalan menuju pintu, Arlan menatap kepergian gadis itu dengan kening mengkerut tajam.
"Benar dia Mesya."gumam lelaki itu.
Kemudian Arlan meraih ponselnya dan menghubungi Tirta yang entah sedang ada di mana.
"Tirta ada di mana kamu? cepat bawakan obat untukku."perintah Arlan singkat dan langsung memutuskan panggilannya. Lelaki itu menyandarkan punggung, menengadahkan kepala menatap langit-langit ruangan yang tak memiliki warna dalam pandangannya.
Ternyata lelaki itu memiliki masalah dalam penglihatannya. Setiap malam tiba, ia tidak bisa membedakan warna apapun yang di lihatnya. Bahkan ia akan susah mengenali wajah seseorang jika ia terbangun dari tidur saat malam. Lelaki itu hanya mengandalkan ingatannya dalam mengingat suara setiap orang yang dia kenal.
####
Sepanjang perjalanan pulang Alfin tak banyak bicara seperti biasanya. Dan Namesya tahu penyebab pasti mengapa lelaki itu bersikap demikian.
"Kamu masih marah karena aku tidak bisa makan siang denganmu."kata Namesya, bukan pertanyaan melainkan pernyataan atas sikap Alfin saat ini.
"Hhh..."Alfin menghela napas dan menghentikan laju mobil di depan sebuah restaurant,"Kau belum makan malam kan."kata Alfin.
Namesya mengerucutkan bibirnya,"Kau mengajakku makan malam tapi kau sendiri masih marah padaku."gadis itu merajuk.
Kenyataannya Alfin tak bisa menahan rasa kesalnya terlalu lama jika sudah melihat wajah Namesya yang selalu menggemaskan baginya.
"Aku tidak marah. Hanya sempat kesal sedikit."Alfin menautkan telunjuk dan ibu jarinya sebagai isyarat jumlah kekesalannya.
"Aku tidak tahu kalau pekerjaanku akan banyak sekali sampai aku lupa waktu. Saat aku ingin turun Tirta sudah membawa makan siang untukku dari kantin."kata Namesya.
Alfin membelai pipi Namesya sembari tersenyum,"Aku hanya khawatir kamu sakit kalau kamu terus-terusan telat makan seperti itu. Tidak makan siang denganku tidak masalah. Bukankah kita bisa makan malam bersama sekarang."kata lelaki itu berusaha membuat Namesya tidak menyalahkan diri sendiri.
"Jadi kau memaafkanku?"tanya Namesya dengan tatapan gembira.
"Asal kau tidak mengulanginya lagi. Jangan telat makan lagi dan yang paling penting jangan terlalu dekat dengan Arlan."kata Alfin menegaskan.
"Apa aku harus mencari pekerjaan lain supaya pacarku tidak terus terusan cemburu?"tanya Namesya.
"Itu lebih bagus. Dari pada menjadi sekretaris playboy itu lebih baik jadi istriku saja."jawab Alfin.
Namesya memukul pelan bahu Alfin,"Menjadi istrimu bukan pekerjaan."bantahnya.
__ADS_1
"Jadi,"kata Alfin seraya menatap tepat kedua netra Namesya,"kapan kau akan menjadi istriku?"tanyanya.
"Mmm... Kapanpun itu aku tidak akan menolak menjadi istrimu."balas Namesya.
Alfin tersenyum dan mengusap rambut Namesya dengan lembut,"Jadi jangan menolak lamaranku saat aku melamarmu nanti."kata lelaki itu sebelum mengecup kening Namesya.
"Tidak akan."balas Namesya.
Keluar dari mobil, Alfin dan Namesya memasuki restoran yang malam itu tampak ramai pengunjung. Mereka duduk dan memesan langsung menu makan malam pada pelayan yang menghampiri keduanya.
"Oh ya. Bisa ngga kasih tahu aku kenapa kamu sama bosku itu kayak musuhan?"tanya Namesya setelah mereka selesai memesan makanan pada pelayan.
"Apa itu penting?"tanya Alfin.
"Aku cuma penasaran. Habisnya kalian kaya orang musuhan karena berebut cewek."kata Namesya.
"Kamu cemburu kalau aku musuhan sama dia gara-gara cewek?"tanya Alfin.
"Kalau ceweknya itu aku sih aku ngga cemburu."balas Namesya.
Senyum Alfin mengembang, lelaki itu meraih tangan Namesya dan berkata,"Aku dan Arlan itu pernah berteman. Hubungan kami baik, tapi aku ngga suka sama kelakuannya yang suka ganti-ganti cewek waktu sekolah. Aku cuma ngga mau kalau dia sampai berani godain kamu."
"Jadi benar kalau kalian memang sama-sama alumni dari SMA Generasi Bangsa."ujar Namesya.
"Ya."Jawab Alfin.
"Sejak kapan kamu sama dia bermusuhan?"tanya Namesya, gadis itu benar-benar penasaran dengan kisah Alfin dengan Arlan.
"Eh. Makanan kita udah datang."Alfin mengalihkan pembicaraan saat melihat pelayan yang datang menuju ke arah mereka."Akan aku ceritain semuanya nanti setelah kita pulang. oke."imbuh Alfin yang di balas anggukan oleh Namesya.
###
Rasa kecewa terkadang mampu membuat orang berubah haluan, berubah sikap bahkan bisa sampai memutuskan suatu hubungan. Itulah yang terjadi di antara hubungan pertemanan Arlan dan Alfin semasa mereka masih SMA.
Saat SMA Arlan dan Alfin adalah dua siswa paling populer di sekolah mereka selain tampan dan kaya dua lelaki itu juga terkenal jenius. Tapi karena satu orang siswi membuat hubungan mereka renggang. Salah satu siswi mendekati Alfin namun ternyata siswi itu hanya memanfaatkan Alfin untuk mendapatkan perhatian Arlan.
Awalnya Alfin memang sudah mengikhlaskan siswi yang juga Alfin sukai, namun Arlan membuat Alfin kecewa saat Alfin memergoki Arlan berkencan dengan gadis yang lain. Sejak saat itu Alfin menjauh dari Arlan tanpa memberikan alasan jelas. Dan entah karena apa Arlan pun mulai memusuhinya dengan alasan Arlan mengira Alfin merasa terancam posisinya sebagai siswa paling populer di sekolah itu
"Ya. Itulah sebabnya aku khawatir kalau kau akan di goda olehnya mengingat dia sering ganti-ganti cewek pas sekolah."ujar Alfin menutup ceritanya tentang kisahnya dengan Arlan, mereka sudah pulang dan sedang duduk di balkon kamar Namesya.
Namesya mengangguk pelan,"Jadi yang jadi siswa legendaris itu siapa? kamu atau Arlan?"tanya Namesya.
"Arlan."jawab Alfin.
"Iya. Dia jadi siswa legendaris karena cuma dia satu-satunya siswa yang sering ganti-ganti cewek. Dan mereka pasti akan putus setiap mereka habis kencan malam-malam. Besoknya mereka bakal berantem di kelas terus putus."jawab Alfin.
"Oh... Ternyata dia yang jadi siswa legendarisnya."komentar Namesya.
"Kenapa memang?"tanya Alfin.
"Syukur aja itu bukan kamu. Kalau siswa legendarisnya itu kamu bisa-bisa aku bakal berantem sama raya. Raya itu bertahun-tahun ngebet pengen ketemu sama siswa legendaris itu."kata Namesya.
Alfin mengangguk mengerti,"Kenapa ngga kamu jodohin aja tuh temen kamu sama Arlan?"
"Raya udah nikah... Masa aku jodohin bos sama istri orang."balas Namesya sebelum menguap dan meregangkan tubuhnya.
"Udah ngantuk tidur."perintah Alfin.
Namesya mengangguk,"Kamu pulang?"tanyanya.
"Kalau boleh nginep lagi."Balas Alfin seraya tersenyum lebar.
"Ish."Namesya mendesis dan bergegas beranjak dari kursi balkon,"Udah mau tidur."
Alfin terkekeh melihat Namesya buru-buru masuk ke dalam kamar meninggalkan dirinya dengan cepat. Tak menunggu lama lelaki itu ikut memasuki kamar dan melihat Namesya sudah terbaring di atas tempat tidur lengkap dengan selimut yang menutupi tubuh gadis itu hanya menyisakan bagian wajah.
cup
Alfin mengecup kening Namesya seraya mengelus rambut gadis itu yang tergerai di atas bantal.
"Selamat malam..."bisik Alfin.
Cup
Alfin mengecup bibir Namesya sebelum lelaki itu beranjak keluar dari kamar Namesya untuk tidur di kamar sebelah. Enggan untuk pulang dan tidur di rumahnya sendiri.
Di kamar Namesya, gadis itu membuka netranya setelah mendengar pintu kamarnya di tutup oleh Alfin. Senyumnya merekah manis, hatinya benar-benar merasa hangat mengingat hubungannya bersama Alfin. Gadis itu sudah sangat mencintai lelaki itu.
Ting
Denting ponsel pertanda sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi hijaunya. Penasaran, tangannya meraih benda pipihnya untuk mengecek pesan yang ternyata dari raya.
__ADS_1
[Raya]
"Besok jemput aku di bandara ya. Kangen pengen ketemu.ππ"
[Me]
"Oke. jam berapa nyampe? aku harus kerja soalnya.πππ"
[Raya]
"yaaaahhh... Mungkin jam sepuluh. Cuaca buruk sempet batal berangkat."
[Me]
"Suami ikut?"
[Raya]
"NO."
[Me]
"kenapa ngga langsung pulang aja ke hotel?"
[Raya]
"cuma dua hari di sini. Ikut kamu aja ya... please...ππ"
[Me]
"Iya. iya... Ya udah besok aku ngga bisa jemput kalau jam sepuluh. Tapi kalau mau nanti aku suruh kak Kevin jemput."
[Raya]
"Thanks... πππ Kangen juga sama kak Kevin. π€π€π€"
[Me]
"π π π Jangan macem-macem. Gak Sudi aku punya kakak ipar kaya kamu."
[Raya]
"sama. aku juga gak mau punya ipar kaya kamu. hih. serem.π€π€π€"
[Me]
"π€π€π€udah ngantuk nih. mau tidur dulu. takut kesiangan. Besok kerja."
[Raya]
"Oke... Good night... mimpiin aku yah... bye bye..."
[Me]
"π€π€π€... byeeee..."
Namesya menonaktifkan data internet ponselnya dan meletakkan benda itu kembali ke meja. Kali ini gadis itu benar-benar tidur.
####
Ternyata...
Masalah penglihatan Arlan menjadi sebab mengapa laki-laki itu menjadi sering kali berganti pasangan. Karena Arlan akan kesulitan mengenali wajah seseorang setiap kali malam tiba. Sebenarnya saat SMA dia hanya pernah empat kali berkencan dengan siswi sekolah itu, dan itu terjadi karena hal yang sama. Karena dia salah mengenali wajah orang lain sebagai pacarnya ketika mereka berkencan. Pacarnya yang asli akan memutuskannya saat itu juga setelah mengetahui ada kelainan dalam dirinya, namun karena uang Arlan akan membuat gadis-gadis itu di keluarkan dari sekolah tanpa perlawanan.
"*Katanya uang bukanlah segalanya...
Tapi nyatanya... Dengan uang seseorang bisa melakukan segalanya menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan"
π€π€π€π€π€*
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
π€π€π€π€π€