
" Selamat Pagi..Dengan Pak Junta ?"
"Iya,saya sendiri ..."
"Saya Amalia, wartawan dari Sinar Suara, ada hal yang ingin saya tanyakan pada pak Junta. Bisa saya membuat janji untuk bertemu langsung dengan bapak ?" ,tanya gadis itu kembali ditelpon.
"Untuk keperluan apa mbak Amalia ?"
"Saya ingin menanyakan lebih lanjut mengenai kasus pembunuhan pemilik restoran Tiam itu pak.."
"Hmm...saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki. Jika ada informasi lebih lanjut, kami pasti akan beritahukan kepada publik dan tak ada yang ditutup-tutupi. Anda bisa cek di situs resmi kami jika ada berita update terbaru.." jawab Junta di seberang sana. Sebuah layar komputer dihadapannya tampak menyala. Pagi itu ia cukup sibuk membuat laporan dan menelusuri informasi yang telah ia dapat dilapangan.
"Maaf, jika tak ada hal penting lainnya, saya sedang sibuk hari ini,mbak Amalia.." ucap Junta dengan nada sindir tegas namun santun.
" Tunggu...Pak...saya betul-betul harus bertemu bapak. Bisakah anda beri sedikit waktu anda mungkin 1 jam saja atau 30 menit pun juga tak apa..", ucap Amalia dengan nada memelas yang setengah memaksa.
" Hmm...baiklah...besok sore pukul 4 anda tunggu saya di kantin kantor kami.." jawab Junta sekenanya. Ia tengah sibuk dengan pekerjaannya kala itu. Hingga ia ingin segera menyudahi telpon di seberang sana.
"Baik, Pak. Terima kasih..." ucap Amelia yang tanpa banyak basa-basi suara klik terdengar dari sebrang sana. Tanda putusnya sambungan telpon yang sedang ia lakukan.
Untunglah!,batinnya. Amalia tahu ia tidak dapat bergerak sendiri untuk mencari tahu apa kaitannya korban pembunuhan pemilik restoran Tiam ini dengan istri pak Darsim. Ia harus bekerjasama dengan pihak kepolisian. Tapi, ia tahu ia tak mungkin bertindak gegabah. Karena ia tak ingin ambil resiko dengan kasus yang sedang ia telusuri.
Junta. Entah kenapa nama itu tiba-tiba saja terlintas dibenak Amalia. Polisi muda itu. Firasatnya seperti menyuruhnya meminta bantuan lelaki ini untuk mencari tahu. Tapi ia pun belum memiliki strategi untuk menghadapi polisi ini nanti.
***
Di kantor kepolisian....
__ADS_1
Junta tengah memutar tayangan hasil wawancaranya dengan para pegawai di restoran Tiam bersama rekan satu timnya. Mereka bertiga. Junta selaku investigator, Supriadi selaku kepala divisi kriminalitas dan pembunuhan, dan seorang polisi lainnya, ia yang paling junior di kepolisian diantara dua kawannya,Bimo.Tetapi usia mereka tak terpaut jauh hanya berbeda 1-2 tahun saja.
"Kau datang langsung mewawancarai mereka, Jun ?" tanya Bimo yang duduk disisi lelaki itu.
" He-eh.." ucap Junta singkat.
"Coba kau cek rekaman video wawancaraku, Bim..kau kan ahli dalam bidang psikologi dan analisis mimik wajah..coba kau cek hasil wawancaraku ini...kau beri masukan.." ucap Junta pada partnernya itu. Bimo mengangguk menatap layar monitor komputer yang tengah memutar hasil rekaman video wawancara Junta dengan para pegawai restoran Tiam..
" Hmm..coba kau stop dulu bagian itu ..dan kau putar ulang kembali video itu dari sini ..'"tiba-tiba Bimo menunjuk layar monitor. Junta mengikuti instruksinya.
"Nah..coba kau perhatikan, Jun..aku tidak bisa menjustifikasi seseorang hanya lewat video. Tapi kau lihat mimik dan gesture tubuh wanita ini. Ia seperti tertekan. Seperti ada yang ia tutupi. Dan coba kau lihat..ia tadi menyebut nama sebuah klinik yang kau tanyakan..."
Bimo tiba-tiba saja berseru pada Junta partnernya. Ia mempause tayangan video yang tengah diputar. Tayangan dimana sedang menayangkan bagian Misa, seorang pelayan wanita yang tengah diwawancarai Junta kala itu. Wajahnya tampak pucat, keringat yang cukup deras mengalir dari dahinya. Ia tampak gugup didalam video itu.
"Coba kau putar ulang sekali lagi..Ah..ini..klinik Cahaya Pelita..ini mungkin bisa menjadi salah satu petunjuk untuk kita,Jun memecahkan kasus ini..dan aku rasa kita perlu menggali lebih dalam wanita ini..aku mencurigai ia mengetahui sesuatu...tapi aku tidak bisa sembarangan menuduh...bisa jadi juga ia gugup karena pertama kali diwawancarai olehmu sebagai seorang polisi ..", ucap Bimo bersemangat sambil sebelah tangan kirinya menopang dagu diatas meja.
Video kembali berjalan memutar tayangan rekaman wawancara itu. Junta dan Bimo menyimak setiap kalimat yang diucapkan. Terutama Bimo, ia betul-betul memperhatikan setiap mimik dan raut wajah orang-orang yang di interview Junta, partnernya.
"Jun,coba kau stop lagi bagian tadi. Bagian si Anto yang berbicara.." potong Bimo seperti yang sebelumnya.
"Kenapa lagi,Mo ? "
"Lelaki nampak tidak asing bagiku..." ucap Bimo.
" Iya..kita memang pernah bertemu dia saat pertama kali datang di TKP, Mo.." ucap Junta.
"Ah,iya...Nah coba kau lihat gelagatnya,Mo.."
__ADS_1
"Hmm...iya..Dia tampak gugup seperti Misa.."
"Bukan cuma itu...tapi lihat ucapan dan cara bicaranya...ia seperti mengenal baik Bu Rumayyah,Jun..tapi, sepertinya ada sesuatu yang ia ketahui dari wanita itu tapi ia mencoba menutupinya.."
" Iya..aku juga merasa ada yang janggal dengan lelaki ini...dan..sebentar... coba kuputar ulang lagi..." ucap Junta menekan tombol rewind.
"Dia menyebut nama seorang pria...Mr.Chan...kau lihat ...ia mencurigai lelaki yang bernama Chan...seperti ia mengetahui sebuah rahasia yang tak diketahui orang lain tentang lelaki ini dan si korban..."
"Hmm...iya, kau benar Jun...kita harus menyelidiki lebih dalam siapa si Chan ini serta hubungannya dengan korban...mungkin kita bisa korek dari si Anto ini ...bukankah ia salah satu pegawai kepercayaan korban bukan ?kau ingat waktu pertama kali kita di TKP ?"
"Aku rasa lelaki ini tahu banyak tentang si korban...tapi ia nampak seperti takut untuk mengungkapkannya.."
"Kau masukkan dia Jun...menjadi salah satu daftar saksi yang perlu kita gali lebih dalam.." ucap Bimo sambil mengangguk-ngangguk. Seolah ia tengah berdialog dengan dirinya sendiri.
" Supri sudah tahu tentang video ini, Jun?" tanya Bimo seketika.
" Belum...aku pun baru melihat hasil videonya hari ini...Supri, dia kan kepala divisi kita,Mo..pekerjaan dia masih banyak...kita tak perlu banyak mengganggunya...Toh, dia sudah memberikan mandat kepada kita untuk menyelesaikan kasus ini. Tapi, aku akan berikan rekamannya padanya...agar dia pun bisa tahu perkembangan kasus yang kita tangani ini,Mo.."
"He-eh ...aku setuju dengan pendapatmu,Jun.." balas Bimo.
" Oh, iya siang ini kenapa kita tak coba datangi saja dulu tempat klinik..apa itu tadi..klinik tempat berobatnya si korban...mungkin ada rekan medis korban yang bisa kita telusuri untuk menyelesaikan kasus ini.. "
" Ya..aku baru berpikir hal yang sama. Jam makan siang saja kita langsung menuju kesana..kau ikut ya,Mo.."
"Siap,Bro.." jawab Bimo sambil mengacungkan jempol ke rekannya itu.
***
__ADS_1