Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Tak sengaja bertemu-Apa tak ada kesempatan kedua?


__ADS_3

Selepas Alfin berangkat ke rumah sakit, Namesya masuk ke kamar laki-laki itu untuk mengambil sabun milik Alfin di kamar mandi. Namesya mencium aroma sabun Alfin yang sudah terpakai, namun aroma itu tidak sama seperti aroma yang selalu menyerang penciumannya dengan kenyamanan.


"Bukan parfum dan bukan sabun."gumam Namesya masih berusaha mencium aroma sabun yang memang cukup wangi,"lalu aroma apa yang selalu aku cium setiap aku di dekat dokter Alfin? Apa benar setiap orang memiliki aroma khasnya masing-masing?"


Karena tidak menemukan jawaban dari aroma sabun Alfin, namesya pun tak mengambil sabun laki-laki itu baik yang sudah dipakai atau yang baru. Saat keluar dari kamar mandi, Namesya mencoba menghirup udara di ruangan itu, dengan mata terpejam mencoba mencari jawaban lain dari alasan Indra penciumannya mencium aroma menenangkan itu.


"Ya. Aroma ini yang aku cari."Gumam Namesya sembari melangkah mengikuti aroma yang tercium olehnya,"Eh."Namesya membuka mata saat kakinya terantuk di tempat tidur Alfin, di sana aroma itu semakin terasa kuat,"Kenapa asalnya dari tempat tidur?"tanyanya merasa heran mengetahui asal dari aroma itu.


Gadis itu menghela napas dan bergegas pergi dari kamar itu, ingin memastikan satu hal di kamarnya. Begitu tiba di dalam kamar, Namesya langsung meraih selimut yang di pakainya dan menciumnya.


"Tidak sama."gumamnya,"lalu ada benda apa di sini yang aromanya sama seperti yang ada di tempat tidur dokter Alfin. Huh aku sudah seperti kucing yang sedang mencari jalan pulang."Netranya beredar di sekeliling kamar itu dan menangkap sebuah selimut kecil teronggok di atas sofa."Apa semalam dokter Alfin tidur di sini?"tanyanya sembari mencium aroma selimut di tangannya itu.


"Benar. Aroma ini."Namesya beberapa kali mengecek penciumannya,"Ya. tidak salah lagi. Ini artinya aroma ini memang di dapat dari tubuh dokter Alfin sendiri. Dan pantas saja aku akan mencium aroma itu saat bersamanya. hhhh... kenapa aromanya bisa membuatku tenang. Bahkan Aroma itu bisa meredakan rasa mualku.bagaimana bisa."Namesya merasa heran dengan satu kenyataan itu yang baginya kurang masuk akal.


####


Rembulan tampak mengintip di balik awan yang perlahan menyingkir membiarkan cahayanya di nikmati oleh beberapa diantara mereka yang tengah menatap langit. Banyak bintang bertebaran di atas sana, berkeriput indah menyemarakkan malam yang cerah.


"Hhh... Rasanya sepi sekali tinggal sendirian di rumah."gumam Namesya yang tengah duduk kursi yang berada di balkon lantai dua, pandangannya tertuju pada langit malam yang tampak cerah.


Namesya melirik layar ponselnya yang berkedip,"Dokter Alfin."gumamnya melihat nama pada kontak yang tengah menghubunginya,"ada apa dia menghubungiku? Bukankah dia tidak pulang ke rumah ini.'lirihnya seraya menggerakkan jarinya menjawab panggilan Alfin.


"Halo. Dokter."sapanya.


"Kamu sudah makan?"tanya Alfin di sebrang.


"Mmm... belum."jawab Namesya.


"Lagi ngapain?"tanya Alfin lagi.


"Lagi duduk di atas."balas Namesya sembari mempermainkan jari-jarinya.


"Bisa turun sekarang?"pinta Alfin.


"Hah. Turun."gumam Namesya.


"Kamu lagi di balkon kan? Bisa turun sekarang? Kita makan malam di luar."kata Alfin yang langsung membuat Namesya bangkit dari kursi dan menatap ke bawah."Aku tunggu di sini."ujar Alfin yang sedang berdiri bersandar pada badan mobil dan melambai ke arah Namesya sembari tersenyum sumringah.


Namesya tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, dengan perasaan gembira gadis itu langsung berbalik dan menuruni anak tangga lanjut keluar rumah menemui Alfin yang ada di balik gerbang rumah.


"Kenapa tidak masuk?"tanya Namesya begitu sampai di depan Alfin.


"Aku melihatmu sedang duduk jadi untuk apa aku masuk. Bahkan aku bisa berteriak untuk mengajakmu keluar jika kau tidak membawa ponselmu ke atas."balas Alfin.


"Oh."Namesya lagi-lagi tersenyum dan diam-diam menghela napas lega karena rasanya ia seperti telah menahan rindunya setelah seharian tidak melihat laki-laki di hadapannya ini.


"Ayo kita pergi sekarang."ajak Alfin seraya membuka pintu mobil untuk Namesya.


"Ya ampun aku lupa tidak ganti baju."ujar Namesya menyadari dirinya hanya memakai piyama tidur.


"Tidak apa-apa. ayo masuk saja."timpal Alfin.


"Tapi... Hhh... ya sudah."Namesya tak mau banyak membantah dan bergegas memasuki mobil dengan tangan Alfin terulur memberi perlindungan mengantisipasi dahi Namesya terbentur pintu mobil.


Namesya memperhatikan Alfin yang kemudian berjalan memutari mobil setelah menutup pintu mobil untuknya.


'Bagaimana aku bisa mencegah perasaanku jika kau selalu sebaik ini padaku. Aku takut jatuh cinta padamu. Aku bukan wanita yang pantas untuk menjadi pendampingmu.'batin Namesya merasa resah dengan perasaannya yang semakin runyam karena sikap Alfin.


"Kenapa?"tanya Alfin melihat Namesya tampak termenung menatapnya.


"Oh. Tidak."Balas Namesya yang langsung buru-buru menunduk menyembunyikan wajahnya yang pasti akan merona.


Alfin tersenyum dan bergerak maju mendekati Namesya, gerakan Alfin yang tiba-tiba membuat Namesya terkejut dan mendongak.


Blush

__ADS_1


Sudah bisa dipastikan seperti apa wajah Namesya saat ini. Siapa yang tidak gugup jika saat ini wajah Namesya dan Alfin berada begitu dekat, hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.


"Dokter mau apa?"tanya Namesya dengan berusaha menutupi perasaan gugupnya.


Alfin mencolek hidung Namesya yang tampak ada noda hitam entah noda apa itu."Ada sesuatu di hidungmu dan..."Alfin mengulurkan tangan meraih setbelt di samping Namesya,"memasang ini untukmu."katanya sebelum kembali duduk tegak dan langsung mengemudikan mobilnya dengan serius, seolah tidak tahu jika saat ini ada seseorang yang duduk di sampingnya dalam keadaan jantung berdebar tak karuan.


Selama dalam perjalanan, tak ada yang saling mencoba membuka pembicaraan apapun. Sampai mereka tiba di halaman sebuah restauran bernama Six Nain Resto.


"Ayo."Ajak Alfin seraya melepaskan set belutnya sendiri.


Namesya masih merasa gugup dan hanya mengangguk sebelum beranjak keluar dari mobil. Setelah keluar Alfin langsung mengenakan jubahnya ketubuh namesya.


"pakai ini. Di luar dingin. Dan lagi... Khem. Maaf. Piyamamu ternyata terlalu tipis."jujur Alfin.


Mendengar perkataan Alfin membuat Namesya langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya,"kenapa tidak bilang dari tadi."gerutunya menahan malu sembari mengenakan jas Alfin yang mampu menutupi tubuh sampai kebagian bawah gadis itu.


"Aku baru menyadarinya saat kau keluar tadi. Maaf. Seharusnya tadi aku membiarkanmu mengganti pakaianmu."sesal Alfin.


"Aku ingin berganti pakaian karena tahu piyamaku tipis."gerutu Namesya sembari memastikan bagian tubuhnya tertutup jubah itu dengan aman.


"Tidak apa-apa. Sudah aman. ayo masuk."Alfin langsung menggandeng tangan Namesya dan mereka memasuki restauran itu bersama.


Pelayan restauran langsung menyambut mereka dengan ramah dan mengarahkan keduanya ke tempat duduk yang kosong. Ternyata suasana restauran cukup ramai pengunjung, di mulai dari pasangan remaja sampai pasangan tua pun ada di sana. Tak luput juga beberapa orang yang datang beramai-ramai, ada pula yang hanya duduk sendiri menikmati secangkir kopi dan camilan sembari membaca buku ataupun sembari mengerjakan sesuatu di laptop.


"Ramai sekali."gumam Namesya.


"Ya. Tempat ini cukup terkenal di kalangan semua usia. Di sini juga sering menjadi tempat seseorang melamar kekasihnya di depan banyak orang."balas Alfin.


"Oh ya. Tidak heran kalau nuansa tempat ini terasa romantis dan cocok untuk mereka yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan mereka."puji Namesya seraya mengamati beberapa orang di sana.


"Oh ya. Kamu mau pesan apa?"Alfin menyodorkan daftar menu.


"Aku... Mau pesan... Ini. Kayaknya enak."Namesya menunjukkan makanan yang diinginkannya,"Sama cake tiramissu."imbuhnya.


"Oke."Alfin mengangkat tangannya memberi kode pada pelayan bahwa mereka akan memesan.


"Mereka selalu terlihat seperti itu. Beberapa kali aku melihat mereka di sini makan berdua."kata Alfin melihat wajah senang Namesya melihat sepasang orang tua itu.


"Rasanya menyenangkan jika kelak aku akan seperti itu. Menua bersama orang yang tepat di sampingku."kata Namesya.


"Kau akan menemukan orang yang tepat untuk melindungimu seperti kakek itu."kata Alfin, saat itu sanga kakek terlihat sedang mencoba membantu sang nenek berdiri padahal sang kakek juga sama rentannya seperti sang nenek.


Namesya tersenyum dan mengalihkan perhatiannya dari dua orang itu."Apa dokter sudah menemukan seseorang yang mungkin menarik perhatian dokter?"tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Apa? Oh. Itu... Aku masih berusaha."jawab Alfin,"memangnya kenapa?"tanya Alfin.


"Mmm... Dokter tahu sendiri keadaanku saat ini. Semaki bertambah hari dan bulan, bentuk tubuhku akan semakin berubah. Kalau kita tidak segera mengatasi masalah ini takut nantinya mama tahu rahasia kita dan kecewa sebelum dokter menemukan seseorang untuk menggantikan aku."jawab Namesya.


Semangat Alfin seakan menguap mendengar Namesya membahas tentang sandiwara mereka saat ini,"Aku memang sudah menemukannya dan aku sedang berusaha memenangkan hatinya. Hanya saja... sepertinya butuh waktu lama untuk membuatnya yakin kalau aku benar-benar tertarik padanya."


"Hanya tertarik?"tanya Namesya.


"Lebih dari itu."balas Alfin.


Namesya mengangguk dan berkata,"syukurlah kalau dokter sudah menemukan seseorang yang sudah membuat dokter merasa tertarik. Mungkin itu akan menjadi awal yang baik nantinya. Tetaplah berusaha dan perjuangkan siapapun dia."


"Aku akan berjuang karena kau memintanya."balas Alfin dengan raut wajah bahagia layaknya seseorang yang sedang kasmaran.


Namesya tersenyum kecil menahan sesuatu yang terasa mengganjal dalam hatinya,'kalau sudah menemukan wanita kenapa terus memperlakukanku semanis ini. Kenapa tidak membawa wanita makan malam saja. Malah mengajakku. aneh'batinnya merasa agak dongkol.


Tak berapa lama akhirnya pesanan mereka datang dan Namesya memfokuskan dirinya menyantap makan malamnya dengan perasaan hampa. Makanan yang sesungguhnya enak terasa sulit untuk ia telan setiap kali memikirkan tentang Alfin yang sudah menemukan seorang wanita.


Lain dengan Alfin yang merasa senang melihat wajah Namesya yang tampak kesal mengetahui dirinya sudah menemukan seorang wanita.


'aku akan memperjuangkanmu sesuai saranmu. Dan aku tidak akan melepaskanmu dan akan menjagamu selama hidupku'batin Alfin sembari sesekali melirik Namesya yang hanya diam saja selain menyantap makanannya.

__ADS_1


"Mesya."


Alfin dan Namesya sama-sama menoleh ke samping mereka di mana Rio telah berdiri di sana sedang menatap Namesya. Awalnya Namesya tampak terkejut, namun wajah terkejutnya berubah acuh dan kembali fokus pada makanannya.


"Mesya. Aku ingin bicara."kata Rio.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan."jawab Namesya tanpa menoleh.


"Mesya."kini Alfin angkat bicara.


Namesya mendongak demi menatap Alfin yang memanggilnya,"aku baik-baik saja."katanya.


"Aku akan meninggalkanmu jika kau ingin membicarakan masalah kalian untuk terakhir kalinya di sini."kata Alfin seraya menatap Rio dengan tatapan bencinya."Dan aku bisa mengusirnya kalau kau tak mau bicara dengannya "imbuhnya lagi.


"Anda siapa? Apa hubungannya sampa anda berani mengusirku."kata Rio sudah bersungut-sungut kesal atas sikap Alfin.


"Tidak peduli siapa saya. Yang jelas saya bukan orang yang akan mengabaikan seseorang demi karirnya."balas Alfin.


"Aku tidak pernah mengabaikan Mesya. Tahu apa anda tentang masalahku hah."Rio sudah terlalu kesal hingga lelaki itu berani menarik kerah baju Alfin.


Ting


Namesya membanting sendoknya dan berdiri menatap nyalang kearah Rio yang berani menarik kerah Alfin di depan banyak orang seolah Alfin telah berbuat salah."Bersikaplah seperti seorang artis yang selalu menjaga sikap dan citranya demi kepopulerannya. Jangan seperti anak ingusan yang tidak tahu malu."kata Namesya penuh penekanan,"singkirkan tanganmu darinya."perintahnya dengan tatapan tegas.


"Mesya. Aku hanya-"


"Hanya apa!? Kau kesal melihatku dengan orang lain? kau marah melihatku bersama orang lain? lalu bagaimana aku saat aku harus melihatmu berbalik arah dan berdiri memunggungiku. Apa kau pikir aku akan menganggapmu melindungiku? kamu bukan melindungiku? Tapi kamu melindungi dirimu sendiri dan karirmu."potong Namesya mengeluarkan seluruh unek-unek dalam hatinya yang selama ini terpendam.


"Mesya. Aku hanya tidak ingin namamu buruk di depan banyak orang dan teman kantormu."kilah Rio.


"Aku bahkan lebih suka mereka menganggapku buruk karena kelakuanku dari pada aku mendapat perlakuanmu yang seakan tidak menganggapku ada. Ah. Kamu memang tidak menganggapku hidup karena ada yang lebih bisa membuatmu hidup waktu itu."kata Namesya,"tapi sekarang semua rasa ini berubah menjadi kebencian sejak kau memilih mengakui Melia daripada aku. heh."imbuhnya.


"Mesya aku mohon maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu."Rio mulai berani menyentuh tangan Namesya dan langsung mendapat penolakan gadis itu.


Alfin mulai resah saat situasi semakin mengundang banyak tanya dari banyak pengunjung, bahkan ada yang diam-diam memotret mereka saat Rio menggenggam tangan Namesya.


"Mesya. Sebaiknya kita pergi dari sini."Alfin bertindak dengan melindungi keberadaan Namesya menggunakan tubuhnya agar tidak ada yang bisa membidik gambar wajah Namesya dengan jelas.


"Singkirkan tanganmu bedebah."umpat Rio sembari menyingkirkan Alfin secara paksa dari sisi Namesya."sebaiknya kau pergi dan biarkan Namesya bersamaku."ketus lelaki itu dengan penuh percaya diri.


Alfin mendengus sembari memalingkan wajah sekilas, seolah tak ingin lagi melihat Rio namun keadaan memaksa dirinya untuk tetap bertahan di samping Namesya,"Ada baiknya anda tanyakan pada Mesya. Siapa yang lebih dia pilih untuk bersamanya. Aku atau anda tuan Artis yang terhormat."cibir Alfin sembari mengusap pakaian Rio yang tampak berantakan.


"Singkirkan tanganmu."Rio menepis tangan Alfin yang membuat dirinya seperti tengah diejek oleh lelaki itu."Mesya. Siapa dia? Apa hubunganmu dengannya.?"tanya Rio pada Namesya yang masih berusaha mengendalikan emosinya.


"Bukan urusanmu."balas Namesya seraya menautkan tangannya ke lengan Alfin,"sebaiknya urus urusanmu sendiri. Jangan libatkan aku dengan hidupmu lagi."


Namesya melangkah sembari tetap menggenggam lengan Alfin, ingin meninggalkan tempat itu yang tidak lagi terasa nyaman untuknya. Rio benar-benar sudah merusak momen menenangkannya malam itu.


"Mesya tunggu."Rio meraih tangan Namesya yang bebas, namun Alfin juga sedang menggenggam tangan Namesya yang sebelumnya melingkar di lengan laki-laki itu,"kita harus bicara. Aku ingin memperbaiki semuanya."bujuk Rio.


Alfin melirik Namesya yang sudah tampak jengah dengan perilaku Rio,"Aku akan menunggumu di mobil. Selesaikan dulu masalahmu dengannya."katanya.


"Tidak perlu menunggunya. Mesya milikku anda tidak perlu repot-repot menunggunya."kata Rio.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Jadi aku tidak perlu membuatnya menungguku."kata Namesya sembari melepaskan tangan Rio yang menggenggam tangannya."Dan aku bukan milikmu. Sejak awal seharusnya aku memang bukan milikmu."


Namesya lanjut melangkah bersama Alfin meninggalkan Rio yang sudah tampak putus asa. Laki-laki itu menatap nanar kepergian Namesya bersama Alfin, berharap gadis itu menoleh dan kembali padanya. Namun Namesya bahkan sudah tak lagi merasakan sisa cinta untuk Rio, cinta itu telah terkikis habis oleh kekecewaan dan luka yang Rio torehkan pada gadis itu.


"Apakah tak ada kesempatan kedua untukku?"Lirih Rio seiring dengan hilangnya Namesya dari pandangannya.


.


.


.

__ADS_1


.


😊😊😊✌️✌️


__ADS_2