
"ergh..."Namesya mengerang seraya meregangkan otot-otot tubuhnya setelah kesadarannya sepenuhnya kembali dari alam mimpinya.
"Pagi tuan putri..."Terdengar sapaan lembut itu memanjakan perasaan Namesya pagi itu.
Masih dengan tatapan sayu, bibir Namesya melengkung membentuk senyuman manisnya untuk lelaki pujaannya. Semalam Alfin tinggal di apartemennya, meskipun sejatinya mereka telah bertetangga. Alfin telah membeli satu unit apartement di sebelah apartemen Feres yang saat itu kebetulan di jual oleh pemilik sebelumnya. Salah satu bentuk kebucinan Alfin yang selalu ingin dekat dengan pemilik hatinya.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening gadis itu, membuat sang pemilik kening memejamkan matanya sejenak, merasakan kehangatan yang menjalar menenangkan perasaannya.
"Pagi juga..."Namesya membalas sapaan pagi Alfin dan masih terlihat malas untuk beranjak dari tempat hangat itu.
"Gimana tidurnya? nyenyak?"tanya Alfin yang sejatinya sedang duduk di tepi tempat tidur Namesya.
"Nyenyak dan nyaman."balas Namesya sembari bergerak mendekati Alfin dan memeluk pinggang lelaki itu.
"Baru satu Minggu di tinggal udah manja begini."Gurau Alfin.
"Biarin. Habis mau manja-manja sama siapa kalau bukan sama pacar sendiri."balas Namesya seraya mempererat pelukannya di pinggang Alfin yang masih tetap duduk seraya menatap kelakuan kekasihnya itu.
"Oh ya. Bulan depan aku ada acara, kamu ikut ya."kata Alfin memberitahu.
"Acara apa? Tanggal berapa?"tanya Namesya yang kemudian menempatkan kepalanya di pangkuan Alfin.
"Reuni SMA. Kemarin temenku dapet kabar kalau bulan depan ada acara reuni besar-besaran alumni SMA. Kalau tanggalnya aku lupa. Katanya undangannya baru disebar hari ini."jawab Alfin, tangannya membelai lembut rambut Namesya.
Kening Namesya berkerut samar,"Reuni SMA."gumam gadis itu,"Jangan-jangan kamu alumni SMA Generasi Bangsa juga ya?"tanya Namesya memastikan dugaannya.
"Ah. Ternyata kamu belum tahu ya kalau aku itu alumni SMA bergengsi itu."timpal Alfin dengan bangganya.
"Cih."Namesya berdecih seraya mencubit paha Alfin.
"Argh..."Alfin memekik kaget karena bagian tubuhnya yang sensitif mendapatkan serangan mendadak dari Namesya.
"Haha..."Namesya terkikik melihat ekspresi Alfin yang menahan rasa geli setelah dibuat terkejut olehnya,"Ternyata alumni SMA bergengsi itu punya kelemahan juga."ejeknya.
"Memangnya kamu sendiri ngga punya kelemahan Hem."Alfin menatap Namesya dengan tatapan mengancam sedetik kemudian lelaki itu melancarkan aksinya menggelitik pinggang Namesya membuat gadis itu menggelinjang berusaha menghindar.
"Argh... Ampun."pekik Namesya di sertai tawa renyahnya menahan rasa geli sembari berusaha mencegah tangan Alfin menggelitik pinggangnya.
"Kamu kira aku aja yang punya kelemahan..."timpal Alfin setelah memperlambat gerakan tangannya menggelitik Namesya.
"Iya. iya... maaf. Udah dong. Geli..."pinta Namesya seraya memegang kedua pergelangan tangan Alfin yang masih menunjukkan tanda ingin menggelitiknya terus,"Hosh. Hosh. Hosh..."Napas Namesya sampai tersengal karena ulah Alfin.
"Oke. Maaf diterima."balas Alfin.
"Argh..."Namesya memekik saat tiba-tiba Alfin membuat Namesya terbaring di atas tempat tidur, Alfin mengungkungnya di atas tubuh gadis itu yang menatapnya terkejut.
Alfin hanya menampilkan senyum tipisnya seraya memperhatikan wajah Namesya yang sudah bersemu merah merona karena perbuatannya.
"Jadi bagaimana?"tanya Alfin seraya mempererat cekalannya di kedua pergelangan tangan Namesya.
"A-apa?"Namesya balas bertanya dengan gagap serta berusaha menghindari tatapan Alfin yang membuat pikiran gadis itu menjadi terbang entah ingin kemana.
"Itu. Yang tadi."jawab Alfin memaksa Namesya mengingat apa yang sebelumnya sedang mereka bicarakan.
"Yang- Yang tadi? Yang mana?"tanya Namesya semakin gugup saat Alfin bergerak mendekatkan wajahnya.
'astaga. apa ini? kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini padaku? jangan. tidak bisa. Aku harus tetap waras dan tidak boleh terpengaruh oleh sikapnya yang agresif.'batin Namesya bergelut dengan perasaannya saat ini.
"Kau lupa Hem?"tanya Alfin, lelaki itu mengecup kening Namesya dan kembali menatap gadis itu.
Degup jantung Namesya terasa semakin bertalu-talu di dalam rongga dadanya karena gerakan kilat Alfin mengecup keningnya. Matanya terpejam dan terbuka begitu cepat seiring gerakan Alfin saat itu. Netra gadis itu bergulir menatap tatapan Alfin, berusaha mencari tahu apa tujuan lelaki itu bersikap tidak seperti biasanya.
'Ya Tuhan. Ada apa dengannya? Bahkan dia sudah berani mencium bibirku semalam? Apa yang dia inginkan sekarang?'batin Namesya semakin bingung menerka apa yang sekiranya diinginkan Alfin saat ini.
'Astaga. Bagaimanapun juga dia itu lelaki normal. Apa dia juga menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar menciumku? Tidak. Tidak. Dia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu sebelum kita menikah. Dia tidak lupa janjinya itu kan?' Namesya menggelengkan kepalanya menolak atas pemikirannya sendiri.
"Apa yang ada dalam isi kepalamu itu Hem? Kenapa kau sampai sepanik ini?"tanya Alfin seraya melebarkan senyumnya, merasa puas telah berhasil menggoda kekasihnya saat ini.
"Tidak ada."jawab Namesya dengan cepat, namun masih ada mode waspada dalam tatapannya sebab Alfin masih berlum beranjak dari atas tubuhnya, lelaki itu menggunakan kedua lutut dan tangannya sebagai tumpuan.
"Jangan katakan kalau kau berpikir aku akan..."Alfin kembali mendekatkan wajahnya dengan senyum merekah.
"Stop."Namesya memekik karena tak tahan dengan perlakuan Alfin yang terus menggodanya.
"Kenapa? Kau tidak mau ku cium?"tanya Alfin.
Namesya menelan saliva dan menghembuskan napasnya kasar,"Berhentilah menggodaku. Oke. Sudah jam berapa sekarang? Aku harus bersiap-siap. Aku harus pergi bekerja."katanya dengan tegas.
Cup
__ADS_1
Alfin justru mencium bibir Namesya, cepat dan kilat. Lalu kembali menatap Namesya yang melotot menatap lelaki itu.
"Kenapa?"tanya Alfin.
Cup
Alfin lagi-lagi mencium Namesya saat gadis itu sudah membuka mulut hendak menjawab pertanyaannya. Namun kali ini berbeda dari sebelumnya, sebab lelaki itu masih menempelkan bibirnya di bibir lembut Namesya yang sebelumnya sudah sedikit terbuka. Kelopak netra Namesya mengerjap beberapa kali saat tatapannya bertemu pantang dengan kedua netra Alfin.
"Mmph..."ucapan Namesya tertahan saat Alfin sedikit *****@* bibirnya dan menggigitnya lembut sebelum melepaskannya.
Alfin menampilkan senyumnya kembali setelah melepaskan cium@n kecilnya atas bibir Namesya.
"Aku akan mengantarmu nanti."kata Alfin.
"Tapi arah rumah sakit dengan kantor berlawanan."bantah Namesya.
"Hari ini aku tidak ke rumah sakit."balas Alfin.
"Oh... Ya sudah kalau begitu lepasin. Kalau begini terus aku bisa terlambat."timpal Namesya sembari menggerakkan tangannya yang masih ada dalam cekalan Alfin.
Cup
Alfin melayangkan satu kecupannya lagi sebelum bangkit dari kungkungannya. Diam-diam Namesya menghela napas lega sebelum ikut bangun dan bergegas menuju kamar mandi.
Selama Namesya mandi, Alfin menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka berdua. Hanya roti panggang lapis telur ceplok, sederhana namun hal itu penuh perjuangan sebab Alfin harus belajar cukup lama mempraktekkannya diam-diam.
"Kamu ngga siap-siap?"tanya Namesya saat keluar dari kamar dengan pakaian rapi.
Alfin tidak langsung menjawab pertanyaan Namesya, sebab netranya fokus pada bibir Namesya yang berlapis lip cream warna soft.
"Aku kan udah mandi."jawab Alfin kemudian seraya meletakkan piring berisi beberapa potong roti lapis buatannya.
Namesya tersenyum kecil,"Aku kira kamu belum mandi."ujarnya kemudian.
"Sarapan dulu."perintah Alfin seraya menarik satu kursi untuk Namesya.
Namesya menatap menu sarapan pagi itu, segelas susu juga tersaji di sana. Senyumnya mengembang, manis, cantik dan hangat.
"Makasih..."ucap Namesya seraya memberikan kecupan ringan ke pipi Alfin.
"Sama-sama..."balas Alfin dan juga memberikan kecupan ringan di bibir Namesya.
Entah sudah berapa kali lelaki itu mengecup bibirnya sejak semalam keberanian lelaki itu muncul. Keduanya pun akhirnya menyantap sarapan mereka dan berangkat menuju kantor tempat Namesya bekerja.
"Ternyata kamu juga alumni SMA itu juga."ujar Alfin.
"Ya."Namesya mengiyakan."Temanku dari Jepang juga akan pulang untuk hadir ke pesta."imbuhnya.
"Jepang? Temen cowok?"tanya Alfin.
"Emang kenapa kalau cowok?"tanya Namesya dengan senyum mengembang berniat ingin menggoda Alfin.
"Memangnya kamu punya berapa mantan?"tanya Alfin mulai terpancing.
"Mantan apa? Mantan pacar? Kan udah aku kasih tahu, mantanku cuma Rio."balas Namesya.
"Terus temen kamu yang dari Jepang itu."balas Alfin dengan nada sedikit terdengar ketus.
"Oh... Temen yang dari Jepang... Dia bukan mantanku. Kami cuma berteman. Dia teman dekatku sejak SMP."jawab Namesya masih belum menjelaskan tentang teman dari Jepangnya yang hanya seorang perempuan.
"Oh. Teman sejak SMP. Kalian dekat?"komentar Alfin.
"Tentu saja. Dari semua teman yang ada cuma dia yang paling dekat denganku."balas Namesya semakin melancarkan aksinya.
Alfin menghela napas kasar dan berusaha tetap fokus pada jalan di depannya,"Khem. Siapa namanya?"tanya Alfin.
"Namanya? Emang kamu mau apa kalau tahu namanya?"tanya Namesya.
"Ya mau tahu aja."balas Alfin.
Namesya menghela napas,"Jangan-jangan kamu mau nyelidikin dia juga. Kaya waktu kamu nyelidiki bos aku."katanya.
"Ya. Ini beda. Seenggaknya aku harus tahu teman kamu ini benar-benar baik sama kamu atau dia punya maksud lain sama kamu."Alfin memberi alasan.
"Hmmm... Kamu tahu julukan siswa legendaris di SMA kita?"tanya Namesya.
"Siswa legendaris? Apa hubungannya siswa legendaris sama nama teman kamu?"tanya Alfin.
"Ya... kalau aku kasih tahu teman aku itu si siswa legendaris itu kamu percaya ngga?"kata Namesya.
"Khem."Alfin berdeham dan sedikit mengangkat wajahnya yang semula tampak begitu kesal,"Memangnya siswa legendaris seperti apa yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Dia punya paket komplit."balas Namesya.
"Kayak makanan aja pake paket komplit segala."komentar Alfin.
"Ya... begitulah. Banyak anak menyebut temanku itu paket komplit."balas Namesya santai.
"Sekomplit apa temanmu itu Hem?"tanya Alfin.
"Dia baik, rupawan, kaya, baik hati dan tidak sombong."jawab Namesya tanpa menerangkan cantik atau tampan rupa temannya.
Alfin berdecih lirih,"Setampan apa temanmu itu? Lebih tampan dia atau aku?"tanyanya mulai bersungut-sungut.
seketika tawa Namesya pecah mendengar pertanyaan Alfin,"Tampan? Kapan aku mengatakan kalau temanku itu tampan Hem?"
"Katamu temanmu rupawan. Dan dia siswa legendaris yang sering dibicarakan semua murid kan?"kata Alfin.
"Apa kau cemburu Hem."kata Namesya.
"Aku tidak akan cemburu kalau dia hanya temanmu. Terlebih lagi kalau aku lebih tampan darinya."kata Alfin.
"Tentu saja dia hanya temanku. Dan kau memang jauh lebih tampan darinya. Perbedaan kalian itu sangat jauh."balas Namesya,"Karena kalian berbeda jenis jadi kau tentu saja lebih tampan darinya."
"Apa maksudmu beda jenis?"tanya Alfin kebingungan.
"Kau lebih tampan darinya karena temanku ini perempuan. Dia pernah dinobatkan menjadi siswi tercantik setelah memenangkan kontes kecantikan yang diadakan sekolah. Itu sebabnya dia dapat julukan siswa legendaris dengan paket komplit. Dan dia sangat terobsesi untuk bertemu dengan siswa senior legendaris yang katanya juga punya julukan paket komplit juga. Aku sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu siapa namanya."kata Namesya akhirnya menjelaskan dan mengakhiri permainannya menggoda Alfin, membuat lelaki itu terbakar cemburu oleh fantasi lelaki itu sendiri.
"Astaga..."keluh Alfin yang menyadari dirinya telah dibuat kesal oleh pikirannya yang mengira teman yang sedang Namesya bahas adalah teman laki-laki.
"kenapa?"tanya Namesya pura-pura tidak menyadari akan kecemburuan Alfin yang tidak berdasar.
"Tidak apa-apa."balas Alfin.
Namesyapun tersenyum menyadari aksinya cukup berhasil membuat Alfin terbakar cemburu."Ngomong-ngomong kenapa kau kaya ngga suka sih sama bos ku?"tanya Namesya karena menyadari Alfin selalu seperti berperang dingin setiap kali mereka bertemu.
"Aku ngga suka aja liat cara dia menatapmu."balas Alfin jujur.
"Bilang aja cemburu."goda Namesya.
"Memang iya."Alfin tidak berusaha membantah ataupun menutupinya.
Namesya memeluk lengan Alfin dan membelainya,"Tenang aja. Bosku udah punya tunangan. Dia baik karena pada dasarnya dia baik. Contohnya aja Ryan, Dia juga baik sama aku pas aku masih kerja di sana.'katanya menenangkan kerisauan Alfin.
"Kita nikah aja ya."ajak Alfin.
Namesya tersenyum, gemas melihat wajah Alfin yang memerah,"Kamu ngelamar aku di mobil."komentarnya.
"Ini bukan lamaran. Tapi ajakan."bantah Alfin.
"Sama aja."timpal Namesya tak mau kalah.
Alfin menghela napas saat menyadari mereka telah tiba di tempat parkir perusahaan,"Nanti makan siang di luar ya."Kata Alfin seraya memarkirkan mobilnya.
"oke."balas Namesya setuju.
"Kamu jangan nakal."pesan Alfin.
"Siap bos."Jawab Namesya seraya bersikap hormat, namun bibirnya tersenyum.
Alfin membelai lembut rambut Namesya yang tertata rapi,"Semangat."pesannya.
"Pasti."balas Namesya.
Alfin memutuskan mengantar Namesya sampai ke dalam gedung perusahaan yang terjaga dengan ketat.
"Hati-hati."Alfin berpesan.
cup
Namesya memberikan satu kecupan di pipi Alfin sebelum gadis itu berlari kecil menuju jalan masuk perusahaan yang hanya bisa di lalui oleh para karyawan resmi. Alfin melambaikan tangan sembari tersenyum saat Namesya kembali menoleh ke arahnya sembari melambai dan melangkah mundur.
"Awas."Meski percuma, Alfin tetap berucap saat melihat keberadaan bos Namesya yang berdiri di belakang Namesya yang tengah berjalan mundur karena mereka saling melambai.
Alfin menghela napas kasar saat melihat satu adegan yang membuat panas ulu hatinya. Sangat panas sampai merambat menuju ubun-ubunnya. Jantungnya bahkan ikut berdetak tak beraturan melihat adegan itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.😁😁😁😁😁