
" Dok sepertinya insomnia saya semakin menjadi-jadi...saya sudah coba berbagai cara...menyalakan humidifier dengan minyak essential sebagai aromaterapi, mematikan ruangan dan menyetel alunan musik instrumental yang lembut saat tidur...tapi..nampaknya tak terlalu membuat keadaan saya membaik.." ucap seorang wanita dengan dress siffon beberapa senti diatas lutut.
"Hmm..nyonya saya rasa mungkin karena pengaruh dalam pikiran anda. Membuat otak anda selalu bekerja keras dan sulit untuk memejamkan mata anda. Saya akan coba melakukan hipnoterapi terhadap anda agar anda bisa lebih rileks..", tanya seorang psikiater disebuah klinik.
Si pasien wanita yang tak lain Rumayyah menghela nafasnya. Sang psikiater membawanya ke sebuah sofa panjang nan empuk. Ia meminta wanita itu berbaring disana.Si psikiater mulai menggoyangkan sebuah bandul dihadapan wanita itu.
" Bayangkan...saat ini anda berada di sebuah bukit indah..yang disekelilingnya ditumbuhi berbagai jenis bunga...dari bunga mawar hingga melati yang aroma harumnya menusuk ke hidung hingga ke dalam dada...Lihatlah...tak jauh dari sana sebuah aliran sungai jernih dengan kolam kecil berisi ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang-renang didalamnya..suara gemericik air dan harumnya bunga yang tumbuh disekitarnya..."
"Anda sedang terduduk disana.Diatas padang rumput indah dengan kedua kaki anda menyentuh air kolam jernih dengan ikan-ikan kecil memutarinya..." ucap si psikiater. Suara jernih lembutnya serta kalung bandul yang bergoyang ke kanan dan ke kiri membuat wanita itu perlahan memejamkan mata hingga tertidur. Si psikiater kini beralih pada topik pembicaraan sesungguhnya.
"Nyonya Rumayyah...apa anda bisa ceritakan..apa saja yang anda lakukan belakangan ini ?"
"heeh......."suara helaan nafas berat terdengar dari wanita ini. Ia seperti tengah membuang sebuah beban didalam dadanya yang menyumbat pernafasannya.
"Hari-hariku terlalu berat...aku harus mengurus segalanya sendiri...semua...semua orang mendekatiku hanya demi materi...hanya demi kepuasan.." ucap wanita itu.
"Bisa kau ceritakan nyonya apa yang memberatkan dirimu ? adakah seseorang yang kau benci nyonya ? "
"Hmm ..yah....hariku selalu berat. Aku harus mengurus usahaku sendiri ...aku ..aku tidak bisa mempercayakan pada siapapun disana...Mereka bermuka dua...didepanku mereka berkata hal-hal indah tentangku..tapi dibelakangku mereka siap menerkamku..." ucap wanita itu kembali dalam tidurnya.
" Mereka ? siapa mereka yang anda maksud nyonya Rumayyah ?"
" Mereka...mereka itu.. para pegawaiku..", jawabnya kembali. Kini nafasnya tampak sedikit memburu. Seperti tengah menahan sebuah emosi besar dalam dadanya.
__ADS_1
"Hmm..baiklah saya mengerti bagaimana perasaan anda. Para pegawai anda...apa yang mereka perbuat kepada anda hingga anda merasa marah kepada mereka ? Apa hanya karena mereka membicarakan sesuatu yang buruk tentang anda dibelakang anda,Nyonya ?",tanya sang psikiater memancing.
" Hmm ..yah...itu hanya salah satu dari keburukan mereka pada saya...Tapi..Dia..dia yang paling saya benci..." ucapnya kembali.
"Dia..Dia siapa yang anda maksud,Nyonya ?"
"Dia...lelaki semua bejat...mereka mendekatiku..mereka hanya ingin memerasku...tapi Dia...dia beda..."
"Siapa yang anda maksud berbeda ?"
"Dia ..Dia.. Suamiku..." wanita itu tampak lirih dalam suaranya.
"Hmm...suamimu ? Siapa namanya ?" tanya si psikiater itu kembali lembut.
"Darsim ..Darsim... Andai saja...andai..aku..bisa kembali memutar waktu..tapi nasi telah menjadi bubur..." ucap Rumayyah. Airmata tiba-tiba menetes dari ujung pelupuk matanya. Ia telah hanyut dalam hipnoterapi yang diberikan sang psikiater.
"Huuuh..." helaan nafas panjang dan berat kembali keluar dari Rumayyah.
"Aku..aku..tidak akan pernah mungkin kembali padanya.." jawabnya.
"Jika ia ada dihadapanmu saat ini..adakah sesuatu yang ingin kau ungkapkan padanya ?"
"Ya..aku..hanya..ingin meminta maaf padanya...aku..tidak akan mungkin bisa kembali padanya... dan..tidak akan mungkin untuk kami bertemu lagi..Biarlah ia hanya menjadi masa laluku...masa lalu yang indah sekaligus penyesalanku yang tak berujung..." ucapnya kembali. Kini airmatanya tampak semakin deras mengalir.
__ADS_1
"Nyonya Rumayyah...apakah ada hal lain yang ingin kau utarakan ? "
"Huuuuh....." kembali wanita diatas sofa itu menghembuskan nafas panjang.
"Tak kan cukup kata-kata untuk melukiskan semuanya..aku ingin melupakan semuanya...aku tidak ingin mengingat semua masa laluku..."
"Baiklah Nyonya Rumayyah..kau saat ini berada di semua bukit dengan hamparan hijau indah...matahari dengan cahaya redup samar memberikan kehangatan hingga ke relung hatimu...membakar semua rasa dan masa lalumu yang pahit dan getir..segala kesedihan dan kepayahanmu...cahayanya akan membakar semua kepedihanmu..hingga yang tersisa hanya kehangatan yang terasa dihati kini hingga menjalar ke seluruh jiwa ragamu..."
"Dengarkanlah gemericik air sungai yang ada dihadapanmu...dinginnya kakimu menyentuhnya...menimbulkan kesejukan yang menjalar perlahan dari ujung jari jemarimu hingga berangsur menuju paha...perutmu..sekarang ia pun menyentuh dadamu...meresap ke seluruh pori-pori kulitmu menembus hingga ke relung jiwamu...kehangatan dan kesejukan kini terasa didalam dadamu...perlahan menjalar ke kerongkongan...lalu wajahmu hingga menuju ke dalam otakmu...kini yang ada hanyalah kesejukan dan kedamaian yang menenangkan...yang mengalir hingga ke dalam darahmu..."
Semua beban yang kau pikul selama ini dalam dirimu terlepas sudah..Ia telah pergi menjauh...seiring detik demi detik...semakin menjauh hingga takkan nampak lagi dalam pandanganmu...dalam kehidupanmu yang menjadi masa depanmu saat ini...
Sebentar lagi Engkau akan mendengar suara jentikkan jariku ditelingamu...maka perlahan bukalah mata anda dan mulailah menghadapi harimu ke depannya dengan senyuman penuh ketulusan yang menentramkan sanubarimu..."
Teek .." si psikiater menjentikkan jarinya. Perlahan Rumayyah membuka matanya. Ia tampak sedikit linglung. Sang psikiater hanya tersenyum melihatnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang nyonya Rumayyah ?" tanyanya kembali.
"Hmm...dimana saya sekarang ?Saya merasa lebih lega,Dok saat ini.." ucap Rumayyah sambil tangannya tak berhenti mengucek mata. Matanya telah dibanjiri airmata yang tak dapat ia ingat. Bagaimana ia bisa menangis..?.Tetapi, ia merasa seperti orang yang telah tertidur panjang dan baru saja terjaga.Hingga letih yang tadi ia rasakan kini telah hilang. Lenyap begitu saja. Dadanya pun terasa plong. Rumayyah tak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi wanita itu merasakan bebannya seperti berkurang.
Si psikiater hanya tersenyum mendengar ucapan pasiennya itu. Ia memberikan sebuah resep kembali. Sebuah resep obat penenang syaraf yang seperti yang ia telah berikan pada wanita itu. Ia hanya menambahkan dosisnya menjadi 2 tablet dan sebuah multivitamin.
"Nyonya Rumayyah, apakah obat yang saya resepkan kepada anda bulan lalu masih ada ? Jika masih anda, anda tidak perlu menebus obat yang saya resepkan ini, cukup multivitaminnya saja. Obatnya masih sama dengan yang saya berikan yang lalu...hanya jika anda merasa kurang anda bisa menambahkan dosisnya menjadi 2 tablet sekali minum di malam hari. Tapi, ingat tidak boleh lebih dari itu Nyonya..mudah-mudahan kondisi anda bisa pulih dan lebih baik ke depannya.", ucap si psikiater sambil memberikan secarik kertas pada wanita dihadapannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok..." jawabnya singkat. Wanita itu pun keluar. Ia mengendarai mobilnya sendiri yang terparkir didepan klinik. Tanpa ia sadari sebuah pengendara sepeda motor yang terparkir tak jauh dari klinik, tengah mengawasi dan membuntuti mobilnya yang telah berlalu.
***