
Langit sudah mulai gelap, tak ada bintang apalagi bulan. Awan hitam sudah bergulung-gulung seolah ingin menutup seluruh langit dengan kegelapan. Perlahan rintik-rintik air mulai berjatuhan dari balik awan.
malam ini langit kembali menangis
Namesya terus terisak di dalam taksi yang membawanya menuju alamat yang ia ucapkan tanpa sadar. Hingga taksi itu berhenti di depan gedung apartemen tempat tinggal kekasihnya yang sudah mencampakkan dirinya.
"Nona. sudah sampai."kata supir taksi seraya melirik Namesya yang masih terisak lirih melalui kaca.
Namesya menghapus sisa air matanya dan mengulurkan selembar uang pada sang supir sebelum keluar tanpa mengucapkan apapun. Namun saat ia menatap sekelilingnya, barulah ia tersadar dirinya berada ditempat yang salah.
"Huh..."Namesya menghela nafas seraya menunduk,"kenapa aku harus ke tempat ini lagi."lirihnya.
Tanpa berpikir panjang Namesya bergegas membalikkan tubuh dan berjalan perlahan keluar dari area gedung tempat Rio Ardi Sanjaya tinggal. Dari jauh laki-laki yang memakai jas putih dengan stetoskop menggantung di leher tengah termenung menatap Namesya. Tatapannya sendu, namun tatapan itu menyimpan banyak penyesalan yang tak bisa terungkapkan hingga kini.
"Dokter Aldi. Terimakasih sudah bersedia datang."kata seorang lelaki paruh baya yang sedari tadi berdiri di samping lelaki berjas putih itu, di jas itu terdapat hastag bertuliskan nama Feres Aldi Sanjaya.
Ya. Lelaki itu adalah Feres Aldi Sanjaya, kakak kandung dari Rio Ardi Sanjaya dan gadis yang pernah lelaki itu lepaskan adalah Namesya Ayunda Kusuma, gadis yang saat ini tengah duduk seorang diri di kursi halte bus tak jauh dari gedung apartemen.
"Haruskah aku yang menjemput malaikat maut itu untuk mencabut nyawaku."lirih Namesya seraya menatap nanar kedua kakinya yang bergoyang-goyang, hatinya sudah benar-benar dibuat kalut oleh masalah hidupnya.
Seolah malaikat maut akan bersedia menghampirinya jika dirinya memanggil sang malaikat untuk mencabut nyawanya. Ia seakan lupa akan keberadaan Tuhan yang sesungguhnya sangat menyayangi seluruh manusia dengan memberikan ujian pada mereka. Percayalah Tuhan menyimpan kebahagiaan dibalik kesedihan.
Namun langit mendung dengan rintik gerimis membuat Namesya seakan kehilangan akal sehat dan kewarasannya. Gadis itu keluar menerobos gerimis yang semakin lama semakin berubah menjadi guyuran hujan yang deras membasahi seluruh tubuh dengan jiwanya yang lemah. Namesya berjalan tak tentu arah dan tujuan pasti, hingga ia tiba di sebuah jembatan dengan aliran sungai yang deras dibawahnya. Sungai yang sama tempat Natasya kekasih Kevin mengalami kecelakaan.
"Hiks. Hiks."Namesya terisak saat melihat betapa derasnya air sungai dibawah,"Tuhan... Kenapa hidupku harus seperti ini... Kenapa tidak Kau utus malaikat maut untuk menjemput diriku... Kenapa... Kenapa harus seperti ini..."keluh Namesya seraya menengadah menatap langit gelap dengan hujan membasahi wajahnya sedangkan tangannya memegang kuat pembatas jembatan, tubuhnya mulai gemetar. Gadis itu meneruskan tangisnya tak mau berhenti, tak ingin berhenti dan tak ada niat ataupun keinginan untuk menghentikan tangis. Berharap setelah menangis seluruh beban hati dan pikirannya berkurang atau bahkan menghilang pergi. Namun nyatanya semakin lama ia menangis semakin berat beban dan pikirannya, tak ada yang berkurang sedikitpun.
"Aah..."Namesya berteriak sekuat-kuatnya dengan keputusasaan yang membuatnya nekad menaiki pembatas jembatan dan bersiap untuk melompat ke sungai.
"Aah..."pekik Namesya saat sebuah tangan kokoh menarik pergelangan tangannya dan berhasil membuatnya turun dari pembatas jembatan sebelum tubuh gadis itu terjerembab ke dalam pelukan seorang laki-laki.
##
Alfin sudah dalam perjalanan pulang saat Feres menghubunginya dan mengajaknya pergi ke tempat tongkrongan mereka seperti biasa. Namun saat Alfin sudah hampir tiba, Feres tiba-tiba membatalkannya karena ia harus mengunjungi pasiennya.
"Ya."Sahut Alfin mendengar alasan mengapa Feres tidak bisa datang.
"Tapi sepertinya Andin sudah tiba di sana. Sebaiknya kau tetap pergi ke sana."imbuh Feres.
Alfin mengerutkan kening, seolah curiga kalau semua ini hanya alibi Feres yang selalu mendukung hubungan antara Alfin dan Andin.
Alfin hanya bisa menghela nafas dan bergumam,"Hem."dan lanjut berkata,"ya sudah. kau pergilah temui pasienmu. aku sudah hampir sampai."
Sebenarnya tempat tongkrongan mereka hanyalah sebuah perpustakaan sekaligus toko buku yang terdapat cafe. Di sana mereka akan membaca buku sembari duduk-duduk santai di temani entah itu kopi atau jus. Tempatnya cukup nyaman karena jauh dari keramaian jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di kota metropolitan seperti Jakarta.
Alfin langsung naik ke lantai dua demi mencari Andin yang kata Feres sudah berada di sini. Namun ia justru melihat pemandangan yang cukup membuatnya terkejut.
"Brengsek."umpat suara seorang laki-laki seraya mengayunkan tinjunya, namun tidak tepat sasaran.
"Anda yang brengsek tuan."timpal laki-laki yang kini sudah memiting tangan laki-laki berpakaian rapi dan memakai jas,"jika wanita ini memang istri anda, dia tidak akan menolak ajakan anda."imbuh laki-laki itu yang tak lain adalah Kevin.
Alfin tak begitu peduli dengan kericuhan itu dan beralih menatap Andin yang berdiri takut di dekat meja melihat keributan di hadapan mata itu. Alfin langsung mengenali laki-laki yang kini sedang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kevin, lelaki itulah suami Andin.
__ADS_1
"Andin. Katakan padanya kalau aku ini suami kamu."kata Suami Andin.
"Sebaiknya utamakan keselamatan anda dan jangan mau mengakui hal yang tak seharusnya anda akui nona. Maaf jika saya lancang dan sampai seberani ini ikut campur."kata Kevin seraya menatap Andin begitu intens.
"Andin. Setidaknya kau masih istriku, pengadilan belum memutuskan perceraian kita."Suami Andin tidak mau kalah.
Dari kejauhan Alfin menghela nafas dan membalikkan tubuh melenggang pergi. Ia tak mau ikut campur masalah ketiga orang itu. Dan mengingat tentang Kevin, Alfinpun teringat akan kerudung hitam yang ia temukan di dekat mobilnya tempat ia memergoki seorang gadis yang tengah berjongkok di sana.
"Benarkah gadis itu adiknya?"tanyanya seraya melirik sekilas ke arah Kevin yang masih terlihat kekeh memiting tangan suami Andin."apa dia sudah menemukan adiknya?"tanyanya lagi.
Tiba-tiba bayangan wajah pucat Namesya sewaktu mereka bertemu di rumah sakit kembali terlintas.
"Siang tadi juga masih pucat."gumamnya seraya terus melangkah menuju mobilnya.
"Sepertinya akan hujan deras."ia bermonolog saat mendapati rintik-rintik hujan sudah mulai turun, langkahnya semakin cepat dan bergegas memasuki mobilnya.
Belum lama ia berkendara, hujan sudah turun dengan deras. Perasaan cemas mulai melanda hatinya melihat begitu derasnya hujan di luar mobil. Dengan sangat perlahan dan hati-hati ia berkendara, berkali-kali ia membuang nafas seperti tengah membuang perasaan gundahnya dalam hati. Tatapannya fokus menatap ke depan, aspal hitam yang terguyur hujan cukup terlihat mengkilap oleh pantulan cahaya lampu yang berderet di sepanjang jalan.
Netranya memicing saat dari kejauhan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di pembatas jembatan dengan kepala tertunduk. Perlahan mobil Alfin melambat dan akhirnya berhenti tepat dibelakang gadis itu berdiri. Alfin tahu benar bahwa gadis itu tidaklah baik-baik saja, tangannya bergerak mencari payung yang ia simpan di dalam mobil. Saat baru saja ia membuka payung, ia mendengar gadis itu berteriak sembari berusaha memanjat pembatas jembatan itu.
Alfin melempar payungnya, membiarkan payungnya terbang tertiup angin dan terbawa hujan. Lelaki itu bergegas meraih tangan sang gadis yang hampir saja melompat ke sungai jika ia terlambat meraih tangan gadis itu. Alfin cukup terkejut saat melihat wajah gadis itu.
'Dia lagi.'benak Alfin saat menyadari siapa gadis yang kini berada dalam pelukannya.
"lepaskan aku."berontak Namesya dan Alfin langsung melepaskan dekapannya.
Alfin menatap wajah Namesya dengan tatapan penuh tanya,"apa yang kau lakukan di sini?"tanyanya yang sesungguhnya tak memerlukan jawaban.
"Anda ingin bunuh diri."kata Alfin, ini bukanlah sebuah pertanyaan namun sebuah fakta berdasar apa yang ia lihat.
"ini bukan urusan anda."timpal Namesya dengan air mata berderai di balik hujan.
"Sebesar apa masalah anda sampai anda ingin bunuh diri hem."timpal Alfin.
Namesya merasa sangat terusik saat ini dan memberanikan diri menatap lawan bicaranya,"apa anda akan mengerti seberapa berat masalah saya jika saya menceritakannya. apa anda bisa memberi jalan keluar terbaik jika anda tahu masalah saya."kata Namesya.
"semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika anda melakukan hal ini, itu sama saja anda lari dari masalah anda."kata Alfin,"percayalah. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan untuk kita hadapi. Apa kau tidak takut pada Tuhan yang sudah menitipkan satu nyawa dalam dirimu."
Mendengar kata satu nyawa yang ada dalam dirinya membuat Namesya teringat bahwa dirinya memang sedang mengandung, dan benar memang ada satu nyawa yang ada dalam tubuhnya saat ini. Tubuhnya seolah tak bertenaga sama sekali, tangisnya kembali pecah seiring tubuhnya yang merosot bersimpuh di atas aspal.
Alfin berjongkok di hadapan Namesya yang kini sedang menangis,"kau harus baik-baik saja."kata Alfin.
"aku tidak bisa baik-baik saja. aku adalah orang paling bodoh. aku tidak bisa hidup seperti ini. semua orang tak menginginkanku, mereka mengganggap diriku sebagai aib. Untuk apa aku bertahan hidup di saat mereka menginginkanku pergi dari hidup mereka."oceh Namesya.
"Kau tidaklah bodoh. Kau akan lebih bodoh jika kau melakukan hal ini. lebih baik hidup dalam kebodohan dari pada mati karena kebodohan."Ujar Alfin berharap kata-katanya bisa meredam emosi gadis di hadapannya saat ini.
"Tapi untuk apa aku hidup jika semua orang yang aku sayangi tidak menginginkan kehadiranku lagi."keluh Namesya.
Alfin mengulurkan tangan, sejenak ragu untuk sekedar menyentuh gadis itu, namun ia memang harus melakukannya,"jika sudah tidak ada yang menginginkanmu, maka tanyakan pada hatimu apa kau masih menginginkan dirimu untuk bahagia tanpa mereka. Setidaknya sayangi dirimu sendiri meskipun tak ada orang lain yang menyayangimu. Hiduplah untuk dirimu sendiri, lakukan semuanya untuk dirimu sendiri."kata Alfin seraya menyentuh bahu Namesya.
Namun Namesya hanya menggeleng pelan seraya memeluk lututnya, sudah pasti gadis itu kedinginan saat ini.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pulang. Kau akan sakit jika terus berada di sini."perintah Alfin.
Namesya hanya menggeleng dan semakin erat memeluk lututnya,"aku hanya ingin bertemu malaikat maut."gumam Namesya.
"Kau tidak akan menemukan malaikat maut di sini. Tapi kau pasti akan menemukan malaikat lain jika kau menyelesaikan masalahmu dengan cara yang baik. Kau akan bertemu dengannya sekalipun kau berada di antara kabut yang tebal."imbuh Alfin.
Namesya hanya menangis, namun kali ini gadis itu menangis sembari memegang perutnya. Perlahan tangis gadis itu berubah menjadi rintihan seraya menahan sakit. Melihat hal itu Alfin langsung bergegas menggendong Namesya, membawa gadis itu ke dalam mobilnya.
###
Pening dan pusing terasa sangat menyakitkan saat matanya mulai terbuka. Perlahan ia melihat warna putih yang masih tampak kabur karena penglihatannya yang masih sayu. Namesya mengedipkan kelopak netranya perlahan, menetralkannya dengan cahaya penerangan yang ada di dalam ruangan itu.
"Di mana aku?"tanyanya seraya menatap sekeliling ruangan serba putih dengan bau khas tempat itu, ia langsung menutup hidungnya dan menahan gejolak yang ada di dalam perutnya.
"uhuk. uhuk."Namesya terbatuk karena tak tahan menahan penciumannya yang tak menyukai bau obat yang menyengat di ruangan itu.
"Kau sudah bangun?"suara Alfin membuat Namesya cukup terhenyak.
Gadis itu mengedarkan mata mencari asal suara yang saat ini tengah duduk di sofa kecil dengan rambut berantakan, lelaki itu hanya memakai kaus lengan pendek dan celana hitam panjang. Wajah tampan Alfin yang baru bangun tidur itu cukup menyita perhatian Namesya sampai lelaki itu beranjak menghampiri gadis itu.
Namesya menjauhkan kepalanya saat Alfin mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangan.
"Anda siapa?"tanya Namesya.
"Saya?"Alfin balas bertanya,"Saya dokter di rumah sakit ini. Saya hanya ingin mengecek apakah anda masih demam atau sudah turun. Semalam anda pingsan, jadi saya membawa anda ke tempat saya bekerja."lanjutnya.
"oh."gumam Namesya seolah kesadarannya belum kembali sepenuhnya dan tidak mengingat kejadian semalam,"hah."ia terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mengingat apa yang terjadi semalam atas dirinya.
"Kenapa? apa ada yang sakit? Saya akan memanggil Dokter Andin jika anda masih ada keluhan."kata Alfin, lelaki itu sebisa mungkin tak ingin gadis itu membahas masalah semalam.
"Dokter Andin."gumam Namesya.
"Ya. dia teman saya."balas Alfin.
"oh."gumam Namesya lagi, gadis itu juga tidak ingin membahas masalah yang terjadi semalam.
Alfin tersenyum ramah dan berkata,"Jika anda membutuhkan sesuatu katakan saja. Di depan ada suster jadi anda bisa memanggil mereka jika butuh bantuan."
"uhmm... ya."balas Namesya yang sudah tidak berani menatap Alfin, terlalu malu untuk menatap lelaki di sampingnya itu.
"Baiklah kalau begitu. Saya harus pergi sekarang."pamit Alfin.
Alfin sudah membalikkan tubuh saat tiba-tiba Namesya membekap mulutnya sendiri sembari turun dari tempat gadis itu berbaring, gadis itu setengah berlari memasuki kamar mandi.
"Hoeeek... Hoeeek..."Namesya memuntahkan rasa mual di perutnya meski tak ada yang keluar dari mulutnya kecuali sedikit air.
"Aku sudah memesan sarapan untukmu. makanlah selagi hangat. Dan minum air jahenya untuk meredakan mual. Semalam kau pingsan karena ada sedikit peradangan dalam pencernaanmu. Untuk sementara jangan memakan makanan pedas dan asam."kata Alfin yang sedari tadi mengusap punggung Namesya yang terus berjuang memuntahkan apapun yang ada dalam perutnya.
Alfin sama sekali tidak menyinggung tentang kehamilan Namesya, ia merasa tak perlu menyinggung hal itu karena bukan urusannya. Sesuai kata gadis itu semalam bahwa itu memang bukan urusannya. Namun sebagai seorang dokter ia tetap harus bisa menjalankan kewajibannya melindungi siapapun yang bisa ia lindungi. Setidaknya ia sudah mencegah perbuatan bodoh gadis itu yang ingin mengakhiri hidup semalam.
'*berharap malaikat maut yang datang, namun ada malaikat lain yang hadir membuka mata hatiku yang sempat tertutup kebencian akan diriku sendiri. Setidaknya jangan sampai aku mati karena kebodohan.'
__ADS_1
😊😊😊😊😊*💪💪💪