Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Masa lalu Arumi


__ADS_3

Namesya memeluk Arumi dengan erat, berpikir betapa malangnya nasib Arumi yang harus mengalami masalah di saat gadis itu sedang berjuang bertahan hidup.


"Sudah. Kamu tenang saja. Aku pasti akan bantu kamu keluar dari pekerjaan kamu."kata Namesya.


"Tapi kak... Kalau aku melanggar kontrak pekerjaan itu. Aku harus memberikan ganti ruginya."keluh Arumi.


"Apa kamu pegang kontraknya?"tanya Namesya.


"Iya. Aku selalu membawanya."kata Arumi sebelum membuka tasnya dan mengambil map berisi kontrak kerja gadis itu.


Namesya membuka isi kontrak itu dan memang benar Arumi harus memberikan ganti rugi jika gadis itu melanggar ketentuan kontrak."Sudah berapa lama kamu bekerja di sana?"tanya Namesya.


"Satu tahun kak."jawab Arumi.


Arumi mengangguk dan berkata,"Di sini tertulis. Kalau kamu harus memberikan ganti rugi sebesar satu tahun penuh gajihmu jika kamu keluar dari pekerjaan itu sebelum masa kontrak selesai. Tapi masa kontrakmu hanya satu setengah tahun. Setidaknya pihak kantor seharusnya memberikan keringanan karena kamu sudah bekerja lebih dari setengah masa kontrak."kata Namesya.


Arumi menunduk, tidak tahu harus berbuat apa,"aku takut bertemu orang itu lagi kak."lirihnya.


"Iya. kamu tenang saja. Bagaimana kalau kamu meminta cuti saja dulu. Di sini tertulis kalau selama masa kontrak berlangsung kamu di perbolehkan mengambil cuti selama setengah bulan. Nah. Selama kamu cuti, aku akan meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah ini. kita cari jalan keluar."kata Namesya.


"Aku jadi merepotkan kak Mesya."lirih Arumi.


"tidak apa-apa... Aku senang kok bantu kamu."balas Namesya.


"Makasih kak..."Arumi memeluk Namesya dengan penuh rasa syukur.


"Sekarang kamu bisa cerita masalah kamu sama Evan. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu sampai Evan begitu ingin membawamu pergi bersamanya."


Meski awalnya ragu, namun akhirnya Arumi menceritakan masa lalu antara dirinya dengan Evan. Dan itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu...


Di kota Bandung Arumi menghabiskan masa kecilnya hingga remaja sampai gadis itu menyelesaikan sekolah menengahnya dan berniat ingin melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa. Dia adalah murid yang berprestasi, gadis periang dan selalu ceria. Meskipun hanya hidup bersama bibi satu-satunya, namun Arumi merasa bahagia dan gadis itu sangat menyayangi bibinya itu.


"Arumi... Bibi tidak apa-apa. Bibi bisa bekerja hari ini. Sebaiknya kamu fokus belajar. Jangan lewatkan kesempatan ini nak."Bu Sasmi saat itu bersikeras pergi bekerja meskipun dalam keadaan sakit, namun Arumi melarang wanita itu pergi dan ingin menggantikan bibinya bekerja.


"Bibi... Ayolah. Aku sudah mendapatkan beasiswa itu. Aku hanya perlu melakukan ujian nanti setelah aku di Jakarta. Dan itu masih sangat lama. Aku ingin menggantikan bibi satu kali ini saja. Ya. pliiiss..."Arumi tetap membujuk bibinya untuk tinggal dan gadis itu yang pergi bekerja.


"Tapi... sayang..."Bu Sasmi tetap ragu untuk melepas Arumi pergi bekerja.


"Hanya kali ini saja. Bibi sedang sakit. Kalau bibi paksa untuk tetap kerja nanti bibi tambah sakit aku yang sedih."kata Arumi tetap bersikeras.


"Hhh..."Bu Sasmi menghela napas, sangat paham dengan perangai Arumi yang keras kepala jika sudah memiliki keinginan,"Baiklah. Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai kamu merusak barang-barang di tempat majikan bibi. Dia memang jarang di rumah. Tapi bibi tidak yakin dia tidak marah jika ada barang-barangnya yang rusak."kata Bu Sasmi mengingatkan.


"Siap."Arumi dengan semangat dan ceria pergi meninggalkan Bu Sasmi, menggantikan wanita itu bekerja di sebuah rumah yang cukup besar.


"Rumah sebesar ini hanya di tempati oleh satu orang saja."gumam Arumi memandangi rumah besar itu dari balik gerbang,"Semoga saja penghuninya bukan monster seperti yang ada di dongeng beauty and the bea" itu. Eh. tapi kalau monster itu ternyata seorang pangeran tampan yang terkenal kutukan, sepertinya tidak apa-apa kalau aku jadi pemeran utama wanita di dongeng itu. Bukankah aku cukup cantik untuk menjadi pemeran utamanya."Arumi tertawa kecil sembari membuka kunci pintu gerbang menggunakan kunci pemberian bibinya.


"Kata Bibi orangnya jarang di rumah. Hmmm... memangnya kemana kira-kira orangnya. Masa sih tiap hari ngga di rumah."gumam Arumi sembari terus melangkah menuju pintu rumah itu dan kembali membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci, bahkan pintu itu sedikit terbuka."Kenapa pintunya terbuka? Jangan-jangan ada pencuri."Arumi membuka pintu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan bunyi, takut jika benar-benar ada pencuri di rumah itu.


Dengan sangat hati-hati, Arumi terus melangkah mengecek jika ada seseorang yang mencurigakan di rumah itu.


"Tidak ada siapa-siapa."gumamnya setelah mengecek di beberapa tempat yang ternyata kosong dan tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu telah dibobol pencuri.


Praaang


Arumi terjingkat kaget mendengar suara benda yang pecah dari lantai dua rumah itu. Ragu namun penasaran, Arumi akhirnya menuruti rasa penasarannya dan mulai menaiki tangga menuju arah pintu.

__ADS_1


"Arghhh..."Suara teriakan seorang laki-laki terdengar jelas dari balik pintu yang sudah pasti adalah sebuah kamar,"Aldi Brengs*k. Apa hebatnya dia sampai Serly tidak mau menerima pengakuanku."teriak laki-laki dari dalam kamar itu.


Arumi berdiri mematung di balik pintu, ingin melangkah pergi tapi kakinya terlalu berat untuk ia gerakkan. Batinnya tertekan mendengar suara teriakan dari dalam kamar itu.


Praang


Suara pecahan kembali membuat Arumi terjingkat kaget, tapi bukannya pergi dari sana Arumi justru membuka pintu kamar dan mendapati sosok laki-laki tampan dengan penampilan acak-acakan. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan belum lagi pakaian yang di kenakan laki-laki itu.


"A-aku. Ma-maaf."kata Arumi gugup saat melihat laki-laki itu menatapnya penuh kemarahan.


"Siapa kamu?" tanya laki-laki yang sudah di ketahui bernama Evan.


"A-aku. A-aku... Aku Arumi."jawab Arumi semakin gugup saat melihat Evan bangkit dan berjalan ke arahnya dengan langkah sempoyongan, tangannya memegang botol minuman keras.


"Arumi siapa Arumi... Siapa Arumi Hah... Siapa Arumi ..."Teriak Evan yang sudah di kuasai oleh alkohol yang di minum laki-laki itu semalaman.


"Arumi... Saya Arumi... Saya keponakan Bu Sasmi... Saya menggantikan pekerjaan beliau..."kata Arumi gugup sembari melangkah mundur.


"Ha hahaha..."Evan justru tertawa menggelegar, dan menakutkan bagi seorang gadis seperti Arumi."Arumi... Arumi... Aku tidak mengenal Arumi... Aku hanya mengenal Sherly... Aku hanya menginginkan Sherly... aku hanya mau Sherly... Sherly... Sherly... di mana Sherly..."kata Evan yang sudah berada di hadapan Arumi dan mencekal kedua bahu gadis itu, meremasnya begitu kuat.


"Tu-tuan. tolong lepaskan. Ah. Sakit."rintih Arumi saat Evan semakin meremas bahunya begitu kuat.


"Apa katamu? melepaskanmu? tidak akan."Evan menolak untuk melepaskan Arumi.


"Aaa..."Pekik Arumi saat Evan menariknya memasuki kamar,"Tu-Tuan. tolong lepaskan saya. Aaa..."Arumi kembali memekik saat lelaki itu menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur.


"Tidak semudah itu memintaku melepaskanmu. Tidak akan."teriak Evan.,"Jangan harap kamu bisa kabur dariku Sherly. Jangan harap."bentaknya sebelum ikut naik ke tempat tidur dan mencengkeram kedua tangan Arumi, menekannya hingga membuat gadis itu sulit melepaskan diri.


Di bawah pengaruh alkohol, Evan mengira jika Arumi adalah Sherly. Dengan sangat beringas Evan terus berusaha mencium Arumi dan semakin beringas setiap kali laki-laki itu gagal mencium gadis itu.


"Ini tidak sebanding dengan penolakanmu terhadapku. Apa yang kau harapkan dari Aldi hah!? Aku yang selama ini di sisimu kau anggap apa hah!? Kau anggap apa aku ini!? Apa kau pikir aku ini hanya jembatan untuk menghubungkanmu dengan Aldi!? Aku yang mencintaimu tapi kenapa kau malah mengejar Aldi... kenapa Sherly... Kenapa..!?"Evan semakin kalap dan hilang akal sampai berani merobek baju yang dikenakan Arumi dan lanjut menggerayangi gadis itu dengan cium*n kasarnya.


Saat itu Arumi sudah sangat kehilangan separuh jiwanya yang terkoyak akibat perlakuan Evan terhadapnya. Kasar, sangat kasar. Sempat terpikirkan olehnya untuk menyerah mempertahankan dirinya dari setiap serangan Evan yang tak ada henti menciuminya seperti orang gila. Sampai seseorang menerobos masuk membanting pintu dan menarik Evan dari atas tubuh Arumi.


"Breng**k.! Baji**an.!",terdengar umpatan seorang laki-laki yang langsung menghempaskan Evan ke lantai.


Pertolongan itu datang tepat saat Evan hendak melucut* pakaian Arumi, saat itulah Arumi menggunakan kesempatan untuk melarikan diri. Tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya di kamar itu, kamar yang memberikan kenangan pahit untuknya. Saksi bisu di mana kehormatannya hampir saja di renggut oleh seseorang yang tidak pernah ia kenal. Entah siapa malaikat penolongnya waktu itu. Jika di beri kesempatan untuk bertemu, mungkin Arumi akan bersedia menyerahkan seluruh hidupnya untuk ia abdikan pada orang itu.


Sayangnya ia bahkan tidak melihat siapa laki-laki yang berdiri di ambang pintu dan langsung menolongnya. Yang ia pikirkan saat itu adalah lari sejauh mungkin dan sekencang mungkin agar tak ada yang mampu mengejarnya, agar tak ada yang bisa menangkapnya.


Setelah kejadian itu, Arumi mengalami depresi berat sampai harus menginap di rumah sakit jiwa selama satu bulan. Karena setiap teringat kejadian itu Arumi selalu berusaha melukai dirinya sendiri. Namun perlahan kadaannya berangsur membaik.


Setelah keadaan Arumi cukup membaik, Bu Sasmi akhirnya membawa Arumi ke jakarta dengan harapan mereka bisa menemukan hidup baru di sana. Yah. Mungkin itu awal untuk mereka menemukan kebahagiaan mereka bersama. Itulah sebabnya Arumi di larang keras oleh Bu Sasmi ketika Feres menawarkan pekerjaan untuk tinggal di rumah laki-laki itu. Bibi Arumi takut jika trauma Arumi akan kembali muncul jika pekerjaannya harus membuat gadis itu tinggal lama dengan laki-laki. Sebab selama ini Arumi memang selalu menghindari manusia bergenre laki-laki.


"Sudah. Kamu sekarang aman di sini. Dokter Alfin dan Dokter Feres adalah orang-orang yang baik. Mereka tidak seperti laki-laki bejat itu. Mereka pasti akan membantu untuk melindungimu."kata Arumi setelah mendengar kisah singkat Arumi yang menyedihkan.


"Terimakasih kak... Aku ngga tahu harus minta tolong sama siapa kalau ngga ada kak Mesya."lirih Arumi.


Namesya memeluk gadis itu penuh kasih. Dalam hatinya ia bersyukur atas hidupnya yang setidaknya masih memiliki keluarga yang utuh. Meskipun saat ini ia sedang menghindari keluarganya, namun ia percaya mereka akan suka rela mengulurkan tangan mereka melindunginya jika tahu tentang permasalahannya saat ini.


"Sayang."


Namesya menoleh ke arah pintu mendengar suara Alfin dari sana, gadis itu menatap penuh tanya melihat laki-laki itu tersenyum.


"Sa-yang."lirih Namesya bingung dengan panggilan yang Alfin ucapkan, tentu itu untuknya.

__ADS_1


Alfin tersenyum dan melirik ke arah samping,"Mama mampir ke sini. Katanya pengen ketemu sama kamu."kata Alfin.


"Oooohhh... ya. He he.. ya..."balas Namesya sembari tersenyum salah tingkah melihat Arumi menatapnya penuh tanya.


"Kak Mesya... Katanya kak Mesya ini..."kata Arumi penuh keraguan mengingat sebelumnya Namesya mengaku tidak memiliki hubungan apapun dengan Alfin, tidak lebih dari sekedar teman yang menumpang di rumah laki-laki itu.


"Mesya sayang... Mama kangen... ih. Alfin di suruh buat ajak Mesya turun malah cuma bengong di sini."Seru Meylani, wanita itu berdiri di samping Alfin dan melirik putranya itu dengan tatapan sebal.


"Alfin kan sudah kasih tahu mama kalau Mesya sedang ngobrol sama temannya."Alfin memberikan alasan.


"Memangnya kenapa? Apa kamu pikir mama akan menelan temannya kalau mama bertemu dengan teman Mesya hah. Dasar kau ini."wanita itu menimpuk punggung Alfin dengan tasnya.


"Ah. mama tega sekali memukulku. apa rasa sayang mama sudah berpindah semua ke Mesya. Ah sudahlah. Alfin mau turun lagi."gerutu Alfin seraya mengelus punggungnya,"Mesya ini yang aku takutkan untuk mempertemukan kalian. Baru beberapa hari bertemu saja mama sudah pilih kasih begitu."Alfin memasang wajah pura-pura kesalnya saat berbicara dengan Mesya sebelum laki-laki itu pergi.


"Cih. dasar. Andai dia melihat ekspresinya saat tadi marah-marah tidak jelas padaku."Gumam Namesya sembari tersenyum mengingat beberapa menit lalu sikap Alfin tidak begitu manis seperti sikapnya saat ini.


"Kak."panggil Arumi melihat Namesya senyum-senyum sembari menunduk.


"Eh. iya."sahut Namesya kembali fokus menatap Arumi dan kemudian beralih ke arah pintu di mana ibu Alfin sudah memasuki kamar."Mama. Darimana?"tanyanya basa-basi.


"Mama habis ke rumah teman lama. Terus mempir kemari. Kangen sama kamu..."Meylani memeluk Namesya penuh sayang.


"Kan kemarin kita baru ketemu."balas Namesya,"Oh ya mah. kenalin ini Arumi. Dia keponakan Bu Sasmi."imbuhnya mengenalkan Arumi pada ibu Alfin.


"Iya. Mama udah tahu. Mama pernah ketemu sekali pas Arumi gantiin Bu Sasmi kerja di sini."jawab wanita itu.


"Oh. mama sudah kenal Arumi."gumam Namesya.


"Udah dong. Bahkan mama pernah salah paham sama dia karena mama pikir dia itu pacarnya Alfin. Tapi ternyata mama salah setelah Arumi meyakinkan mama setelah mempertemukan mama dengan Bu Sasmi."kata Ibu Alfin.


"Oh... Begitu."gumam Namesya.


'sebesar itukah keinginan ibu dokter Alfin yang ingin melihat dokter Alfin memiliki kekasih.'batin Namesya.


'aku ingin membantu dokter Alfin. tapi aku takut mama akan membenciku jika beliau tahu kalau kami hanya berpura-pura. Bagaimana ini? Masalahnya aku sendiri sedang hamil dan aku takut kalau nanti kehamilanku diketahui mama.'batin Namesya kembali merasa resah memikirkan masalah saat ini.


"Sayang... kok melamun."tegur Meylani.


"ngga kok mah."balas Namesya,"oh ya. Gimana kalau kita turun. Kita ngobrol di bawah."


"Ayo. Mama kebetulan tadi bawa oleh-oleh lagi."kata Meylani.


"Uuuhhh... mama... kenapa bawa oleh-oleh lagi..."Namesya menggelayut manja di lengan Meylani, batinnya merasa tenang dan nyaman saat ini.


Sementara itu Arumi masih tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun gadis itu juga tidak mengambil pusing apa yang sebenarnya terjadi.


.


.


.


.


.😊😊😊😘✌️

__ADS_1


__ADS_2