Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Feres Vs Evan


__ADS_3

Malam itu Evan sedang makan malam bersama seorang wanita yang menjadi pasangan kencan butanya, tentu saja kencan itu adalah ulah dari ibunya. Evan sama sekali tidak berminat melayani wanita itu dan mencoba membuat wanita itu bosan sendiri dengan menyibukkan diri sendiri di depan laptop. Dan usaha lelaki itu berhasil tanpa cela. Wanita itu tidak sabar menunggu dan akhirnya pergi dengan segudang kecewa.


Evan sangat puas dan tersenyum sumringah menatap kepergian wanita itu. Saat itulah ia melihat keberadaan Arumi dan Feres yang sedang makan malam berdua.


"Ah. Ternyata selama ini dia yang menyembunyikan gadis itu dariku. Pantas saja aku mencarinya tidak juga ketemu."gumam Evan mengira Feres menyembunyikan Arumi selama ini.


"Lihat saja nanti. Aku akan buat perhitungan pada mereka berdua."ancamnya.


Dengan sabar Evan hanya mengamati Feres dan Arumi dari tempatnya duduk, sampai ia melihat Arumi mengambil amplop dari saku Feres saat Feres sedang menerima panggilan dari ponsel.


"Apa yang dia ambil? Uang?"tanya Evan melihat gelagat Arumi yang sangat mencurigakan, menurutnya.


"Cih. Dasar pelac*r."desis Evan karena mengira Arumi mengambil amplop berisi uang."Akan kutangkap kau kali ini. Dan aku akan membuatmu malu di depan Feres. Aku yakin Feres akan langsung mendepakmu nanti dan berhenti melindungimu."gumam Evan penuh rasa geram karena kejadian dua tahun lebih yang lalu.


Dan penantian Evan akhirnya memberinya peluang untuk bergerak dan mengikuti Arumi yang memasuki toilet. Tentu saja Evan hanya menunggu Arumi di depan pintu area toilet perempuan. Berdiri di sana membuatnya merasa risih setiap melihat perempuan yang masuk atau keluar toilet.


"Aku sedang menunggu pacarku. Tidak usah menatapku seperti itu."Ocehnya saat melihat tatapan curiga dari seorang wanita.


Tentu saja keberadaannya di depan pintu toilet perempuan membuat beberapa wanita curiga dan risih. Karena akhir-akhir ini sering terjadinya peleceh*n sek**ual entah itu di toilet atau bahkan sampai di tempat terbuka sekalipun.


"Nah. lihat. itu dia pacarku."Evan menunjuk Arumi yang baru keluar dari bilik toilet dan sedang mencuci tangan di wastafel.


"Dia pacarku. Pacarku. Dengar."ujarnya meskipun wanita yang menatapnya curiga itu sudah berlalu pergi.


Evan pun memasuki area toilet menghampiri Arumi yang sedang mencuci tangannya dengan sangat cepat sembari menggosok-gosok telapaknya. Gerakan Arumi membuat Evan mengerutkan kening. Gadis itu tidak terlihat baik-baik saja saat menggosok telapak tangan menggunakan kuku jarinya.


"Khem."Evanpun berdeham dan suaranya berhasil membuat Arumi menoleh, namun netra gadis itu yang memerah tampak melebar.


"Kenapa? Aku bukan hantu. Kenapa harus melihatku seperti itu hah."tanya Evan.


"Kau."Suara Arumi tidak terdengar baik-baik saja.


tentu saja Evan tahu mengapa Arumi bereaksi seperti itu saat melihatnya. Ia tahu benar apa penyebabnya. Hanya saja lelaki itu tidak begitu peduli seberapa gadis itu trauma karena ulahnya.


"Ya. Aku. Kenapa? Kau pasti sudah tahu siapa aku bukan? Pasti Feres sudah memberitahumu kalau aku ini sepupunya kan? Dan karena kamu sudah tahu. Sekarang aku juga ingin memberi tahu Feres siapa sebenarnya gadis yang sudah dia lindungi ini."ucap Evan penuh rasa emosi.


Lelaki itu sangat emosi melihat tatapan takut Arumi saat melihatnya, sedangkan ia sendiri baru saja menyaksikan betapa lembutnya tatapan Arumi saat bersama Feres. Tanpa menundanya Evan langsung meraih tangan Arumi dan keluar dari toilet.


"Lepasin."pinta Arumi berusaha berontak melepaskan diri.


"Enak saja. Aku tidak akan melepaskan pencuri sepertimu."Evan sengaja berucap lantang agar tidak ada yang mencegahnya menarik paksa Arumi bersamanya,"Kamu pikir kamu akan lari dengan mudah setelah kamu mencuri uang sepupuku hah."teriak Evan lagi saat melewati beberapa meja dan tak luput membuat feres pun menoleh ke asal suara.


"Evan."Bentak Feres yang sudah menyusul keberadaan Evan dan Arumi.


"Kenapa membentakku. Kau seharusnya berterimakasih karena aku akan membuka kedok pencuri kecilmu ini."kata Evan seraya menuding Arumi sebagai pencuri kecil.


Feres tidak mengerti maksud Evan dan langsung meraih tangan Arumi yang tidak dalam genggaman Evan,"jangan membuat alasan konyol. Aku tahu selama ini kamu sibuk mencari Arumi. Dan kamu pasti akan bertindak jahat padanya. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seenaknya bertindak gegabah seperti waktu itu."Kata Feres seraya menarik Arumi agar mendekat padanya.


"Heh. Kau akan malu karena melindunginya."cibir Evan seraya kembali menarik Arumi membuat gadis itu kembali terhuyung mendekat ke tempat Evan.


"Dia adikku. Aku berhak melindunginya."Feres kembali menarik Arumi, aksi tarik menarik itu membuat beberapa pengunjung tertarik untuk menonton dari meja masing-masing.


"Adik darimana katamu. Adikmu cuma Rio si playboy itu yang sok kegantengan sampai-sampai menghamili dua gadis sekaligus."cerocos Evan dengan mulut embernya.


"Breng*ek."umpat Feres seraya meninju wajah Evan,"Ini tidak ada hubungannya dengan Rio. jadi jangan bawa-bawa masalah Rio di sini."geramnya seraya menarik kerah baju Evan.


Evan hanya menyeringai karena saat ini Feres sudah melepaskan tangan Arumi, namun tidak dengan dirinya,"jadi kau sudah melepaskan pencuri ini untukku."katanya seraya menunjukkan tangan Arumi yang masih ia genggam.


"Lepaskan tangannya."perintah Feres seraya berusaha melepaskan celana tangan Evan dari tangan Arumi.


"Kau hanya akan semakin menyiksanya jika terus memaksaku melepaskannya."kata Evan melihat Arumi meringis menahan sakit, karena semakin Feres berusaha melepaskan tangan Evan makan cekalan tangan Evan semakin kuat mencekal tangan Arumi.


Feres menarik napas dan beralih ke tangan Arumi yang bebas dan menarik tangan Arumi,"Lepaskan adikku."perintahnya.

__ADS_1


Arumi sendiri hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa. Kalau Feres bersikukuh mengatakan dirinya adik lelaki itu, apakah itu artinya Feres tahu rahasia lain selain hasil tes DNA yang ada padanya saat ini. Entahlah.


"Tidak akan. Dia ini pencuri. Kenapa kamu menganggap pencuri ini adikmu. Kau akan malu setelah aku membongkar kedoknya."timpal Evan.


"Pencuri. Pencuri. Apa alasanmu menuduhnya pencuri hah."tantang Feres.


Evan menoleh menatap Arumi yang terlihat gugup dan cemas,"Keluarkan amplopnya."perintah lelaki itu.


Arumi menelan saliva dengan susah payah, ia membasahi bibirnya dan menatap Feres,"Ma-maaf."lirihnya seraya menarik amplop dari dalam saku celana jinsnya.


Feres menatap amplop yang sudah terbuka itu dan langsung mengenali benda itu. Lelaki itu meraup wajah dengan satu tangannya dan menghela napas.


"Kamu sudah melihatnya?"tanya Feres.


Arumi mengangguk,"Sudah."lirihnya dengan kepala menunduk.


"Jadi kamu sudah tahu bukan kalau kamu itu memang adikku."kata Feres.


Mendengar obrolan dua orang itu membuat Evan bingung dan hanya bisa menatap Feres dan Arumi bergantian.


"Apa itu benar?"tanya Arumi dengan air mata yang sudah luruh.


"Tentu saja benar. Tidak ada rekayasa apapun dari hasil tes DNA itu."jawab Feres.


"Bagaimana bisa."lirih Arumi yang semakin deras air matanya keluar.


Sementara itu Evan semakin di buat bingung melihat interaksi mereka, terlebih saat Feres memeluk Arumi begitu erat. Mulut Evan sempat terbuka bahkan saat Feres menepis tangannya yang masih mencekal tangan Arumi, Evan tak memberikan perlawanan apapun.


"tentu saja bisa. Tidak ada yang mustahil di dunia ini kalau memang sudah menjadi takdirnya."kata Feres yang sempat melirik Evan dengan tatapan penuh kekesalan.


"Lalu siapa ibuku? Kenapa bibi berbohong padaku? Apa benar kalau bibi menculikku?"tanya Arumi.


"Kita bisa tanyakan langsung padanya. Tapi yang jelas, kamu tidak cilik oleh siapapun."jawab Feres sembari melepaskan pelukannya.


"Fiuh..."Feres menghela napas dan beralih menatap Evan,"Dia adikku. Paham. Jangan coba-coba kamu mendekatinya. Awas kalau kamu berbuat kasar lagi padanya."


"Hei. Hei. Dia mencuri amplop dari saku mu."kata Evan.


"Lihat sendiri isinya."Feres melempar amplop itu kepada Evan dan berlalu pergi dengan terus menggandeng Arumi.


"Hah."Evan memungut amplop itu dan membuka isinya sembari menatap kepergian Arumi dan Feres,"Tes DNA."Gumamnya setelah mengetahui isi dari amplop itu,"Apa!?"teriak Evan tiba-tiba setelah membaca keterangan tentang hasil tes itu.


Sadar akan suaranya yang sangat lantang, Evan buru-buru menutup mulutnya dan pergi dari tempat itu setelah mengambil barang-barangnya yang ia tinggal di meja. Setelah sampai di dalam mobilnya, Evan kembali membaca isi hasil tes itu.


"Bagaimana bisa Arumi ini anaknya om Hardi? Aku tidak pernah dengar kalau Tante Siska melahirkan anak lagi setelah Rio atau mendengar mereka kehilangan anak. Apa mungkin Arumi ini anak Om Hardi dengan selingkuhannya?"Evan mencoba menebak kemungkinan yang menjadi pendukung mengapa Arumi bisa menjadi putri biologis pamannya.


"Pasti ada rahasia yang mereka tutupi selama ini."gumam Evan seraya menatap serius ke arah mobil Feres yang sudah keluar dari halaman parkir restoran.


Evan yang memiliki nama lengkap Revandra Aditama itu adalah adik sepupu Feres, Ibunya Damayanti Sanjaya adalah adik Rahardi Sanjaya, ayah Feres. Namun sejak kejadian dua tahun lalu, secara drastis Evan menjauhi Feres dan seakan memusuhi sepupunya itu.


Evan adalah anak tunggal dari keluarga Aditama, pewaris tunggal seluruh aset bisnis keluarga Aditama yang tak kalah suksesnya dengan bisnis keluarga Sanjaya. Bisa di katakan pernikahan orang tua Evan tak lain terjadi karena kedua keluarga itu saling membutuhkan untuk menguatkan bisnis masing-masing.


Kehidupan Evan tentu sangatlah sempurna jika di pandang dari segi materi. Namun kesibukan pekerjaan orang tuanya membuatnya kekurangan kasih sayang mereka. Mungkin itu yang menjadikan Evan memiliki sifat yang cenderung menjadi orang yang selalu memberontak dalam segala hal.


Kebebasannya terlalu melewati batas sejak kecil. Tak ada kekangan apapun untuk semua yang di lakukan Evan. Namun sejak Evan mendapatkan penolakan dari Sherly yang mengaku menyukai Feres hanya karena Feres sudah mampu menentukan tujuan hidupnya melalui bidang yang Feres kuasai, sejak saat itulah Evan bertekad ingin menunjukkan kemampuannya yang akan ia banggakan di depan Sherly jika suatu saat nanti ia akan bertemu lagi dengan gadis itu.


Namun sejak mengetahui Arumi bekerja di salah satu gedung apartemen milik perusahaannya, lelaki itu justru menyibukkan diri mengamati gadis itu. Sampai ia memutuskan untuk muncul secara langsung untuk memastikan apakah gadis itu masih mengingatnya atau tidak. Dan kenyataannya Arumi memang masih mengingatnya, bahkan gadis itu takut padanya.


"Huft."Evan menghela napas seraya mengendurkan dasinya,"Apa yang sudah kulakukan? Bukankah aku harus fokus dengan misiku menunjukkan siapa aku di depan Sherly? Tapi kenapa aku malah selalu membuntutinya sejak aku tahu dia bekerja di gedung itu. Ah. Sial."Evan memukul kemudi sebelum menghidupkan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan besinya.


Sementara itu, Arumi yang pulang bersama Feres masih tidak bisa memahami mengapa dirinya bisa menjadi putri Ayah Feres.


'Apa yang sebenarnya di sembunyikan bibi selama ini dariku?'batin Arumi yang terus menatap keluar mobil.

__ADS_1


'rasanya ini seperti mimpi jika tiba-tiba aku memiliki dua kakak sekaligus dan seorang ayah.'batinnya lagi.


"Arumi."suara feres pun membuyarkan semua lamunan Arumi yang hanya menoleh tanpa mengatakan apapun,"Aku tahu kamu mungkin syok. Itu sebabnya aku tidak berniat memberitahumu karena sebenarnya papah menemui Bu Sasmi, tapi beliau menolak untuk datang dan menjelaskan semuanya padamu. Kami rasa hanya kamu yang bisa membujuk Bu Sasmi untuk memberitahumu secara langsung."kata lelaki itu.


"Aku akan menanyakannya langsung pada bibi."kata Arumi.


"Aku hanya berharap kamu akan menerima semuanya setelah kamu mengetahui apapun itu kenyataannya."pesan Feres.


"Bagaimana dokter melakukan tes ini tanpa persetujuanku?"tanya Arumi.


"Apa kamu akan setuju jika aku meminta persetujuanku lebih dulu?"Feres balik bertanya.


"Entahlah."gumam Arumi.


"Yang jelas hasil tes itu sudah cukup memberi bukti kalau kamu itu adikku."kata Feres.


"Apa aku ini anak haram?"tanya Arumi saat terbersit pemikiran tentang siapa ibunya.


"Tidak ada hak orang lain menyebutmu seperti itu. Jadi jangan menganggapmu seperti itu."Jawab Feres.


Arumi tersenyum kecil dan mendengus,"Benar. Kalau aku memang anak haram."lirihnya.


"Sudah aku katakan jangan-"


"Apa lagi sebutan yang pantas untukku jika aku bukan anak haram. Aku tidak mungkin terpisah dari kalian kalau aku bukan anak haram."potong Arumi.


Feres menarik napas dalam dan langsung menepikan mobilnya,"Sudah kakak katakan jangan menganggapmu seperti itu. Kamu punya ayah dan ibu. Kamu punya kakak. Kamu bukan anak haram. Kamu terlahir karena papah mencintai ibumu. Hanya saja nenek membuat papah terpisah dengan ibumu."Feres tak tahan untuk menyimpan satu rahasia itu.


"Jadi siapa ibuku?"tanya Arumi yang sangat yakin jika Feres mengetahui siapa ibu kandungnya.


Feres menunduk, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya,"Dia tidak pernah terpisah denganmu. Dia yang selalu ada bersamamu selama ini."jawab Feres penuh teka teki.


Arumi menyipitkan kedua matanya dengan segudang pemikirannya mengenai siapa ibu kandungnya."Tidak mungkin."gumamnya saat ia menemukan jawaban atas teka teki yang Feres berikan.


"Tapi itu kenyataannya. Bu Sasmi adalah ibu kandungmu. Pasti dia ingin melindungimu sehingga dia tidak mengakuimu sebagai anak kandungnya dan mengarang cerita tentang kematian orang tuamu."kata Feres.


Arumi menggelengkan kepala berusaha untuk menyangkal, namun hati kecilnya tetap tidak mampu menolak semua kemungkinan. Gadis itu memejamkan mata dan langsung melepaskan setbelt yang melindunginya.


"Aku harus pergi."kata Arumi seraya membuka pintu mobil.


"Arumi tunggu. Arumi."Teriak Feres seraya ikut keluar.


"Jangan mengikutiku."cegah Arumi seraya berbalik menatap Feres dengan tangan memberikan isyarat agar laki-laki itu tidak melangkah jauh untuk mencegahnya pergi,"tolong. Biarkan aku pergi. Beri aku waktu untuk sendiri. Tolong."Arumi menatap penuh permohonan.


"Tapi Arumi-"


"Taksi."Arumi memanggil taksi yang lewat dan langsung masuk.


.


.


.


.


.


.


.


😊😊😊😊✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2