Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Tak sejauh mata memandang


__ADS_3

Raya menceritakan keadaan rumah tangganya yang sesungguhnya selama ini kepada Kevin. Dan Kevin tetap setia menjadi pendengar yang baik terlebih melihat Raya menangis saat menceritakan hidupnya selama ini di Jepang.


"Aku tidak mau kembali kak."lirih Raya,"Aku takut. aku sudah tak kuat lagi jika terus bersamanya seperti ini."


"Kau tidak cerita sama om dan Tante."kata Kevin.


"Aku ingin cerita... Tapi aku takut mereka tidak percaya. Karena setiap ayah dan ibu menelfon, Hiro selalu bersikap manis padaku. Aku tak punya kesempatan untuk mengatakannya pada mereka. Dan lagi saat ini... Aku takut Hiro akan memutuskan kontrak kerja dengan perusahaan ayah dan memaksa ayah membayar semua hutang perusahaan yang tidak sedikit."Raya mencurahkan hampir seluruh isi hatinya pada Kevin.


"Setidaknya ceritakanlah. Tidak ada orang tua yang tega membiarkan putri satu-satunya hidup tersiksa seperti ini."kata Kevin.


Raya mengangguk patuh layaknya seorang adik yang patuh pada kakaknya,"Aku akan usahakan untuk menceritakannya pada mereka kak."


"Aku dan Mesya tentu akan menemanimu menjelaskannya nanti."kata Kevin.


"Tapi kak... Aku tidak ingin merepotkan Mesya."lirih Raya.


"Tidak bisa. Apapun yang terjadi beritahu Mesya. Dia akan kecewa jika mengetahuinya dari orang lain."kata Kevin.


Raya menghela napas dan mengangguk dengan banyak pertimbangan dalam benaknya antara jujur pada Mesya atau menyembunyikannya.


###


Di kantor. Namesya baru saja selesai menuntaskan pekerjaannya sore itu. Hari ini Arlan tidak masuk bekerja sehingga Namesya merasa lebih nyaman saat mengerjakan tugas-tugasnya.


"Tirta."Mesya memanggil Tirta yang baru masuki ruangan.


"Ya."sahut Tirta tanpa memandang Namesya dan tetap melangkah meletakkan berkas-berkas ke meja Arlan.


"Tidak bisakah aku meminta ruanganku sendiri. Bos mu itu aneh sekali menempatkanku di dalam satu ruangan bersamanya. Apakah kalian kehabisan tempat hingga seorang bos harus berbagi ruangan dengan bawahannya."kata Namesya.


"Itu urusan bos nona. Semuanya berjalan sesuai perintah bos."balas Tirta.


Namesya menghela napas, lelah karena sudah berkali-kali mengeluhkan ruangannya tapi selalu saja seperti itu alasannya,"Mungkin benar. Sebaiknya aku resign saja."gerutunya, menggerutukan hal yang sering ia ucapkan namun belum juga ia lakukan.


"Lakukanlah sesuka hati nona."balas Tirta seraya membungkuk sedikit dan berlalu dari ruangan itu.


"Ish..."Desis Namesya dan melayangkan tatapan jengkelnya menatap kepergian Tirta,"Bos dengan asisten sama-sama menyebalkan."gerutunya dan langsung meraih tasnya, pergi dari ruangan itu.


Namesya menghubungi Raya dalam perjalanan menuju lift. Namun tidak ada jawaban."kemana dia?"gumamnya sembari menatap ponselnya dan kembali menghubungi Raya. Namun tetap tidak ada jawaban.


"Mesya."


Suara Arlan terdengar memanggilnya dari arah lift. Namesya mendongak dan melihat lelaki itu menghampirinya. Napas berat perlahan Namesya hembuskan melihat lelaki itu.


"Ya tuan."jawab Namesya, terpaksa.


"Apa temanmu itu istri seorang pengusaha dari Jepang?"tanya Arlan langsung pada intinya.


"hmmm... ya."jawab Namesya,"Namanya Hiro Takashi."imbuhnya.


"Oh. Ya sudah."kata Arlan yang kemudian melangkah melewati Namesya menuju ruangan.


"Astaga... Dasar orang aneh. Mau apa coba tanya-tanya soal Raya. Awas kamu kalau sampai berani mengusik rumah tangga sahabatku."geram Namesya sebelum melanjutkan langkah menuju lift.


Sampainya di dalam lift, ia kembali kesal karena Arlan tiba-tiba sudah kembali dan mencegah pintu lift tertutup. Tanpa rasa bersalah, lelaki itu masuk dengan angkuhnya dan menekan tombol angka paling dasar lantai gedung.


Saat sebuah ponsel terulur di depannya, Namesya bingung dengan apa yang sedang bosnya inginkan.


"Apa ini?"tanya namesya melihat Arlan mengulurkan ponsel padanya.


"Berikan nomor ponsel temanmu itu."kata Arlan,"Ini perintah."dalihnya.


"Tidak bisa. Kalau ingin dapat nomornya minta saja langsung pada orangnya."tolak Namesya yang sudah enggan untuk berlaku hormat pada Arlan.


Arlan menoleh, melayangkan tatapan penuh intimidasi pada Namesya. Namun Namesya hanya berdiri acuh tanpa rasa takut.


"Jangan menolak perintah bosmu Mesya."kata Arlan yang tiba-tiba menyudutkan Namesya di sudut lift.


Kedua netra Namesya melotot seperti akan keluar dari rongganya melihat tingkah bosnya saat ini yang meresahkan."Tu. Tuan jangan macam-macam ya. Sekali tidak ya tetap tidak. Saya tidak mau."tolak Namesya kekeh.

__ADS_1


"Kalau aku memaksa bagaimana."Arlan tak mau kalah.


"Tetap tidak bisa. Silakan saja ambil. Tuan tidak akan bisa membukanya."tantang Namesya dengan pikiran Arlan tidak akan tahu kata sandi ponselnya.


Arlan tersenyum miring dan meraih tas Namesya,"Kau menantangku."gumam Arlan seraya mengambil ponsel Namesya dari tas dan melempar tas kembali pada pemiliknya.


"Ih..."geram Namesya karena tasnya terjatuh membuat isi tasnya berhamburan.


"Akan ku sita ponselmu sampai aku bisa membuka kata sandinya."kata Arlan.


"Coba saja kalau bisa."Namesya kembali menantang.


"Baiklah. Aku akan langsung menjawab panggilan kekasihmu nanti jika dia menghubungimu dan mengatakan padanya kalau kau bermalam denganku malam ini."ancam Arlan yang sedang berusaha memikirkan sandi ponsel Namesya.


"Argh... Baiklah-baiklah. Sini. Kembalikan ponselnya. Akan ku beri nomor ponsel Raya."akhirnya Namesya menyerah dan meminta kembali ponselnya.


Arlan terkikik merasa menang,"Apa jaminannya kau tidak berbohong?"tanya Arlan memastikan Namesya tidak membohonginya.


"Saya janji tidak akan bohong."jawab Namesya yang kemudian melihat pintu lift terbuka.


Namesya hendak merebut ponselnya. Namun kalah cepat dari gerakan Arlan yang kembali menutup pintu lift, tak peduli ada beberapa pegawai kebersihan yang akan naik membersihkan ruangan. Tentu saja hal itu akan mengundang banyak pertanyaan melihat Namesya dan Arlan berada di dalam lift berdua di tambah Arlan yang kembali menutup pintu lift.


"Tuan... Ayolah. Jangan seperti ini. Akan ku beri tahu kata sandinya."kata Namesya.


"Katakan."perintah Arlan.


Namesya akhirnya mengucapkan beberapa digit nomor kata sandi ponselnya dan membiarkan Arlan mengambil nomor ponsel Raya.


"Oke. Terimakasih."Arlan mengembalikan ponsel Namesya dan kini membiarkan pintu lift terbuka.


Setelah terbuka, Namesya langsung menerobos pintu melewati beberapa pegawai yang menatapnya penasaran.


"Terimakasih nona sekretaris cantik. Aku tidak akan melupakan jasamu."teriak Arlan di depan para pegawainya dengan maksud ingin menggoda Namesya yang sempat menoleh dengan tatapan tak bersahabat sama sekali.


####


"Brengse* Sial..."gerutunya tak menyadari keberadaan Raya di kamarnya yang sedang menunggunya.


"Kenapa?"Tanya Raya.


Namesya menoleh menatap Raya yang duduk di sofa kamar itu,"Hhh..."ia menghela napas dan beringsut duduk di samping Raya sebelum menidurkan kepalanya di pangkuan temannya itu,"Aku kesal sama bosku itu. Menyebalkan. Kenapa sih dia usil sekali padaku. Dia meminta nomormu dan merebut ponselku mengancamku akan menyitanya dan akan menjawab panggilan kak Alfin jika dia menghubungiku. Dia mengancam akan mengatakan kalau aku bermalam dengannya."keluh Namesya mengenai Arlan.


Raya terkikik mendengar keluhan Namesya,"Jangan-jangan bosmu itu menyukaimu. Jadi dia suka menggodamu."ujarnya,"Eh. tunggu. Bosmu meminta nomorku? Untuk apa?"tanyanya begitu teringat ucapan Namesya.


Namesya kembali duduk dan menatap Raya,"pokoknya aku sarankan jangan kamu angkat panggilannya. Jangan kamu balas pesannya, pokoknya kamu jauhi dia. Hih. Aku saja sudah ingin resign dari sana."katanya menasehati Raya yang kemudian melihat ponselnya berkedip-kedip.


Dua wanita itu saling menatap sebelum Raya melihat ponselnya dan mendesah setelah melihat nama yang menghubunginya.


"Suamimu?"tanya Namesya melihat nama pemanggil itu bertuliskan nama 'Hiro Brengsek',"Aku baru lihat ada panggilan sayang menggunakan kata kasar seperti itu."komentarnya.


"Ini bukan panggilan sayang."kata Raya yang membiarkan ponselnya tetap berkedip.


"Maksudnya."tanya Namesya.


"Itu..."Raya menunduk, tapi kemudian membalikkan tubuh dan menunjukkan lebam di leher belakangnya.


Namesya menutup mulutnya, terkejut melihat lebam biru di leher sahabatnya,"A. Apa maksudnya ini?"lirihnya berusaha menolak apa yang saat ini terpikirkan dalam otaknya.


"Hiro yang melakukannya. Dia akan mencekikku jika aku tidak memuaskannya. Dia bahkan tak segan memukulku jika aku tidak bergerak sesuai keinginannya. Sungguh. Aku tidak seperti istri baginya. Aku tak lebih hanya seorang budak nafsu untuknya. Mungkin itu caranya balas dendam karena pernikahan kami yang tidak pernah dia harapkan. Aku juga tidak mengharapkan pernikahan ini sebelumnya. Tapi aku pikir, aku akan berusaha mencintainya. Tapi tidak dengannya."Raya menumpahkan rahasianya pada Namesya dan kemudian menangis dalam pelukan sahabatnya itu.


Tidak menyangka jika hal seperti itu akan terjadi pada sahabatnya, Namesya memeluk dan mengusap punggung raya dengan sayang."Tenanglah. Kamu tak perlu kembali padanya. Jangan kembali. Ada aku di sini. Kau bisa bersamaku."kata Namesya.


"Besok aku ingin mengatakan semuanya pada ayah dan ibu."Kata Raya.


"akan kutemani."balas Namesya dan Raya mengangguk setuju.


Tak sejauh mata memandang. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi di balik segalanya. Bahkan selalu ada duka yang tersembunyi di balik senyum penuh suka, dan mata ini tak bisa menerobos menembus apa yang tersembunyi di baliknya. Tidak jika mulut tak bergerak untuk bicara.


Keesokan harinya. Namesya telah mendapatkan ijin dari Arlan secara langsung untuk tidak masuk kerja hari itu. Hari itu Raya di temani Namesya dan Kevin pergi ke rumah orang tua Raya yang cukup memakan waktu tempuh yang jauh dari tempat Namesya.

__ADS_1


Mereka tiba saat matahari sudah ingin tenggelam menuju peraduan malam yang dingin, sebab semilir angin pantai berhembus menuju daratan tempat villa keluarga Soraya tinggal.


"Ayah... Ibu..."Raya menghambur memeluk kedua orangtuanya.


"Sayang... Kenapa ngga cerita kalau mau berkunjung. Beruntung Suamimu sudah tiba lebih dulu. Katanya dia langsung kemari setelah mengantarmu lebih dulu ke tempat Mesya."kata Ibu Raya,"Ayo. Kita masuk."


Raya, Namesya dan Kevin saling bertukar pandangan mendengar ucapan ibu Raya yang mengatakan jika suami Raya, Hiro Takashi sudah ada di rumah itu.


"Sayang... Kamu sudah puas bertukar rindu dengan sahabatmu."Suara Hiro yang tiba-tiba muncul membuat perasaan Raya tak karuan.


Lelaki itu meraih tangan Raya dan memeluk pinggangnya. Bukan memeluk, tapi meremas pinggangnya dengan kuat. Namun Raya menahannya semata karena ada orang tuanya saat ini.


"Khem."Kevin berdeham dan sengaja menyenggol tangan Hiro yang terlihat mencengkeram pinggang Raya,"Tante. Tante makin cantik aja deh."pujinya berbasa-basi.


"Ah kamu bisa aja."timpal ibu Raya.


"Ya iyalah Tante masih cantik dan awet muda..."imbuh Namesya,"Kan Tante punya suami setia... baik... pengertian... ngga suka main tangan lagi."sindirnya yang meraih tangan ayah raya,"Ya kan om... Nih kak. Di contoh. Kalau jadi suami itu harus baik sama istri... Jangan cuma maunya enak sendiri aja..."tambahnya seraya menatap Kevin.


Ayah dan ibu Raya langsung tertawa mendengar sindiran Namesya namun dianggap sebagai sebuah lelucon bagi yang tidak merasa tersinggung. Kemudian mereka masuk menuju ruang tamu.


Saat hendak duduk di sofa, Namesya langsung merebut tempat yang hendak di duduki oleh Hiro."Maaf Tuan. Saya masih kangen sama sahabat saya. Ngga apa-apa ya kalau saya nempel-nempel sama Raya. Soalnya kalau Raya nanti udah pulang ke Jepang ngga tahu kapan kita ketemu laginya. Kalau bisa sih jangan pulang ke Jepang deh."begitu alasan Namesya pada Hiro yang terlihat merah wajahnya menahan marah atas sikap Namesya.


Sementara di sebelah Raya yang lain sudah duduk Kevin yang tampak tersenyum menatap Hiro. Lelaki bermata sipit itu memaksa seulas senyum agar menutupi sifat aslinya di belakang orang lain. Sedangkan Raya hanya diam, gelisah menyadari lelaki kejam itu ada di rumah orang tuanya dengan tujuan pasti. Akan membawanya kembali ke rumah penuh derita yang tak ada orang lain bisa menolongnya sekalipun ia mati di sana.


"Ayah Ibu... Aku ingin bicara."Akhirnya Raya menggerakkan bibirnya menyela pembicaraan kosong yang saat ini sedang di perbincangkan suaminya.


"Ada apa sayang?"tanya sang ibu.


""Ibu Aku ingin-"


"Raya ingin berlibur ke Paris ayah ibu. Tapi aku belum ada waktu untuk menurutinya. Aku masih sibuk dengan urusan pekerjaanku."Potong Hiro dan langsung menatap Raya sembari tersenyum, namun Raya tetap mengenali tatapan penuh kekejaman yang lelaki itu tujukan padanya.


"Benar sayang. Suamimu pasti sedang sibuk. Kamu harus bisa sedikit bersabar."ujar sang Ayah.


Raya menggeleng melihat ketidakpekaan kedua orang tuanya terhadap anak perempuan mereka saat ini. Mereka terlalu membanggakan prestasi sang menantu di depan banyak orang, namun tidak ingin mengorek apa yang mungkin terjadi di belakang mereka.


Raya menitihkan air matanya dan tanpa menunggu lagi, kakinya telah bergerak, berlari menuju pintu sembari menangis.


"Raya."semua orang serentak memanggilnya, kecuali Hiro, hanya Kevin Namesya dan Hiro saja yang tidak di buat bingung dengan sikap raya saat ini.


"Ayah ibu... Biar Hiro susul Raya."pamit Hiro.


"Tidak. Biar kami saja. Ayo kak."Namesya bergerak lebih dulu dan meraih tangan Kevin.


"Kami permisi om Tante."pamit Kevin.


"Tunggu."Hiro mengejar Namesya dan Kevin di susul ayah dan ibu Raya yang ikut keluar dari rumah.


"Tunggu."Hiro mencekal tangan Kevin,"Raya itu istri saya. Hanya saya yang berhak mengejarnya."begitu dalihnya.


Kevin tersenyum miring dan menepis tangan Hiro,"Dan saya mengklaim Raya sebagai Adik. Jadi saya juga akan mengejarnya karena saya akan melindunginya, bukan menyiksanya."kata Kevin tegas dan kembali berlari menyusul ke luar dari area villa.


Kedua orang tua Rayapun bingung melihat sikap Kevin yang seolah membenci Hiro.


"Sebenarnya ada apa nak Hiro?"tanya ibu Raya.


"Tidak ada apa-apa."jawab Hiro yang kemudian pergi dari tempat itu sembari menghubungi entah siapa, mungkin asistennya.


.


.


.


.


.


😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2