Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
rahasia hidup


__ADS_3

"A-apa."gumam Namesya mendengar ucapan Alfin.


"hah."Alfin juga bergumam seakan baru sadar akan apa yang sudah lelaki itu katakan beberapa detik yang lalu.


Dengan perasaan gugup, Namesya langsung berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Alfin. Begitupun Alfin, lelaki itu menjadi salah tingkah setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan.


"Eh. itu... Maksudku aku memintamu menjadi pacarku."kata Alfin dengan tingkat kegugupan yang makin meningkat,"Ah. bukan itu maksudku. Aduh. Bagaimana ya menjelaskannya."


"Ya. ya... Aku mengerti maksud dokter."timpal Namesya,"maksud dokter kita berpura-pura menjadi sepasang kekasih di depan mama. Begitu."


"Ah. ya itu maksudku."Alfin membenarkan tebakan Namesya,"Tunggu."lelaki itu baru menyadari kalau Namesya sejak datang ke kamarnya berkali-kali menyebut sebutan mama pada ibunya."Apa mama menyuruhmu memanggilnya begitu."tebaknya.


"Emmm... ya. Beliau menyuruhku memakai sebutan itu."jawab Namesya,"Aku tidak mengerti kenapa mama sampai mengira kalau kita sudah menikah. Apa mungkin mama tahu kalau aku sedang hamil?"


"Tidak mungkin. Di rumah sakit melarang semua dokter membocorkan informasi pasien mereka ke sembarang orang. Andin tidak mungkin memberitahu mama kalau kamu hamil."kata Alfin.


"Begitu ya. Syukurlah kalau begitu."gumam Namesya.


"Kenapa kamu takut mama tahu kalau kamu hamil?"tanya Alfin.


"Ya... Aku takut saja. Kalau mama tahu aku hamil dan mengira dokter ayah anak ini. Bisa-bisa mama menyuruh kita menikah sungguhan. Memangnya Dokter mau menikah dengan gadis yang jelas-jelas sedang hamil."tutur Namesya dengan sorot mata yang menyimpan kejengkelan dan kekecewaan terhadap Rio.


Alfin sendiri hanya terdiam mendengar kekhawatiran Namesya yang takut jika harus menikah dengannya dalam keadaan hamil. Bahkan hal itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Namun begitu mendengar ucapan Namesya, Alfin justru semakin merasa ingin melindungi gadis itu. Jiwa penolongnya terasa semakin meronta ingin mengeluarkan Namesya dari masalah gadis itu.


"Apa kamu ingin Rio bertanggung jawab?"pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


"Apa. Heh. Laki-laki itu tidak akan berani melakukannya. Karirnya akan hancur jika dia bertanggung jawab terhadapku."jawab Namesya dengan tatapan tajam seolah ada api yang keluar dari bola mata gadis itu."Ah. sudahlah. Aku tidak mau membahas pengecut itu. Aku sudah bertekad akan mengurus anak ini sendiri. Aku tidak butuh pengakuannya."


Namesya hendak pergi dari kamar itu, tapi Alfin lebih dulu meraih tangan gadis itu,"tunggu."cegahnya.


"Ada apa?"tanya Namesya.


"Mmm... Mengenai apa yang kukatakan tadi. Kamu tidak perlu memikirkannya. Aku sangat mengerti dan paham. Kamu punya kehidupanmu sendiri. Aku tidak mau menambah beban pikiranmu lagi."kata Alfin.


"Oh. itu..."Namesya menggaruk pelipisnya,"Tapi kurasa itu bukan ide yang buruk. Setidaknya aku akan menjadi pacar dok- eh maksudku. Pacar sandiwara dokter sampai dokter menemukan gadis yang bisa menjadi pacar sungguhan dokter nanti. Jadi jangan lupa untuk mencarinya."katanya kemudian.


Senyum tipis tersembul di bibir Alfin melihat Namesya tampak begitu enteng mengatakan dirinya harus mencari gadis untuk dijadikan pacar sungguhannya,"Jujur saja aku lelah mencarinya."jujur lelaki itu."Aku bahkan sempat berpikir untuk memungut siapapun yang aku temui di jalan untuk kujadikan pacar. Tapi nyatanya itu tidak mudah. Ah. sudahlah. Aku sudah pasrah. Biar saja Tuhan sendiri yang akan mengirimkan jodohku nanti. Aku hanya akan menunggu."


"Menunggu saja tidak cukup. Dokter tetap harus berusaha mencarinya. Terkadang jodoh itu akan terasa sulit saat di cari, padahal bisa saja jodoh itu ada di dekat dokter. Bahkan mungkin sangat dekat sampai dokter tidak bisa membedakan antara rasa suka dan cinta karena dokter terlalu dekat dengannya."kata Namesya.


"Kamu sok tahu. Sudahlah. Sudah waktunya makan malam. Bagaimana kalau kita keluar mencari makanan."Alfin mengalihkan topik pembicaraan, meskipun kata-kata Namesya cukup mengena di hatinya.


"Kenapa kita tidak masak saja. Aku sengaja membeli banyak bahan masakan supaya tidak terlalu sering makan di luar."kata Namesya.


"hmmm... Bukan ide buruk."Alfin setuju dan keluar dari kamar dengan tangan masih menggandeng tangan Namesya, gadis itu hanya bisa diam membiarkan laki-laki itu terus menggandengnya sampai keduanya tiba di dapur dan Alfin hendak mengambil barang di dalam lemari namun melihat tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Namesya.


"Oh maaf."Ujar lelaki itu seraya melepaskan tangan Namesya, dengan perasaan gugup Alfin lanjut mencari sesuatu di dalam lemari.


###


Semalam Alfin memutuskan tidur di rumahnya, namun pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah pergi ke rumah sakit karena ada pasien yang harus ia tangani saat itu juga. Tanpa berpamitan, Alfin pergi begitu saja.


"Bagaimana keadaan Mesya?"tanya Feres pagi itu setelah Alfin selesai menangani pasiennya, semalam Feres lembur hingga pagi itu kedua lelaki itu bertemu.


"Dia baik-baik saja."jawab Alfin.


"Aku sedang berusaha menyadarkan Rio untuk membuatnya bertanggung jawab."kata Feres setelah meneguk kopinya.


"Mesya tidak membutuhkan pengakuannya."balas Alfin sesuai dengan perkataan Namesya semalam, ada rasa kesal dalam benaknya mengingat akan sikap Rio terhadap Namesya.


"Apa maksudmu?"tanya Feres.


"Aku menanyakan hal yang sama padanya semalam. Tapi dia menolak dan mengaku tidak membutuhkan pengakuan adikmu."balas Alfin dengan menekankan kata 'adikmu' di akhir kalimatnya.


Feres memicingkan mata melihat ekspresi Alfin yang tampak begitu kesal,"Kau terlihat tidak suka aku membahas masalah Mesya."kata Feres.


"Sebagai laki-laki aku tentu saja tidak suka dengan sikap adikmu yang lebih mementingkan karirnya daripada bertanggung jawab."timpal Alfin yang semakin merasa kesal dan ingin sekali bertemu dengan Rio secara langsung.


"Kupikir dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."ujar Feres.


"Kurasa itu sudah terlambat. Mesya memberitahuku kalau dia ingin merawat anaknya sendiri. Kalau itu memungkinkan dia bahkan tidak ingin kelak anaknya tahu siapa ayah kandungnya."kata Alfin.

__ADS_1


Feres terkekeh melihat raut wajah Alfin yang tidak biasanya menunjukan emosinya mengenai masalah orang lain,"Aku merasa mencium aroma aneh di sini."Feres mengendus-enduskan hidungnya ke arah Alfin.


"Bau apa?"Tanya Alfin seraya mengendus bajunya yang hanya beraroma parfum yang menurutnya masih wangi.


"Aku mencium aroma aneh dalam dirimu."jelas Feres seraya menatap Alfin dengan senyum mengembang.


"Terkadang kau harus mencuci hidungmu dengan baik. Aku hanya mencium aroma parfum ku. Tidak ada aroma aneh apapun."bantah Alfin.


"Memang bukan aroma parfum. Tapi ada aroma kepedulian dalam dirimu. Kau mungkin akan heran sendiri saat melihat ekspresimu saat kita membicarakan adikku tadi."jelas Feres.


Alfin menghela napas menanggapi ucapan Feres yang menurutnya tidak jelas dan terdengar aneh,"Tidak ada yang salah dengan ekspresiku. Siapapun akan marah dan kesal pada adikmu. Coba saja kalau penggemarnya tahu kelakuannya, apa kau pikir mereka tidak akan kecewa idolanya mempermainkan perasaan dua gadis dan mencampakkan salah satunya."kata Alfin.


"Tapi yang aku tahu kau bukan tipe orang yang suka ikut campur dengan masalah pribadi orang lain. Tapi kenapa kau mau terjun langsung membantu Mesya. Aku sama sekali tidak menyangka kau akan membantunya menghindari kakaknya."kata Feres.


"Itu... Aku hanya merasa bersalah karena dia sudah terlibat dalam masalah pribadiku. Mama salah paham dan mengira dia pacarku yang kusembunyikan saat mereka bertemu di ruanganku. Dan lebih parahnya lagi kemarin mama memergoki Mesya di rumahku. Aku tidak bisa mengelak."Alfin membicarakan masalahnya.


"Lalu. Apa rencanamu?"tanya Feres.


"Entahlah."gumam Alfin,"Semalam aku bahkan mengatakan hal konyol pada Mesya."


"Hal konyol apa yang kau maksud?"tanya Feres.


"Aku memintanya menjadi pacarku."jawab Alfin dengan wajah memelas.


"Apa!?"Feres berdiri seketika karena begitu terkejut mendengar ucapan Alfin.


"Maksudku bukan menjadi pacar sungguhan. Aku meminta bantuannya untuk berpura-pura menjadi pacarku di depan ibuku sampai aku bertemu dengan jodohku."Alfin menjelaskan.


"Oh."gumam Feres.


"Tapi aku makin bingung harus berbuat apa. Aku takut mama memaksa kami menikah nantinya. Mesya pasti tidak akan mau jika harus menikah denganku."Kata Alfin dengan wajah semakin murung.


"Hhh..."Feres menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi,"Menikah itu bukan hal yang mudah dan tidak untuk main-main. Ada baiknya kamu jujur pada Tante mengenai hubunganmu dengan Mesya yang sebenarnya."


"Tidak semudah itu. Kau tahu kalau mama sulit sekali untuk aku taklukan. Terlebih saat ini mama terlihat sangat menyukai kehadiran Mesya."kata Alfin.


"Lalu apa tanggapan Mesya?"tanya Feres.


"Begitu."gumam Feres,"Ah. Aku harus pergi sekarang."pamit Feres seraya melirik jam tangannya.


"Kenapa buru-buru sekali?"tanya Alfin.


"Oh. Aku harus menemui seseorang."kata Feres.


"Ya sudah. Pergilah."balas Alfin.


###


Mobil Feres melaju meninggalkan halaman parkir gedung rumah sakit sembari melihat layar ponselnya yang menunjukkan sebuah pesan yang bertulis sebuah alamat. Lelaki itu tampak serius dalam mengemudikan kuda besinya, dengan kening berkerut samar dan berkali-kali membuang napas.


"Semoga kali ini aku benar-benar menemukannya."gumam Feres tanpa mengurangi fokusnya terhadap laju jalanan di depan.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Feres telah tiba di depan sebuah gang yang sebenarnya bisa di lalui oleh mobil. Namun lelaki itu memilik memarkirkan mobilnya di area yang cukup luas untuk tempat parkir. Dengan berjalan kaki sembari melihat nomor-nomor rumah yang kebanyakan berukuran kecil Feres terus menyusuri jalan itu.


"Permisi Bu."Cegah Feres saat bertemu dengan dua orang wanita bertubuh gempal dan satu wanita bertubuh sedang.


"Iya. Ada yang bisa di bantu?"tanya salah satu wanita itu.


"Begini. Saya sedang mencari orang ini, apa ibu mengenalnya? Namanya Ibu Trisasmi. Saya mendengar kabar kalau beliau tinggal di komplek perumahan ini."tanya Feres menunjukkan foto seorang wanita yang tentu saja pasti wajahnya sudah banyak berubah, karena Feres mencari satu wanita dengan usia yang saat ini sudah tak lagi muda jika dibandingkan dengan wanita yang ada dalam foto.


"Ada yang tahu ngga?"tanya wanita itu pada dua wanita yang lain.


"Kalau di lihat dari fotonya sepertinya memang mirip dengan Jeng Sasmi. Apa ini foto lama?"tanya wanita yang satunya setelah melihat dengan teliti.


"Oh. benar ini foto lama. Mungkin sekitar 25 tahun yang lalu."jawab Feres.


"Ah. Pantas saja. kami tidak begitu mengenalinya."ujar wanita itu.


"Jadi ibu-ibu tahu di mana rumah beliau?"tanya Feres.


"Oh. Rumahnya tidak jauh dari sini. Masnya belok kanan lalu cari rumah bercat warna orange di sebelah kiri jalan. Tapi sepertinya beliau sedang pergi bersama keponakannya. Beliau terlihat sedang kurang sehat sejak tiga hari yang lalu."tutur wanita itu.

__ADS_1


"Oh begitu. Terimakasih Bu."ujar Feres.


"iya sama-sama."balas tiga wanita itu bersamaan.


Feres berlalu dari tiga wanita itu mengikuti arah yang ditunjukkan padanya.


"Wah ternyata jeng Sasmi waktu muda cantik banget ya. Mirip banget kaya Arumi."bisik salah satu wanita itu yang masih mampu terdengar telinga Feres.


"Iya. Saya sampai ngga yakin kalau Arumi itu keponakannya. Habisnya mereka seperti pinang di belah dua kalau dibandingkan dengan wajah Bu Sasmi saat muda."balas wanita yang lain.


"hus. sudah. Jangan bergosip. Bu Sasmi itu orang baru di sini. Jangan membuat beliau tidak nyaman kalau sampai gosip kalian ini menyebar."kata wanita yang lain mengingatkan.


"Iya. Iya... ayok ah cepetan. Pasti udah di tunggu sama ibu-ibu depan kompleks."


Feres tersenyum kecil mendengar ocehan tiga wanita yang sudah jauh di belakangnya. Namun ia semakin penasaran dengan nama gadis bernama Arumi yang di sebut wanita tadi.


"Arumi... Apa jangan-jangan..."Feres mempercepat langkahnya dan akhirnya tiba di sana bertepatan dengan sebuah becak yang baru saja berhenti tepat di depan rumah yang sedang di cari olehnya.


Dari becak itu turunlah dua orang wanita berbeda usia, satu wanita yang terlihat lemah dengan wajah pucat meski bibirnya tetap tersenyum sedangkan satu lagi seorang gadis dengan paras manis yang saat tersenyum menampilkan lesung pipi yang samar di pipi cahubynya.


"Bu Sasmi."lirih Alfin menebak wanita bertubuh lemah itu adalah orang yang sedang di carinya.


Bersamaan dengan itu, dua wanita itu sama-sama menoleh kearahnya. Menatapnya penuh tanya hingga membuat Feres tersadar dari lamunan singkatnya dan buru-buru menganggukkan kepalanya memberi salam.


"Selamat siang Bu. Eh pagi."Feres salah menyebut waktu yang masih pukul sembilan itu dengan sebutan siang.


"Pagi..."Bu Sasmi membalas salam seraya menatap Arumi,"Dia siapa? Majikanmu?"tanya wanita itu pada gadis di sampingnya yang memang dia adalah Arumi.


Yang mendapatkan pertanyaan menggeleng bingung, tidak merasa mengenal siapa laki-laki itu."Arum ngga tau Bi."jawab gadis itu.


Feres mengembangkan senyumnya,"Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Feres."laki-laki itu memperkenalkan diri.


Bu Sasmi mengangguk dan bertanya,"Maaf. Nak Feres ada perlu apa yah?"


"Mmm... Itu. Anu..."Feres cukup gelagapan dan mencoba memutar otaknya untuk mencari alasan,"Ah. Saya sedang mencari jasa Asisten kebersihan. Saya mendapat informasi kalau di kompleks ini ada beberapa orang yang bersedia bekerja sebagai asisten rumah."katanya.


"Oh. Begitu. Lalu."tanya Arumi yang terlihat waspada saat menatap Feres.


"Begini. Apa anda tahu orang yang biasa bekerja menjadi Asisten rumah tangga yang tinggal di sini?"tanya Feres.


Arumi saling bertukar pandangan dengan Bu Sasmi,"Saya sendiri biasa melakukannya. Tapi saya sedang sakit jadi mungkin nak Feres bisa mencari orang lain. Memang benar ada beberapa orang di sini yang biasa bekerja menjadi asisten rumah."jawab Bu Sasmi, sama sekali tidak menginggung kalau Arumi juga biasa melakukan pekerjaan itu.


"Oh. begitu. ya. Sayang sekali. Padahal saya sedang mencari pekerja yang bisa tinggal di rumah saya yang sedang di renovasi bagian gudang dan atapnya."kata Feres.


"Memangnya berapa gajihnya kalau bisa menetap di rumah itu."tanya Arumi.


Feres balas menatap Arumi yang menatapnya,"gajih awal 3 juta. Dan kalau kerjaannya bagus saya bisa menambahnya. Itu gajih pokoknya. Untuk uang hariannya saya akan memberikan 3 juta per hari untuk membeli bahan makanan untuk para pekerja di sana. Dan jika ada sisanya itu bisa dihitung sebagai uang jajan dari saya."jelas Feres.


Arumi menatap Bu Sasmi penuh minat, bahkan gajihnya menjadi petugas kebersihan di apartemen tidak sampai sebesar itu dan lebih mirisnya ia tidak mendapatkan uang transport. Namun Bu Sasmi menggeleng tidak setuju,"Arumi sebaiknya kamu masuk dulu. Tolong bereskan kamar bibi ya. Bibi sangat lelah dan ingin istirahat. Biar bibi yang akan bicara dengan nak Feres."perintah Bu Sasmi.


"tapi Bi..."Arumi tampak enggan.


"Arumi..."tegur Bu Sasmi.


"Baiklah."Arumi menyerah dan menurut pergi memasuki rumah dengan sangat berat hati.


"Nak Feres."kini Bu Sasmi beralih kearah Feres.


"I-iya Bu."jawab Feres terlihat gugup.


"Saya tidak tahu apa maksud asli kedatangan nak Feres kemari. Tapi saya memang tidak pernah mengijinkan keponakan saya bekerja sendirian di rumah seorang laki-laki. Terlebih lagi nak Feres bilang kalau di rumah nak Feres sedang ada perbaikan dan pastinya di sana akan ada banyak laki-laki. Jangan bertanya alasannya, karena saya tidak akan memberitahu alasannya. Jadi sebaiknya nak Feres mencari orang lain. permisi."Bu Sasmi berlalu memasuki halaman kecil rumahnya yang di batasi dengan dinding tanaman.


Feres menghela napas mendapat penolakan atas Bu Sasmi, padahal dirinya belum mengatakan maksud asli kedatangannya menemui wanita itu. Apa jadinya kalau laki-laki itu secara langsung mengatakan maksud kedatangannya dari awal. Pasti wanita itu akan langsung mengusirnya tanpa ragu. Mengingat rahasia yang bertahun-tahun tersimpan antara wanita itu dengan keluarganya membuat Feres takut untuk sekedar memperkenalkan dirinya pada wanita itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.😊😊😊❤️❤️✌️✌️


__ADS_2