Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 2 : Lelaki Tua Di Taman Kota


__ADS_3

Dah..Dig...dug...jantung Amelia seperti berpacu kala itu. Tapi..dugaannya salah. Lelaki tua berpenampilan lusuh itu hanya melihatnya tersenyum dan ia berpaling dari keramaian ditaman itu. Ia berjalan mencangklok tas goninya dan berjalan ditrotoar tepat disamping taman kota.


Perlahan detak jantung Amelia melambat. Ia kira lelaki tua itu mengetahui dirinya tengah mengintainya. Amelia jadi merasa malu terhadap dirinya sendiri. Tapi, sebetulnya ia masih curiga pada lelaki tua itu.


Lelaki itu sepertinya tahu tapi berpura-pura tak tahu.. Bukankah tadi ia seperti tersenyum melihat Amelia ? batinnya seperti berontak curiga.


Ah..tapi sudahlah..kau terlalu curiga..mungkin lelaki itu tersenyum karena saat itu matanya dan mata lelaki tua itu saling beradu walau sesaat dan mungkin ia ingin tampak ramah padanya sebagai salah satu pengunjung taman kota disana.


Amelia kembali sibuk dengan kameranya. Ia melirik sepintas ke arah lelaki tua itu berjalan. Ia mulai terlihat menjauh menyusuri trotoar diseberang taman.


Amelia kembali mengalihkan pandangannya. Hawa panas menyengat membuat Amelia tergiur ketika melihat sepasang muda mudi yang tengah berpacaran memakan semangkuk es campur berdua. Ia pun menghampiri pedagang es campur yang tak jauh dari tempat ia duduk.


Hingga ketika tengah menikmati es campurnya, suara sirene mobil polisi bergema. Beberapa mobil patroli polisi beriringan melintasi jalan tersebut.


Mungkin akan ada mobil pejabat lewat jalan sini,batinnya berujar.


Tetapi...tak lama para pedagang disekitaran taman kota saling berbisik-bisik satu sama lain yang kemudian diikuti oleh para pengunjung yang berada disekitaran situ. Layaknya seperti sebuah pesan berantai, perlahan membentuk kerumunan orang yang saling berbisik satu sama lain. Amelia pun tergelitik dengan suasana itu.


Ia bangkit berdiri sambil belagak mengembalikan mangkuk kosong yang telah habis tak bersisa kepada pedagang es campur.


"Berapa bang ?" tanyanya.

__ADS_1


"Sepuluh ribu aja,Neng.." jawab si pedagang.


"Itu ramai-ramai ada apa ya bang ?" tanya Amelia membuka percakapan kembali dengan si pedagang es campur.


"Gak tahu tuh...katanya ada perampokan dan seorang pembantu rumah tangga tewas terbunuh " jawab si pedagang.


"Hah ??? serius bang ? hari ini ?" balas Amelia tercengang. Bak pucuk dicinta ulam pun datang tiba-tiba. Disaat dirinya membutuhkan sebuah ide tulisan, tiba-tiba saja sesuatu terjadi dihadapannya saat ini.


"Iya..katanya neng...Noh..makanya mobil polisi pade lewat, Neng..."jawab si pedagang es campur dengan logat Sunda bercampur betawi.


Amelia pun buru-buru keluar dari taman kota.


Disekitaran taman kota tempatnya mangkal memang tampak berjejer deretan rumah mewah. Tapi...tengah hari bolong gini ada orang berani merampok kawasan rumah mewah dekat dengan kawasan publik.


Rasanya sulit dipercaya. Tapi bagi Amelia mungkin ini sebuah peruntungannya. Dewi Fortuna seperti tahu apa yang ia butuhkan saat itu.


Ia berjalan menyusuri jalan yang tadi dilewati mobil polisi.. Tapi ia tidak mendengar suara sirene itu. Akan tetapi kakinya seperti membiarkan melangkah tanpa suatu kepastian. Ia pasang telinga tajam-tajam. Mungkin akan ia dengar kembali suara sirene tersebut. Tapi nihil. Ia ingin putar balik ke arah taman kota, tapi rasanya malas untuk kembali. panas menyengat menjadi alasan utamanya. Ia telah berjalan cukup jauh. Mungkin sudah lebih dari 100 meter dari taman tempat ia duduk tadi. Ia berjalan tak tentu arah. Hingga dua orang lelaki yang tengah duduk menyantap sepiring ketoprak berkata pada kawannya :


"Heh, tadi barusan ada perampokan ya...diblok sana ? makanya rame tadi mobil polisi pada menuju kesana ?" ucap seorang pemuda berkaos oblong dengan celana pendek selutut dan sepatu kets menyantap sepiring ketoprak ditangannya.


"hah serius ? gw kira itu mobil konvoi mau nganter pejabat lewat.." sahut kawan sebelahnya yang tengah mengunyah sambil menegak sebotol air mineral ditangannya.

__ADS_1


Amelia yang mendengar percakapan kedua orang itu, seperti mendapatkan angin segar ditengah matahari yang mengamuk itu. Panasnya luar biasa siang itu.


"Permisi mas ...tadi lihat mobil polisi lewat ya ? kearah mana ya,mas ?" tanyanya sopan pada kedua orang pemuda yang asyik menyantap makanannya itu.


"Eh iya mbak...mbak siapa ya ? ada keperluan apa ?" tanya salah seorang dari mereka dengan rentetan pertanyaan yang ingin tahu kepentingan Amelia dengan pertanyaannya itu.


" Eh ....nggak saya kebetulan lewat tadi dengar desas-desus sana sini..mau tahu..penasaran aja mas.." jawab Amelia sekenanya.


"Oalah...kukira wartawan mo cari bahan gosipan " jawab pemuda itu kembali.


"Itu mbak tadi katanya juga sich..saya kurang tahu juga kebenarannya..ada perampokan beberapa blok dari sini..Itu mbak lurus aja..nanti ada tiang listrik belok kiri...trus lurus..mentok belok kanan...nah daerah blok sana katanya...tapi gak tahu juga bener atau nggak..." jawabnya kembali.


"Oh..gitu ya sudahlah mas..tak kira ada presiden mo lewat..lumayan pengen lihat langsung...maklum mas.." ucap Amelia sambil cengengesan.


"Kalo gitu..saya permisi ya mas..terima kasih.." lanjut Amelia kembali.


"Oalah...mbak..mbak ..Yo wis,hati-hati dijalan.."ucapnya pemuda itu. Setelah Amelia berlalu mereka tampak bersua seperti membicarakan dirinya sambil tertawa.


"Kupret !! dikira dirinya wartawan gosipan simpang jalan..!ucap Amelia membatin mengingat jawaban pemuda itu padanya.


Ia pun berjalan menuju tempat yang ditunjukkan oleh pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2