
Setelah perkenalan singkat Amelia dengan Pak Darsim dan Ayu, tak disangka, gadis ini ditawarinya untuk mampir ke rumah lelaki tua ini. Amel yang memang sejak awal penasaran dengan lelaki tua ini,akhirnya tanpa ragu ia menerima tawaran tersebut. Perutnya yang bergemerucuk meronta kelaparan membuatnya membungkus gado-gado yang saat itu mangkal disekitaran mesjid.
"Pak..maaf Pak Darsim dan Ayu belum makan kan ? Saya mau mentraktir Bapak dan Ayu sebagai tanda perkenalan.." ucap Amelia sekenanya.
"Oo...gak usah mbak Amel, terima kasih...buat mbak Amel saja...pasti belum makan siang ya ?" jawab pak Darsim menolak halus.
"Aah...gak papa pak...saya bungkus buat bertiga saja ya...nanti kita makannya bareng-bareng di rumah bapak saja.."jawab Amel menyerbu memberikan sinyal ia tak ingin mendapatkan penolakan. Ia buru-buru memesan 3 bungkus gado-gado dengan nasi. Sebenarnya Pak Darsim dan Ayu putri semata wayangnya itu merasa sedikit lapar. Bagaimana tidak ? semenjak pagi ia baru 1x makan bersama putrinya itu. Tapi pak Darsim lelaki tua yang punya sopan santun. Ia merasa tidak enak dengan tawaran dari seorang gadis yang baru saja ia kenal. Tapi, apa daya gadis itu tampak tak ingin ditolak dengan tawarannya itu.
Huff..mungkin ini yang disebut rezeki tak akan kemana. Tak boleh ditolak, batin pak Darsim. Ia menunggu tak jauh dari gerobak gado-gado yang tengah membuat pesanan gadis itu.
Tak lama kemudian....
Mereka pun telah sampai didepan pintu rumah pak Darsim yang telah dilalui Amel sebelumnya. Pak Darsim memutar anak kunci dan...
ceklek.....
pintu pun terbuka. Ia masuk terlebih dahulu yang kemudian mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam.
__ADS_1
Rumahnya tampak sangat sederhana. Bagian depan nampak kosong tanpa banyak perabotan. Hanya sebuah tikar rotan, sebuah kipas angin dan sebuah meja kayu lesehan dibagian sudut ruangan.
"Silahkan masuk mbak...silahkan duduk...maaf harus lesehan..." ucap pak Darsim ramah.
"Ii ...iya pak..gak apa-apa kok... terima kasih..." jawab Ayu sopan sekenanya. Dinding rumahnya tampak kusam karena usia. Tetapi rumah ini cukup bersih. Aroma bersih dan segar lembut tercium. Pak Darsim dan Ayu , masuk ke dalam ruangan. Amelia menjelajah dengan kedua matanya tapi ia tak dapat melihat bagian ruangan lainnya karena terhalang dinding pembatas yang membatasi antar ruangan.
Ayu kembali membawa nampan dengan gelas air putih yang diletakkan diatas meja. Kemudian ia kembali ke dalam ruangan dan membawa 3 buah piring dan sendok keatas meja. Ia merapikan bungkusan gado-gado ke setiap piring yang ia bawa diatas meja kayu yang ada disudut ruangan itu. Aku melihatnya menata dengan rapi. Tak lama pak Darsim telah keluar ruangan. Ia telah berganti pakaian. Kini ia hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam dengan corak motif abstrak berwarna-warni dan celana panjang hitam yang tadi ia kenakan saat shalat.
"Maaf...kami tidak bisa menyuguhkan apa-apa..silahkan diminum dulu mbak ...oh iya mbaknya pasti belum makan siang ya ? silahkan sambil makan saja dulu...tak usah malu-malu mbak...anggap saja seperti di rumah sendiri..." ucap pak Darsim sambil duduk bersandar ke dinding. Ucapannya bagiku seperti memecah keheningan dan kebekuan yang sesaat itu. Amel pun tanpa
Mereka pun makan bersama. Sesaat keheningan tercipta karena ketiganya tengah sibuk mengunyah gado-gado yang terasa nikmat itu.
"Bapak...cuma tinggal berdua saja disini ?" tanya Amel membuka percakapan sekaligus memecah keheningan diantara mereka bertiga.
" Iya, Mbak..." jawab pak Darsim singkat.
"Hmm ...loh maaf..istri..anu maksudnya ibunya Ayu gak tinggal disini Pak ?" tanya Amel kembali tergagap. Duh ia ngerasa salah ucap. Mulutnya keceplosan menanyakan hal ini. Ia sempat merasa tak enak setelah mengeluarkan kata-katanya itu. Rasanya kok lancang. Tapi,sudahlah...sudah terlanjur terucap,batinnya.
__ADS_1
"Hmm...ibunya sudah tidak ada mbak..." jawab pak Darsim sempat terdiam sesaat sebelum mengatakannya. ia bahkan menghentikan suapannya. Pak Darsim tampak ragu dengan perkataannya. Tapi, tidak mungkin ia berterus terang pada gadis yang baru saja dikenalnya ini. Apalagi tadi siang ia baru saja mengalami kejadian yang mencekam.Bahkan ia pun belum sempat mengatakan kepada siapapun. Ia takut nantinya malah bisa runyam.
"Oo...maaf, Pak...saya jadi tidak enak dengan pertanyaan saya itu..Oh..iya bapak kerja di mesjid tadi ya ?Ayu tadi sempat ngobrol dengan saya..." ucapku kembali mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya, Mbak...Saya kerja bersih-bersih disana setiap pagi hari...setelah itu saya kerja serabutan. Kadang saya mulung mengumpulkan sampah-sampah botol plastik yang kemudian saya tukar ke pengepul, atau kadang saya ditawarkan ikut bantu jadi kuli bangunan kalau ada yang sedang bangun atau renovasi rumah disekitaran sini..atau kerjaan lainnya mbak...yang penting halal..."jawab pak Darsim pada Amelia. Amelia yang mendengarnya merasa terenyuh dengan ucapan pak Darsim itu. Seandainya ia bisa membantu perekonomian keluarga ini...Amel membatin dalam hatinya.
"Pak Darsim, apa boleh lain waktu jika bapak tak keberatan saya ingin ikut melihat kegiatan bapak sehari-hari...kebetulan saya ini jurnalis yang suka menulis..mungkin kalau bapak tak keberatan saya ingin menulis tentang kegiatan bapak ...Hmm...kalau bapak tak keberatan ?" tanya Amel berusaha sesopan mungkin. Ia khawatir ia dapat menyinggung dengan kata-katanya itu.
" Mbak Amel ini seorang jurnalis ?? serius mbak ? " tanya pak Darsim tampak kaget.
"Ii...iya ..Pak ..bapak tak keberatan kan ?" tanya Amel kembali.
Pak Darsim tampak memikirkan sesuatu. Ia terdiam sesaat. Betul-betul ia merasa kaget dengan semuanya. Kebetulan sajakah pertemuannya dengan mbak Amel ini ? atau sebenarnya mbak Amel ini kirimannya ? Ia ingin menjebak pak Darsim ? Darsim tampak mengernyitkan dahinya hingga kerutan-kerutan didahinya semakin jelas terlihat.
"Hmm...Pak...Pak...bapak tak apa-apa ?" Amel memanggil-manggil tampak bingung melihat pak Darsim yang tiba-tiba sedikit tertunduk dan terdiam tak menjawabnya.
"Eeh..ii..iya mbak gak apa-apa..." jawabnya sekenanya.Tapi otaknya tengah berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi ? Apa yang diinginkan orang itu padanya ?,batin pak Darsim.
__ADS_1