Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Hanya perantara


__ADS_3

Takdir. Itulah satu alasan mengapa mereka bertemu, bertahan meski kemudian berpisah. Semua yang terjadi memang karena takdir yang telah tertulis. Mengelak pun tak bisa jika itu sudah tergaris dengan kepastian serta keharusan.


Dengan berusaha tegar, Namesya mengikuti prosesi pemakaman putrinya hingga setumpuk tanah basah kembali menutupi liang kubur berukuran sangat kecil itu. Kesedihan yang mendalam itu seolah telah membuat air matanya mengering, Namesya hanya bisa menaburkan kelopak bunga di atas pusara yang bertuliskan Almaira itu dengan mata memerah namun tak ada air yang mengalir dari sana. Di sisinya ada Alfin yang memegang keranjang kelopak bunga.


Ada banyak wajah yang namesya kenal di sana, meski fokusnya hanya pada nisan dan tanah basah di depannya.


"Dia hanya perantara."lirih Namesya menyimpulkan tentang kehadiran singkat Almaira yang secara drastis merubah beberapa hidupnya.


Dari harus berpisah dengan Rio sampai sebuah insiden mempertemukan dirinya dengan Alfin. Laki-laki yang mungkin sudah Tuhan takdirkan untuk dirinya.


"Dia akan bahagia jika melihat ibunya bahagia juga."kata Alfin saat Namesya menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.


"Aku sudah cukup bahagia selama ini. Kehadirannya yang singkat sudah menghadirkan banyak kebahagiaan untukku."lirih Namesya.


Tatapan Namesya teralihkan saat melihat seseorang berjongkok di depan gundukan tanah basah itu, menabur bunga di atasnya. Dialah Rio.


"Maaf."lirih Rio yang masih terdengar jelas di telinga Namesya, lelaki itu menyentuh nisan dan mengelusnya seolah tengah membelai sosok putri biologisnya.


Namesya menarik napas dalam dan membuangnya, saat ini rasanya Namesya benar-benar kehilangan semua rasa dalam hatinya melihat Rio. Dia tidak lagi merasa kesal ataupun marah, namun ia juga tidak merasakan kehangatan akan cintanya yang pernah ada untuk lelaki itu.


"Aku ingin pulang."lirih Namesya pada Alfin.


"Ayo. Duduklah."Alfin meminta Namesya kembali duduk di kursi roda,"Kita kembali ke rumah sakit. Kalau kamu sudah boleh pulang, baru kamu bisa pulang ke rumah."imbuh Alfin yang mendapatkan anggukan kecil dari Namesya.


'nyatanya Tuhan hanya menghadirkan makhluk kecil cantik itu sebagai perantara untuk mempertemukanku denganmu. Tapi terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku, meski hanya sesaat. Kau seolah hadir seperti mimpi. Mimpi yang tak mudah untuk terlupakan ' batin Namesya yang dengan berat hati meninggalkan makam putrinya, Almaira.


###


"Reuni?"


Namesya tengah duduk di depan meja riasnya dengan pakaian rapi, teman SMAnya menghubungi dengan membawa kabar akan undangan reuni yang sudah disebar oleh pihak SMA tempat Namesya dulu menimba ilmu.


"Iya. Aku sudah dapat undangannya pagi ini. Kamu datang kan?"ujar teman Namesya.


Namesya menilik jam tangannya sekilas dan membubuhkan lip cream ke bibirnya, sembari berpikir,"Aku akan mencoba meluangkan waktu nanti. Semoga saja aku tidak sedang sibuk. Memangnya kapan acaranya?"


"Hmmm... acaranya bulan depan. Tanggal 15."jawab teman Namesya.


Namesya mengangguk kecil,"Sepertinya aku bisa meluangkan waktuku."gumamnya.


"Harus."timpal teman Namesya terdengar antusias,"Kau memang harus datang. Aku dengar seluruh alumni di undang. Dan kau tahu, itu artinya dalam acara nanti akan ada banyak orang hebat yang hadir di sana. Aku tidak sabar ingin melihat wajah asli siswa legendaris SMA kita yang sudah seperti paket komplit. Tampan, kaya, pintar, jenius, tapi dia baik hati dan tidak sombong. hahahaha"


Namesya tersenyum mendengar ocehan temannya yang sejak dulu begitu menggemari siswa-siswa tampan di sekolah mereka, bahkan temannya itu selalu dibuat penasaran dengan sosok siswa 'paket komplit' yang entah seperti apa wujudnya.


"Hei. Raya. Bisa-bisa kau akan membuat bencana dalam acara nanti."canda Namesya.


"Bencana."ujar teman Namesya bernama Raya terdengar bingung.


"Ya. bencana. Kau ingin membuat suamimu menjadi serigala kalau kau datang ke reuni hanya karena ingin melihat siswa paket komplit itu."kata Namesya seraya bangkit dari kursi, sudah melangkah namun berhenti dan berbalik lagi karena tasnya tertinggal.


"Hahaha..."Raya tertawa gelak,"Suamiku tidak akan peduli sekalipun aku pulang pagi setiap hari. Kau tidak tahu kalau suamiku itu gila kerja sampai-sampai mengabaikan istri cantiknya di rumah."kata Raya dengan nada sinis membicarakan suaminya.


"Kalau dia penggila pekerjaan, itu artinya dia tidak ingin istrinya berhenti hidup berkecukupan."ujar Namesya seraya menutup pintu kamarnya.


"Hhh..."Raya terdengar mendesah,"Kau belum pernah menikah jadi kau belum tahu seperti apa itu kehidupan dalam pernikahan. Setelah kau menikah, kau akan dengan mudah membedakan kehidupan sebelum dan setelah pernikahan."


"Hei. Kenapa kau malah terdengar Melo begitu?"tanya Namesya.


"Ah sudahlah. Kau tidak akan mengerti sekalipun aku memberitahumu. Hari ini aku akan terbang dari Jepang. Lusa aku akan menemuimu, jadi jangan lupa beritahu aku alamat rumahmu."kata raya.


"Ya ya... kabari aku kalau kau sudah sampai."balas Namesya seraya mengoles roti panggang dengan selai kacang kesukaannya.


"Oke. Aku harus bersiap sekarang. Bye."pamit raya.


"Bye... Jangan ada yang tertinggal."ujar Namesya.


Ting Ting Tong


Namesya mengangkat wajah, tersenyum mendengar bunyi bel pintu apartemennya. Ya. Satu bulan setelah kehilangan Almaira, Namesya memutuskan kembali tinggal di apartemennya. Ia ingin memulai hidup barunya, membenahi kehidupannya yang sebelumnya begitu berantakan. Setelah lima bulan tinggal di sana ia kembali memutuskan untuk kembali bekerja, namun tidak lagi menjadi sekretaris di perusahaan keluarga Alfin. Ia mencari pekerjaan di tempat lain sesuai dengan kapasitas kemampuannya, dan ia kembali menjadi seorang sekretaris pribadi seorang CEO di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang investasi.


Dan hubungannya dengan Alfin masih tetap berlanjut sesuai keinginan Namesya yang belum siap untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Dan Alfin menghargai itu.


Ini hari Minggu. Dan Namesya tidak bekerja di kantornya, namun mengapa ia sudah berpakaian rapi? Tentu saja karena ada seseorang yang akan mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Mama. Kenapa cepat sekali?"Ujar Namesya begitu melihat sosok Meylani yang sudah tiba di apartemennya sepagi itu, beruntung Namesya sudah selesai bersiap.


"Iya dong... Mama udah kangen banget tahu sama kamu... Tiga minggu papah ngajak mamah liburan ke semarang. Bosen di sana kalau ngga ada kamu sama Qia."keluh Meylani.


Namesya memeluk lengan Meylani dengan manja, "Jadi kita pergi sekarang atau mama mau masuk dulu?"Namesya menawarkan.


"Pergi sekarang. Mama udah ngga sabar mau lihat incaran mama."kata Meylani.


"Oke. Mesya ambil tas dulu. ya."Namesya kembali ke dapur demi mengambil tas miliknya dan melupakan roti bakarnya begitu saja yang tergeletak di atas piring.


ah, sayang sekali. Sudah terpanggang namun terabaikan.


Nyatanya mereka tidak hanya berdua. Di lobi apartemen sudah ada beberapa wanita yang menunggu, ada Sukma ayu, Andin, Qia tunangan Ryan adik Alfin , Serta Arumi yang dalam beberapa bulan terakhir ini hidupnya juga telah banyak berubah. Dan ada wanita lain lagi di sana, Melia bersama putra kecilnya.


"Halo jagoan..."sapa Namesya pada putra Melia yang ada dalam gendongan wanita itu.


Beberapa bulan telah merubah banyak hal. Mengindahkan suatu perseteruan dalam setiap hubungan. Seperti halnya Namesya yang memutuskan untuk dekat dengan Melia setelah wanita itu berkali-kali mengucapkan permintaan maaf setiap mereka bertemu.


"Hei tunggu."


Semua pandangan terarah pada sosok laki-laki yang terlihat berlari menuju perkumpulan para wanita itu. Namesya menatap Melia yang kemudian tersenyum.


"Aku belum meminta ijin padanya. Dia sangat posesif kalau aku pergi bersama Faro. Dia benar-benar membuatku seperti tidak berguna, seolah aku tidak bisa mengurus putraku sendiri."kata Melia menuturkan sikap Rio.


"Hei. Kenapa kau tidak bilang kalau mau membawa Faro pergi."cerocos Rio.


"Faro itu putraku. Memangnya kalau aku mau mengajaknya bermain harus selalu ijin denganmu. Aku juga bisa mengurusnya sendiri."kata Melia.


"Tentu saja kau harus meminta ijin dulu. Kau tidak ingat saat kau hampir membuatnya hilang saat kau berbelanja dengan ibumu."kata Rio.


"Iya. iya... aku ingat. Tapi kan aku tidak pergi belanja dengan ibu. Aku pergi dengan banyak orang."kata Melia.


Rio menatap beberapa wanita di sekitarnya yang sedang menonton pertunjukan gratis itu."Kau pikir mereka ini pengawalmu. Kalau mau pergi ya pergi saja jangan bawa Faro."kata lelaki itu pada Melia yang sudah menunduk.


"Tapi-"


"Tidak ada bantahan. Pilih tetap pergi sendiri atau tidak pergi sama sekali."Rio memberikan pilihan mutlak yang tak bisa di ganggu gugat dengan perubahan apapun.


"Ada baiknya kalau kau ikut saja sekalian."kata Meylani memberi usulan.


"Maksud Tante."timpal Rio.


"Ya... daripada kalian ribut mending kamu mengalah dan ikut saja bersama kami. Sekalian jaga putramu dan istrimu sekaligus."jawab Meylani.


"Ah... benar kata Tante Lani."Melia seolah mendapatkan pencerahan serta dukungan.


Rio mengerutkan kening menatap Melia dan Meylani,"Tidak. Lebih baik tidak ada yang pergi sekalian."putus Rio sebelum mengambil Faro dari gendongan Melia dan meraih tangan Melia sekaligus, menggendong dan menuntun Melia keluar dari lingkup para wanita itu.


Melihat sikap Rio membuat Namesya berpikir,"Apa Alfin juga akan seperti itu kalau kelak dia punya anak?"tanyanya tanpa sadar.


"Dokter Alfin bukan Rio. Dia pasti punya cara berbeda dalam menjaga keluarganya kelak."timpal Andin,"Sebaiknya ayo kita pergi sekarang."


Enam wanita itu akhirnya pergi tanpa Melia. Seperti biasa, tiap hari Minggu mereka akan pergi jalan-jalan tanpa pria-pria mereka. Hanya khusus untuk para wanita saja. Mereka akan berburu apapun yang mereka inginkan, membeli apapun yang mereka inginkan. Meski pada akhirnya barang-barang yang mereka beli hanya akan mereka bawa ke sebuah panti asuhan untuk di sumbangkan.


Ya. Kebiasaan mereka itu ada sejak Namesya tinggal di apartemen. Dan Namesya tahu, awal dari kebiasaan itu tak lain adalah rencana orang-orang itu untuk menghibur dirinya saat dirinya terpuruk setelah kehilangan Almaira. Namesya bersyukur memiliki orang-orang yang benar-benar menyayanginya dengan tulus.


"Akhirnya hari ini selesai..."ujar Arumi setelah tiba di dalam mobil sembari mengipasi dirinya dengan buku yang tergeletak di dalam mobil.


Grep


Andin menangkap tangan Arumi yang sedang memegang buku untuk mengipasi dirinya sendiri. Wanita itu menatap jari manis Arumi yang dimana ada benda melingkar indah di sana.


"A-ada apa kak?"Arumi tampak gugup seraya menarik tangannya kembali.


Andin menatap Arumi dengan pasti, serius dengan kening berkerut,"Ah bukan apa-apa. Hanya pernah melihat benda itu. Tapi lupa aku lihatnya dimana."Ujar Andin seraya berusaha memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, rasanya ia seperti pernah melihat cincin dengan bentuk sama persis seperti cincin yang saat ini di pakai oleh Arumi.


Arumi menggaruk belakang telinganya sebari tersenyum kecil,"Mungkin kak Andin pernah melihatnya di majalah. Atau apapun itu."kata Arumi.


Andin mengangguk namun masih terlihat sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya saat ini.


"Kak Andin."Namesya memanggil Andin dan membuat wanita itu teralihkan pikirannya.


"Ya."sahut Andin.

__ADS_1


"Ponsel kak Andin mati? Ini kak Kevin nanyain terus."kata Namesya.


"Oh iya. Lupa. Tadi kehabisan baterai."jawab Andin.


"oh... Ya udah."gumam Namesya yang kemudian mengetik sesuatu di layar ponselnya dan mengirimnya pada Kevin.


Sementara itu Andin tampak menghela napas diam-diam dan menatap ke luar jendela mobil yang membawa enam wanita itu berkencan. Sesampainya di apartemen, Namesya di buat terkejut saat melihat Alfin yang berdiri di jendela kamarnya yang gelap.


ctak


Namesya menyalakan lampu kamarnya dan menghampiri laki-laki yang sedang berdiri memunggunginya, memeluknya dari belakang.


"Kangen... Kenapa ngga bilang kalau hari ini pulang?"Keluh Namesya.


"Aku tahu kalau kamu lagi sibuk sama kelompok rumpi mu."balas Alfin yang langsung membalikkan tubuh memeluk Namesya, erat.


Namesya terkekeh kecil dan mendongak menatap wajah Alfin yang selama satu Minggu ini berada di luar kota karena tugasnya dari rumah sakit untuk melakukan kunjungan ke sebuah desa terpencil yang ternyata masih minim pengetahuannya tentang kemajuan tekhnologi pengobatan modern.


"Ada mama di dalam kelompok rumpi kami."kata Namesya seraya tersenyum manis.


Cup


Namesya terkejut saat tiba-tiba Alfin mengecup bibirnya. Tidak akan membuatnya terkejut jika itu bukan pertama kalinya lelaki itu mencium tepat di bibirnya.


"Kenapa? Kok kaget?"tanya Alfin.


"Eh. Mmm... aneh aja. Ngga biasanya."jawab Namesya yang tersipu dan menunduk.


Cup


Cup


Cup


Alfin yang gemas melihat wajah malu Namesya membuat lelaki itu kembali mengecup bibir Namesya berkali-kali.


"Hei... Udah... Ada apa sih?"tanya Namesya yang merasa Alfin sedang ingin menyampaikan sesuatu padanya.


"Ngga ada apa-apa... cuma kangen aja. Pengin cium."kata Alfin.


Namesya mempererat pelukannya dan mengusel di dada Alfin yang terasa begitu hangat dan membuatnya nyaman berada di sana.


"Aku udah tahu kok."kata Namesya.


Alfin mengecup puncak kepala Namesya dan berkata,"tahu apa Hem."


"Ya tahu aja."balas Namesya tidak jelas.


"Ya memangnya kamu tahu apa Hem. Tahu dari mana? dari siapa?"berondong Alfin.


"Mmm... Tahu kalau kamu kangen sama aku."jawab Namesya asal.


"Kalau itu semua orang pasti juga tahu."Timpal Alfin.


"Terus, ada yang ngga aku tahu? apa itu?"tanya Namesya.


Alfin menatap wajah Namesya, senyumnya mengembang,"Kamu pasti capek. Besok kerja kan?"kata lelaki itu.


"Mmm... capek sih enggak. Kalau kerja sudah jelas iya."balas Namesya.


"Ya udah sana mandi. Tadi udah aku siapin air hangatnya."Perintah Alfin.


Namesya melebarkan kelopak matanya mengetahui apa yang dilakukan Alfin untuknya.


"Makasih. Cup."kini Namesya yang mengecup bibir Alfin sebelum pergi menuju kamar mandi.


Alfin menatap kepergian Namesya menuju kamar mandi dan tersenyum. Lelaki itu menoleh menatap langit malam yang cerah bertabur bintang dan bersinarkan rembulan.


"Terimakasih sudah menjadi perantara untuk membuat kami bertemu dan bersama."bisik Alfin.


"Almaira."lirihnya.


...😊😊😊😊...

__ADS_1


__ADS_2