Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Gara-gara mangga muda


__ADS_3

Pov Alfin


Sudah sekian tahun aku hidup mandiri, selain karena rumahku lebih dekat dengan rumah sakit tempatku bekerja aku bisa sedikit menghindar dari tekanan ibuku yang selalu menuntut seorang menantu dariku. Bagi seorang ibu benarkah tidak cukup hanya dengan satu menantu untuknya?


Kupikir kekasih adikku sudah cukup untuk membuat ibuku tenang dan tidak menuntut hal satu itu dariku. Nyatanya beliau masih kurang puas jika hanya adikku yang sudah punya calon pendamping hidupnya.


" katanya pamali kalau sampai adiknya dulu yang menikah. katanya takut aku menjadi perjaka tua yang tidak laku-laku. " itu ketakutan ibuku yang menurutku sudah tidak lagi jamannya menyangkut pautkan jodoh seperti jaman dulu.


"hhh..."aku hanya menghela nafas jika sudah tak mau berdebat dengan ibuku.


"Alfin."panggil wanita yang tak lagi muda itu memanggilku yang tengah berkutat di depan laptopku, aku sedang mengerjakan beberapa fail di ruang kerja pribadiku di rumah.


"ya mah."sahutku seraya menatap ibuku yang sudah masuk membawakan secangkir kopi untukku tentunya.


"besok mama mau main lagi ke rumah sakit."kata ibuku.


"mau ngapain lagi ma..."tegur Alfin yang sudah mulai mencium bau perkenalan konyol yang ibu siapkan untukku.


"ya... mau mainlah..."kilah ibuku.


"kenapa ngga main ke mall aja sama Qia."alihku berusaha.


"ya kamu kan tahu sendiri Qia lagi sibuk untuk urusan studynya ke Jepang."terang ibuku.


"oh."gumamku seraya terus fokus pada layar laptopku.


"jadi gimana?"tanya ibuku.


"gimana apanya mah. ya kalau mau main ya main aja mah. ngga ada yang larang juga."balasku dengan santai.


"ih. kamu ini kalau diajak ngobrol suka ngga merhatiin."keluh ibuku akhirnya.


"ya memangnya Alfin mesti ngomong apa mah..."aku sudah sangat sabar menghadapi semua tuntutan ibuku selama ini.


"ya mama mau ajak putri teman mama main ke tempat kerja kamu."terang ibuku.


"hhh..."aku menghela nafas, menutup laptopku dan menatap ibuku,"ma... apa mama ngga capek terus terusan ngenalin Alfin sama perempuan? apa mama ngga malu? Alfin jadi terkesan kayak ngga laku padahal kalau di rumah sakit banyak yang suka centilin Alfin."


"ya kamunya aja yang ngga peka. kalau ada yang centil sama kamu kenapa ngga kamu ajak ke rumah aja langsung kenalin ke mama sama papa."omel ibuku seraya pergi dari ruangan ku.


"astaga mama..."keluhku seraya menepuk dahiku.


'gimana caranya biar mama ngga terus terusan bawa cewek ke rumah sakit.'batinku mencoba mencari jalan keluar agar ibuku berhenti mencoba menjodohkan diriku dengan gadis-gadis pilihannya.


"Ya Tuhan... setidaknya tunjukkan di mana jodohku saat ini."keluhku setengah berdoa pada Tuhan yang pencipta segalanya agar aku segera dipertemukan dengan jodohku.


Aku menilik jam tanganku dan meraup wajahku dengan kedua tangan,"sebaiknya aku tidur saja sekarang. jangan sampai besok aku terlambat."


Aku beranjak keluar dari ruang kerjaku dan menaiki tangga menuju kamarku yang ada di lantai dua rumah minimalisku.


Pov Author


Hari ini cukup cerah dengan udara yang cukup segar di taman rumah sakit yang tumbuh banyak pepohonan yang cukup rindang. Namesya tengah memandangi pohon mangga yang tampak lebat sekali buahnya, namun cukup tinggi untuk ia menjangkaunya.


"ish. kenapa aku sangat menginginkan mangga itu... apa boleh kalau aku memetiknya satu buah saja."kata Namesya yang tak henti memandangi buah yang belum matang itu,"apa seperti ini rasa orang ngidam?"tanyanya saat mengingat dirinya tengah hamil muda.


"Bagaimana ini... pohonnya tinggi banget. ngga mungkin kalau aku naik ke atas. bisa bisa kak Andin marah-marah."Namesya terus mencoba berpikir mencari cara untuk memetik buah mangga ranum itu yang tumbuh di taman rumah sakit dan hanya ada satu pohon mangga di sana.


Namesya menatap sekelilingnya yang cukup ramai oleh beberapa pasien yang sedang berjemur, di mulai dari anak balita, lansia, dan beberapa pasien yang mungkin di anjurkan untuk selalu berjemur di pagi hari dan taman adalah tempat paling nyaman untuk berjemur.


"Mesya."seru Andin yang tak lagi menambahkan sebutan nona sesuai janji mereka semalam, semalam Andin tidur di kamar rawat Namesya mengajak Namesya mengobrol banyak hal.

__ADS_1


Dan sejak semalam dua perempuan beda usia itu terlihat semakin dekat layaknya dua kakak beradik yang selalu ingin saling melindungi satu sama lain.


"Kak Andin."gumam Namesya.


"Hei. aku nyariin kamu ternyata kamu di sini. lagi ngapain?"kata Andin.


"mmm... itu aku..."Namesya ragu untuk mengatakan keinginannya yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.


"kenapa? ada apa?"tanya Andin,"oh ya. kamu udah sarapan kan? tadi aku lihat kok makanan kamu kaya belum kamu sentuh. cuma air jahenya doang yang habis."Andin mengalihkan pertanyaan.


"oh... itu. aku agak mual aja tadi jadi aku cuma makan sedikit terus langsung minum air jahenya."jujur Namesya.


"ah. masih mual ya."gumam Andin,"hhh... kalau aja aku bisa ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. pasti keluarga suamiku ngga bakalan nyuruh aku cerai."lirih wanita itu.


"maksud kakak apa?"tanya Namesya.


"hah. eh bukan apa-apa. itu cuma masa lalu kakak aja."jawab Andin.


"kakak belum ceritain masa lalu kakak sama aku loh."kata Namesya.


"ya udah. kapan-kapan kakak cerita."kata Andin,"jadi kamu lagi ngapain di sini?"tanya wanita itu kembali ke topik awal pertanyaannya.


"ah... ya pengin berjemur aja. kan seger berjemur pagi-pagi."balas Namesya.


"hmmm... tapi tadi kakak liat kamu terus liatin pohon mangga deh. apa kamu lagi ngidam? pengin mangga muda gitu?"tebak Andin.


"ah... itu... mmm... agak sedikit sih. cuma ngga bisa metik. ngga mungkin kan kalau aku naik."akhirnya Namesya mengakui hasratnya yang menginginkan mangga muda itu.


"hhh... ya udah nanti kakak petikin."kata Andin yang langsung melepas jas putihnya dan menggulung celananya.


"eh kak Andin mau ngapain? jangan? bahaya. aku takut kak Andin nanti jatuh. jangan kak."kata Namesya cemas.


"ngga papa... cuma segitu doang. ngga tinggi kok."timpal Andin yang sudah bersiap memanjat pohon mangga.


"kak. jangan. udah kak turun aja. aku takut kak Andin jatuh."Namesya dibuat panik melihat Andin yang terus memanjat tanpa takut.


"udah kamu tenang aja. lagian aku juga suka sama mangga muda kok. kayaknya enak di makan pake sambel gitu."balas Andin.


"ya tapi kak..."Namesya tetap merasa khawatir dan hanya bisa celingukan ke berbagai arah, namun sepertinya tak ada yang melihatnya sedang panik di sana.


"Dokter..."serunya saat ia melihat Ferres melintas tidak jauh dari tempat ia berdiri saat ini,"Dokter..."serunya lagi seraya melangkah cepat menghampiri Ferres yang sudah berhenti dan tengah memastikan jika Namesya memang tengah memanggil laki-laki itu."Dokter... tolong..."kata Namesya.


"ada apa? kamu kenapa? kamu sakit?"tanya Ferres yang terlihat begitu khawatir mendengar Namesya meminta tolong.


"ngga dok... saya baik-baik saja. tapi itu... Dokter..."Namesya menunjuk kearah pohon mangga dan Feres mengikuti arah yang di tunjuk gadis itu.


"kenapa? kamu pengen mangga?"tanya Feres yang tidak melihat adanya Andin di pohon itu karena daunnya cukup rindang dengan buah yang lebat.


"itu. Dokter Andin manjat pohon. aku takut Dia jatuh."kata Namesya menjelaskan.


"Ya ampun..."gumam Feres, lelaki itu menggelengkan kepala melihat kepanikan Namesya melihat Andin memanjat pohon mangga."udah kamu tenang aja. dia ngga bakalan kenapa-kenapa. Saya sudah sering lihat dia manjat pohon. dia pinter kalau urusan memanjat pohon."kata Feres.


"tapi dok... saya takut kak Andin jatuh..."jujur Namesya.


Feres cukup merasa asing mendengar Namesya menyebut Andin dengan sebutan 'kak'.


'semudah itu Andin mendekati Mesya sampai dia mau memanggilnya kakak'batin Feres.


"Dokter. saya takut kak Andin jatuh."seru Namesya lagi.


"ya. ya. kamu tenang aja. nanti saya tegur dia."Feres berjalan menuju tempat pohon mangga itu berada di ikuti Namesya.

__ADS_1


"Hei monyet. lagi ngapain di situ hah."seru Feres kepada Andin yang tengah memetik mangga muda di atas pohon.


"jangan kurang ajar kamu. enak saja ngatain monyet. kalau aku monyet kamu apa? temannya monyet? berarti kamu monyet juga dong."seru Andin begitu sengit mendengar perkataan Feres.


"ya lagian. pagi-pagi udah bikin anak orang khawatir liat kamu manjat begitu. ngapain sih pagi-pagi metik mangga muda. kaya lagi ngidam aja. udah cepetan turun. kalau pengen mangga muda biar nanti aku beliin."kata Feres sementara Namesya juga sama herannya melihat kedekatan dua dokter itu yang tidak seperti dokter-dokter lain yang terkesan kaku dan terlalu sungkan terhadap sesama dokter


"udah deh mendingan kamu diem di situ. nin temen monyet bisa nangkep ngga."tiba-tiba Andin melempar satu buah mangga ke arah Feres.


"eh. dasar monyet. main lempar aja. untung ngga ngenain muka. bisa bonyok nih muka kalau sampai kena mangga Segede gini."omel Feres setelah berhasil menangkap mangga dengan ukuran cukup besar,"mau buat apa sih mangganya? emang kamu lagi hamil gitu? emang suami kamu udah bisa on sampai bisa buat istrinya hamil."seru Feres.


"dasar sialan."umpat Andin yang terlihat kesal dan memerah wajahnya, tak lupa wanita itu juga melempar sebuah mangga lagi ke arah Feres dan kini tepat mengenai dahi laki-laki itu.


pluk


"Aduh."keluh Feres seraya memegangi dahinya yang terasa cukup sakit terkena mangga muda lemparan Andin.


"Dokter ngga papa?"tanya Namesya yang langsung melihat dahi Feres tiba-tiba dan membuat lelaki itu tertegun saat wajah Namesya berada begitu dekat dengan wajahnya gadis itu sedikit mendongak mengingat tinggi mereka yang tidak sama.


"Eh. ngga apa-apa paling nanti cuma memar sedikit."kata Feres.


"tapi emang udah merah sih itu."Namesya menunjuk dahi Feres.


"udah ngga apa-apa biar nanti di kompres."kata Feres,"eh monyet cepetan turun."seru lelaki itu bergegas mengalihkan perhatiannya dari menatap Namesya, kebaradaan gadis itu memang cukup menyita pikirannya.


Sementara itu Andin memang sudah bersiap turun dari pohon mangga namun pohon yang licin membuat kaki Andin terpeleset tiba-tiba dan membuat wanita itu bergelantungan di dahan pohon. Bukannya menolong, tapi Feres malah tertawa melihat Andin yang bergelantungan di dahan pohon.


"haha... lihat udah kayak monyet beneran."seru Feres seraya menunjuk Andin dan menoleh kearah Namesya.


"hei temennya monyet. bukannya nolongin malah cekikikan di situ."protes Andin sedangkan Namesya sudah lebih dekat ke pohon manggis.


"kak Andin sih udah aku kasih tau jangan naik malah naik."kata Namesya.


"udah ngga apa-apa. ini cuma masalah kecil. udah biasa gelantungan di pohon begini."timpal Andin.


"ya tapi kan kak andinjadi kesulitan kaya begitu."seru Namesya.


"udah kamu tenang aja."Feres menenangkan Namesya,"udah sini kamu turun. aku siap nangkep kamu dari sini."imbuhnya meminta Andin lompat kearahnya.


"beneran ya. aku lompat nih."kata Andin.


"iya beneran. udah cepetan turun bentar lagi ada metting kan."seru Feres.


"iya. iya."balas Andin dan tak lama kemudian Andin melepaskan pegangan tangannya pada pohon mangga satu detik kemudian tubuhnya meluncur melayang sejenak sebelum mendarat tepat ke arah Feres.


Dengan sigap Feres menangkap Andin dan langsung menurunkan wanita itu. Namesya benar-benar heran melihat interaksi dua dokter di hadapannya saat ini. Tapi bukan itu masalahnya saat ini.


Gara-gara mangga muda sekarang kedua telapak tangan Andin terkena goresan dahan pohon mangga saat wanita itu memegang dahan pohon mangga agar tubuh wanita itu tidak jatuh begitu saja ke tanah. Namesya memang merasa bersalah, tapi Andin sama sekali tidak mengungkit akan keinginan Namesya yang ingin mangga muda sehingga membuat Andin yang memanjat pohon mangga untuk memetik buah ranum itu.


"jangan di bawa ke kamar kamu. Nanti Dokter Rendra marah-marah. nanti kita makan di ruangan aku aja."bisik Andin yang tidak mau Feres mengetahui rahasia itu.


"oh iya aku lupa kalau Doker Rendra larang aku buat makan makanan asam."lirih Namesya.


"kalian lagi ngomongin apa sih?"tanya Feres yang di buat penasaran oleh bisik dua wanita itu.


"ngga... ngga ngomongin apa-apa. iya kan Sya."sahut Andin,"udah katanya kita sebentar lagi rapat"ajak Andin seraya membawa beberapa mangga muda hasil petikannya dengan membungkusnya menggunakan jas dokternya.


Tak lupa wanita itu memberikan isyarat pada Namesya untuk datang ke ruangannya siang nanti.


"kebetulan. nanti siang sekalian nemuin dokter Alfin. aku mau berterimakasih sama dokter itu."gumam Namesya teringat kalau ruangan Alfin bersebelahan dengan ruangan Andin."eh. ketinggalan satu buahnya."gumamnya melihat satu buah mangga muda yang tertinggal di bawah pohon, Namesya mengambilnya dan membawa buah itu ke kamarnya.


Tak mengira gara-gara buah mangga Namesya jadi mengetahui betapa menyenangkannya sifat Dokter Andin yang pernah memarahinya justru ternyata ada sifat lucu yang ada dalam diri wanita itu.

__ADS_1


"Andai aja kak Tasya bisa seramah kak Andin. Pasti aku sama kak Tasya bisa dekat seperti aku dekat sama kak Andin."gumam Namesya saat teringat akan hubungannya yang kurang baik dengan Natasya, Almarhumah mantan Kevin, Kakaknya.


__ADS_2