
Malam pun tiba, Namesya membereskan dapur bersama ibu Alfin setelah mereka berlima, Feres, Arumi, Ibu Alfin, Alfin dan dirinya sendiri makan malam bersama. Feres dan Arumi pulang bersama selepas mereka makan malam.
"Mesya."Meylani membuka obrolan.
"Ya. mah."sahut Mesya.
"Mmm... Besok kamu mau ngga ikut mama. Mama ada undangan hajatan dari teman mama gitu. Mama pengen ajak kamu kesana."kata Meylani.
"Mmm... undangan. Memangnya Mesya boleh ikut. Kan Mesya ngga dapet undangan."kata Mesya.
"Ya tentu saja boleh. Kamu kan calon menantu mama, jadi apa salahnya kalau kamu ikut mama. Ya gantiin papah lah. Soalnya papah ngga bisa datang gitu, katanya ada rapat di kantor dan papah harus hadir karena itu rapat penting. Ya. kamu ikut ya... temani mama. Masa mama kesana sendirian..."bujuk Meylani.
"mmm... Aku tanya Dokter Alfin dulu boleh atau enggak kalau aku ikut."balas Mesya.
Senyum Meylani mengembang sempurna,"kamu ini. Bener-bener calon menantu dan istri serta ibu yang baik untuk keluargamu nanti. Pasti Alfin banyak ngekang kamu yah sampai-sampai pergi sama mama aja mesti minta ijin dulu."ujar wanita itu.
"Eh. itu ... Ya ... Takutnya kalau ngga minta ijin nanti dokter Alfin nyariin."kilah Namesya.
"Ya udah nanti kamu minta ijin dulu sama dia. Pasti di ijinin kok."timpal Meylani.
"Iya mah."Namesya lanjut mencuci piring dan Meylani kembali membantu gadis itu.
"Ngomong-ngomong memangnya kalian ngga ada panggilan sayang khusus gitu? Biasanya anak muda jaman sekarang kan begitu. Suka kasih panggilan khusus sama pasangannya. Tapi kamu kenapa terus terusan panggil Alfin dokter terus."tanya Meylani.
"Ah... itu... Ya itu panggilan sayang Mesya ke dokter Alfin mah. Habisnya kalau panggilan yang kaya anak-anak jaman sekarang terlalu pasaran begitu."Namesya mencoba memberi alasan sembari tetap fokus mencuci piring.
"Oh ... tapi semalam mama denger Alfin panggil kamu sayang."kata Meylani.
Namesya tersenyum menatap ibu Alfin di sampingnya,"Itu ... Ya Dokter Alfin punya caranya sendiri buat tunjukin rasa sayangnya sama Mesya mah. Sedangkan Mesya sendiri ngerasa bangga punya Dokter Alfin, jadi Mesya lebih memilih memanggilnya dengan sebutan itu."
"Khem."
Namesya buru-buru menoleh mendengar suara Alfin berdeham, mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu namun urung karena saat ini wajahnya terasa memanas.
'apa dia mendengarkan percakapan kami? aduh malunya aku...'batin Namesya setelah kembali berusaha fokus pada cucian piring.
"Sayang. Belum selesai nyuci piringnya?"tanya Alfin sengaja dengan lantang menyebut kata 'sayang' kepada Namesya.
'apa? sayang lagi. aduh pasti dia mendengar semuanya tadi.'batin Namesya lagi seraya memejamkan matanya sejenak.
"Mesya. Mendingan kamu istirahat aja sana. Biar mama yang selesain cucian piringnya. Kayaknya Alfin butuh bantuan kamu."kata Meylani.
"Tapi mah. Ada baiknya mama yang istirahat. Masa Mesya yang pergi istirahat mama cuci piring. Sudah ngga apa-apa tinggal sedikit cuciannya."bantah Namesya,"Mmm... Kalau ada perlu tunggu aku selesai cuci piring ya."tambahnya pada Alfin.
"Ya udah. Mending mama aja yang istirahat. Gantian Alfin yang bantu Mesya cuci piring."Alfin menggulung lengan kemejanya dan langsung mengambil posisi Meylani di samping Namesya,"Gimana sayang.? Ngga apa-apa kan kalau aku yang bantu."Alfin menatap Namesya dengan senyum mengembang sempurna.
"Oh. Ya sudah. Kalau begitu mama istirahat aja. Kalian yang akur ya."Meylani langsung pergi dari dapur sembari tersenyum senang melihat Alfin bersama Namesya.
"Dokter."Panggil Namesya dengan tatapan penuh tanya.
"Hem."Sahut Alfin sembari membilas piring yang sudah dibalur air sabun oleh Namesya.
Namesya memiringkan kepala untuk melihat wajah Alfin yang tengah fokus itu,"Dokter terlihat aneh."komentarnya.
"Memangnya aku aneh kenapa?"tanya Alfin seraya menoleh menatap Namesya, gadis itu masih menatap Alfin hingga membuat wajah keduanya menjadi begitu dekat dan meresahkan,"apa yang aneh dariku? aku hanya ingin membantu pacarku mencuci piring."kata Alfin lagi.
"Ah. Lupakan saja."Namesya langsung mengalihkan pandangannya karena merasa debar jantungnya begitu cepat saat wajahnya berhadapan dengan wajah Alfin.
"Mama sedang menguping."Bisik Alfin tepat di telinga Namesya, namun dari sudut lain Alfin terlihat seperti sedang mencium gadis itu.
Meylani yang melihat adegan itu semakin merasa gembira,"Akhirnya putraku menemukan jodohnya."lirih wanita itu.
"Apa mama masih menguping?"tanya Namesya.
"Masih."jawab Alfin berbohong,"mungkin kamu harus berkata sesuatu untuk membuat mama percaya kalau kamu ini kekasihku."bisik Alfin lagi.
Deg
deg
deg
Debaran jantung Namesya semakin kencang saat hembusan napas Alfin mengenai telinga dan tengkuk lehernya. Menyisakan desiran hangat dalam dirinya yang pernah merasakannya saat gadis itu memadu kasih dengan Rio.
"Lalu aku harus apa supaya mama berhenti menguping?"tanya Namesya dengan bisikan yang begitu lirih.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah berbicara mesra dengan pacarmu dulu."kata Alfin.
"Mmm ... itu... Aku jarang menghabiskan waktu berdua dengannya. Tapi... aku memang sering memanggilnya sayang."kata Namesya.
"Hhhh..."Alfin menghela napas, ada perasaan kesal mendengar kejujuran Namesya,"Sudahlah lupakan saja. Nanti mama juga capek menguping."kata Alfin.
"Ekspresi apa itu Hem?"tanya Namesya seraya mencolek pipi Alfin dengan tangannya yang berbusa,"hahaha..."Gadis itu tertawa lepas dan buru-buru membekap mulutnya karena merasa sudah kelepasan saat tertawa.
"Hahaha..."kali ini giliran Alfin yang tertawa karena Namesya membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang berbusa."senjata makan tuan itu namanya."
Bibir Namesya yang berbusa itu mengerucut, merasa kesal sendiri karena kecerobohannya."Tidak lucu."gerutunya dan kembali membalur piring dengan sabun.
"Sini aku bersihin dulu."Alfin membersihkan busa di sekitar mulut Namesya menggunakan tisu yang laki-laki itu ambil di atas meja.
Namesya terdiam membiarkan Alfin mengelap di sekitar bibirnya yang berbusa, meski debar jantungnya semakin menjadi karena perlakuan laki-laki itu."a-aku akan membersihkannya sendiri. Dokter tidak perlu seekstrem itu berakting di depan mama."Namesya mengambil tisu lagi dan mengelap bibirnya alih-alih mencoba menenangkan perasaannya saat ini.
'akting.'batin Alfin menanggapi perkataan Namesya mengenai sikapnya saat ini.
'apa aku benar-benar sedang berakting.'batinnya bertanya mengenai sikapnya sendiri.
"Besok pagi ikut aku ke butik."kata Alfin.
"Butik."tanggap Namesya,"untuk apa?"tanyanya.
"Untuk beli gaun. Bukankah kamu mau ikut mama ke acara hajatan teman mama. Kamu tidak perlu meminta ijin dariku, kalau kamu mau kamu ikut saja. Besok malam aku akan tidur di apartemenmu. Ada baiknya kamu ikut mama ke acara itu."Alfin menjelaskan.
"Dokter sudah tahu rupanya."komentar namesya.
"Tentu saja aku tahu. Aku berdiri cukup lama mendengar kalian mengobrol."timpal Alfin.
"Oh. Aku tidak heran. Tapi aku bisa beli sendiri. Dokter tidak perlu repot-repot membelikan baju untukku."tolak Namesya.
"Aku harus membelinya untukmu. Mana ada laki-laki yang membiarkan kekasihnya membeli gaun sendiri untuk pergi ke pesta."kata Alfin.
"Tapi-"
"Untuk saat ini aku pacarmu. Jadi nikmati saja apa yang aku berikan untukmu. Aku akan memanjakanmu sebagai pacarku."kata Alfin memotong ucapan namesya.
"Tapi kita hanya-"
Alfin tersenyum setelah selesai berbisik, lagi-lagi ia berbohong,"jangan menolak. Oke."
Namesya mengangguk, tak mampu berkata banyak selain setuju dengan sebuah anggukan kecilnya.
"Bagus. Ini baru pacarku yang manis."Alfin mengelus rambut Namesya dengan lembut.
"Tangan Dokter basah..."keluh Namesya karena rambutnya jadi basah oleh tangan Alfin.
"Maaf. Aku sengaja."balas Alfin sebelum tersenyum puas.
Namesya mengerucutkan bibir, tapi kemudian tersenyum kecil dan buru-buru mengulum bibirnya agar bibirnya itu tidak tersenyum lagi. Rasanya ia seperti benar-benar sedang di goda oleh pacar sendiri.
'apa jika aku memutuskan untuk membantunya tidak akan berdampak buruk untukku nantinya.'tanya Namesya dalam hati, sesekali ia menoleh kearah Alfin yang terlihat begitu tekun membilas.
'Dia laki-laki yang baik. Aku berharap dia akan menemukan wanita yang baik untuknya. Semoga dia cepat bertemu dengan jodohnya.'batinnya berdoa untuk Alfin.
Malam itu Namesya juga berharap hidupnya akan menjadi lebih baik setelah masalahnya berlalu. Gadis itu akan berusaha berdamai dengan masa lalunya dan berusaha menerima semua kenyataan hidupnya.
"Oke. Sekarang waktunya tidur."Namesya menyuruh dirinya sendiri tidur dan membenarkan letak selimut yang membungkus tubuhnya.
###
Selesai makan malam di rumah Alfin, Feres mengantar Arumi pulang. Meskipun Arumi masih terkesan menjaga jarak dengannya dan tidak mau duduk di kursi depan di samping Feres yang mengemudi. Tapi setidaknya Feres tahu ada kepercayaan dalam hati gadis itu terhadapnya.
"Arumi."Feres mencoba mencairkan suasana dengan mengajak gadis itu mengobrol.
"Ya."sahut gadis itu tanpa menatap kearah Feres di depan kemudi.
Feres melirik gadis itu melalui kaca,"jadi kamu cuma tinggal dengan Bu Sasmi sejak kecil?"tanya Feres.
"ya."Jawab Arumi sangat singkat.
"Apa aku boleh bertanya mengenai orang tuamu?"tanya Feres.
"Mmm... Aku sendiri tidak begitu tahu seperti apa orang tuaku."jawab Arumi.
__ADS_1
"Oh... Apa kamu tidak memiliki foto mereka?"tanya Feres.
"Kata Bibi. Rumah orang tuaku terbakar saat aku masih bayi dan tidak ada satu foto pun tersisa. Hanya aku yang berhasil diselamatkan dari kebakaran."kata Arumi.
"Oh... maaf kalau aku sudah terlalu banyak bicara. Aku hanya penasaran saja. Karena kalau aku lihat kamu begitu mirip dengan Bu Sasmi. Aku sempat mengira kamu ini putrinya."kata Feres.
"Oh. banyak orang bilang begitu."komentar Arumi.
"Jadi kamu pernah tinggal di Bandung?"tanya Feres.
"Iya. Sejak aku kecil kami tinggal di sana."jawab Arumi.
Feres mengangguk mengerti,"ngomong-ngomong mengenai tawaranku tadi pagi. Itu masih berlaku untukmu. Beritahu aku kalau kamu mau berkerja di rumahku. Sebenarnya yang bekerja di rumahku tidak banyak. Hanya ada dua orang. Dan mereka orang kepercayaan keluargaku. Aku bisa menjamin keamananmu."katanya mengingatkan mengenai tawaran pekerjaannya.
Arumi mendongak menatap Feres yang berada di kursi depan, hati kecilnya memang percaya kalau laki-laki itu baik."Aku akan memikirkannya."katanya.
"Tentu saja aku juga bisa membantumu keluar dari pekerjaanmu di gedung apartemen itu."kata Feres.
"Kenapa dokter baik padaku?"tanya Arumi.
"Anggap saja aku ingin menebus kesalahan sepupuku."jawab Feres.
"Hhhh... Bukan dokter yang bersalah. Kenapa dokter harus repot-repot menebus kesalahannya."timpal Arumi.
"Aku hanya ingin kamu percaya padaku. Aku merasa kamu takut padaku. Sungguh meskipun dia sepupuku, aku tidak seperti dia yang bisa seburuk itu memperlakukan orang lain."kata Feres.
"Aku tahu."lirih Arumi.
"Ya. aku tahu. Menghadapi rasa trauma memang tidaklah mudah. Tapi jika kamu berusaha kamu pasti bisa melewatinya."kata Feres.
"Aku memang sedang berusaha berdamai dengan masa laluku. Aku juga tidak ingin terus menerus menghindari orang-orang dan berprasangka buruk pada mereka. Aku sedang berusaha."kata Arumi.
"Ya. Kamu harus yakin. Tidak semua orang memiliki sifat jahat seperti Evan."balas Feres.
"Ya. aku tahu itu."timpal Arumi dan menatap keluar mobil.
Setelah melewati beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di depan rumah Arumi. Saat Arumi keluar dari mobil Bu Sasmi sudah berdiri di depan teras rumah.
"Arumi."panggil Bu Sasmi cemas melihat Arumi pulang lebih awal dari biasanya, terlebih lagi saat mengetahui siapa yang mengantar Arumi pulang,"kenapa nak Feres mengantar Arumi?"tanya Bu Sasmi.
"Bibi... Dokter Feres ini ternyata teman kak Mesya. Katanya Kak Mesya yang memberitahu dokter Feres tentang aku dan bibi. Karena kak Mesya pikir aku lebih baik bekerja tetap di rumah daripada harus bekerja malam hari di gedung apartemen. Kak Mesya takut terjadi sesuatu padaku kalau aku pulang larut."jawab Arumi sedikit berbohong.
"Oh. apa benar begitu?"tanya Bu Sasmi.
"benar Bu. Saya teman Mesya dan Alfin."jawab Feres.
"Begitu."gumam Bu Sasmi sembari mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi pulang Bu."pamit Feres.
"Iya. Hati-hati. Terimakasih sudah mengantar Arumi pulang."jawab Bu Sasmi.
"Sama-sama Bu."balas Feres yang kemudian pergi.
Arumi dan Bu Sasmi memasuki rumah setelah mobil Feres berlalu dari jalan di depan rumah mereka.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Nak Feres?"tanya Bu Sasmi tiba-tiba.
Arumi yang sudah berjalan menuju kamarnya pun berhenti dan kembali mendekati Bu Sasmi,"Tadi aku tidak bekerja Bi. Aku main ke rumah kak Mesya. Kak Mesya meminta bantuanku untuk memasak di rumah dokter Alfin. Di sana ternyata ada dokter Feres. Karena arah rumah dokter Feres searah jadi dia memberiku tumpangan."jawab Arumi, terpaksa berbohong karena tak ingin membuat orang tercintanya khawatir.
"Oh... Begitu. Apa kamu tidak merasa takut padanya?"tanya Bu Sasmi.
"Tidak. Dia orang baik. Untuk apa aku takut?"jawab Arumi seraya menggeleng,"Bibi..."gadis itu meraih tangan Bu Sasmi,"Sudah lama aku berusaha berdamai dengan masa lalu. Aku tidak mau membuang waktuku dengan selalu membatasi diriku hanya karena masa lalu. Aku tahu tidak semua orang memiliki perangai jahat seperti laki-laki itu. Aku hanya perlu menjaga diriku lebih baik lagi."kata Arumi.
"Kamu sudah dewasa sayang."kata Bu Sasmi, wanita itu menyelipkan rambut Arumi yang tergerai ke telinga gadis itu kemudian menepuk kedua bahu gadis itu dengan lembut,"Kamu harus melanjutkan hidupmu. Jangan sampai bayangan masa lalu membuatmu terpaku seorang diri di tempat yang sama. Kamu benar. Berdamailah dengan masa lalu dan lanjutkan hidupmu dengan baik."
"Iya. Itu pasti."balas Arumi sembari tersenyum.
..
.
.
.
__ADS_1
.😊😊😊✌️✌️✌️