
Pulangnya Arlan ke villa cukup membuat Raya merasa lebih tenang, juga senang. Tak dapat ia pungkiri bahwa rasanya tak mudah baginya untuk mempertahankan rasa kesalnya terhadap lelaki itu. Sedangkan lelaki itu memperlakukan dirinya dengan baik selama ia tinggal di tempat itu.
"Selamat pagi Nona."sapa Gading yang sudah keluar dari sarangnya dan menemui Raya di kamar pagi itu.
"Anda siapa?"tanya Raya merasa tidak mengenali lelaki berkacamata bening itu yang sudah memasuki kamarnya.
"Aku Doktermu."jawab Gading.
"Dokterku? Apa maksudnya?"tanya Raya lagi.
Gading melangkah mendekati Raya yang masih duduk di sofa, saat itu Arlan sudah menyuruh penjaga mencari jenis pembalut untuk Raya dan wanita itu sudah memakainya dengan nyaman.
"Aku Doktermu. Semalam Arlan memanggilku untuk memeriksa keadaanmu. Apa kau sudah merasa lebih baik,"Gading mengulurkan tangan hendak menyentuh kening Raya, namun wanita itu bergerak menghindar,"Ah. Maaf. Aku tak membawa stetoskopku jadi aku hanya mengandalkan tanganku untuk memeriksa apa kau masih demam atau tidak."sambung lelaki itu memahami sikap Raya yang seolah tak mau ia sentuh.
"Aku tahu keadaanku sendiri. Dan aku tahu sekarang aku baik-baik saja."kata Raya.
Gading mengedikkan bahu dan berkata,"Syukurlah kalau kau sudah baik-baik saja."
"Ya aku baik-baik saja."Raya mengulang ucapan gading dan melanjutkan,"Anda sudah boleh pergi dari sini."
Senyum Gading mengembang melihat sikap angkuh Raya terhadapnya,"Semoga harimu menyenangkan."katanya sebelum pergi dari kamar Raya.
Raya hanya melirik kepergian Gading dari kamarnya sebelum kembali berkutat pada ponselnya, memainkan game untuk mengusir rasa bosannya saat ini.
"Nona. Sudah waktunya makan siang. Mau saya antar ke kamar atau nona makan siang bersama tuan di bawah."kata penjaga setelah memasuki kamar Raya.
"Baiklah. Aku akan turun."jawab Raya dan bergegas keluar dari kamar.
Tibanya di dapur, Raya melihat Arlan dan Gading yang sedang duduk di depan meja dapur, tampak sedang mengobrol sebelum gading lebih dulu melihat kedatangan wanita itu dan tersenyum meskipun Raya tak menanggapi.
"Lihat apa kau."protes Arlan seraya memalingkan wajah Gading dengan menoleh paksa kepala dokter itu dari menatap Raya yang masih berjalan menuju meja.
Gading terkekeh,"Tentu saja aku melihat bidadari."kata Gading sengaja menggoda Arlan.
"Jaga matamu. Kalau tidak mau kucongkel bola itu dari tempatnya."ancam Arlan, wajahnya benar-benar serius.
"Seperti inikah wajah Arlan jika sedang cemburu."Ejek Gading semakin bersemangat menggoda Arlan, cukup membuat Arlan membolakan kedua matanya menatap lelaki bermata empat itu.
Mendengar dua lelaki itu beradu mulut dan ekspresi, Raya hanya bersikap acuh dan langsung mencomot piring dan mengambil menu makanan yang tersaji di atas meja.
####
Empat hari berlalu, Namesya merasakan kedamaian dalam mengerjakan seluruh pekerjaannya. Damai karena ia sudah tak lagi berada di ruangan bos besarnya, Arlan. Beberapa hari ini ia juga menyadari ketidakhadiran bosnya di kantor itu. Terbukti setiap melihat Tirta tidak ada sosok Arlan bersama laki-laki kaku itu.
"Selamat pagi Nona Mesya."Sapa Tirta saat bertemu Namesya di depan gedung, lelaki itu menebar senyumnya saat menatap Namesya meskipun sadar akan keberadaan Alfin di samping gadis itu.
"Pagi Tuan Tirta."Namesya balas menyapa tanpa lupa untuk membalas senyum yang tak kalah manisnya dari buah kedondong pemberian tetangga.
(Maaf ngelantur sedikit)
Masih melihat asisten Arlan menatap Namesya, Alfin melempar tatapan tajamnya menatap Tirta.
"Oh. Maaf saya lupa menyapa anda."kata Tirta setelah menoleh menatap Alfin,"Selamat pagi Dokter."lanjut menyapa dengan sikap sopan yang sengaja terlihat dibuat-buat.
"Pagi."balas Alfin yang langsung memeluk bahu Namesya, erat sembari menatap Tirta seperti seekor kucing yang sedang melindungi mangsanya dari kucing lain yang menginginkan miliknya.
Padahal, Tirta hanya sekedar ingin sedikit bermain dengan menggoda Namesya mempermainkan rasa cemburu Alfin. Tirta cukup merasa kesal dengan Alfin yang selalu cemburu tanpa alasan setiap Namesya dekat dengan bosnya. Meskipun lelaki itu sadar tentang sikap Arlan terhadap Namesya cukup membuat Tirta sempat berpikir jika Arlan menyukai gadis itu. Dan perkiraan Tirta sudah terjawab dengan jawaban salah, sebab Arlan tidak menyukai Namesya tapi Raya, seorang wanita yang sudah menikah dan kini menjadi sandera di villa pribadi Arlan.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Namesya memasuki gedung bersama Alfin yang mengantarnya hingga pintu masuk yang hanya pegawai kantor atau tamu penting yang boleh melewatinya.
"Aku masuk ya."pamit Namesya.
"Hati-hati. Jangan lupa makan siang."balas Alfin seraya menilik jam tangannya,"Nanti pulang aku jemput."
"Iya... Aku udah hafal tiap hari kan begitu."balas Namesya seraya mengembangkan senyum tipis, memaklumi sikap cemburu Alfin.
Alfin menghela napas,"Aku takut Tirta menggodamu lagi."katanya mengutarakan kekhawatirannya.
Namesya terkikik pelan dan berkata,"Dia tidak pernah menggodaku. Sudah deh jangan kepikiran yang aneh-aneh."
__ADS_1
Alfin tersenyum kecil, menyadari akan kecemburuannya karena takut kehilangan sosok Namesya dalam hidupnya. Lelaki itu mengulurkan tangan membelai puncak kepala Namesya dan mendekat untuk mengecup kening kekasihnya itu.
"Selamat bekerja. Love you."bisik Alfin yang berhasil membuat kedua pipi Namesya bersemu.
"love you too..."Namesya balas berbisik dan tak lupa meninggalkan jejak merah lipstiknya di pipi Alfin yang ia kecup sebelum melarikan diri melewati pintu.
Jejak langkah kian menjauh, namun hati masih merasakan betapa hangatnya deru napas yang berhembus. Alfin menyentuh pipinya dan tersenyum setelah Namesya tak lagi tampak dari pandangannya setelah kekasihnya itu memasuki lift. Tanpa mengecek keadaan pipinya, Alfin berjalan keluar gedung, memasuki mobil dan melajukan kuda besinya menuju tempat ia bekerja, Rumah Sakit.
Senyuman aneh selalu Alfin jumpai sepanjang perjalanan ia dari mulai turun dari mobil menuju lobi rumah sakit. Setiap berpapasan dengan perawat atau beberapa dokter, ia selalu melihat mereka tersenyum aneh. Seperti seseorang yang menahan diri untuk tidak tertawa.
pluk
Dari belakang Feres menepuk bahu Alfin, sedikit membuat Dokter spesialis mata itu tersentak dan menoleh menatap Feres. Awalnya Feres tampak hanya terdiam dengan sebelah alis terangkat.
"Hahahaha..."Akhirnya Feres adalah orang pertama yang melepas tawanya karena melihat bercak merah bekas lipstik menempel samar di pipi putih bersih milik Alfin.
"Gila."komentar Alfin melihat Feres tertawa yang menurutnya tanpa sebab jelas, lelaki itu berbalik dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Feres yang ikut menyusulnya.
"Apa yang kau lakukan pagi ini hah?"tanya Feres setelah mengontrol dirinya untuk tidak tertawa.
"seperti biasa."balas Alfin,"mengantar Mesya ke kantor."imbuhnya.
"Ah... Jadi ini sisa hadiah yang Mesya berikan padamu."kata Feres seraya menonyor pipi Alfin dengan jarinya.
"Apa maksudmu?"tanya Alfin yang tidak menduga jika kecupan Namesya meninggalkan jejak di pipinya.
"Sayang sekali aku tak punya cermin."kata Feres, semakin membuat Alfin bingung.
Alfin tak menggubris ucapan Feres dan tetap melangkah dengan percaya diri menuju ruangannya.
"Ah. Andin tunggu."seru Feres saat melihat Andin yang baru keluar dari ruangan pribadinya.
"apa?"tanya Andin yang langsung menatap Feres.
"Kau bawa cermin?"tanya Feres,"Tetap di sini."Tangannya mencekal Alfin yang hendak berlalu lebih dulu.
"Cermin untuk apa?"tanya Andin.
"oh."gumam Andin yang langsung merogoh tasnya, mengeluarkan bedak padat miliknya dan menyerahnya pada Alfin,"ini. Pakai dan lihat wajahmu."perintahnya pada Alfin.
"Pakai dan lihat."Feres ikut menyuruh Alfin menggunakan cermin itu.
Perlahan Alfin mengarahkan cermin kecil itu ke wajahnya dan dari bayangan itulah Alfin mengetahui jawaban atas pertanyaannya tentang arti semua senyuman orang-orang yang berpapasan dengannya.
Andin dan Feres terkikik pelan melihat Alfin menggosok pipinya menghapus bekas lipstik itu, meskipun tidak kesal karena bekas itu berasal dari kekasihnya. Andin merampas bedak padatnya dari tangan Alfin dan menghentikan tawa kecilnya.
"Mau pergi kemana?"tanya Feres saat melihat Andin tidak memakai jubah dokternya.
"Ada urusan."jawab Andin.
"oh. Semalam lembur?"tanya Feres.
"Hem... Dan hari ini libur."balas Andin.
"Kevin sudah melamarmu?"tanya Alfin.
Andin menggaruk lehernya dan tersenyum kecil,"Ini."Andin menunjukkan jarinya yang masih kosong tak ada cincin melingkar di sana.
"Mungkin besok."kata Feres.
"Atau lusa."balas Alfin.
Andin menatap tajam dua lelaki itu dan meninju mereka dengan kedua tangannya.
"Awas kau. Kalau Kevin belum menikah kau juga tidak akan menikah dengan Mesya mendahului Kevin. Dan kau lagi, pacar saja tidak punya berani-beraninya meledekku."Andin mengakhiri ceramahnya dengan mencubit lengan dua laki-laki itu sebelum pergi.
"Huft... Akhirnya dia menemukan seseorang yang benar-benar bisa menghargainya."kata Feres saat melihat kepergian Andin.
"yah. Aku juga senang dia bisa lepas dari Frengky."balas Alfin.
__ADS_1
"Kita harus menyiapkan hadiah paling istimewa untuk pernikahannya nanti."kata Feres menatap Alfin dengan tatapan penuh arti yang lebih dari sekedar sebuah hadiah pernikahan istimewa.
"Masalahnya kapan Kevin akan melamarnya."kata Alfin.
"Pasti tidak lama lagi."balas Feres.
Alfin tersenyum kecil,"Aku sudah tidak sabar untuk menyiapkan hadiah istimewa kita nanti untuknya."katanya.
Feres terkikik,"atau kau mau mencobanya lebih dulu."katanya seraya menunjukkan sebuah botol obat yang baru ia keluarkan dari sakunya.
"Gila. Awas saja kalau kau berani-berani mengerjaiku."katanya penuh ancaman.
"ya. ya... tenang saja. Aku tidak akan gegabah. Ini hanya boleh dipakai setelah kau atau Andin yang menikah."kata Feres.
Setelah cukup dengan obrolan pagi mereka lanjut menuju ruangan mereka masing-masing. Feres memasuki ruangannya, menyimpan obat dalam botol kecil itu ke dalam brankasnya.
"Hhhh..."Lelaki itu menghela napas saat duduk di kursinya, menyandarkan kepala menatap langit-langit ruangannya, memejamkannya sejenak dan kembali menatap langit-langit.
Cklek
Feres memutar kursi yang semula membelakangi arah pintu ruangan, menatap pintu ruangan yang bergerak terbuka dari luar. Lelaki itu menelan saliva saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
"selamat pagi Dokter Feres."Sapa seorang wanita cantik yang masih berdiri di ambang pintu.
"Pagi."Balas Feres seraya membereskan mejanya yang masih rapi,"Ada yang bisa saya bantu?"tanyanya berbasa-basi.
Wanita itu tersenyum dan melangkah memasuki ruangan setelah menutup pintu dan langsung duduk di kursi bersebrangan dengan keberadaan Feres yang tampak jelas membuat dirinya terlihat sibuk di depan laptop.
"Apa aku mengganggu?"tanya wanita itu.
Feres mendongak, menatap wanita cantik itu,"Nona Sherly. Jika anda datang bukan untuk berkonsultasi masalah kesehatan, sebaiknya anda pulang."katanya.
Wanita itu, Sherlyana Abraham yang memiliki kisahnya sendiri dengan Feres. Dan Feres masih cukup canggung untuk berhadapan dengan wanita itu yang telah lama tinggal di luar negeri melanjutkan study.
"Aku hanya ingin menyapamu. Senang melihatmu baik-baik saja."kata Sherly.
"Ya. Aku baik-baik saja."balas Feres,"aku harap kau juga baik-baik saja."
Sherly tersenyum kecil dan menunduk,"Terlepas dari masalah Kak Frenky dan Kak Andin. Aku harap Kak Feres tidak ikut membenciku karena masalah mereka. Aku tidak pernah ikut campur dalam masalah mereka."katanya.
Feres menatap Sherly,"Aku tidak pernah membenci siapapun."katanya.
Sherly tersenyum miring dan mengangguk,"Syukurlah."lirihnya sebelum merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah undangan,"Aku kemari untuk memberikan ini. Ini acara ulang tahun Perusahaanku. Aku harap Kak Feres datang."
Feres melirik kertas undangan di atas meja dan menatap pemberinya,"Semoga apa yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang di acara penting perusahaanmu."katanya.
Sherly tersenyum kikuk dan menunduk,"Aku... Aku minta maaf."lirihnya.
Feres menghela napas, meraih undangan itu dan berkata,"Aku akan usahakan untuk datang."
"Terimakasih kak."lirih Sherly yang telah kembali menatap Feres.
"Ya."balas Feres singkat,"Dan maaf. Aku harus mulai bekerja sekarang."lelaki itu bangkit dari kursi dan Sherly ikut bangun.
"Kalau begitu aku pamit."pamit Sherly.
"Hem."balas Feres dan membiarkan Sherly lebih dulu keluar dari ruangannya.
Masa lalu mungkin menyimpan luka. Namun jangan biarkan ingatan masa lalu kembali membuat seseorang terluka. Jika takdir berkata 'iya' maka tak perlu risau dan takut kehilangan.
😊😊
.
.
.
.
__ADS_1
.