Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 35 : Membuntuti Misa


__ADS_3

" Jun, berhenti disini aja...", jawab Bimo sambil menepuk bahu kawannya itu. Junta pun menghentikan laju motornya. Mereka berdua masih terduduk diatas jok motor bebek butut milik Junta. Junta menarik jaket kulit hitamnya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 kurang 10. Restoran Tiam yang berada diseberang jalan terlihat tak terlalu ramai sore itu. Bahkan nyaris sepi. Tampak dua orang pegawai tengah membersihkan meja dari kejauhan.


Disebrang jalan hanya berjarak sekitar 5 meteran tampak bengkel motor. Mereka tampak menepi didekat sebuah bengkel motor yang memiliki tempat yang cukup luas untuk memarkirkan sebuah motor. Junta dan Bimo dapat melihat dari seberang apa saja yang terjadi di restoran itu. Mereka meminta izin untuk menumpang parkir sebentar pada pemilik bengkel.


"Mau sambil pesan minum bang ?" tawar sang pemilik bengkel.


" Boleh mas...2 teh botol dingin..", ucap Junta pada seorang lelaki muda dengan baju yang tampak kotor terkena oli. Hanya selang beberapa detik lelaki itu memberikan pesanan Junta. Junta memberikan sebotol pada kawannya Bimo. Mereka menunggu sekitar hampir satu jam. Sambil sesekali lelaki yang menawari mereka mengajak mengobrol ngalor ngidul. Hingga sampailah si lelaki yang ada di bengkel tersebut mengatakan sesuatu.


"Abang-abang ini macam Intel yang tengah mengintai penampilannya...serba hitam-hitam..", ucap lelaki itu pada Junta dan Bimo yang membuat mereka tiba-tiba tersedak.


"Ah...bisa aja masnya..bukan mas...kami disini mo pulang kerja ...jalanan macet...bikin capek tangan masukin kopling dan gas..sebentar-sebentar ngerem..",ucap Junta berbohong.


"Hehehe...iya bang..yah namanya jam segini pasti macet daerah sini mah ..."


"Abang-abang ini tinggal dimana ? Satu arah ?" tanya lelaki itu kembali.


"Iya ..mas...kami ngekos...di daerah Pejoto...",ucap Junta asal.


"Wiih ...masih jauh itu mah, bang...", ucap lelaki itu kembali.


" Maaf...tadi saya kira abang-abang itu Intel...pake jaket kulit serba hitam begini..."


"....habis semenjak ada pembunuhan yang punya Restoran itu tuh...banyak banget orang entah wartawan atau Intel mencari tahu...dan mampirnya biasanya ditempat saya ini...", ucap lelaki itu sambil menunjuk ke arah restoran Tiam.


Glek! Junta dan Bimo tampak menelan ludah. Merasa tertohok dengan omongan si pemuda bengkel ini.

__ADS_1


" Oo..begitu mas...emang ada pembunuhan apa ? saya baru denger dari masnya...", tanya Bimo belagak pilon. Sok tidak tahu apa-apa. Junta yang mengerti dengan tabiat Bimo ikut menimpalinya.


" Iya mas, serius ? Emang masnya tahu ? Gosip kali mas..." tambah Junta mengompori.


" Waaah...abang-abang gak tahu beritanya ? Kan ada di tipi...itu pemiliknya dibunuh...tapi polisi belum tahu motifnya...beberapa wartawan atau Intel yang nyamar, saya juga gak tahu pasti...sering nanya-nanya kesini...saya jawab apa adanya aja. Saya gak terlalu kenal sich yang punya..tapi suka lihat setiap hari pasti dateng pemiliknya...kata orang-orang sich orangnya ramah dan cukup royal...tapi gak tahu juga kenapa ada orang yang tega ngebunuh..."


"Denger-denger sih, ya..bang...katanya persaingan bisnis...ada yang bilang sebelum meninggal si pemiliknya diguna-guna orang...makanya kadang suka keliatan linglung...ini kata orang-orang disini bang...",jawab pemuda bengkel itu bercerita.


"Loh..trus mas kalau pemilik sudah meninggal, kok restoran itu masih buka ? siapa yang jalanin usahanya itu ?", tanya Junta kali ini dengan rasa penasaran sesungguhnya.


"Oo...kalau itu mah yang saya tahu kan ada pemilik lainnya...maaf ini mah ya...saya cuma dengar desas-desus aja...katanya pemiliknya sebenarnya punya pacar gitu...atau apa ya bahasa halusnya...itu semacam simpenan om-om gitulah...pria cina kaya raya katanya...makanya restorannya masih berjalan ..ini juga katanya sich bang...saya sendiri gak tahu...denger-denger isu aja...abis waktu polisi nemuin jenazahnya...restoran ini langsung jadi serbuan wartawan juga pada kesini..."


"...yah isu simpang siurlah bang...", ucap pemuda itu kembali. Junta tampak mengangguk-angguk tanda ia tengah menyimak omongan si pemuda itu. Hingga tak lama Bimo menyikut lengannya.


"Mas..ini buat teh botolnya...kembaliannya ambil saja,mas...makasih buat numpang ngasonya disini...",jawab Junta sambil mengenakan helmnya kembali.


"Oo...iya bang...bener ini kembaliannya buat saya ? Wis..makasih bang...hati-hati jalannya...masih macet kayaknya..", ucap pemuda itu tampak senang. Junta dan Bimo hanya mengangguk kembali sambil mengucapkan terima kasih. Mereka pun menyalakan motornya. Tak lama berselang seorang wanita sudah terlihat tampak menaiki sebuah metro mini dari arah sebrang. Junta seketika melajukan motornya. Berbelok arah pada tikungan didepannya. Hingga ia melihat metro mini yang telah ditumpangi Misa tepat berada selang satu mobil dari motor yang mereka kendarai. Untunglah jalanan cukup padat di jam-jam pulang kerja.


Mereka dapat mengikuti metro mini tersebut. Hingga seorang wanita tak lama turun dari dalamnya. Misa.


Junta dan Bimo mengenakan helm motor full face. Wajah mereka pun ditutupi slayer. Hingga tak tampak kecuali kedua mata mereka saja.


***


Misa tampak berjalan disebuah jalanan sepi yang hanya muat satu mobil. Daerah seperti sebuah kawasan kontrakan-kontrakan petakan. Junta yang mengendarai motor bebek bututnya tampak menjaga jarak. Ia melihat gadis itu berhenti disalah satu rumah petakan berwarna biru muda. Seorang anak berusia sekitar 12 tahun tampak membukakan pintu rumah.

__ADS_1


"Ibu...sudah pulang ?", tanya seorang bocah laki-laki lainnya yang berusia sekitar 5 tahun dan 4 tahun dari balik punggung kakaknya itu.


"Hore...ibu bawa makanan lagi tak ?", tanya bocah dibelakangnya. Wanita itu tampak menciumi anaknya satu persatu sambil mengangguk memberikan sebuah kresek hitam pada anak yang tampak paling tua. Hingga tak lama pintu dibelakang wanita itu ditutup.


Junta dan Bimo yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya terdiam.


"Gimana nich, Jun. Loe mau bertandang ?", ucap Bimo kembali.


"Hmm ...ya nggaklah, Mo...kita kesini mau tahu tentang wanita ini dulu..gw punya ide,Mo...",ucap Junta sambil menyalakan kembali motornya itu.Ia tampak menoleh kekanan dan kekiri jalanan. Hingga ia bertemu dengan sebuah warteg tak jauh dari sana.


" Misi ..mbak,mo tanya itu rumah kontrakan petakan-petakan yang ada disana punya siapa ya mbak ?", tanya Junta yang telah melepas helm dan slayer yang menutupi wajahnya.


"Oo ...itu milik Pak Dullah atau biasa dikenal dengan panggilan Pak De. Rumahnya gak jauh dari sana mas..mas jalan aja lurus ngelewatin petakan-petakan itu. Sampai ujung gang, mas belok kanan lurus aja... Sampai nanti ketemu tiang listrik pertama ada belokan, mas belok...rumah Pak De yang nomor 3 dari depan. Pagarnya warna hitam dengan tembok rumah warna hijau. Mas, ini mau ngontrak di tempat Pak De itu? kayaknya sich...kalo petakan disana udah penuh mas..tapi, mungkin mas tanya aja langsung ..mungkin ada yang mau keluar atau Pak De punya kontrakan lain..", ucap seorang mbak-mbak penjual warteg dengan rambut cepolnya. Junta yang tampak merekam omongan si mbak-mbak tampak nanggut-manggut.


"Oh..iya kalo musholla terdekat disini dimana ya mbak ?", tanya Bimo menimpali dari balik helm yang masih dikenakannya ia hanya membuka kaca dan menurunkan slayer wajahnya.


"Oh..itu mas jalan aja lurus dari sini, gak jauh kok keliatan ada mesjid ..",ucap si mbak penjual warteg kembali.


"Oh..iya, makasih mbak..",ucap Junta dan Bimo kembali.sambil beranjak pergi dari sana.


"Jun, kita ke sana mo ngapain ?", ucap Bimo kembali saat mereka telah melajukan motor kembali.


"Ntar...loe lihat aja..ntar juga loe ngerti,Mo...panjang kalo gw jelasin sekarang ..", balas Junta sambil tak lama ia berhenti di sebuah mesjid kecil. Ia memarkirkan motornya, waktu hampir menunjukkan pukul 05.30 wib, hampir menuju adzan magrib. Sedangkan mereka belum shalat ashar. Hingga dengan terburu-buru keduanya menuju tempat wudhu dan bergegas melaksanakan shalat.


***

__ADS_1


__ADS_2