Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Bertukar tempat


__ADS_3

Mobil terus melaju, namun Alfin mengarahkan laju mobil menuju rumahnya. Lelaki itu harus mematangkan rencananya jika Namesya belum berubah pikiran dengan keputusannya.


"Bukankah ini bukan jalan menuju rumah sakit?"tanya Namesya.


"Memang bukan. Saya tidak ada jadwal praktek hari ini."balas Alfin,"kita ke rumah saya."


Namesya langsung menoleh menatap Alfin yang tetap serius mengemudi dan hanya meliriknya sekilas,"kenapa kita ke rumah dokter?"tanyanya.


"Aku harus membawa beberapa barangku lagi untuk aku bawa ke apartemenmu."Jawab Alfin."untuk mendukung sandiwara saya kalau saya benar-benar tinggal di sana."


"Maaf sudah merepotkan dokter."lirih Namesya.


"Hmm..."gumam Alfin ambigu.


"Kalau Dokter merasa keberatan tinggal di sana, Dokter tidak perlu memaksakan diri membantu saya."kata Namesya.


"Aku sudah terlanjur maju. Aku tidak bisa mundur tanpa melakukan apapun. Aku harus menyelesaikannya sampai tuntas. Aku bukan tipe orang yang melakukan apapun setengah-setengah."kata Alfin.


"Tapi..."


"Aku akan mundur jika kamu sudah siap bertemu kakakmu."potong Alfin.


"Sekali lagi maaf sudah merepotkan."ujar Namesya.


"ya. ya... kau sudah terlanjur merepotkanku jadi tidak perlu sungkan lagi."ujar Alfin.


Namesya mendongak menatap Alfin dengan perasaan sedih mendengar ucapan laki-laki itu. Namun gadis itu melihat laki-laki itu tersenyum kecil saat menoleh sekilas melihatnya.


"Aku bercanda. jangan terlalu kau ambil hati."ujar laki-laki itu yang melebarkan senyumnya melihat wajah Namesya yang terlihat begitu sedih.


"Cara bercanda anda terlalu unik."komentar Namesya.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"tanya Alfin mengubah arah pembicaraan.


"Rencanaku..."gumam Namesya,"entahlah."katanya kemudian.


"Kalau kau mau. Kau bisa tinggal di rumahku."kata Alfin,"kita bertukar tempat."Alfin menjelaskan.


"Bertukar tempat."Namesya menatap Alfin.


"Ya. Aku tinggal di apartemenmu dan kau tinggal di rumahku. Memangnya kau mau tinggal di mana kalau bukan di rumahku?"Alfin kembali menjelaskan.


"Hmmm... Apa boleh?"Namesya tampak ragu.


"Kalau tidak boleh aku tidak akan menawarkannya."balas Alfin.


"Mmm... Tapi aku tidak membawa pakaianku."gumam Namesya.


"Mau ku ambilkan beberapa pakaianmu?"Alfin menawarkan.


"Apa?"Namesya membulatkan bola matanya saat terbersit dalam benaknya jika sampai Alfin mengambil pakaiannya, terutama pakaian dalamnya.


"Aku tidak akan mengambilnya tanpa ijinmu."ujar Alfin.


"Tapi aku memang membutuhkannya."gumam Namesya.


"Aku bisa meminta bantuan Andin untuk memilah pakaianmu."Alfin menawarkan solusi.


"Aku tidak enak kalau harus merepotkan dokter Andin lagi."kata Namesya.


"Lalu mau kamu bagaimana? Mau mengambilnya sendiri? tidak takut kalau ternyata kakakmu masih mengintai di sana dan melihatmu.?"tanya Alfin.


"Huft... Aku tidak bisa berpikir."keluh Namesya.


"Kau mau sarapan apa? Kita bisa mampir kerestauran tidak jauh dari kompleks rumahku. kita lanjut pikirkan nanti setelah sarapan."ajak Alfin.


"Terserah."pasrah Namesya.


Alfin menoleh saat Namesya menatap keluar mobil,"Ada yang kau inginkan?"tanyanya.


"Hmm..."sahut Namesya tanpa menoleh.


"Kata Andin orang hamil suka ngidam."balas Alfin.


"apa? Dokter Andin bicara begitu? kenapa dokter Andin membicarakan hal seperti itu sama dokter?"Namesya menoleh menatap heran karena ucapan Alfin.


Alfin menggaruk pelipisnya dan tersenyum serba salah, sebab kenyataannya Andin tidak pernah membicarakan hal semacam itu dengannya. Alfin hanya sering melihat beberapa ibu hamil yang katanya suka ngidam, entah makanan atau hal lain.


"Jadi gimana? mumpung masih jauh. kamu pengen makan apa?"tanya Alfin.

__ADS_1


"hmm ... tidak ada. Aku hanya pernah ingin makan mangga muda yang ada di taman rumah sakit. Tapi sekarang sudah tidak ingin lagi."jawab Namesya apa adanya.


"Oh. Waktu kamu ketemu mama di depan ruanganku."gumam Alfin.


"Oh iya. Gimana kabar Tante? apa Tante tidak menanyakanku lagi?"tanya Namesya.


"Oh. Soal mama aku akan mengatasinya. Kamu tidak perlu khawatir."balas Alfin.


"Kasihan Tante kalau dokter tidak berterus terang."gumam Namesya.


Alfin sempat tidak terpikirkan oleh satu masalah itu, seolah masalah itu menguap begitu saja dari otaknya. Dan sekarang ia harus kembali memikirkan jalan keluar yang sebisa mungkin tidak melibatkan Namesya.


"Kamu tidak perlu memikirkan masalah itu. Setelah waktunya tepat aku akan menjelaskan kesalahpahaman mama tentang kita. Aku akan berusaha kamu tidak akan terlibat dalam masalahku lagi seperti kemarin. Maaf. Kemarin aku terpaksa melakukannya karena waktuku terpojok sedangkan mama terus mengancam ku dengan ancaman konyolnya."ujar Alfin.


"Memangnya Dokter benar-benar tidak punya pacar?"tanya Namesya, gadis itu kembali menatap Alfin.


"Tidak."jawab Alfin sembari tersenyum kecil.


"Oh. Aku pikir dokter sudah punya pacar atau justru tunangan. Hmmm... Jadi benar kalau pak Ryan itu adik dokter."kata Namesya.


Alfin terkekeh dan menjawab,"aku tidak sempat meluangkan waktuku untuk hal itu. Dan benar, Ryan memang adikku."


Namesya mengangguk,"Bukankah pak Ryan sudah punya tunangan."katanya.


"Ya... Begitulah. Itu sebabnya mama semakin gencar mengatur kencan buta untukku."Jawab Alfin.


Tanpa disadari keduanya terus mengobrol beberapa hal dengan santai, seolah mereka sudah lama saling mengenal. Alfin sendiri merasa nyaman mengobrol, menceritakan keluarganya pada Namesya begitupun sebaliknya. Meski tidak keseluruhan mereka menceritakan kehidupan masing-masing, namun keduanya sedikit mengetahui keluarga mereka.


"Ah. Kita hampir sampai. Kamu yakin tidak ingin memakan sesuatu?"tanya Alfin lagi saat mobilnya mendekati area restauran.


"Tidak ada."jawab Namesya mantap.


"Baiklah. Jangan ragu untuk memberitahuku kalau kamu menginginkan sesuatu."kata Alfin.


"mmm... ya."sahut Namesya yang merasa tidak enak jika harus menuruti apa yang dikatakan Alfin padanya.


Akhirnya mereka singgah di restauran itu dan langsung disambut ramah oleh pelayan yang mengarahkan keduanya pada kursi yang masih kosong. Suasana yang masih pagi cukup ramai oleh pengunjung yang memilih untuk sarapan di luar rumah. Dan pelayan mengarahkan mereka duduk di dekat dinding kaca yang bisa melihat suasana pagi di luar restauran.


Namesya tersenyum tipis melihat lalu lalang di luar restauran. Suasana pagi yang cukup indah dipandang dan belum begitu terkontaminasi oleh polusi asap kendaraan.


"Mau pesan apa?"tanya Alfin, lelaki itu tengah membuka buku menu.


"Permisi. Hari ini kami menyediakan menu spesial sarapan untuk pasangan. Apa anda berminat?"pelayan menawarkan menu spesial.


"Oh. Ternyata kalian benar-benar pasangan."komentar sang pelayan,"tentu saja kami juga menyediakan menu spesial untuk ibu hamil."


"Baiklah. Saya pesan satu menu itu untuknya. Dan seperti biasa untuk saya."kata Alfin.


"Baik. Mohon untuk menunggu."jawab si pelayan yang sudah paham dengan menu sarapan yang selalu di pesan Alfin di sana.


"Dokter kenapa memesan menu seperti itu untukku."Bisik Namesya yang mencondongkan tubuh mendekat agar Alfin mendengar ucapannya.


"Ada baiknya kamu mencoba menu itu di sini. Mungkin kamu akan menyukainya. Jadi kalau kamu lapar tidak perlu jauh-jauh mencari makanan."ujar Alfin yang ikut mencondongkan tubuhnya.


Namesya terlihat mengerucutkan bibir dan kembali duduk dengan normal dan berusaha santai."Tapi pelayan itu mengira kita pasangan suami istri."gerutunya.


"Hanya satu pelayan yang beranggapan demikian. Bagaimana kalau seluruh dunia menganggap kita pasangan. Apa kau akan membunuhku karena itu."gurau Alfin.


Namesya menghela napas,"bisa saja."Ujarnya menanggapi gurauan Alfin.


"Ingat. Kamu sedang hamil. Jangan terlalu membenciku nanti anakmu mirip denganku."gurau Alfin lagi.


"Itu lebih baik daripada mirip dengan ayahnya."tanggap Namesya.


"Kalau begitu jangan membenci ayahnya."Kata Alfin,"kalau kau tidak mau anakmu mirip dengannya."imbuhnya.


"Astaga dokter... berhentilah bercanda."keluh Namesya, gadis itu merasa aneh dengan sikap Alfin yang saat ini lebih sering melontarkan gurauan yang terasa seperti godaan.


Alfin juga merasa ada yang aneh dalam dirinya. Lelaki itu tahu benar siapa dirinya. Ia memang ramah di rumah sakit, namun cenderung cuek dan tidak mudah dekat dengan orang asing. Ia bukan tipe orang yang suka bercanda dengan orang yang baru dikenalnya. Dan kali ini berbeda. Namesya adalah orang asing untuknya, namun ia merasa kedekatan mereka mengalir begitu saja.


"Hanya itu sarapan dokter?"tanya Namesya melihat segelas susu dan dua potong sandwich yang di hidangkan pelayan untuk laki-laki itu.


"Ya."jawab Alfin yang langsung melahap sandwichnya.


"hmmm apa itu enak?"tanya Namesya ya g merasa tergiur dengan tampilan sandwich milik Alfin.


"tentu saja. Mau coba?"Alfin menawarkan.


"Bolehkah?"tanya Namesya ragu.

__ADS_1


"kenapa tidak. Ini masih ada sepotong."kata Alfin menyodorkan sepotong yang tersisa.


"Tapi..."Namesya tidak mengerti kenapa ia justru menginginkan sandwich yang sudah di gigit oleh Alfin.


"Kenapa?"tanya Alfin melihat Namesya menatap sandwich di tangannya,"Jangan bilang kalau kau ngidam ingin makan yang ada di tanganku."tebak lelaki itu.


Namesya tersenyum serba salah karena tebakan Alfin benar,"tidak perlu. Biar aku makan menu spesial ini saja."balas Namesya dan menatap makanannya yang sama sekali tidak menggugah selera makannya.


"Jangan di tahan. Kalau mang mau yang ini gigit saja. Ini gigit bagian yang belum ku gigit."Alfin menyodorkan sandwichnya dibagian yang belum di gigitnya.


"Sungguh. itu tidak perlu."lirih Namesya.


"Tidak apa-apa. Aaa..."Alfin tetap bersikeras menyodorkan sandwichnya.


Namesya ingin menolak, tapi nalurinya begitu menginginkan makanan itu. Sungguh perasaan ingin ini sama seperti saat ia menginginkan mangga muda di rumah sakit.


"aaa... ayo."Alfin kembali menggerakkan sandwichnya menyuruh Namesya membuka mulut menggigitnya, dan akhirnya Namesya menyerah dengan hatinya yang ingin menolak namun hatinya juga begitu menginginkan.


"Gimana? enak?"tanya Alfin setelah Namesya mengunyah sandwich yang sudah di gigit gadis itu.


"mmm... Enak."jawab Namesya.


"mau lagi?"tawar Alfin.


"tidak. Sudah sedikit saja."jawab Namesya,"eh. tunggu."cegahnya saat Alfin hendak menggigit sandwich di bagian yang sudah Namesya gigit.


"kenapa?"tanya Alfin.


"Mmm... Dokter jangan memakan bagian yang sudah kugigit."kata Namesya.


"Memangnya kenapa.? Hem?"Tanya Alfin yang langsung menggigit bagian yang di larang Namesya dan tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu,"Kalau bekas gigitan hewan aku menolaknya. Tapi kamu manusia."kilah Alfin.


"Tapi tetap saja itu bekasku."lirih Namesya merasa agak canggung dan malu, terlebih saat menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


"ah. mereka romantis sekali."komentar seorang wanita yang melihat adegan kecil di meja itu.


"aku juga bisa romantis."terdengar suara laki-laki menimpali komentar wanita itu.


Namesya buru-buru meneguk air minumnya karena tiba-tiba tenggorokannya terasa seperti tersumbat. Terasa sulit sekali menelan makanan di mulutnya mendengar beberapa bisikan pengunjung yang berkomentar jika Alfin itu romantis.


'astaga. kendalikan dirimu Mesya..."'batin Namesya yang merasa wajahnya kembali memanas.


"Jadi, apa kau akan mengambil pakaianmu? Atau kita beli saja. Di dekat sini juga ada toko baju. Mungkin tidak sebagus baju di mall."kata Alfin, mengubah topik pembicaraan.


"hmm... Mungkin itu lebih baik."balas Namesya.


"Oke. Kalau begitu habiskan makananmu dan kita lanjut ke toko di sebrang restauran ini."ujar Alfin.


Namesya langsung menoleh keluar dan ia baru sadar kalau di sebrang restauran ini ada semacam butik kecil berlantai dua. Gadis itu menurut dan mulai menghabiskan sarapannya.


Mereka lanjut menyebrang setelah sarapan selesai, butik kecil itu menjadi tujuan keduanya. Dan pelayan kembali menyambut dengan ramah, bisa dikatakan butik itu adalah tempat Alfin membeli kebutuhan pakaiannya selain pakaian dalamnya.


"Tolong pilihkan beberapa pakaian untuknya."pinta Alfin.


"Baik."jawab asisten pemilik butik dan beralih kepada Namesya,"Mari nona."ajak asisten itu pada Namesya.


Namesya melirik Alfin dan lelaki itu memberi isyarat agar Namesya mengikuti asisten itu. Meski merasa agak aneh, Namesya tetap melangkah mengikuti asisten itu yang membawanya ke dalam ruangan yang di penuhi berbagai jenis pakaian.


"Anda bisa mencobanya di sana."kata asisten itu setelah memilihkan beberapa pakaian untuk Namesya.


"Ya. terimakasih."balas Namesya.


Gadis itu memasuki bilik ganti dan mencoba beberapa pakaian. Setelah menentukan pilihannya, Namesya menghampiri Alfin untuk menanyakan ATM miliknya.


"Apa Dokter juga membawakan ATM-ku?"tanya Namesya.


"ya. mungkin ada di dalam tas."jawab Namesya.


"yah."keluh Namesya mengingat mobil Alfin masih terparkir di depan restauran.


"sudah memilih pakaiannya?"tanya Alfin.


"sudah. karena itu aku ingin mengambil ATM ku."jawab Namesya.


"tidak perlu. biar aku yang membayarnya. Kau harus menyebrang."kata Alfin.


"Tapi-"


"Kau bisa menggantinya nanti setelah kita sampai di rumah."sela Alfin memberi solusi, tahu jika Namesya pasti akan menolak karena merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Hhh... Baiklah."gumam Namesya.


Dan semuanya berjalan dengan lancar sampai Alfin dan Namesya tiba di rumah lelaki itu.


__ADS_2