
POV Namesya
Keluarga kecilku yang sangat aku cintai, Ayah, Ibu dan kakakku yang tertampan di antara kami berdua. Tentu saja dia yang paling tampan karena adiknya adalah perempuan yang paling cantik. Sejak kecil aku selalu mendapatkan banyak kebahagiaan, sampai aku lupa kapan aku bersedih. Entahlah, mungkin saat aku kehilangan boneka kelinciku di taman bermain. Atau saat aku mengetahui cowok yang aku taksir punya pacar. Setidaknya aku jarang bersedih, seolah hidupku memang terlahir untuk selalu bahagia.
Ayahku adalah seorang dosen, sedangkan ibuku seorang dokter. Namun di antara kami berdua tidak ada yang mengikuti jejak mereka, Kakakku dengan berbekal ketampanan dan kecerdasannya justru memilih karir menjadi seorang publik figur. Wajahnya sudah terpampang di berbagai sampul majalah, berkecimpung di dunia akting sejak masih SD, tak heran jika saat ini dia sudah punya banyak penghargaan di rumahnya. Namun selain menjadi seorang publik figur, kakakku pandai berbisnis. Di usianya yang sudah hampir 30 tahun, ia sudah memiliki tiga cabang restauran, tiga Cafe, dan satu gedung perpustakaan yang juga menjual berbagai macam buku dari berbagai jenis sekaligus terdapat cafe di sana. Kakakku memang sempurna dari berbagai hal.
Namun berbeda denganku, aku merasa tak memiliki keistimewaan apapun selain kecantikan yang sudah aku miliki sejak kecil. Tapi aku tetap bersyukur, setidaknya aku masih punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh semua orang. Aku tidak pernah benar-benar bersungguh-sungguh melakukan segala hal. Namun setelah aku menemukan pekerjaan yang benar-benar membuatku nyaman, aku akan mempertahankannya meskipun aku punya banyak rintangan.
Aku akhirnya menjadi sekretaris pribadi seorang CEO di kantor periklanan. Membayangkan seorang CEO mungkin akan tergambar tentang ketampanan, lelaki muda yang gagah dan mempesona. Nyatanya CEO yang mempekerjakanku kali ini tidaklah seperti itu. Beliau seorang lelaki yang usianya tak jauh berbeda dengan usia ayahku, tampan memang masih terlihat, hanya saja beliau bukan lelaki muda. Beliaupun sudah memiliki istri dan dua orang putra, menurut kabar memang demikian. Tapi sampai detik ini aku sendiri belum pernah melihat siapa dan seperti apa putra- putra beliau. yah, aku tak begitu peduli. Yang aku pedulikan saat ini adalah aku mampu bekerja dan menghasilkan uangku sendiri.
Tapi entah sejak kapan aku melakukan kesalahan hingga kesalahan itu berada pada titik puncaknya. Aku mengenal seorang artis saat aku masih bekerja sebagai pegawai magang. Menurut kabar artis itu adalah seorang playboy, namun aku tidak pernah melihatnya merayu siapapun di tempat ini. Atau mungkin memang wanita di sini bukan seleranya.
Tapi aku justru terkejut saat tiba-tiba aku sering mendapatkan kiriman hadiah, kadang bunga, boneka, atau hal-hal kecil lainnya. Namun sampai saat ini hanya ada satu barang yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi, boneka kelinci. Aku sangat menyukai boneka kelinci, dan saat aku mendapatkannya dari seseorang yang menurutku sangatlah misterius tentu saja aku jadi merasa sangat terkesan meskipun terasa sedikit menakutkan.
Tidak. Sama sekali tidak menakutkan. Sebab akhirnya aku tahu siapa orang yang selalu mengirimkan hadiah-hadiah kecil itu untukku.
Ya. Ternyata dia adalah artis yang di kabarkan playboy itu yang selalu diam-diam mengirimkan banyak hadiah untukku. Rio Ardi Sanjaya yang kerap di sapa dengan nama Rio.
"Aku menyukaimu."itulah kata yang terlontar saat Rio menunjukkan siapa lelaki yang selalu mengirimkan hadiah untukku.
Saat itu tentu aku terkejut dan sama sekali tidak menyangka jika Rio akan menyatakan perasaannya padaku dengan cara yang begitu romantis. Hati gadis mana yang tak luluh jika ternyata lelaki yang ia taksir juga memiliki perasaan sama dengannya.
"Mesya."Rio menyadarkanku dari mode terkejutku, lelaki itu memang lebih suka memanggilku dengan nama itu.
"ya. apa. eh."Aku gugup entah harus berkata apa.
"Aku menyukaimu."ulang Rio.
"Aku..."Aku bingung harus menjawab apa, ingin langsung menjawab iya tapi apakah sejelas itu perasaanku.
"Aku akan menunggu jawabanmu. Pikirkanlah baik-baik. Aku tidak pernah main-main. Jadi Aku ingin ini akan jadi yang pertama dan terakhir untukku."kata Rio.
"Apa? Yang pertama dan terakhir?"aku semakin bingung dengan ucapan Rio.
"Ya. kau Pacar pertamaku dan kau juga pacar terakhirku. Jika kau menerimaku, maka kelak aku akan menikahimu."jelas Rio.
Aku hanya bisa membuka mulutku sedikit karena begitu terkejut, dari berbagai berita yang mengatakan kehidupan pribadi Rio yang seorang playboy namun malam ini membuatku ragu dengan berita-berita itu.
"Aku akan membuktikannya jika kau ragu padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu."janji Rio saat itu.
Ya. Hanya saat itu sebuah janji terucap, beribu janji terucap, namun saat dihadapkan pada kenyataan yang berawal dari kesalahan lelaki itu justru menghindar. Rio seolah hilang ditelan bumi setelah mengetahui diriku mengandung anaknya. Namun hal yang mengejutkan lain adalah saat aku melihat berita tentang foto Rio yang beredar tengah berjalan keluar dari ruang dokter kandungan bersama seorang wanita yang memiliki perut buncit.
Seakan dunia ini runtuh seketika setelah bom waktu meledak tanpa memberikan waktu untukku bernafas ataupun menghindar. Wanita itu sendiri adalah seorang artis dan model terkenal. Sebelumnya keduanya memang dikabarkan memiliki hubungan spesial, namun saat itu aku sudah menerima Rio dan aku tahu apa yang beredar di media hanyalah kebohongan belaka. Mereka sengaja menciptakan skandal demi mendongkrak popularitas mereka masing-masing, dan dengan bodohnya aku mengizinkan Rio menerima aturan dari managernya itu.
Kenyataannya bukan aku yang akan mendampingi hidupnya kelak. Haruskah aku membalikkan badanku dan melangkah pergi sejauh yang aku bisa membawa luka yang entah kapan akan mengering meski tak berdarah.
Kesalahan terbesarku adalah mempercayainya.
###
POV Feres
Rasa itu masih tetap singgah di sudut hati yang sengaja ku simpan rapi di sana. Tak pernah menyangka jika perasaan itu akan kembali menyeruak dan kini telah mengoyak seluruh perasaanku. Namun kenapa aku masih sama seperti dulu, tak mampu untuk sekedar menunjukkan siapa diriku padanya.
Ada banyak kata seharusnya...
Seharusnya...
dulu aku memberanikan diriku menunjukkan diriku padanya...
Seharusnya...
aku tak segampang itu menyerah...
Seharusnya...
__ADS_1
aku yang ada disampingnya...
Seharusnya...
aku tak menjadi lelaki pengecut...
Seharusnya...
Seharusnya...
Seharusnya...
Aku tak menyembunyikan cintaku padanya...
Kenapa aku hanya bisa terdiam saat melihatnya bersedih setelah membalikkan punggungnya menjauh. Harusnya aku mengejarnya, mengulurkan tanganku untuknya, memberikan kenyamanan untuknya, mencurahkan perasaanku padanya. Aku sangat menginginkan dia mengetahui rasa ini, rasa yang tersimpan di dalam dada ini.
Dia adalah masa laluku yang tak pernah mengetahui kebaradaanku yang sejak lama mengaguminya.
Namesya Ayunda Kusuma, aku menyukainya sejak aku bertemu dengannya saat gadis itu masih SMA. Sejak saat itu aku selalu mencari tahu banyak hal tentang gadis itu diam-diam. Bahkan aku pernah melihat video gadis kecil itu saat menangis karena kehilangan sebuah boneka kelinci.
Saat mengingat sebuah boneka kelinci akupun teringat akan sebuah benda yang sudah sangat lama tersimpan di dalam lemari tempat penyimpanan barang-barang lama keluarga kami. Yah. di dalam lemari itu aku menemukan sebuah boneka kelinci berukuran sedang, namun sangat imut dan masih sangat halus. Aku tersenyum kecil saat mengingat tentang kenakalan adikku yang pernah merebut boneka kelinci itu dari seorang gadis kecil yang sedang bermain di taman.
Entah itu adalah takdir baik atau buruk. Namun pada akhirnya boneka itu kembali kepada pemilik aslinya. Aku diam-diam mengirimkan boneka itu ke tempat kerja gadis itu, menitipkannya pada orang yang sama setiap aku menitipkan sesuatu untuk gadis itu.
Aku memang melihat gadis itu menyukainya, namun aku tidak yakin jika gadis itu menyadari bahwa barang itu memanglah miliknya. Aku hanya tahu gadis itu selalu membawa pergi kemanapun gadis itu pergi.
Setelah sekian lama aku bersembunyi, aku memang sudah berencana untuk keluar dari persembunyianku. Namun aku justru mendapati gadis itu menyukai seseorang yang begitu kukenali. Aku bisa melihat dari sorot matanya yang begitu berbinar saat gadis itu tengah berbincang dengan orang itu.
Adikku. Gadis itu menyukai adikku. Namun aku menjadi ragu mengingat perangai adikku yang cukup dikatakan buruk dalam sebuah hubungan. Pada kenyataannya rumor tentang adikku yang disebut playboy itu memanglah benar. Aku meragukan hal itu, tapi aku tak bisa mencampuri urusan itu dengan muncul tiba-tiba dan menyuruh gadis itu untuk tidak mempercayai adikku.
Kupikir terlalu bodoh jika aku mencampuri urusan mereka disaat aku tahu akan perasaan gadis itu terhadap adikku dan adikku meyakinkan diriku bahwa kali ini dia tidak akan menyakiti gadis itu. Aku percaya itu. Aku sangat mempercayai janjinya.
Dan mempercayai janjinya adalah kesalahanku.
pada adikku.
Seharusnya aku tak melepaskannya...
Melepaskan gadis itu.
Dan setelah semuanya terjadi...
Kupikir ini bukan salah siapapun.
Sebab semua ini berawal dari kesalahanku yang terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku padanya. Seandainya saat itu aku mengejarnya tanpa bersembunyi, mungkin saat ini aku sudah bersamanya dan memberikan kebahagiaan untuknya dengan caraku.
Kali ini aku tak akan mengulang kesalahanku dengan melepaskannya, aku akan menjaganya mulai detik ini sampai aku benar-benar bisa membuatnya kembali bahagia dan tersenyum tanpa beban seperti dulu.
Aku akan melindunginya.
###
Pov Author
Ada banyak sesal atas banyak kesalahan yang telah di lakukan banyak orang, meski terkadang jarang orang menyadari kesalahannya sendiri. Namun berbuat kesalahan dan menyadarinya setidaknya itu bisa menjadi pelajaran dalam hidup agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Namesya pun menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak akan kembali pada masa lalunya yang baru beberapa waktu berlalu. Namesya akan mempertahankan janin di dalam rahimnya meskipun tanpa Rio di sampingnya. Cukup satu kali ia melakukan kebodohan dengan mengikuti kata hatinya yang ingin mengakhiri hidupnya.
"Hhhh... bagaimana bisa aku bertindak sebodoh itu."gadis yang sudah tak lagi perawan itu menunduk penuh sesal mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Pikiran Namesya travelling memikirkan bagaimana jika semalam tidak ada yang mencegah dirinya melompat. Dia akan menanggung beban dosa berlipat jika dirinya sampai melakukannya.
"Tuhan... maafkan salahku..."gumamnya sedikit menunduk menatap ke halaman rumah sakit yang bisa ia lihat dari tempat ia berdiri, entah berada di lantai berapa dirinya saat ini.
"Dokter Alfin."gumamnya, netranya melihat seorang laki-laki yang tengah berjalan memasuki mobil sembari menilik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
__ADS_1
'Terimakasih sudah mengirimkan orang baik itu untuk menolongku.'batin Namesya merasa penuh syukur.
Namesya teringat akan perlakuan lembut Alfin saat pagi tadi ia mengalami morning sickness untuk yang pertama kalinya semenjak ia mengetahui kehamilannya. Lelaki itu dengan lembut mengusap punggung Namesya yang tengah muntah-muntah di kamar mandi.
"Nona Mesya."
Namesya menoleh ke asal suara, ia tengah berdiri di balik jendela kamar rumah sakit dan segera membalikkan tubuhnya melihat siapa yang berdiri di mulut pintu. Seorang wanita berparas ayu tengah melangkah menghampirinya, wanita yang sudah memarahinya karena aborsi yang ingin dilakukan olehnya.
"Dokter Andin."Namesya menyebut nama dokter itu.
Dokter bernama Andini Larasati itu tersenyum ramah dan lanjut masuk menghampiri Namesya,"bagaimana keadaanmu siang ini? Sudah merasa lebih baik?"tanya Dokter Andin.
"ya. saya baik-baik saja."balas Namesya kemudian mengikuti arahan Dokter Andin yang mengajaknya duduk di sofa sudut kamar.
Lagi, Dokter Andin tersenyum dan meraih tangan Namesya,"Saya harap tidak ada kejadian serupa lagi. Saya sangat berharap anda baik-baik saja."kata Dokter Andin.
"Maafkan saya."lirih Namesya merasa sangat bersalah.
"Saya tidak sepenuhnya menyalahkan anda. Tapi cobalah untuk belajar menerima keadaan atas takdir yang menimpa anda saat ini."imbuh Dokter Andin,"Tuhan sudah menitipkan satu malaikat kecil untuk anda jaga. Saya yakin akan ada hal baik yang akan anda dapatkan nantinya. Bersabarlah menghadapi semuanya. Saya siap membantu anda kapanpun anda membutuhkan bantuan saya."
"Dokter sudah banyak membantu saya. Dokter sudah mengingatkan saya saat saya ingin melakukan aborsi. Jika bukan karena larangan Dokter, mungkin saat ini saya sudah melakukan kesalahan itu."Namesya menatap nanar Dokter Andin yang balas menatapnya dengan lembut.
"Saya hanya melakukan apa yang sudah seharusnya saya lakukan."Balas Dokter Andin.
"Jadi, kapan saya boleh pulang?"tanya Namesya,"maksud saya. saya ingin mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari tempat saya bekerja."ralatnya mengingat dirinya pasti akan kena usir dari ayahnya jika ia pulang kerumah.
"oh. Untuk saat ini saya ingin memastikan anda baik-baik saja. Bukankah Dokter Alfin sudah memberitahu kalau ada masalah dalam pencernaan anda? Ada sedikit peradangan yang memerlukan pengawasan intensif dari kami. Jadi Dokter Rendra yang akan memutuskan kapan anda keluar dari sini. Saya hanya bertugas memastikan kandungan anda dalam keadaan baik dan untuk saat ini kandungan anda baik-baik saja."kata Andin menjelaskan.
"Oh. Begitu."gumam Namesya seraya mengangguk,"ya. Dokter Alfin memang sudah memberitahu saya tentang penyakit percernaan saya yang memang sering kambuh belakangan ini."Imbuhnya saat mengingat pesan Alfin yang memberitahunya akan ada Dokter Rendra yang secara khusus memeriksa penyakit dalamnya.
Andin melirik jam tangannya dan berkata,"Ya sudah kalau begitu. Sudah waktunya saya bekerja lagi. Saya senang melihat keadaan anda baik-baik saja."
"mmm... boleh saya bicara sedikit."pinta Namesya.
"ya. tentu saja boleh."balas Dokter Andin.
"mmm... Memangnya Dokter Alfin itu dokter spesialis apa?"tanya Namesya,"saya ingin berterimakasih padanya."
"Oh... Dia Dokter spesialis mata. Ruangannya tepat di sebelah ruangan saya. Dia teman dekat saya di rumah sakit ini."balas Dokter Andin,"bukankah dia baik dan tampan."imbuh Andin setengah berbisik dengan tatapan nakal serta senyum penuh canda.
"hah."Namesya hanya tertegun mendengar ucapan Dokter Andin, pertanyaan itu cukup menyita pikiran Namesya saat ini.
"Kau tahu? Dia Dokter tampan yang selalu ramah pada semua pasiennya tapi tak pernah ada yang melihat laki-laki itu menggandeng pacarnya sekalipun. Aku dan Dokter Feres hanya sering melihat ibunya datang dan mengomel jika Alfin lembur di rumah sakit."Andin secara tak sengaja berbicara seperti saat wanita itu bersama teman-temannya di luar pekerjaan.
"ah. begitu."gumam Namesya melihat keramahan Dokter Andin.
"oh. maaf aku keceplosan menggosipkan temanku yang satu itu."kata Dokter Andin,"ya sudah aku pergi."pamitnya.
"iya dok terimakasih."balas Namesya.
Dokter Andin beranjak pergi dan kembali menoleh saat sudah tiba di bibir pintu,"oh ya. jangan terlalu sungkan saat bersamaku. Kau bisa memanggilku kakak. Aku senang jika kau menganggapku seperti kakakmu sendiri."kata wanita itu.
"eh tapi."
"ngga ada tapi... udah nurut aja. lagian kerasa kaku banget kalau kamu manggilnya dokter terus."sanggah Dokter Andin melihat gurat keraguan yang tersirat di wajah Namesya.
"mmm ... baiklah."Namesya setuju.
"ya udah. baik-baik di sini. nanti dokter Rendra bakalan periksa kamu."pamit Dokter Andin.
Namesya mengangguk meski Dokter Andin sudah menutup pintu kamar rawatnya.
"hhh... ada banyak orang baik di sekitarku."gumamnya.
" setiap manusia tak pernah luput dari kesalahan dan sebuah kemalangan. namun perbaikilah hidupmu jika kemalangan telah menyadarkanmu atas segala kesalahanmu. "
__ADS_1