
Jenazah baru saja dikebumikan dengan upacara sederhana sesuai syariat Islam. Agama yang tertera di identitas korban. Junta, Bimo dan kepala divisi mereka hadir dalam pemakaman tersebut. Serta ketua RT dan warga sekitar rumah tinggal pun ikut hadir didalamnya.Para pegawai korban pun ikut turut menghadiri acara pemakaman tersebut. Dan...seorang wanita dengan kaos kemeja kerah dan celana jeans serta kacamata yang semuanya serba hitam. Siapa lagi kalau bukan Amalia. Matanya tampak menangkap salah seorang sosok yang ia kenal, Pak Darsim. Ia melihat pak Darsim ada didalam kerumunan orang yang mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Tetapi tak ada Ayu disana.
Setelah acara selesai, satu persatu orang mulai tampak meninggalkan area pemakaman. Amalia mendekati Darsim.
" Pak Darsim, bapak ikut kesini ? Bersama Ayu pak ?" ucap Amalia pada Darsim yang tengah berdiri dan menoleh padanya.
"Eh..mbak Amalia..iya,mbak ..saya sendiri kesini...Ayu ada dirumah,mbak..." jawabnya.
"eh...mbak Amalia..dan pak Darsim...sudah saling kenal rupanya ?",ucap Junta dan Bimo yang menghampiri keduanya.
"Oh..ii..iya pak...saya dan mbak Amalia sudah saling kenal...Ia wartawan yang pernah mewawancarai kegiatan saya untuk topik tulisannya waktu itu..." ucap Darsim menjelaskan. Amalia yang tampak kikuk hanya mengangguk tersenyum.
"Baiklah..mbak Amalia, pak Darsim telah menceritakan semuanya pada saya..dan...mengenai balasan chat kemarin, jika tak keberatan bagaimana kalau kita sambung pembicaraan ini dikantor polisi saja...biar enak...oh iya, ini perkenalkan terlebih dahulu rekan saya, yang sama-sama membantu saya dalam kasus ini..."ucap Junta sambil mempersilahkan Bimo memperkenalkan dirinya langsung kepada kedua orang narasumbernya itu.
"...perkenalkan...nama saya Bimo...saya satu divisi dengan mas Junta...yang sama-sama menangani kasus korban ini .." ucap Bimo menyalami keduanya.
"Baiklah...kalau begitu kita pergi saja dari sini menuju kantor bapak..eh,salah...mas Junta" ucap Amalia memotong pembicaraan lebih lanjut.
"Hmm...saya bawa motor tadi kesini...barengan dengan Bimo.." ucap Junta merasa tak enak hati tak bisa memberikan tumpangan pada wanita itu.
"ooh...gak apa-apa,mas...saya juga bawa motor...biar pak Darsim dibonceng saya saja mas.." ucap Amalia sambil tersenyum memperlihatkan gigi putih rapinya itu. Sedikit lesung pipi dikedua pipi gadis itu nampak terlihat. Bimo yang sedari tadi memperhatikan gadis itu tampak terperangah. Kecantikan khas wanita lokal ada pada diri gadis itu. Junta terpaksa menyikut lengan kawannya itu. Menyadarkannya.
"Eeh ..eh..ii iya...kalau begitu kita meluncur sekarang..."ucap Bimo mengangguk-angguk tampak salting.
Mereka beranjak menuju parkiran motor di area TPU tersebut. Tanpa mereka sadari seseorang yang masih berada disekitaran area pemakaman tampak mencuri dengar pembicaraan mereka. Ia berada dengan kawanannya yang masih menyeruput sebotol minuman dingin dan beberapa gorengan ditangan. mereka tampak tengah berteduh dari sengatan panas matahari pagi di tengah pemakaman yang nampak sepi.
Junta,Bimo,Amalia dan Darsim perlahan mulai melajukan motor menuju kantor kepolisian. Deruman suara motor mereka yang mulai menjauh dari area pemakaman terdengar hingga kepada lelaki yang tengah berada dalam kawanannya itu.
***
"Jun..itu cewek yang loe chat ya ? cakep bener..Jun..kagak ngomong-ngomong loe sama gw...giliran yang cakep diem-diem loe...maen belakang ama gw .." ucap Bimo yang duduk di jok penumpang.
__ADS_1
"ya..iyalah...loe kan saingan gw...jomblo akut.." balas Junta meledek kawannya sambil mengendarai motor Nmaxnya.
"Loe kok bisa kenal sama dia,Jun...dapet darimana ?" tanya Bimo penasaran. Ia tahu betul selera seniornya itu.
"Ada..deh...dia duluan yang ngejar gw..." balas Junta. Ia memang senang membuat penasaran rekannya itu.
"Idih...najis loe!sok tenar kecakepan banget...! kasih tahu donk mas Jun...ntar gw traktir cilok dah..." ucap Bimo sambil mencolek leher temannya itu dari belakang.
"Idiih ...najis loe,Mo..nyogok gw pake cilok...loe kira gw bocah SD keles...!Saingan dulu loe ama gw..."jawab Junta sambil ngakak geli melihat tingkah Bimo padanya. Junta tahu betul selera kawannya itu. Meskipun muka pas-pasan Bimo sangat selektif memilih wanita. Dan dia bisa membedakan wanita cantik yang patut didekati dan mana yang harus dijauhi.
***
Markas besar kepolisian tampak lenggang menjelang siang itu. Junta mengajak Darsim dan Amalia bertemu di meja kerjanya.
"Silahkan duduk, mbak.. pak...tak perlu sungkan..anggap saja sepert dirumah sendiri...maaf, saya gak ngajak ke kantin, takutnya rame jam segini...dan kurang nyaman untuk membicarakannya disana..", ucap Junta sambil menarik 2 buah kursi dan mempersilahkan kedua tamunya itu duduk.
" Sebelumnya, saya pengen bertanya sedikit ke pak Darsim...untuk mbak Amalia mungkin kalau agak sedikit bingung dengan apa yang kami bicarakan, bisa sambil mendengarkan saja dulu ya disini..."
"Oo...ada pak..ini semua ada dalam hp saya ini..semua isi pesannya belum ada yang saya hapus pak..", ucap Darsim sambil menyerahkan handphonenya itu. Junta dan Bimo kali ini saling memandang saat menerima handphone yang diberikan Darsim pada mereka.
Ternyata pak Darsim tak berdusta mengenai hal itu. Mereka membaca sendiri isi pesan text yang dikirimkan seseorang pada lelaki itu. Junta dan Bimo mencatat nomor telepon sang pengirim pesan.
"Hmm...sepertinya lelaki ini mengenal seluk beluk istri bapak ya, jika melihat isi pesannya ? apa bapak tahu, atau kira-kira adakah orang yang menurut bapak patut dicurigai ?atau mungkin bapak atau istri bapak dulu pernah punya musuh atau orang yang benci dan tak suka dengan bapak atau istri bapak sendiri ?", tanya Bimo mengawali pembicaraan diantara mereka kembali.
" hmm ...apa ya pak...saya kurang tahu juga...dahulu sebelum datang ke Jakarta saya hanya berjualan bakmi di kampung...saat pindah ke sini pun saya kerja menjadi marbot dimesjid dan sisa waktu lainnya saya gunakan untuk kerja lainnya secara serabutan...kadang saya jadi tukang bangunan untuk rumah-rumah disana jika ada yang sedang dibangun atau renovasi, atau pernah juga saya jadi supir atau kalau sedang kosong, saya mulung saja..."
"...yah...saya kurang tahu juga apakah ada orang yang tak suka dengan saya atau istri saat itu...istri saya sendiri, ia biasanya jadi buruh cuci dan setrika di setiap rumah didekat tempat kami tinggal, Pak.."
"....selama itu pula, kami merasa tak ada masalah dalam bergaul dengan lingkungan kami...saya rasa begitupun dengan tetangga disekitar rumah kami...tapi, entahlah jika mungkin satu atau dua orang yang tak menyukai kami...", jawab Darsim sambil matanya terlihat menerawang. Seperti ia tengah mengingat dan merecall segala kenangan yang ada diingatannya itu.
Amalia yang turut mendengarkan pembicaraan keduanya hanya terdiam. Ia mengerti sebenarnya dengan pembicaraan yang tengah kedua polisi itu obrolkan pada Darsim. Toh, iapun telah lebih dulu mengetahuinya dari pak Darsim. Tapi ia berpura seolah tak tahu menahu hal ini. Ia teringat ia tak menceritakan sesuatu yang sebenarnya terjadi pada Junta. Ia khawatir hal itu dapat membahayakan nyawa pak Darsim dan Ayu nantinya. Tetapi, ternyata tanpa sepengetahuannya lelaki ini telah menceritakan segalanya pula pada kedua polisi dihadapannya itu.
__ADS_1
"Mas, bolehkah saya melihat isi pesan yang ada dihape itu ?", tanya Amalia terhadap kedua polisi muda didepannya itu sambil menunjuk pada handphone Darsim yang masih berada digenggaman Bimo. Bimo melirik ke arah Junta meminta persetujuan seniornya itu. Junta hanya mengangguk mengiyakan. Bimo pun mengulurkan hape yang ditangannya pada Amalia itu.
Amalia membuka pesan. dibacanya satu persatu pesan text yang ada dalam inbox.
" Bapak pernah mencoba menghubungi nomor telepon ini kembali ? ",tanya Amalia pada lelaki disampingnya itu.
"Yah...tentu pernah mbak..seperti yang saya ceritakan pada mbaknya..waktu saya janji bertemu dengan orang ini, ketika berada di taman kota..."ucap pak Darsim polos. Junta tampak mengerutkan dahinya ketika Darsim mengatakannya sambil menatap gadis disampingnya itu. Amalia yang melirik ke arah lelaki didepannya itu, sedikit kikuk.
"Mbaknya sudah tahu ?", tanya Bimo dan Junta nyaris berbarengan. Wajah Amalia tampak memerah. Ia menganggukkan kepala. Sambil setengah menunduk, merasa tak enak dengan tatapan kedua polisi muda dihadapannya itu, terutama Junta, Amalia pun terpaksa menceritakan semua kejadiannya sejak pertama kali ia bertemu pak Darsim sampai hari ini. Jadi.. begini ceritanya ..
" Dulu saya bertemu pertama kali dengan pak Darsim ditaman kota dan...kemudian....bla...bla...bla...",Amalia akhirnya menceritakan semuanya. Ia tidak lagi menutup-nutupinya. Toh pak Darsim sudah ceritakan semuanya. Junta dan Bimo sesekali saling melirik sambil menganggukkan kepala.
"Mengenai foto yang mbak ceritakan itu berarti...pak Darsim sendiri yang memberikannya pada mbak Amalia ?", tanya Junta dengan intonasi menekankan. Entah kenapa lelaki ini sedikit kecewa mengetahui wanita yang tampak polos dihadapannya itu berdusta padanya.
"Iya..atas permintaan saya mas..." ucap Amalia dengan sorot mata tertunduk. Ia merasa sungkan dan tak enak hati pada polisi dihadapannya itu.
"Saya terpaksa menutupi mengenai pak Darsim ini, karena saya khawatir akan keselamatan beliau dan Ayu, anak kandung pak Darsim yang masih kecil..ketika saya tahu pak Darsim tengah diteror oleh seseorang yang mengaku mengenal istrinya yang sudah hilang lama..dan mengajak beliau bertemu tepat disaat kejadian dan di TKP..."
"...hmm...saya curiga masalah beliau ada kaitannya dengan kasus yang polisi tangani..jadi..saya berinisiatif mencari tahu semuanya dulu..saya khawatir jika saya bercerita pada ...masnya...saya salah bicara dan akan memperkeruh kasus ini...atau..mungkin justru membahayakan keselamatan pak Darsim dan anaknya...", terang Amalia kepada kedua polisi muda itu maupun pak Darsim.
"Ya...saya minta maaf pada mbak Amalia, saya juga bertindak sendiri...datang kesini dan menceritakan semuanya pada bapak polisi ini...tanpa konfirmasi dengan mbak terlebih dahulu...",ucap pak Darsim sambil menunjuk pada Junta. Bimo dan Junta hanya saling melirik tampak menganggukkan kepala. Mereka mulai memahami situasi dari kedua orang dihadapannya ini.
"Ummm...baiklah..saya mulai mengerti maksud mbak Amalia dan pak Darsim.."
"Untuk kedepannya jika kalian ada sesuatu mengenai kasus ini...bisa hubungi saya atau Bimo rekan saya ini...dan mungkin..
benar tadi yang disampaikan mbak Amalia...saya khawatirnya ada seseorang yang mengintai pak Darsim...dan mungkin ada kaitannya dengan kematian korban...bisa membahayakan kalian..jadi jika kalian punya informasi apapun tentang kasus ini..cukup kalian ceritakan pada saya atau Bimo rekan saya ini...",ucap Junta sambil ia merobek secarik kertas berisi nomor teleponnya dan Bimo pada Amalia dan pak Darsim.
"Dan...pak Darsim..boleh saya pinjam hp bapak ini untuk 1 atau 2 hari ke depan..sebagai salah satu barang bukti...kami akan coba cari tahu siapa pengirim dan lokasinya...kami akan coba tracking dengan bagian IT kami..nanti akan saya kembalikan langsung ke bapaknya..",sela Bimo pada lelaki tua dihadapannya itu.
" Silahkan mas...kalau memang bisa membantu...",ucap Darsim sambil menganggukkan kepala sebagai tanda mempersilahkan dengan kesopanan.
__ADS_1
***