
Tak terasa satu minggu berlalu begitu saja, Alfin akhirnya diperbolehkan pulang dan memulihkan keadaannya di rumah. Untuk satu bulan ke depan Alfin harus mengambil cutinya sampai keadaannya benar-benar pulih untuk bisa kembali bekerja.
"Ingat apa kata dokter. Jangan asal makan, jangan suka telat makan."kata Namesya sembari memasukkan beberapa barang Alfin ke dalam tas.
"Iya..."Balas Alfin seraya mencubit manja pipi Namesya,"Kamu udah kaya istri yang takut suaminya sakit aja."komentarnya.
Namesya menoleh, menatap serius kearah Alfin yang sedang melipat selimut rumah sakit,"Aku serius."kata gadis itu.
"Aku juga serius. Kamu udah kayak ist-upm."
"Diam."Namesya membekap mulut Alfin menghentikan ucapan laki-laki itu seketika.
"Iya sayang..."Balas Alfin setelah bekapan tangan Namesya melemah dan meraih tangan gadis itu.
Kedua bola mata Namesya memutar dan mendesis,"Ish."namun tak bisa ia pungkiri perasaannya benar-benar terasa begitu ringan dan nyaman meskipun debaran jantungnya masih tetap sama setiap kali Alfin menggodanya.
"Mama sama papah ngga ikut jemput calon menantunya?"tanya Alfin menanyakan orang tua Namesya, tangannya memeluk gadis itu dari samping dengan tatapan penuh tanya.
"Kan udah ketemu waktu itu? Kalau mau ketemu lagi kapan-kapan kalau udah sembuh. ngapain ikut jemput segala. Emangnya aku ngga cukup buat bawa kamu pulang."kata Namesya.
Alfin terkekeh dan tanpa sungkan langsung mencium pipi Namesya,"Iya cantik. Nanti kalau udah sembuh gantian aku yang nemuin mereka. Muach muach."kata Alfin sembari menghujani pipi Namesya dengan kecupan.
"Udah selesai nih. Ayo pulang."Namesya mengingatkan sekaligus ingin menghentikan aksi Alfin yang begitu genit menurutnya.
"Oke. Siap. Udah pesen taksinya kan?"tanya Alfin.
"Ada kak Kevin di bawah."jawab Namesya.
"Ah... Ternyata kakak ipar ikut jemput."ujar Alfin,"Kenapa ngga ikut ke sini?"tanyanya.
"Katanya mau nemuin temannya. Ada temannya yang sakit dan di rawat di sini katanya."jawab Namesya.
"Oh..."gumam Alfin seraya mengangguk paham.
"Oh. ya. Nanti aku mau mampir ke ruangan kak Andin dulu sebentar."kata Namesya.
"Mau ngapain? Kamu sama Dede baik-baik aja kan?"tanya Alfin yang refleks langsung menyentuh perut Namesya.
"Kami baik-baik aja... Aku cuma mau ambil charger. Kemarin kak Andin pinjem charger aku terus dibawa ke ruangannya."jawab Namesya.
"Oh... kirain ada apa-apa. Ya udah nanti aku ikut."kata Alfin.
"Cuma sebentar ngga usah ikut. Oke."tolak Namesya.
"Sekalian jalan-jalan sebentar apa salahnya."bantah Alfin.
Namesya menghela napas dan berkata,"terserah deh."
Akhirnya Alfin pun ikut menemani Namesya, lebih tepatnya mengikuti Namesya pergi ke ruangan Andin yang tidak jauh dari tempat Alfin di rawat. Mereka berjalan berdampingan dan sesekali menjawab salam sapa dari dokter maupun perawat yang berpapasan dengan mereka.
"Alfin. Mesya."Feres yang hendak kembali ke ruangannya memanggil Alfin dan Namesya sembari menghampiri keduanya."Sudah mau pulang?"tanya Feres.
"Ya. Ternyata ngga enak tidur di rumah sakit."Balas Alfin.
"Aku ke ruangan kak Andin ya."Pamit Namesya membiarkan Alfin mengobrol dengan Feres.
"Oh. ya sudah aku tunggu di sini."Balas Alfin.
"Mesya mau ketemu Andin?"tanya Feres.
"Iya. katanya mau ambil charger."jawab Alfin.
Feres mengangguk dan mengajak Alfin duduk di kursi. Mereka mengobrol di sana sementara itu Namesya terus melangkah menuju ruangan Andin dan tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu ruangan Andin.
"Aaa..."
Suara pekikan terdengar bersamaan dengan pintu yang dibuka Namesya. Seperti terhipnotis, Namesya berdiri mematung melihat apa yang sedang terjadi di ruangan Andin. Gadis itu memaksa kelopak matanya mengerjap meski masih berdiri linglung di mulut pintu melihat dua orang yang sangat ia kenal berada di ruangan yang sama dalam posisi yang meresahkan dan tentu akan mengundang banyak pertanyaan dan akan menumbuhkan rasa curiga bagia siapapun yang melihatnya. Namun, Namesya berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak langsung mempertanyakan apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang itu di sana.
__ADS_1
"Maaf. Apa aku mengganggu?"tanya Namesya, ia tersenyum kikuk antara merasa tidak enak dan merasa penasaran.
'apa ada yang mereka sembunyikan dariku selama ini? jangan-jangan mereka menyimpan rahasia. apa hubungan mereka?'batin Namesya bertanya-tanya.
Saat itu Kevin tengah berada di atas tubuh Andin yang terbaring di sofa, meskipun Kevin menggunakan tangannya untuk menopang tubuhnya membuat tubuhnya tidak benar-benar menindih tubuh Andin. Posisi seperti itulah yang pasti akan membuat orang lain curiga dan penasaran jika melihatnya. Kevin dan Andin saling bertatapan saat mendengar suara dan melihat keberadaan Namesya yang tiba-tiba datang.
"Minggir."Andin langsung mendorong Kevin sampai laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
"Auh."keluh Kevin saat merasa pergelangan tangannya terkilir setelah menggunakan tangan itu untuk menopang tubuhnya sendiri ditambah lagi sekarang bokongnya terasa sakit karena jatuh terduduk di lantai.
Andin terlihat jelas salah tingkah dan buru-buru berdiri sembari merapihkan pakaiannya,"Mesya. Mau ambil charger ya."katanya sembari tersenyum kikuk.
"Eh. Iya kak. Mau ambil charger."jawab Namesya yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi di antara Andin dan Kevin di ruangan itu.
"Nanti aku ambil sebentar."Andin langsung berlalu menuju bilik meja kerjanya dan mencari keberadaan charger Namesya sembari menahan perasaan gugupnya karena merasa telah tertangkap basah melakukan hal yang memalukan di depan Namesya.
Namesya melangkah menghampiri Kevin yang sudah berdiri sembari memegangi pinggang serta mengusap-usap bokongnya.
"Udah jenguk temannya?"tanya Namesya seolah ia tidak percaya dengan alibi yang Kevin buat saat mengatakan ingin menjenguk teman.
"Su-sudah."jawab Kevin gagap.
"Mmm... Memangnya teman kakak sakit apa? Terus di rawat di ruangan mana?"tanya Namesya.
"Pasien Andin istri teman kakak. Habis melahirkan jadi kakak menjenguknya."jawab Kevin.
"Oh... Begitu..."gumam Namesya seraya menatap kevin penuh kecurigaan.
Sementara itu Andin yang masih belum mampu mengontrol rasa malunya masih terlihat sibuk mencari keberadaan charger Namesya. Wanita yang sudah membiarkan rambutnya memanjang dan mengikatnya menjadi satu itu tampak kebingungan karena belum menemukan benda itu.
"Kak Andin ini cari charger atau cari kuman yang sembunyi sih."komentar Namesya seraya menarik chargernya yang masih tertancap di colokan,"ini kak udah ketemu."kata Namesya sembari tersenyum penuh arti pada Andin.
"Ah... Aku lupa belum mencabutnya dari sana."gumam Andin sembari menggaruk dahinya yang tertutup poni tipis.
"Yang penting udah ketemu kak."timpal Namesya,"ya udah aku mau anter dokter Alfin pulang dulu ya."pamitnya.
"Oh benar hari ini Alfin pulang. Maaf aku ngga bisa ikut anter."balas Andin.
"Udah ayo pulang."tegur Kevin mengajak Namesya pergi.
"Oh ya. Kak Kevin kalau masih mau di sini ngga apa-apa kalau ngga anter kami pulang."kata Namesya.
Kevin menatap Namesya dan beralih pada Andin,"Kakak di sini cuma-"
"Ah... sudah-sudah. Aku ngga butuh penjelasan. Kalau kakak ada keperluan di sini lebih lama lagi ngga apa-apa. Aku sama dokter Alfin bisa pesan taksi."Namesya memotong ucapan Kevin.
Kevin menghela napas karena Namesya benar-benar sudah salah paham atas apa yang sudah di lihat Namesya di tempat itu. Raut wajah Kevin yang semula biasa saja karena menahan gugu dan malu kini berubah serius dan menatap Namesya dengan tatapan dingin,"Ayo. Kakak tidak ada keperluan lagi di sini."Kevin meraih dan langsung menarik tangan Namesya keluar dari ruangan Andin.
"Kak Andin. Nanti kutelefon ya. Aku pergi dulu."Teriak Namesya sembari melangkah mengikuti tarikan Kevin, gadis itu menoleh kearah Andin saat berteriak demikian.
"Ah. I-iya. Hati-hati."jawab Andin yang langsung terduduk lemah setelah Namesya dan Kevin keluar dari ruangannya.
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu melepas ikatan rambutnya dan mengacak rambut hitamnya itu dengan kasar.
"Huh. Pasti Mesya salah paham."gumam Andin.
Tok
tok
tok
Andin berjingkat kaget mendengar pintu ruangannya di ketuk dan buru-buru merapihkan rambutnya dengan mengikatnya kembali.
"Ya. Silakan masuk."Andin menyuruh orang dari balik pintu ruangannya untuk masuk.
Cklek
__ADS_1
Pintu pun terbuka dan masuklah seorang wanita cantik dengan perut buncit di temani seorang laki-laki tampan yang wajahnya tampak muram, tak terlihat adanya kebahagiaan dari raut wajah laki-laki itu.
"Oh. Nona Melia. Anda akhirnya mengunjungiku lagi."Ujar Andin seraya tersenyum sumringah bertemu dengan Melia, pasiennya yang sudah tiga bulan tidak memeriksa kehamilannya lagi padanya,"Silakan duduk."Andin mempersilakan Melia duduk, saat itu Andin tersenyum kecil pada laki-laki yang menemani Melia.
'Benar. Dia Rio."batin Andin setelah mengamati dengan jelas siapa laki-laki yang sudah duduk di kursi.
"Maaf. Apa aku mengganggu waktu istirahat dokter?"tanya Melia.
"Ah. Tidak apa-apa. Bukankah biasanya nona Melia langsung mengunjungiku di sini. Terakhir kalau tidak salah... tiga bulan yang lalu."kata Andin.
"Benar. Tiga bulan terakhir ini aku tidak sempat periksa kemari lagi."jawab Melia yang terus menggandeng tangan Rio dengan sangat mesra.
"Apa dia... Suami nona Melia?"tanya Andin.
"Sebenarnya belum. Aku malu mengatakannya tapi mau bagaimana lagi. Berkat dukungan dokter saya memutuskan memberitahu pacar saya tentang kehamilan saya."kata Melia yang terus tersenyum sumringah menunjukkan kebahagiaannya.
Andin tersenyum dan bertanya,"Apa sekarang masih ada keluhan?"
"Syukurlah setelah aku memberitahunya aku sudah tidak mual lagi. Dan nafsu makanku sudah mulai membaik."jawab Melia seraya menatap Rio dengan tatapan penuh cinta.
"Kalau begitu mari ikut saya. Bukankah nona ingin melihat perkembangan bayi nona."ajak Andin.
"Baiklah. Saya ingin tahu jenis kelaminnya, apakah sudah bisa terlihat di usia enam bulan ini?"kata Melia yang ikut berdiri dan mengikuti Andin menuju bilik pemeriksaan, di ruang pribadi itu juga ada bilik pemeriksaan yang sama lengkapnya dengan ruang pemeriksaan di ruang poli kandungan hal itu diperuntukkan bagi beberapa orang yang biasanya cenderung tidak menyukai keramaian atau sengaja menghindari banyak orang, contohnya Melia.
"Anda tentu boleh ikut melihat perkembangan anak anda."kata Andin saat melihat Rio tetap diam di kursi, seakan enggan untuk mengikuti Melia yang sudah berdiri.
Rio menghela napas dan akhirnya melawan egonya untuk tidak bangun menjadi bangun mengikuti Andin dan Melia.
Di dalam bilik pemeriksaan, Andin mulai mengoleskan gel ke perut Melia sebelum menggerakkan alat USG di atas perut Melia yang sudah meninggi. Di layar monitor terlihat gambaran pergerakan bayi yang masih begitu mungil di dalam rahim Melia, detak jantungnya pun terdengar begitu jelas.
"Apa itu suara detak jantungnya?"tanya Rio setelah beberapa saat hanya berdiri diam menatap layar monitor.
"Benar. Itu suara detak jantung putra anda. Dan lihat, dia sudah tumbuh dengan sempurna."kata Andin.
"putra."gumam Rio.
"Benar. Anak anda laki-laki."jawab Andin memberi tahu pasangan itu bahwa bayi dalam rahim Melia berjenis kelamin laki-laki.
Rio tersenyum lebar mengetahui bahwa anaknya laki-laki, sepertinya laki-laki itu begitu mendambakan seorang putra. Melihat senyum Rio yang tampak begitu tulus dan sumringah membuat Melia menitihkan air matanya. Tak menyangka jika Rio akan tampak begitu bahagia mengetahui tentang anak mereka saat ini.
"Dia memang anakku."gumam Rio yang masih menatap ke layar monitor.
Andin tersenyum dan menatap Melia yang langsung menghapus air matanya,"anda harus sering-sering mengajaknya berbincang. Berikan perhatian lebih juga pada ibunya, kesehatan dan kebahagiaan ibu mengandung itu penting untuk tumbuh kembang janin dalam kandungan."kata Andin menasihati.
"Khem."Rio berdeham dan melirik Melia,"Hhhh...Baiklah."kata lelaki itu.
Meskipun terdengar terpaksa, namun Melia tetap tersenyum mendengar ucapan Rio. Setidaknya wanita itu berharap kehadiran putranya akan menumbuhkan rasa cinta Rio untuknya, meskipun butuh waktu lama itu tidak masalah.
Setelah pemeriksaan selesai, Melia dan Rio pamit pergi. Kini tinggalah Andin duduk seorang diri di ruangannya, ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya begitu mengetahui tentang siapa wanita yang membuat Rio berpaling dari Namesya.
"Astaga... Apa yang sudah aku lakukan?"Andin meraup wajahnya dengan rasa frustasi,"Aku yang memberikan dukungan pada Melia agar dia memberitahu kekasihnya tentang kehamilannya, dan ternyata kekasihnya itu... Dia kekasih Mesya juga. Tapi Mesya bilang kalau Rio dan Melia hanya memiliki hubungan sebatas sandiwara di depan publik itupun sudah cukup lama berlalu berita itu beredar. Ya ampun... Gara-gara aku mendukung Melia aku hampir membuat Mesya bunuh diri. Bagaimana ini bisa terjadi."keluh Andin menganggap dirinya ikut andil akan masalah yang menimpa Namesya."Aku harus meminta maaf pada Mesya. Setidaknya dia harus tahu mengapa Melia tiba-tiba muncul dan mengakui kehamilannya pada Rio."
Andin membereskan meja kerjanya dengan asal-asalan dan meraih tas kecilnya. Satu tempat yang akan Andin tuju adalah untuk menemui Namesya.
"Dia pasti sudah pergi ke rumah Alfin bukan?"Andin bertanya pada dirinya sendiri mengenai keberadaan Namesya saat ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.✌️✌️✌️