Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 38 : Rahasia Sang Pengacara


__ADS_3

"Permisi, Jun, ada pengacara nyari loe tuh",ucap seorang polisi wanita disambungkan telepon ekstensi.


"Siapa ? Untuk keperluan apa ?",tanya Junta kembali.


"Untuk mengurus masalah surat keterangan kematian korban atas nama Rumayyah..",jawab polisi wanita itu.


"Antar ke ruangan gw aja ",ucap Junta kembali kepada rekan sesama polisinya.


Polwan itu pun menutup sambungan teleponnya. Membawa si pengacara ke ruangan Junta. Hingga beberapa menit kemudian..


Tok..Tok..Tok..


"Masuk saja ..",ucap Junta. Si polwan yang berjalan didepan diikuti si pengacara berjalan dibelakangnya.


"Silahkan Pak...ini dengan mas Junta..", ucap polwan tersebut.


"Silahkan duduk,Pak..",ucap Junta seraya menyalami dan mempersilahkan pria didepannya duduk berhadapan dengannya.


"Terima kasih...",ucapnya datar.


"Ada keperluan apa yang bisa saya bantu ?",tanya Junta selanjutnya.


"Begini ..sebelumnya saya izin memperkenalkan diri saya dulu. Nama saya Jayadiningrat, panggil saja dengan sebutan pak Jay. Saya selaku pengacara pribadi dari nyonya Rumayyah dalam masalah kepengurusan usaha restoran yang dimilikinya.

__ADS_1


"Oo...",ucap Junta sambil menganggukkan kepala.


"Saya kesini untuk mengurus mengenai surat keterangan dari pihak kepolisian mengenai penyebab kematian nyonya Rumayyah serta akte kematian dari pihak rumah sakit kepolisian..",ucap si pengacara kembali.


"Hmm...Baiklah...mengenai surat keterangan kepolisian penyebab kematian nanti saya buatkan beserta mengenai akte kematian yang nanti akan saya konfirmasikan pula dengan pihak rumah sakit kami. Hanya prosesnya tidak mungkin bisa langsung selesai sekarang. Mungkin 1 atau 2 hari lagi baru bisa keluar..",terang Junta yang sejujurnya ia sedikit shock. Kenapa pengacara korban baru muncul sekarang bukan sejak berita kematiannya dipublikasikan dimedia.


"Oh..maaf pak Jay sebelumnya..kalau boleh tahu mengapa anda tidak menelepon kami terlebih dahulu sebelumnya. Agar kami bisa mengurus apa yang anda minta dan anda tidak sia-sia datang kesini ?", tanya Junta dengan sopan dan hati-hati.


"Iya..sebetulnya sejak saya mendapatkan kabar kematian beliau, saya ingin langsung mengurus semuanya, tapi karena saya sibuk dengan pekerjaan saya yang lain..kebetulan saya juga punya kantor pengacara sendiri...jadi saya baru sempat mengurus masalah klien saya ini...",terang pak Jay pada Junta.


"Baiklah..kalau besok pagi bisa saya ambil kembali kesini ?",tanya pak Jay kembali.


" Insyaa Allah, bisa Pak..nanti saya titipkan saja di meja depan..jadi kalau saya tidak ditempat, pak Jay bisa langsung ambil saja..",ucap Junta kembali.


Ia pun menyalami Junta dan keluar dari ruangan polisi muda itu. Menyusuri kembali jalanan ibukota yang penuh kemacetan. Pagi itu ia kembali ke kantor firma hukum miliknya sendiri.


***


Jayadiningrat & Partners Law Firm.


Sebuah plang besar tertera dengan lampu terang menyala disalah satu gedung perkantoran dikawasan ibukota. Sebuah gedung yang cukup besar. Bagian tembok depan pagarnya terbuat dari batu marmer warna merah bata. Tampak mewah penampilan gedung firma hukum itu dari depan.


Seorang satpam memberi hormat ketika ia memasuki pintu lobby depan. Lelaki itu masuk dan menaiki gedung yang hanya terdiri dari 4 lantai saja, yang semuanya adalah milik firma hukumnya.

__ADS_1


Ia menaiki lantai 2. Tempat kerjanya berada. Berjalan menyusuri pintu kaca memasuki ruangannya. Pada bagian depan seorang resepsionis wanita dengan wajah cantik dan penampilan yang menarik menyambutnya.


"Selamat pagi, Pak Jaya...",ucapnya tersenyum ramah. Pria itu hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala.


Lelaki itu memasuki sebuah ruangan dengan pintu kaca yang didepannya terukir : Dr. Jayadiningrat,S.H.,M.H., Managing Partner.


Ia duduk diatas kursi kerjanya. Pagi itu wajahnya tampak kurang bersemangat. Jayadiningrat merupakan pengacara kondang dalam masalah hukum bisnis. Ia biasa menangani kontrak-kontrak besar perusahaan. Bayaran untuk pengacara sekelasnya puluhan juta hingga ratusan juta untuk sekali kontrak. Hingga ia bertemu Heise-Fang. Seorang istri milyuner ternama di Hongkong. Ia dibayar mahal saat itu untuk mengurus segala keperluan wanita itu. Mengurus pergantian nama sampai pendirian usaha restoran Tiam milik wanita itu.


Suaminya telah menjadikan ia sebagai pengacara pribadi bagi istrinya itu dalam mengurus segala keperluan usahanya. Hingga...entah khilaf entah pula cinta... Seperti pepatah Jawa alon-alon asal kelakon...cinta pun tumbuh karena keterbiasaan...


Suaminya pulang kembali ke Hongkong karena urusan mendadak. Ia meminta Jaya mengurus segala keperluan istrinya yang hidup sendiri. Alah bisa karena biasa. Mungkin itulah sebab musabab, lelaki itu menikah siri dengan istri clientnya sendiri.


Heise-Fang yang telah berubah menjadi Rumayyah berkat bantuannya pula menjelma menjadi wanita yang menarik dalam pandangan Jaya kala itu. Ia berusaha professional. Tapi ia bukanlah malaikat. Ia seorang duda dengan dua orang anak berusia remaja. Anak sulungnya lelaki yang juga pengacara. Ia telah mapan dan tidak tinggal bersamanya. Anak bungsunya adalah perempuan yang masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir. Seorang penulis novel. Dan tinggal disebuah kosan tak jauh dari kampusnya. Jadi, tinggallah Jaya seorang diri di rumahnya yang cukup luas.


Kebersamaannya dengan Rumayyah, clientnya itu, menjadikan Jaya merasakan desiran didalam dadanya. Duda itu bukanlah seorang yang agamis. Tapi pantang baginya merusak harga diri dan ketenarannya karena wanita. Usianya pun terbilang matang bagi seorang pria dengan finansial yang sangat mapan.


Entah bisikan darimana, lelaki itu akhirnya memberanikan diri meminta dengan sopan Rumayyah menjadi istrinya. Heran bercampur senang, wanita tersebut tak menolaknya. Mereka menikah siri. Sebuah pernikahan tanpa dicatatkan dicatatan sipil. Sekedar saksi dan penghulu saja. Jaya menjadikan supir dan pembantunya sebagai saksi dalam pernikahan itu.


Kehidupan rumah tangga keduanya tak seperti layaknya sepasang suami istri sah. Mereka masih tetap tinggal terpisah. Hanya saat weekend saja Rumayyah pulang ketempat Jaya. Hingga tak ada seorang pun yang mengetahui hubungan keduanya kecuali supir dan pembantu Jaya.


Hanya saja pernikahan mereka tak berlangsung lama. Baru juga 5 bulan menikah, Rumayyah dinyatakan tewas terbunuh dirumahnya sendiri.


Suami sah Rumayyah, Lee Chan belum menghubungi apapun kepada pria itu. Ia tak membicarakan apapun mengenai istrinya itu. Jayalah yang akhirnya berinisiatif mengurus segala yang ditinggalkan wanita itu. Termasuk restoran Tiam,yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2