Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Salah mengirim pengganti


__ADS_3

Kevin dan Namesya kembali ke apartemen, di sana keduanya bertemu Alfin yang baru keluar dari apartemen, lelaki itu menenteng tas.


"Mesya..."Alfin menjatuhkan tasnya dan berlari kecil menyusul Namesya, memeluk gadisnya dengan perasaan rindu dan lega,"Kamu ke mana saja. Aku menghubungimu tidak aktif. Hari ini aku berencana mencarimu ke villa orang tua Raya bersama Feres. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


Namesya menepuk punggung Alfin, tersenyum bahagia melihat kekasihnya mengkhawatirkan dirinya,"Aku baik-baik saja."katanya.


"Aku yang tidak baik-baik saja."kata Kevin yang harus berdiri diam seperti obat nyamuk melihat adiknya di peluk Alfin.


Alfin menatap Kevin dan baru menyadari wajah Kevin yang memiliki luka lebam di beberapa bagian, dan terlihat sudut bibir lelaki itu yang sobek.


"Ayo kita masuk dulu."Ajak Namesya,"Akan aku ceritakan nanti di dalam."


Alfin mengangguk dan mengikuti Namesya memasuki apartemen gadis itu, bersama Kevin. Sesuai janji, Namesya menceritakan permasalahan yang telah menimpa mereka hingga membuat Raya harus tinggal di villa Arlan.


"Aku sempat mendengar berita Hiro ditangkap polisi. Jadi benar kalau dia melakukan kekerasan pada Raya."kata Alfin.


"Padaku juga."imbuh Kevin memperlihatkan sudut bibirnya yang terluka.


Alfin menghela napas,"tapi kamu baik-baik saja kan?"tanyanya pada Namesya.


"sudah kukatakan hanya aku yang terluka."Kevin menjawab kekhawatiran Alfin dan berlalu menuju kamar yang sebelumnya di tempati Raya,"Mesya. Aku tidur di kamarmu saja."putus lelaki itu.


"Kenapa?"tanya Namesya.


"Kamar ini mengerikan."balas Kevin yang cukup terpana melihat beberapa pakaian dalam Raya tercecer di dalam kamar itu.


"Oh. Sepertinya Raya tak sempat membereskan kamar itu."komentar Namesya, dan Kevin sudah memasuki kamarnya.


"Bagaimana bisa Arlan membuat Raya mau tinggal di sana?"tanya Alfin.


"Bersyukurlah bukan aku yang di minta tinggal di sana."kata Namesya.


Senyum Alfin mengembang,"Itu yang sangat aku syukuri. Hanya saja aku heran kenapa Arlan tidak melepaskan Raya."


"Mungkin karena transaksinya dengan Hiro."balas Namesya,"Bukankah Hiro menjual Raya padanya. Mana ada kucing melepaskan mangsa yang sudah di berikan padanya "


"Hhhh... Apa lagi yang akan bocah itu lakukan."gerutu Alfin.


"Sepertinya Arlan menyukai Raya."komentar Namesya.


"Benarkah?"Wajah Alfin cukup berbinar,"Kalau begitu aku tidak akan cemas jika kau tetap bekerja di kantornya."


Namesya mencubit pinggang Alfin,"Masalahnya aku tidak percaya pada mantan temanmu itu. Kalau dia berhubungan dengan Hiro apa mungkin dia tidak sama dengan Hiro? Aku takut Arlan memperlakukan Raya tidak baik."keluh Namesya.


"Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang?"tanya Alfin.


"Banyak yang ingin ku lakukan. Terutama melepaskan Raya dari Arlan. Tapi bagaimana caranya. Bahkan di sana tidak bisa menggunakan ponsel karena tidak ada jaringan. Aku tidak bisa menghubungi Raya."kata Namesya.


"Kalau begitu kita tak ada cara lain kecuali percaya pada Arlan."kata Alfin.


"Itu yang sulit kulakukan."gumam Namesya yang langsung mendapat pelukan dari Alfin, mencoba menenangkan gadis itu.


Ting


tong


Ting


tong


Suara bel memisahkan Namesya dan Alfin, sebab Alfin langsung beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu, membukanya sebelum sosok Andin menerobos masuk.


"Mesya. Apa yang terjadi? Mana Kevin?"tanya Andin dengan wajah khawatir.


Namesya masih dengan mode bingungnya menunjuk kamarnya sendiri, dan tanpa banyak kata, Andin langsung memasuki kamar Namesya. Wanita itu menghampiri Keving yang tengah terbaring di tempat tidur Namesya dengan meletakkan lengannya di atas dahi.


"Aku baik-baik saja..."Kata lelaki itu dengan santai, padahal lelaki itu juga yang menyebabkan Andin khawatir setelah menghubungi wanita itu dan mengatakan dirinya terluka.


"Wajahmu lebam seperti itu dan kau bilang baik-baik saja."komentar Andin.


Kevin bangun dan duduk bersila di atas tempat tidur, menatap Andin yang duduk di tepian,"ini hanya luka kecil. Tidak masalah."katanya.

__ADS_1


"Tapi tetap saja kamu terluka."kekeh Andin yang sudah membuka kotak obat yang di bawanya, bersiap untuk mengobati lebam dan luka kecil lainnya.


"Aku sudah mengobatinya."Kata Kevin seraya menangkap tangan Andin yang hendak mengobati luka di wajahnya.


"Kapan? Kemarin? Bagaimana dengan hari ini?"tanya Andin.


"Kau sudah seperti seorang istri yang cerewet melihat suaminya terluka."komentar Kevin dengan senyum mengembang melihat wajah Andin yang berubah canggung.


"Jangan bercanda. Aku harus mengobatimu."kata Andin.


"Baiklah. Silakan."Kevin memejamkan matanya membiarkan Andin mengobati luka di wajahnya,"Kalau bisa di tubuhku juga sekalian. Badanku seperti remuk karena preman-preman Hiro memukuliku."keluh lelaki itu.


"Salah sendiri bertindak gegabah. Sudah tahu bahaya tapi mengikuti tanpa menyiapkan bantuan."komentar Andin yang mengobati wajah Kevin dengan kikuk karena lelaki itu memejamkan matanya, membiarkan mata Andin dengan sangat leluasa menikmati wajah tampan lelaki itu.


"Sshhh... Pelan-pelan sayang..."keluh Kevin merintih saat Andin menempelkan obat ke sudut bibirnya, lelaki itu membuka mata dan melihat keberadaan wajah Andin yang cukup dekat dengan wajahnya.


"I. Ini juga sudah pelan."Andin merasa gugup saat bertemu pandang dengan mata Kevin yang tersenyum, terlebih lagi karena lelaki itu memanggilnya sayang.


"astaga. Ada apa denganku? kenapa aku merasa begitu gerogi seperti ini mendengarnya memanggilku sayang. Apa dia salah bicara?"batin Andin.


"Kenapa bengong?"tanya Kevin yang tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya Kew wajah Andin.


"Eh. Apa?"Andin berusaha melepaskan diri, namun Kevin mempertahankan tangannya tetap di sana dengan lembut.


"Jangan bergerak. Atau aku akan menciummu nanti."ancam Kevin.


"A. Apa? Jangan ngaco kamu. Awas saja berani menciumku."balas Andin.


"Kenapa? Apa karena belum halal jadi ngga boleh cium."Kata Kevin seraya menarik turunkan alisnya.


Andin membolakan kedua matanya dan mendesah,"Apa maumu Hem?"tanyanya.


"Mauku... Sebentar aku ingin memikirkannya dulu."Kevin berekspresi seolah sedang memikirkan sesuatu,"Nanti malam pergi makan malam denganku. Aku akan menjemputmu."katanya kemudian.


"Apa ini makan malam pengganti makan malam yang kemarin?"tanya Andin.


"Lebih dari itu."balas Kevin dengan senyum merekah penuh rahasia.


"Kau akan tahu nanti malam."kata Kevin.


Andin melepaskan tangan Kevin dari wajahnya dan kembali berkutat pada kota obatnya.


"Aku... Aku ingin bertanya satu hal padamu?"tanya Andin kemudian.


"Tanyakan saja."balas Kevin.


"Siapa pacar Arumi? Katamu kau mengenalnya."tanya Andin dengan pikiran yang masih mengira benda melingkar di jari Arumi itu pemberian Kevin.


"Bahkan kau juga mengenalnya. Meskipun tidak terlalu mungkin. Soalnya Kau hanya begitu mengenal Feres, Alfin dan sekarang kau akan sangat mengenalku."kata Kevin.


"Lalu siapa?"tanya Andin semakin penasaran.


"Sepupu Feres."jawab Kevin.


"Sepupu Feres..."gumam Andin kemudian melanjutkan,"Revan maksudmu."


"Iya. Revan. Memangnya kamu pikir siapa? Aku? Tidak mungkin... Aku sudah punya kamu jadi untuk apa aku melamar Arumi."kata Kevin.


Lagi-lagi Kevin berhasil menyemu merah wajah Andin dengan ucapannya. Meskipun Andin akan memukul lengan lelaki itu demi menetralkan perasaannya sendiri saat ini. Namun ada kelegaan dalam benak Andin mengetahui tentang siapa kekasih Arumi.


####


Di Villa Arlan. Kini Raya tengah menyesap teh hangat yang di bawa oleh seorang penjaga untuknya, tidak ada yang namanya asisten rumah tangga perempuan di villa itu. Wanita itu tengah duduk di balkon menikmati pemandangan sore hari yang ternyata bisa melihat indahnya matahari tenggelam dari tempat itu. Pagi ini Arlan pergi dari villa, mengurus urusan pekerjaan katanya dan belum ada tanda-tanda laki-laki itu akan kembali.


"Apa yang lelaki itu inginkan dariku?"tanya Raya pada dirinya sendiri memikirkan Arlan yang telah membantunya lepas dari Hiro namun mengurungnya di tempat mewah bak istana di tengah hutan seperti ini,"Semoga saja dia tidak termasuk laki-laki beren9*** seperti Hiro."gumamnya lagi sebelum kembali menyesap tehnya dengan mata terpejam menikmati hangatnya air berwarna coklat kemerahan itu menjalar menghangatkan lambungnya.


Brrrruuummmm


Kedua netra Raya terbuka mendengar suara deru mobil memasuki area villa. Tanpa ia sadari tubuhnya telah bergerak berdiri dan melangkah menuju pagar balkon, kepalanya melongok menatap ke bawah tempat mobil hitam berhenti di halaman villa. Seorang lelaki dengan jas hitamnya keluar dari kereta besi itu, mendongak ke atas, menatap Raya yang diam membeku di sana, bibir lelaki itu kemudian tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya. Tindakan itu membuat Raya membolakan mata dan buru-buru pergi dari sana, duduk kembali di kursi menikmati teh dan pemandangan sore.


Seharian ini, Arlan sibuk mengurusi permasalahan Raya dengan Hiro. Termasuk mengunjungi orang tua Raya untuk menjelaskan awal mengapa Arlan berhak bertanggung jawab atas apa yang telah menimpa Raya.

__ADS_1


Sebenarnya... Yang di jodohkan dengan Raya bukanlah Hiro. Tetapi Arlan yang dengan keras menolak perjodohan itu dan menyiasati segalanya agar laki-laki itu terlepas dari perjodohan itu dengan menentukan penggantinya. Dan Arlan memilih Hiro sebagai penggantinya untuk menikah dengan Raya karena perusahaan Hiro memiliki banyak hutang dengan perusahaan Arlan, maka tak ada penolakan berarti dari keluarga Hiro. Arlan tak pernah mengira jika pada akhirnya ia kembali dipertemukan dengan gadis yang seharusnya dulu ia nikahi.


Cklek


Lelaki itu memasuki kamar Raya dan menghampiri gadis itu di balkon, sedang duduk di kursi menyesap teh hangat dengan keanggunan yang sesungguhnya. Arlan menghela napas, terselip sebuah penyesalan yang sulit untuk ia terima setelah melihat paras Raya dihadapannya saat ini. Sulit untuk ia akui jika kenyataannya wanita itu sangat indah. Ya. Indah, itu kata yang cocok untuk wanita itu. Terlalu banyak wanita dengan paras cantik, namun tanpa keindahan. Sebab kecantikan mereka terlalu ceroboh, sedangkan keindahan wanita ini sungguh membuatnya tak ingin mengusik keindahan itu.


"Kenapa hanya berdiri di sana? Kau tidak ingin menghampiriku?"tanya Raya menatap Arlan yang hanya diam di pintu menuju balkon menatapnya dengan liar, namun tetap tak bergerak untuk melakukan apapun,"Atau ingin menyentuhku, mungkin."imbuh wanita itu.


Lihat. Bahkan wanita itu menantang Arlan, seakan tahu bahwa Arlan tidak akan semudah itu menyentuh wanita itu.


"Kau akan menjerit jika aku menyentuhmu."komentar Arlan, lelaki itu ikut duduk di kursi.


"Bukankah jeritanku akan semakin membuatmu bersemangat menyentuhku, itu juga mungkin."balas Raya tanpa menoleh.


"Aku membelimu bukan karena aku ingin menyentuhmu."timpal Arlan.


Raya mendengus dan meletakkan cangkir tehnya ke meja,"Dasar bodoh. Membeli barang tapi takut untuk menyentuhnya."cibirnya.


Arlan tersenyum kecil, beranjak dari kursi dan melangkah menghampiri Raya, berdiri di depan wanita itu yang menatapnya dengan ketenangan pasti,"Apa kau sedang menginginkan sentuhan lelaki?"tanya Arlan seraya menumpukan kedua tangannya ke sisi Raya yang tetap saja diam.


"Tidak juga."balas Raya.


"Benarkah?"Arlan melirik menatap tubuh Raya dengan tatapan lancangnya.


"Mungkin kau yang menginginkan sentuhanku."Balas Raya.


"gila. Apa yang kau lakukan bodoh?"Batin Raya mengumpat perlakuannya sendiri.


Arlan tersenyum miring, menggerakkan jarinya menyentuh dahi Raya dengan ujung jari telunjuknya dan perlahan turun menuju pipi wanita itu, menelusuri bibir Raya dan berakhir menarik dagu wanita itu dengan lembut.


Saat itu, degup jantung Raya sudah sangat berdentum tak beraturan. Rasanya rongga dadanya sudah ingin meledak, dan semakin tak beraturan saat wajah Arlan mendekati wajahnya. Refleks Raya memejamkan kedua matanya dengan perasaan tak karuan. Tubuhnya sudah merasa di buat merinding lebih dulu hanya karena sentuhan ringan Arlan di wajahnya.


"Mampus kau. Tamatlah kau Raya. Kau telah menggali lubang kuburmu sendiri."Batin Raya lagi mengumpat diri sendiri.


Kemudian telinganya mendengar bisikan Arlan alih-alih sebuah kecupan di bibirnya.


"Kau terlalu berharga untuk aku menyentuhmu lebih awal."


Raya membuka matanya dan melihat Arlan sedang tersenyum menatapnya dengan tatapan ejekan. Tatapan itu seolah mengatakan bahwa Raya telah kalah dalam permainannya sendiri.


Dengan cepat Raya menepis tangan Arlan dari dagunya dan buru-buru berdiri dari kursi. Dadanya tampak bergerak naik turun karena napas Raya yang memburu. Menatap Arlan dengan sangat jengkel.


"Apakah Hiro mengajari menjadi seorang wanita binal yang suka menggoda pria?"tanya Arlan masih tetap tersenyum.


"Bukan urusanmu."balas Raya sembari bergerak hendak pergi, namun Arlan mencekal tangan wanita itu, menariknya dan menyergap bibir wanita itu dengan bibirnya.


Raya membolakan matanya menyadari tindakan Arlan yang telah berani menciumnya. Namun hanya sesaat, tak ada gerakan selain sebuah sentuhan antara dua bibir.


"Ini masih permulaan."Bisik Arlan kemudian setelah melepaskan bibirnya dari bibir Raya yang masih membeku.


"Gila."gumam Raya setelah Arlan tak lagi terlihat di depannya, lelaki itu telah berlalu dari balkon, meninggalkan Raya dalam kebekuannya.


Hahahahahaaa


Raya semakin geram saat mendengar suara Arlan yang tertawa dari luar kamar. Wanita itu merasa sedang di permainkan oleh lelaki menyebalkan itu, setidaknya bagi Raya demikian. Meskipun tak dapat ia pungkiri jika lelaki itu begitu tampan, tatapan matanya yang seolah mengunci setiap tatapan orang yang menatapnya, hidung yang bertengger dengan gagah diantara kedua pipinya yang memiliki rahang tegas, bibirnya yang terdapat garis coklat akibat terlalu sering merokok. Dan yang lebih ekstrim adalah dada bidang lelaki itu yang sudah pernah Raya lihat tanpa sengaja waktu itu.


"Ssshhhh..."Raya memeluk dirinya sendiri karena merinding memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika ia terus memprovokasi lelaki itu dengan sikap binalnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


😊😊😊😊


__ADS_2