
Jam masih menunjukkan pukul 19.30 wib. Ketika Bimo telah sampai dirumah kontrakannya. Tempat tinggal barunya untuk 3 bulan ke depan. Pak De, si pemilik kontrakan telah membersihkan ruangan dan lantainya. Meskipun cat tembok kamar tersebut tampak sudah memudar, tapi rumah petakan itu tampak bersih. Wangi samar karbol tercium tatkala, Bimo memasukinya.
Kamar mandinya tak terlalu luas. Hanya terdapat sebuah keran air dengan ember besar untuk menampung air dan sebuah WC duduk. Lantainya sudah sedikit kusam tapi bersih dan aroma wangi jeruk tercium dikamar mandi itu. Untunglah bagi Bimo. Ia tak perlu membuang tenaga untuk membersihkan kembali.
Sore tadi ia pulang kerja lebih cepat dan berbelanja segala keperluannya di sebuah mini market tak jauh dari tempat tinggal barunya itu. Segala perlengkapan mandi, kompor gas satu tungku dan beberapa panci dan wajan seadanya, serta sapu dan alat pel telah siap. Tak lupa ia telah membeli sebuah kasur lipat dan lemari plastik 3 pintu disebuah toko yang menjual spring bed dan berbagai keperluan rumah seperti lemari,dll.
Tak butuh waktu banyak untuk Bimo membereskan semuanya. Barang yang ia beli seperlunya saja dan ia pun hanya tinggal menempatkan semua barang-barang pada tempatnya. Rumah petakan itu terasa luas bagi bujangan seperti Bimo. Ia pun hanya membawa beberapa buah baju dari tas tenteng yang ia bawa-bawa semenjak pagi kekantor.
Rasa letih dan kantuk perlahan mulai menghampiri. Bimo telah bebersih diri dan buru-buru ia melaksanakan shalat isya. Kini ia tengah berbaring diatas kasur lipat dengan sebuah bantal.
Ia mengecek handphonenya. Beberapa pesan masuk dari Junta terlihat di inboxnya. Menanyakan keadaannya malam ini di rumah barunya itu. Bimo menjawabnya. Ia sangat menikmati tempat barunya itu.
Kini lelaki itu tengah berpikir rencana yang akan ia buat ke depannya untuk penyelidikan kasus pembunuhan yang ia tangani.
***
Nun jauh di sebuah kamar kosan milik Amelia...
wartawan itu tengah sibuk memantau menggunakan sebuah aplikasi untuk mengetahui titik lokasi si penelepon misterius. Tetapi sialnya ia tak dapat menemukan lokasi si pemilik nomor telepon itu. Karena entah mungkin handphone si empunya yang jadul dan belum memiliki sambungan internet atau mungkin juga karena sambungan internet si empunya telepon diseberang sana tengah terputus atau offline. Amelia pun berpikir keras bagaimana caranya ia dapat mengetahui lokasi si penelepon misterius yang menghantui Darsim. Gadis itu juga belum menerima balasan chat apapun kembali dari si penelepon.
Tengah berfikir sambil membuka-buka playstore di laptopnya, tiba-tiba saja, Amelia melihat sebuah aplikasi yang dapat melihat medsos apa saja yang dimiliki seseorang dari nomor handphonenya. Ia pun mengunduhnya dan mencoba mencari tahu tentang si pemilik nomor misterius.
Sedangkan Junta...
Ia baru saja memarkirkan motor Nmaxnya di teras rumahnya. Hari itu ia menggunakan Nmaxnya karena motor bebek butut peninggalan almarhum ayahnya digunakan Juna, adiknya sehari-hari untuk ke kampus. Hanya sesekali saja, saat adiknya memilih menggunakan angkutan umum, maka Junta dapat memakainya. Sebenarnya ia lebih menyukai motor bebek bututnya itu.Selain jauh lebih aman dan tak merasa was-was kala ia bepergian kemanapun, motor bebeknya jauh lebih enteng dan ringan dibanding Nmaxnya yang besar yang membuat lengannya capek saat macet melanda.
"Assalamu'alaikum..", ucap Junta saat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,Jun..",ucap sang ibu yang baru saja menyiapkan makan malam ketika melihat kedatangan si anak sulungnya di depan pintu. Junta menghampiri sang ibu sambil mencium punggung tangannya.
"Makan dulu, Nak..Emak baru nyiapin soto ayam kesukaan kamu..kamu belum makan malam diluar kan ?",tanya sang ibu pada anak sulungnya lagi.
"Belum,Mak...",jawab Junta sambil menggelengkan kepala.
"Tapi, Junta mau bebersih diri dulu,Mak..gak enak, badan terasa lengket..",sambung Junta pada ibunya itu.
"Yo wis...abis itu langsung kita makan malam bareng ya dimeja makan...emak kangen dah jarang kita ngumpul di meja makan..mumpung si syila dan Juna juga dah ada dikamar tuh..",ucap sang ibu pada anaknya itu.
"Iya,Mak...",jawab Junta singkat.
Ibu Junta usianya sudah cukup lanjut tapi masih terlihat bugar. Di usianya menginjak 65 tahun,ia seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Uban telah memenuhi seluruh rambutnya. Junta yang anak sulung adalah tulang punggung keluarga pengganti ayahnya yang telah wafat sejak ia masih menjadi salah satu penghuni asrama di Akpol. Untunglah,setelah lulus dari Akpol,ia masuk ke kepolisian karena ikatan dinas. Ia salah satu siswa lulusan terbaik di angkatannya. Ia yang kemudian menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu adik-adiknya bersekolah.
Ayahnya dahulu adalah seorang PNS golongan rendah di sebuah instansi pemerintahan daerah. Tetapi wafat karena penyakit jantung sebelum usia pensiun. Ibunya yang seorang ibu rumah tangga terpaksa berjualan dan membuka warung kecil-kecilan di teras rumahnya dulu. Tetapi semenjak Junta dan Syila bekerja dan memiliki penghasilan,mereka merasa iba dan menyuruh orangtuanya berhenti bekerja.
"Syil, pulang jam berapa kamu ? tumben lebih cepat dari mas ?",tanya Junta pada adiknya.
" Tadi jam 5 teng, Syila langsung keluar kantor, mas..pulang naik kereta..jadi gak kena macet, cuma berdiri padat sambil nyiumin bau ketek orang..",jawab Syila pada kakaknya itu. Syila bekerja disebuah perusahaan seluler terbesar di dunia. Mereka biasa berinovasi mengeluarkan berbagai jenis telepon seluler dengan teknologi terbaru. Syila adalah sarjana teknik sipil disalah satu universitas terkemuka.Tapi, entah kenapa ia justru diterima kerja dibagian corporate communication diperusahaan seluler itu. Mungkin begitulah rezeki. Tak akan kemana kalau memang sudah rezekinya.
"Coba kamu telepon, mas..bisa pulang bareng sekalian..nanti tinggal janjian ditengah-tengah..di halte mana gitu yang deket dengan kantormu dan mas..",ucap Junta kembali.
"Yah telat! mas Junta nawarinnya baru sekarang...",ucap Syila ogah-ogahan.
"Ya..buat lain kali...kalo pulang cepet, kamu coba tanya mas..sapa tahu bisa barengan..irit tenaga dan ongkos kamu kan,Dek..",ucap Junta kembali. Juna yang sejak tadi lahap sudah menghabiskan makan malamnya.
"Jun, kamu skripsinya gimana ?mondar-mandir ke kampus..jangan sampe lulus molor ya..buang-buang duit! ",tanya Syila ketus pada adik bungsunya itu. Sambil menyuapkan nasi dengan soto ayam ke mulutnya.
__ADS_1
"Idih..apaan sich..gw mah mahasiswa lempeng dan bener...doain tuh yang baik-baik buat adeknya..biar cepet lulus...kagak judes kayak loe..iya gak,Mak ?",ucap Juna minta dukungan ibunya itu. Syila dan Juna memang bak Tom dan Jerry. Tapi mereka kompak dan saling menyayangi satu sama lain. Buktinya, Syila lah yang membiayai ongkos bensin dan uang jajan adiknya itu semenjak ia bekerja.
"Huush..sudah-sudah...gak baik di meja makan bertengkar..Emak selalu doakan yang terbaik buat anak-anak emak...kamu juga Juna..kakakmu Syila benar...kamu harus cepet lulus...laki-laki tanggung jawabnya lebih besar nantinya dalam mencari nafkah..",ucap sang ibu menasehati anak bungsunya itu.
"Iya,Mak..",jawab Juna singkat.
"Emang progres skripsi kamu dah sampe mana,Dek ?",tanya si sulung pada si bontot. Kalau Junta yang bertanya, Juna agak segan terhadap kakak sulungnya itu.
"Masih Bab 3,Mas..",ucap Juna pada abangnya itu.
"Yo wis..fokus selesaikan segera..biar bisa cepet cari kerja..jangan cari cewek apalagi pacaran!",ucap Junta pada Juna,sang adik.
"Iya,mas...wis aq elle..sopo juga cewek yang mau ama cowok buluk,item, pakenya motor bebek butut yang kagak bisa dibawa ngebut dijalanan..",jawab Juna dengan nada kesal karena merasa diinterogasi oleh kakaknya itu.
Junta yang mendengar jawaban adiknya itu hanya tersenyum menahan cekikikan.
Acara makan malam yang penuh obrolan pun berakhir pukul 20.30 ketika Syila yang mencuci semua piring kotor mereka selesai.
"Mak,Juna ke kamar ya..mau lanjut skripsi..",ucap anak bungsunya itu.
"Syila juga,Mak pengen tidur..dah ngantuk besok harus berangkat pagi..",ucap anak perempuan satu-satunya itu sambil mengecup sang ibu. Tak lama Junta pun menyuruh ibunya istirahat sebelum ia tidur dan kembali ke kamarnya.
***
Amalia yang masih sibuk dengan laptopnya kini ia menemukan sesuatu ...sesuatu yang mencengangkan baginya...
Ia melihat layar laptopnya. Sebuah aplikasi yang baru saja ia unduh memperlihatkan beberapa media sosial yang diduga pemilik nomor handphone misterius. Amelia menatap salah satunya. Dimana terdapat sebuah foto profil. Tak terlalu terlihat wajah yang berada dalam foto tersebut karena diambil agak jauh. Sebuah foto sepasang wanita dan pria..seperti seorang kekasih saling merangkul dengan latar belakang sebuah pantai dengan batu besar dibelakangnya. Ia tak bisa mengenali pemilik akun itu. Tapi nama pemiliknya tertulis Toni Forever. Amelia berusaha meng-capture gambar profil dan tampilan laman depan akun dengan namanya. Sayangnya ia tak dapat membuka akun itu karena dikunci oleh si pemilik. Tak kenal aral, Amelia pun mencoba membuat akun palsu dengan foto profil seorang wanita bukan seleb yang ia ambil dari internet tapi memiliki wajah good-looking. Sebelumnya ia meng-add beberapa kawannya yang tengah online,diantaranya mengapprove pertemanan yang ia minta. Barulah dengan cerdasnya Amelia meng-add si pemilik akun, hingga tak tampak kalau itu hanyalah akun palsu. Entahlah, cara kuno ini akan berhasil atau tidak. Tapi, Amelia merasa akan ada titik terang dalam pencariannya ini.
__ADS_1
***