
"Selamat Pagi..mas Junta, saya Amelia. Hmm ...klo anda tak keberatan ada yang ingin saya bicarakan langsung dengan anda,mas..",ucap Amelia melalui sebuah pesan teks yang ia tujukan pada lelaki yang bernama Junta itu.
Junta yang berada dimeja kerja seperti biasanya melihat pesan teks itu. Ia membalas gadis itu dengan singkat.
"Boleh,mbak. Hari ini saya ada dikantor seharian. Jika ada yang ingin dibicarakan mungkin bisa langsung dikantor saya saja",jawab Junta melalui pesan teks pada gadis itu. Amelia yang membaca balasan langsung dari polisi muda itu, tanpa banyak cakap, ia pun beranjak pergi menuju ke kantor kepolisian. Entah mengapa ia mulai merasa cemas akan si penelepon misterius. Ia sadar kesalahan ada di dirinya. Ia dahululah yang lebih dulu menghubungi si penelepon misterius karena rasa ingin tahu yang besar untuk mengungkap siapa pemilik nomor yang telah menghubungi pak Darsim kala itu. Tapi, nyatanya kini ia merasa terjerumus lebih dalam dalam menyelidiki kasus pembunuhan ini. Ia hanyalah seorang wartawan. Tapi, isi pesan terakhir penelepon misterius itu mulai membuatnya cemas. Jika benar dugaannya, berarti lelaki itu mengetahui dimana ia tinggal.
Laju motornya ia derukan dengan kecepatan maksimal yang ia sanggupi. Amelia dengan cukup lihai menyalip diantara kemacetan ibukota meskipun rasa nyut-nyut dikakinya masih dirasakannya
Hingga setelah 1 jam lebih mengendarai motor dari kantornya menuju kantor kepolisian Junta akhirnya ia sampai...
"Selamat Pagi,Mas Junta...",ucap Amelia ketika ia memasuki ruangan lelaki itu. Ia masuk tanpa didampingi pegawai kepolisian yang lain. Mereka sudah tahu bahwa ia adalah tamu Junta dan sudah terbiasa memasuki ruangan milik lelaki itu.
"Selamat Pagi,Mbak ..Silahkan duduk ..",ucap Junta dengan sopan. Junta agak kaget melihat gadis itu berjalan agak terseok.
"Maaf, Mbak Amelia kenapa dengan kakinya ?",tanya Junta yang tampak menatap ke kaki gadis itu.
"Oh...ini...kecelakaan,Mas...dan karena ini saya kesini...ada yang ingin saya ceritakan dengan mas Junta langsung..",ucap gadis itu kembali. Junta hanya merespon dengan anggukan kepala saja.
"Iya..silahkan mbak...apa yang ingin mbak sampaikan ? Ceritakan saja..",ucap Junta dengan tutur kata lembut dan santun. Sorot mata teduh tapi tegas dari lelaki itu membuat Amelia merasa nyaman dan yakin untuk berkata jujur mengenai apa yang terjadi sejak awal ia menghubungi si penelepon misterius itu.
"Jadi begini, Pak...sejak saya mengetahui nomor si penelepon yang menghubungi pak Darsim...saya berinisiatif mencari tahu tentangnya...dan saya berupaya memancing si pemilik nomor untuk dapat berkontak dengan saya...dan setelah itu...kami saling berkontak dan saya memancingnya dengan mengajaknya bertemu langsung di sebuah restoran...",ucap Amelia menggantung. Ia tampak menarik napas beberapa kali dan menghelanya dengan sedikit berat. Seakan ada sesuatu yang mendekat kerongkongannya.
"...Dan kemudian....ia datang...lelaki itu datang dan saya melihatnya ...",ucap Amelia sambil matanya tampak menerawang mengingat kejadian direstoran itu.
__ADS_1
"Apa ? Jadi Mbak bertemu dengannya langsung ? Melihat wajahnya ?",respon Junta tampak sangat terkejut. Amelia tampak ragu menganggukkan kepalanya.
"Hmm...iya,Mas...saya melihatnya...Tapi tak begitu jelas...ia seolah mengetahui niat saya saat itu ...Saya berniat mengelabuinya kala itu. Saya meminta salah seorang rekan jurnalis saya yang menurut pendapat saya ia yang paling cantik, untuk berpura-pura menjadi diri saya dan mencari informasi lelaki ini...Tapi sepertinya dugaan saya salah... lelaki ini jauh lebih pandai dar prediksi saya...ia sepertinya mengetahui niat saya...dan inilah mengapa kaki saya seperti ini...",ucap Amelia dengan menggigit bibir ia tampak ragu dan dahinya berkerenyit seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat.
" Maksudnya,mbak ?saya kurang paham..bisa mbak Amelia jelaskan dengan detail ?",tanya Junta penasaran. Ia sebenarnya bisa menebak jalan pikiran gadis itu. Tapi ia tak ingin jawaban yang diperolehnya adalah hanya prasangka dirinya belaka. Ia ingin mendengar langsung dari gadis ini cerita sebenarnya.
"Yah...setelah pertemuan itu ...beberapa hari lalu...seseorang menyerempet saya saat pulang kerja dekat dengan kosan saya...saya tak dapat melihatnya..saya pikir saat itu, hanyalah kecelakaan tak disengaja..",ucap gadis itu kembali. Amelia kembali menarik nafas dan menghelanya dengan tampak berat.
"...hmm...tapi, kemudian...saya merasa prasangka saya itu salah...sepertinya lelaki ini yang berniat mencelakai saya...karena setelah kecelakaan itu,ia menghubungi saya lewat pesan singkat...yang membuat saya menduga ia adalah dalang dari kecelakaan yang terjadi pada saya malam itu,Mas...",jawab Amelia kembali. Junta mulai mengerti jalan cerita yang disampaikan gadis itu.
"Apa saya boleh lihat isi pesan darinya itu ?",tanya Junta pada Amelia. Ia merasa gadis ini mulai tampak cemas dan seolah tengah memiliki beban pikiran berat. Mungkin ia shock dengan apa yang terjadi,begitu dugaan Junta.
Amelia memberikan handphone dan memperlihatkan seluruh pesan singkat lelaki itu sejak dari awal mereka saling berkontak. Junta yang membaca pesan-pesan itu mulai bisa membayangkan kronologi kejadiannya.
"Apa ? Kau merekam plat kendaraannya ?",Junta tampak semakin kaget mendengar penjelasan gadis itu. Tapi Amelia hanya mengangguk, Sambil membantu lelaki itu untuk membuka pesan video yang ada di handphonenya.
Junta melihat isi rekaman video itu. Sial memang gadis itu tampak bergoyang dan meleset saat merekam wajah lelaki itu. Hingga hanya sisi lengan kebawah saja yang terlihat pada video yang ditampilkan. Terlihat sepertinya lelaki itu mengenakan jaket hitam dan celana jeans. Tak ada atribut aneh atau sesuatu yang menonjol yang terlihat dalam gambar video. Tapi, betul saja. Amelia menyorot plat nomor motor itu dengan sangat jelas. Jenis kendaraan dan platnya tampak sangat jelas. Junta tampak berkerenyit. Ia merasa seperti tak asing dengan motor yang digunakan oleh lelaki itu.
"Oh iya, apakah saat seseorang menyerempet mbaknya...mbak melihat atau ingat dengan nomor plat kendaraan yang digunakan tersangka saat itu ?",tanya Junta kembali.
"Untuk itu saya tidak melihatnya,Mas ..jalanan tampak gelap. Tak ada lampu jalan menuju ke arah kosan saya di gang itu ..tapi, saya samar dapat melihat itu adalah sebuah sedan...tapi saya tak dapat mengenali warna,jenis atau mereknya...apalagi plat nomornya ...ia berjalan dengan kecepatan yang cukup cepat untuk sebuah mobil berjalan di gang tersebut..",jawab Amelia kembali.
"Boleh saya minta rekaman video ini ?Saya yakin ini sudah menjadi sebuah bukti yang kuat untuk mengungkap kasus kecelakaan pada mbak Amelia ..dan mungkin tersangka yang mencelakai mbak Amelia ini akan menjadi poin penting yang dapat mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi juga...",ucap Junta pada gadis itu. Sambil ia menyalakan fungsi bluetooth pada handphonenya dan handphone milik gadis itu. Ia mentransfer video itu ke handphonenya dengan persetujuan berupa anggukan Amelia.
__ADS_1
"...Oh, iya sebaiknya mbak mulai berhati-hati kemanapun mbak pergi ...Jika mbak merasa ada yang mengikuti atau sesuatu yang janggal langsung saja hubungi kontak saya...Insyaa Allah saya akan membantu semaksimal yang saya bisa.."
"...dan bagaimana dengan kakimu ? Apakah sudah diperiksakan ke dokter ?",tanya Junta dengan penuh perhatian pada gadis dihadapannya itu. Amelia hanya menggeleng.
"Saya rasa bukan luka parah, Mas...hanya lecet dan keseleo saja...saya sudah coba tangani sendiri...mungkin beberapa hari nanti juga akan pulih sendiri..",jawab Amelia menatap pria dihadapannya itu. Sebuah desiran aneh terasa didalam dada gadis itu saat matanya beradu dengan polisi muda dihadapannya.
"Aiiissh ...apa sich..Mel..jangan ge-er donk..professional dikit kek...jangan keganjenan...",ucapnya membatin pada dirinya sendiri. Ia berupaya mengendalikan perasaan yang datang begitu saja. Tapi entah mengapa, ia merasa pipinya memanas dan...rasanya...ia berupaya menahan malu kini. Ia coba palingkan matanya dari tatapan pria dihadapannya itu. Junta hanya tersenyum melihat gadis dihadapannya itu.
"Sebaiknya jangan dibiarkan ..kalau tidak diperiksakan ke dokter ...minimal ke puskesmas...atau dibawa ke tukang urut yang ahli untuk masalah terkilir seperti mbak...agar bisa segera cepat ditangani dan cepat sembuh..atau mau saya antarkan ? saya tahu tukang urut yang cukup terkenal untuk masalah seperti kaki, mbaknya...",ucap Junta menawarkan bantuan pada gadis itu. Entah mengapa Junta sendiri merasa heran. Seolah bantuan tersebut mengalir terucap begitu saja untuk gadis dihadapannya itu. Tapi, Junta merasa jantungnya berdegup cepat tatkala ia menawarkan bantuan pada gadis itu.
Amelia yang mendengar tawaran Junta menjadi salah tingkah dibuatnya. Ia semakin merasa hatinya seolah ingin terbang dan pipinya semakin memanas.
"Aaaiiih....apa sich, Mel ?Loe mulai kege-eran deh..",ucap Amelia pada suara hatinya sendiri. Rasanya ia ingin buru-buru menghindar dari lelaki dihadapannya itu. Sebelum ia makin salah tingkah dan mempermalukan dirinya sendiri dihadapan Junta.
"Maaf,mas ...jika tak ada yang mas tanyakan, saya mohon pamit...saya harus balik ke kantor kembali...",ucap Amelia mengalihkan kecanggungan yang muncul tiba-tiba dalam dirinya itu.
"Oh..iya ..hmm..saya rasa saya tidak ada pertanyaan..nanti saya coba selidiki lebih dalam..supaya segera terungkap siapa lelaki itu..Dan mbaknya...hati-hati ya..",ucap Junta sepenuh hati dengan senyum manisnya yang membuat gadis itu semakin meleleh saja.
"Aaaiiih ...aku harus buru-buru pergi...sebelum lelaki itu membuatku mati kutu dengan tatapan dan senyumannya...",Amelia tak sanggup menatap lelaki itu. Ia hanya menunduk sambil mengucapkan terima kasih sebagai bentuk penghormatan...atau lebih tepatnya sebagai bentuk upayanya melarikan diri dari sesuatu yang membuat dirinya kikuk terhadap Junta,si polisi muda itu.
Amelia pun dengan langkah cepat keluar dari ruangan dan bergegas pergi dari kantor kepolisian itu. Pikirannya melayang..dan entah kenapa, bayang-bayang wajah polisi muda itu itu tampak terekam jelas diingatannya dan seakan tak ingin beranjak dari pikirannya. Semakin ia berupaya mengenyahkannya, semakin besar pula ia terekam di otak gadis itu..dan...entah...seakan sesuatu berdesir didalam dada gadis itu. Desiran yang membuat hatinya seperti bergembira. Desiran yang mampu membakar dan membuat panas kedua pipi gadis itu.
***
__ADS_1