Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 51 : Siapakah Sang Pembunuh ?


__ADS_3

"Jun, gw dapat bukti baru...masalah Misa...kemarin ia bertengkar hebat dengan suaminya...sayangnya gw gak bisa merekam suara pertengkaran keduanya..tapi, gw yakin aib Misa yang mungkin dijadikan ancaman oleh Reni untuk menutupi hubungan asmara keduanya...Sepertinya Misa pernah ke-gap dengan Reni saat ia mencuri uang di restoran..",ucap Bimo pada Junta dikantor pagi itu.


" Serius loe ?",tanya Junta kembali.


"Dua rius malah,Jun...",balas Bimo kembali.


"Berarti dugaan gw bener...",ucap Junta sambil menggaruk-garuk dagunya meskipun tak gatal.


"Bener apaan..?",tanya Bimo penasaran.


"Gw ngikutin si Reni waktu pulang, dan ternyata dia satu kosan bareng dengan Putri..gw curiga Putri pasti tahu mengenai hubungan Reni dan Anto...dan mungkin ia pun tahu banyak tentang Reni...ia pasti mengenal Reni lebih dekat dari pegawai lainnya...",terang Junta sambil menopang dagu tampak berfikir serius.


"Dan...barusan loe bilang, Misa mencuri uang restoran ? Putri adalah bagian cashier dan keuangan di restoran tersebut...Seharusnya jika ada kehilangan uang, ia pun pasti tahu.Tadi loe bilang kemungkinan Reni mengetahui pencurian uang di restoran yang dilakukan Misa. Makanya itu dijadikan senjata olehnya untuk mengancam Misa. Reni tinggal dengan Putri,bagian cashier...",ucap Junta kembali dengan nada menggantung.


"Jun...logikanya Putri pun ikut tahu mengenai pencurian uang tersebut...tanpa Reni memberitahukannya sekalipun...karena...semua masalah keuangan restoran dipegang olehnya. Logikanya, tak mungkin ia tak tahu uang yang dipegangnya hilang atau berkurang ?, Tapi...masalah hubungan Reni dengan Anto..gw pun sanksi, ia tak tahu sama sekali tentang keduanya..Sedangkan ia satu kosan dengan Reni...masa tak pernah curhat pribadi diantara keduanya ?",timpal Bimo pada Junta.

__ADS_1


" Nah,itu dia,Mo! Gw juga mikir begitu...dan kita ada yang missed disini..gw semalem cek kembali video-video rekaman..disitu ada rekaman Putri yang mengatakan semua uang restoran akan disetorkan melalui rekening khusus yang dipegang olehnya. Dan..semenjak kematian korban, ia pun masih melakukan hal yang sama...menyetor uang hasil restoran ke rekening tabungan khusus..Kayaknya kita perlu cek itu dan buku keuangan restoran mereka...",ucap Junta balik.


"Untuk apa,Jun ?",tanya Bimo bingung dengan ide seniornya itu.


"Ya ampun, Mo...masa loe gak nangkep maksud gw..kalau kita bisa cek catatan keuangan dengan rekap setoran yang dilakukan Putri ke bank, kita bisa tahu apakah wanita ini ikut andil dalam pencurian yang dilakukan Misa. Kalau iya, itu tanda,Mo..kita pun harus mencurigainya dalam kasus pembunuhan yang kita tangani...karena mungkin ini bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya..atau ada persekongkolan yang dilakukan diantara mereka untuk membunuh korban dengan motif uang..",terang Junta pada Bimo.


Bimo pun mengangguk-angguk. Ia mulai mengerti jalan berfikir seniornya itu.


***


Amelia yang masih berjalan terseok masuk kerja hari itu. Ia hanya memberikan minyak gosok dan plester untuk luka yang ringan.


"Mel,kenapa kaki loe ?",ucap salah seorang rekan kerjanya yang melihat Amelia berjalan tak seperti biasanya.


"Ketabrak gw kemarin pas pulang...deket-deket kosan...",jawab Amel singkat.

__ADS_1


"Oalah...kok bisa ? Loe meleng ya ? Udah dicek ke dokter ?",tanya kawannya lagi yang tengah berdiri didepan mesin fotocopy.


"Belum..belum sempat gw...lagian cuma luka memar dan lecet doank...bentar juga sembuh...dah gw kasih minyak gosok dan plester buat luka lecetnya..",terang Amelia yang tengah mengantri didepan mesin fotocopy yang sama. Ajang seperti ini yang biasa dijadikan sambilan untuk mengobrol atau sekedar basa-basi dengan teman antar divisinya. Sebuah mesin fotocopy besar disudut ruangan seperti tempat yang memungkinkan untuk bertemu seluruh karyawan diruangan itu. Biasanya jarang diantara mereka mengenal baik kawan kerjanya yang berbeda divisi. Masing-masing telah disibukkan dengan tugasnya masing-masing. Lunch bareng atau sekedar memfotocopy atau saat berkunjung ke toilet merupakan tempat mereka bertemu dan sekedar basa-basi sesama karyawan dikantor itu.


"Mel,gw duluan ya...",ucap kawannya itu setelah selesai urusan foto memfotokopi lembaran berita yang akan masuk ke ruang rapat redaksi.


"Sip..",ucap Amelia singkat. Kini hanya ia seorang diri di depan mesin fotokopi itu. Ia tengah sibuk dengan berbagai deadline untuk kolom tulisannya sendiri dan beberapa deadline yang akan dirapatkan dengan editor dan pemimpin redaksi di kantor tersebut. Tengah sibuk konsentrasi dengan lembaran-lembaran kertas yang sedang dicopy, tiba-tiba saja handphone disaku celananya berbunyi. Spontan Amelia mengangkatnya. Ternyata sebuah notifikasi pesan masuk.


"Hi,cantik...bagaimana keadaanmu hari ini ? Kau tentu masih dapat berjalan bukan ?"


Sebuah pesan singkat tapi membuat Amelia terperangah membaca isi pesan itu. Ternyata si penelpon misterius. Kini Amelia tampak menoleh ke seluruh ruang kerjanya. Semua orang tengah sibuk dimeja mereka masing-masing. Ia diam sesaat didepan mesin fotokopi besar.. Ketika suara ting tanda mesin tersebut telah selesai melakukan tugasnya. Amelia masih berfikir.


Apakah mungkin kecelakaan kemarin malam bukan kebetulan. Bagaimana bisa sipenelepon misterius tahu masalah pada kakinya. Mungkinkah...jangan-jangan...pria ini yang telah menabraknya kemarin malam.. Amelia mulai merasa bergidik ngeri. Ia memang tak punya bukti untuk menuduh lelaki itu. Tetapi pesan singkat yang baru saja masuk dari sipenelepon misterius, membuat kecurigaannya muncul begitu saja. Jika benar,lelaki ini yang menabrak dirinya. Apakah ini sebuah tanda ia telah masuk terlalu jauh dalam kasus pembunuhan ini ? .


Otaknya melayang entah apa yang tengah dipikirkan Amelia. Ia berjalan kembali ke mejanya dengan tumpukan kertas dalam pelukan kedua tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2