
Hari mulai petang.Langit jingga kemerahan perlahan menggelap. Arloji Amel menunjukkan pukul setengah 6 sore. Amel hendak pamit ke pak Darsim. Tapi beliau menahannya.
"Mbak maaf bukan niat menahan...tapi kata orang ndak baik keluar malam-malam saat magrib begini..pantang keluar saat sandekala sendirian ...mbak Amel shalat magrib saja dulu...sekalian bapak dan Ayu juga nanti shalat jamaah di mesjid tadi lagi. Mbak Amel sekalian ikut saja...nanti bapak temani sampai mbak dapet busnya..di jalan besar itu banyak bus maupun metromini lewat sana...ngomong-ngomong mbak pulan ke arah mana ?" tanya pak Darsim padanya.
"Hmm..saya tinggal ngekos pak..dikawasan Sawo Kecik..." jawab Amel sambil tersenyum.
"Ya sudah...saya ganti baju dulu ya mbak..." ucap pak Darsim kembali. Ayu yang membuntuti bapaknya dari belakang turut siap-siap pula mengambil mukenanya.
Selang beberapa menit kemudian...
"Ayo, mbak kita bergegas sekarang...biar nanti di mesjidnya ndak buru-buru ambil wudhunya..khawatir biasanya hari gini penuh orang shalat disana.." ucap pak Darsim padanya.
__ADS_1
" Iya, Pak..mari..." jawabnya sekenanya. Mereka bertiga kembali menuju mesjid kembali. Betul saja tak lama sesampainya disana,adzan magrib pun berkumandang. Amel dan Ayu bergegas menuju tempat wudhu.
***
Shalat magrib berjamaah telah selesai. Betul saja jamaah kali itu jauh lebih banyak dari waktu siang tadi. Mungkin banyak musafir atau orang yang hendak keluar dan mampir melaksanakan shalat. Di bilik wanita pun saat ini terdapat beberapa ibu-ibu dan mbak-mbak yang mungkin sebaya denganku turut shalat magrib berjamaah.
Pak Darsim dan Ayu menemaniku hingga aku sebuah kopaja yang melalui gang kosanku lewat. Aku buru-buru pamit ketika melihat kopajaku akan lewat pada pak Darsim dan Ayu. Berterima kasih atas kebaikan mereka menawarkan ku ke rumahnya. Aku pun naik dan Kopaja melaju membawaku ke tujuanku. Didalam Kopaja yang tak banyak itu kernet dan bus tengah bercakap-cakap mengenai sesuatu yang menarik untukku. Yang hampir saja Amel melupakannya.
"Tak ado..si Butar tak beri kabar apapun...lewat depan kau belok kanan saja...tak ambil resiko...kosong tak dapat penumpang belumlah malam pekan orang keluar tambahlah macet disana...malas pula awak...Awak ada taruh pasang dengan si Butar.." jawab si kernet bus pada si supir.
Amel yang tadinya merasa kantuk..perlahan teringat kejadian siang tadi.
__ADS_1
"Bang..emang lewat jalan biasa macet kenapa bang ?" tanya Amel ingin tahu. Ia baru ingat peristiwa siang tadi ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan baginya.
"Oh...macetlah tadi siang macam polisi keluar semua dari sarangnya...ada yang mati di sana,neng...tak tahu dibunuh atau bunuh diri katanya..." jawab si kernet pada Amel dengan logat Batak kental.
"Oo...laki atau perempuan, Bang ?" tanya Amel.
"Perempuan,Neng...Janda kalau kudengar dari orang-orang dijalan tadi..janda kembang...orang kaya katanya...yang punya Restoran Tiam...restoran Cina dideket pinggir jalan sana tadi...tempat neng naik bus tadi.." jawab si kernet.
" Wah...sayang kali janda kembang...harta banyak..sayang kali tak ada ahli warisnya... Coba wajahku ganteng,Man...tak kulewatkan janda macam begitu...kau carilah perempuan macam begitu hey Simanjutak...agar tak perlu lagi kau jadi kernet...kau pun bisa bantu aku tak lagi jadi supir Kopaja butut ini...." sahut si supir menimpali. Si kernet ikut tertawa mendengarnya.
"Macam aku menang lotre saja,bah.." balas si kernet yang dipanggil Simanjuntak itu.
__ADS_1
Hmm...restoran Tiam. Amel berusaha mengingat tempat yang dikatakan si kernet bus. Padahal sejak zaman kuliah tingkat akhir ia kos di tempatnya. Kawasan sini ternyata luas juga. Ia baru menyadari masih banyak tempat yang belum ia jelajahi di sekitaran kawasan kosannya itu. Amel terdiam. Rasa kantuk melandanya. Tetapi ia tahan. Ia takut kebablasan nyasar entah kemana. Mana malam hari pula. Matanya terus awas hingga sampai dijalan raya menuju gang kosannya.