
Baru juga sampai dari tempat kerja ketika Amelia melihat sebuah bungkusan yang dibungkus kertas kado rapi. Ia menoleh kekanan dan kekiri,siapa pengirimnya. Baru ia berpikir,salah seorang tetangga kosan keluar dari kamarnya.
"Mel, sorry lupa ngasih tahu tadi ada kurir anter paket buat loe. Gw yang nerima dan gw taruh didepan kamar loe..",ucap salah seorang tetangga kamar kosannya.
"Oo...disini gak ada nama pengirimnya mbak ...by the way, gak ada kartu atau ucapan siapa pengirimnya ya mbak dari si kurir ?",tanya Amelia kembali.
"Hmm...disitu gak ditulis ya ? Gw lupa nanya, Mel...Abang kurirnya cuma ngasih itu doang.. Gw kira loe dah tahu bakal ada paket...soalnya kayak kado ultah..",ucap si tetangga kosannya itu kembali.
"Nggak, mbak...gak tahu saya...ultah saya mah masih lama mbak ...Yo wis gak papa mungkin didalam ada nama pengirimnya...",timpal Amel.
"...by the way,makasih ya,mbak ...",sahut Amel sambil membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya.
" Iya, Mel...sama-sama...",jawab kawan kosannya itu sambil ikutan berlalu masuk kembali ke kamarnya.
Didalam kamar Amelia meletakkan paketnya diatas meja. Ia bergegas bersih-bersih dahulu dan melakukan shalat wajib seperti biasanya. Setelah beres dengan ritual hariannya selepas pulang kerja, ia baru mulai menyentuh paketnya kembali.
"Siapa ya..kira-kira pengirimnya dan apa isinya..",gumamnya. Ia membuka bungkusan tersebut. Ternyata didalamnya terdapat kotak kardus sedang. Ia membuka kembali kotak tersebut. Dan...ternyata terdapat kotak yang serupa yang lebih kecil lagi. Amelia mulai tampak penasaran dibuatnya. Ia membuka kotak tersebut,dan terdapat sebuah bungkusan kotak lebih kecil lagi seperti sebelumnya, tapi kali ini tampak dibungkus dan dilapisi sebuah koran. Amelia mulai merobeknya. Antara penasaran serta rasa letih dan kantuk bercampur baur pada dirinya saat itu. Untunglah kali ini,tak ada bungkusan lagi. Ia menemukan sebuah USB kecil beserta kertas memo dengan tulisan ketikan komputer.
Hi, gadis cerdas...kali ini aku ingin mengajakmu bermain sedikit dengan nalarmu. Bukankah kau seorang jurnalis dibidang politik dan hukum ? Kau pasti akan menyukai permainanku kali ini.
__ADS_1
Kau akan berterima kasih padaku karena aku membantumu mendapatkan apa yang kau inginkan dan mungkin kau tak akan bisa dapatkan apa yang akan kutunjukkan padamu nanti. Jika kau telah membaca pesan ini, maka kau telah menemukan sebuah USB kecil bersamamu. Kau boleh membukanya. Didalamnya terdapat sebuah data yang akan membuatmu terkejut sekaligus penasaran. Aku yakin kau akan menyukai cara kerjaku kelak.
Tapi,ingat USB yang kau miliki bukanlah USB biasa. Didalamnya sudah ku setting dengan sebuah enskripsi ganda untuk melindungi data yang kuberikan padamu. Kau hanya bisa membukanya dalam waktu 5 menit saja. Setelahnya, sebuah kode enskripsi akan mendeteksi dan membakar semua data yang ada didalamnya. Kau akan kehilangan semuanya. Satu lagi,kau tak akan bisa mengcopy data yang ada dalam USB ini. Sebuah kode terenkripsi telah mengunci dokumen yang ada didalamnya. Kau tidak akan bisa mengcopy,menyimpan atau mengirimkan data yang ada didalamnya. Kau harus melihatnya dengan matamu sendiri secara seksama dalam waktu 5 menit. Jangan coba mencurangiku,Nak. Jika kau melakukannya maka kau kehilangan kesempatanmu karena apa yang ada didalamnya akan lenyap tanpa bekas karena sebuah kode terenkripsi akan mendeteksi tindakanmu dan ia akan melenyapkan langsung tanpa bekas apa yang ada didalamnya. Ingat,aku selalu ada mengawasimu.
Selamat menikmati and welcome to the game you will love it !.
A Friend of Yours.
***
Amelia yang semula tampak menguap berkali-kali dengan rasa kantuk mendera mulai terkejut melihat isi paket miliknya itu. Terlebih setelah ia membaca sebuah pesan didalamnya. Keningnya mulai berkerut dan matanya mulai awas. Apakah ini dari si peneror itu ? Si penelepon misterius ? Ia mulai merasa bergidik ngeri. Nyalinya kini mulai menciut. Si penelepon misterius nampaknya lebih hebat dari terkaannya. Seberapa banyakkah lelaki itu mengetahui tentang dirinya ? Ia merasa sepertinya ia telah terjerembab pada situasi yang misterius. Haruskah ia menghubungi polisi muda itu, Junta ? Tapi ia khawatir, si peneror akan mengetahuinya dan ia kehilangan kesempatan mengungkap kebenaran misteri pembunuhan ini. Amelia bungkam dengan ribuan pikiran berkecamuk di otaknya kini. Ia memegang USB ditangannya. Sebuah USB berukuran mini. Setengah jari kelingking orang dewasa. Hanya 5 menit untuk tahu isi didalamnya. Jika ia buka sekarang, ia tak punya kesempatan memperlihatkan pada polisi muda itu. Tapi, jika ia memberitahukannya dan Junta mengajaknya membuka bersama kelak isi didalamnya, maka ia khawatir si peneror akan tahu dan situasi akan memburuk. Ia merasa dilematis kini.
Diam membisu sambil otaknya berputar. Ia telah menghabiskan setengah jam untuk memikirkan masak-masak keputusannya, sebelum akhirnya ia memilih untuk melihat sendiri USB didepan matanya kini. Amelia memilih bungkam dan bekerja sendiri seperti apa yang diserukan si pengirim. Lebih baik ia coba ikuti dulu permainan ini. Meskipun hatinya berdebar kencang antara rasa ingin tahu yang besar serta rasa cemas dan takut luar biasa didalam dirinya.
Ia mencolokkan USB mini ditangannya tatkala layar telah menampilkan menu utama dilaptopnya. Tak lama ia mencolokkan USB itu, betul saja. Tak seperti kebanyakan USB yang biasa dibuka manual, dimana mengharuskan masuk ke menu documents untuk membuka isi dari USB. Tapi, saat dicolokkan USB tersebut seperti mengenskripsi kode-kode tertentu. Tampilannya menyerupai sebuah antivirus yang tengah menscan. Butuh waktu beberapa menit hingga tiba-tiba saja layar laptopnya telah masuk dengan sendirinya ke menu dokumen yang ada didalam USB yang ia colokkan itu. Hanya ada sebuah folder bertuliskan : Data Pribadi.
Amelia mengkliknya. Terdapat beberapa pesan dalam bentuk jpg dan doc didalamnya. Dan yang berbeda dari kebanyakan USB, kali ini baru saja Amelia mengklik folder yang ada dalam tampilan layar laptopnya,tiba-tiba saja sebuah tampilan bergambar jam dengan waktu yang berjalan tampil dihadapannya. Seperti sebuah menu stopwatch yang tak bisa diclose. Ia muncul saat Amelia mengklik folder didalamnya.
Ia telah kehilangan beberapa detik karena kaget dengan isi USB yang tak biasa itu. Tapi ia tersadar segera, ia membuka isi file yang ada didalamnya. Amelia membukanya.
__ADS_1
Sebuah gambar foto. Ia memperbesarnya. Itu sebuah foto lama. Sebuah foto dengan latar belakang sawah dimana seorang laki-laki berusia remaja berdiri disana. Ia melihat seksama foto itu. Ia tak mengenalinya tapi berupaya mengingat wajah dalam foto tersebut. Tanpa lama-lama, Amelia membuka file lainnya.
Kali ini sebuah foto seorang laki-laki muda berdiri didepan sebuah kedai bakmi. Kali ini ia mengenalinya. Meskipun wajahnya tampak jauh lebih muda, tapi raut wajah itu adalah milik seorang pria yang telah dikenalnya. Darsim. Beberapa saat Amelia menatap latar belakang foto itu. Hingga tak ingin kehabisan waktu yang ia miliki, kini ia membuka file lainnya lagi.
Sebuah foto lain terpampang. Kali ini sebuah foto Darsim yang lainnya dengan seorang wanita dan seorang anak bayi dalam gendongan. Amelia mulai mengerti. Sepertinya si pengirim ingin menyampaikan sesuatu mengenai Darsim, pria yang ia kenal. Tanpa berlama kembali, ia membuka file lainnya.
Untuk kali ini sebuah profil mengenai lelaki ini. Biodata dirinya secara detail. Tampak mata Amelia melakukan skimming. Sambil ia melirik ke gambar jam yang telah menunjukkan waktu. Ia telah menghabiskan 2 menit lebih untuk melihat file-file sebelumnya berupa gambar foto.
Mata Amelia terbelalak tatkala sebuah track record mengenai Darsim yang ia belum pernah mengetahuinya. Ternyata dalam file tersebut tertulis bahwa lelaki ini pernah melakukan sebuah penganiayaan tak disengaja ketika ia berusia masih muda. Darsim pernah berkelahi dengan seorang pemuda dikampungnya. Tanpa disengaja ia telah membuat sebuah luka robek dikening lelaki itu dan menyebabkan lelaki lawannya pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit desa. Saat itu , ia sempat dilaporkan ke kepolisian yang ada di desanya. Tapi karena yang bersangkutan masih dibawah umur, maka ia mendapatkan keringanan hukuman berupa ganti kerugian biaya rumah sakit yang terpaksa dibebankan kepada kedua orangtuanya dan tahanan rumah dimana ia harus berada diam didalam rumah, meskipun saat itu ia masih berusia sekolah, Darsim harus langsung pulang kerumah dan seorang petugas polisi akan mengecek keberadaannya setiap hari dan menuliskan laporan harian kala itu. Selain itu, ia diberikan sebuah gelang GPS yang harus ia pakai kemanapun dan kapanpun ia pergi. Tak akan bisa dilepas sendiri. Terkunci dan hanya bisa dilepas oleh petugas kepolisian yang ditugaskan untuk mengawasinya.Gelang GPS tersebut tersambung dengan kantor kepolisian setempat untuk memantau keberadaannya.
Terakhir sebuah foto memperlihatkan seorang lelaki dengan sebuah gelang hitam kecil dan lampu yang menyala. Disisinya seorang petugas polisi berseragam merangkulnya. Meskipun tak ada sebuah tulisan apapun, Amelia mengerti bahwa itu adalah Darsim ketika muda. Ia membuka kembali foto sebelumnya membandingkan
satu foto dengan foto yang lain. Sembari matanya menatap layar waktu yang terus bergerak. Ia telah menghabiskan 3 menit lebih untuk melihat semua isi file.
Tiba-tiba terlintas dibenak Amelia. Ia mengambil handphonenya. Ia masih punya waktu 2 menit kurang untuk merekam dan memfoto isi file ini. Bergegas Amelia memfoto layar laptopnya yang tengah menampilkan Darsim bersama petugas kepolisian dengan gelang, yang menurut dugaannya itu gelang GPS yang dimaksudkan si pengirim dalam tulisan biodata tentang Darsim. Kini ia hanya memiliki 1 menit kurang untuk memfoto seluruh file yang tak banyak itu. Beruntung,gadis itu dapat mengabadikan dalam sebuah foto di handphonenya.
Betul saja. Ketika time counter yang ada dilayar laptopnya menunjukkan waktu habis, tiba-tiba saja seluruh file tertutup sendiri. Seperti sebuah tampilan antivirus yang tengah scanning. Seketika layar laptop gelap menunjukkan kode-kode angka terenkripsi. Kemudian sebuah gambar 3 dimensi seperti ledakan api keluar. Tak lama layar pun kembali ke menu tampilan awal laptopnya. Amelia begitu penasaran. Baru kali pertama ini ia melihat program aplikasi seperti ini dari sebuah mini USB. Ia coba buka ke menu flashdisk itu. Ternyata betul saja. Pengirim itu tak berbohong. Seluruh isinya lenyap dan raib tanpa bekas.
Amelia terdiam terpaku. Mungkinkah ini perbuatan si penelepon misterius itu ?Ternyata ia salah menduga kemampuan lelaki itu. Ia jauh lebih cerdas dari prasangka gadis itu. Bahkan ia merasa kemampuan lelaki itu jauh melebihi dirinya. Ia bukanlah tandingan yang tepat untuk pria ini. Rasa takut menjalar ke otaknya. Amelia berupaya menepisnya.
__ADS_1
Rasa penat gadis itu hilang sepenuhnya. Untunglah ia masih memiliki foto dari isi USB mini itu dihandphonenya. Ia membuka kembali hasil foto-fotonya. Kini akalnya kembali berfikir. Untuk apa si pengirim mengirimkan biodata dan track record Darsim padanya ? Apa hubungannya dengan kasus pembunuhan ini ? Pikirannya begitu random tak menentu. Meskipun rasa penatnya telah berubah menjadi keheningan untuk berfikir keras, tapi sialnya rasa kantuk luar biasa tak dapat ditahannya. Amelia pun beranjak ke ranjangnya. Ia rebahan diatasnya dan tak butuh banyak waktu,kini ia telah terpejam sepenuhnya dalam nyenyaknya tidur.
***