
Anto berjalan menuju Junta yang telah menunggunya. Keringat mengucur didahinya. Sama seperti yang lain, ia duduk dihadapan polisi muda itu.
"Silahkan duduk..Perkenalkan dirimu dahulu.."
"Hmm...nama saya Arianto, biasa dipanggil Anto. Usia saya 23 tahun.."
"Apa pekerjaanmu direstoran ini ? Serta bagaimana kau bisa bekerja disini ?" tanya polisi muda itu.
"Saya seorang chef sama seperti Reni. Awal saya masuk di restoran ini, saya mengetahui pekerjaan ini dari seorang kawan saya pak. Dahulu saya seorang pegawai direstoran siap saji McDoughlas. Saya sudah bekerja disana selama 5 tahun pak. Kemudian saya melihat melalui media sosial mengenai restoran Tiam. Sebuah restoran Cina yang cukup viral saat awal berdiri. Hingga saat itu, mereka membuka lowongan untuk seorang koki disini..."
"Sebagai koki, saya mencari peluang yang lebih menantang dan gaji yang lebih besar, maka saya coba melamar disini kala itu...dan...tak sampai sebulan, saya diberi kabar saya diterima bekerja disini sebagai koki..", ucap Anto dengan lancar. Meskipun ia merasa deg-degan dan gugup, ia mampu menguasai emosinya dengan baik.
"Hmm...berarti gajimu disini jauh lebih besar dari tempat sebelumnya ?",tanya Junta lebih lanjut.
"Ya..Betul,Pak ".jawab Anto singkat.
" Bagaimana pendapatmu mengenai Bu Rumayyah ?" tanya polisi muda itu kembali.
Anto menarik nafas panjang. Matanya menerawang entah kemana.Jantungnya berdegup kencang. Ia terdiam beberapa saat. Hingga kemudian ia berbicara :
" Ibu seorang wanita sukses dan gigih. Ia cukup cantik meskipun seorang janda. Ia memiliki apa yang diinginkan setiap lelaki dari seorang wanita. Hanya saja..."Anto kembali menghela nafas dan menarik nafas panjang yang dalam.
" Hanya saja...tabiatnya tidak seperti yang biasa orang lain lihat darinya ..." ucap Anto pada polisi muda dihadapannya itu. Junta merasa tertarik dengan perkataan lelaki ini.
"Hmm...tidak biasa seperti apa yang anda maksud ? Bisa anda jelaskan lebih rinci mengenai ini ?". Anto tampak semakin gugup. Keringat mengalir dari dahinya.
"Hmm...yah...maksud saya...ibu tidak seperti yang orang lain lihat. Hmmm...maksudnya...ibu tampak terlihat seperti seseorang yang baik, sukses dan tanpa cela.sempurna. Tetapi kenyataannya...ia tidak seperti itu. Ia seseorang yang mudah stres, temperamental, dan...sulit ditebak.." ucap Anto sambil mengelap keringat yang mengalir didahinya.
Junta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tampak mengerti dengan perkataan Anto. Kini ia memiliki gambaran sosok korban yang tengah ia selidiki itu.
" Hmm...saya mengerti..Selama anda bekerja dengan Bu Rumayyah bagaimana hubungan kerja anda dengan beliau ? Apakah beliau pernah memarahi anda saat bekerja atau bagaimana hubungan Bu Rumayyah terhadap para pegawainya menurut anda ?". Junta sedikit bekernyit kali ini. Kedua tangannya menopang dagu. Menatap lurus pada Anto. Anto mulai merasa kikuk melihat lelaki didepannya itu. Tetapi ia mengerti Junta adalah seorang polisi yang tengah menginvestigasi seseorang. Jadi wajar sikapnya seperti itu.
"
" Awal saya bekerja di sini, hubungan saya dan Bu Rumayyah sangat baik. Saya kagum terhadap dirinya. Usia saya tak terlalu terpaut jauh darinya. Tapi ia bisa sesukses ini merintis usahanya dari nol dalam waktu yang menurut saya...relatif singkat.Tetapi..perlahan setelah saya mulai bekerja disini...saya..mulai merasa beliau seseorang yang berbeda dari pertama kali saya mengenalnya. Ia mulai sering sensitif dan mudah marah pada kesalahan-kesalahan kecil yang kami, para pegawainya buat..." ucap Anto menggantung. Ia sedikit tertunduk karena merasa jengah melihat tatapan tajam polisi muda dihadapannya itu. Seperti sebuah panah yang akan menghujam ke jantungnya.
" Bagaimana saat Bu Rumayyah marah ? Apakah ia berkata kasar seperti memaki atau mungkin mengancam untuk memecat atau yang lainnya ?Bisakah anda menjelaskan lebih rinci pada saya ?" tanyanya kembali.
"Yah...seperti yang anda katakan. Saat ia naik pitam, ia dapat mengeluarkan makian dengan kata-kata yang sangat kasar pada anda..Hmm..ia pernah mengancam pula jika kami kerap melakukan kesalahan berulang kali, maka ia tak segan untuk memecat kami. Sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti itu. Hanya..semenjak lelaki itu pergi...ia tampak berubah.." jawab Anto pada Junta.
"Lelaki ?? Lelaki siapa yang anda maksud ?" selidik Junta kembali.
__ADS_1
"Hmm...Mr.Chan. Ia pernah bekerja disini saat awal restoran ini baru berdiri. Tetapi...kemudian ia pergi begitu saja. Entah ia telah mengundurkan diri atau ibu memecatnya. Tetapi...setelah kepergiannya, ibu mulai berubah. Ia tampak sering emosional dan mudah terpancing setiap kali ada sesuatu yang menurutnya tidak sesuai keinginannya.." terang Anto pada polisi itu.
Junta mulai mengangguk. Tangannya menuliskan sesuatu pada lembaran notes dihadapannya.
" Setelah anda mengetahui sifat asli Bu Rumayyah, bagaimana sikap anda kala itu ?Maksud saya, apakah anda berniat mundur dari pekerjaan anda disini ?" tanyanya kembali.
"Hmm...saya pribadi belum terpikir untuk mundur dari pekerjaan saya. Anda tahu mencari pekerjaan di ibukota bukanlah hal mudah.. Apalagi dengan gaji yang bisa memenuhi standar hidup layak disini. Jadi sekasar apapun ibu memaki saya...saya berupaya untuk tetap bertahan, Pak.." ucap Anto berupaya mengalihkan tatapan matanya langsung pada Junta.
"Baiklah ..saya mengerti maksud anda. Kalau begitu bisa anda tuliskan nama dan nomor telepon anda. Agar saya bisa menghubungi anda kembali jika ada informasi yang saya butuhkan dari anda. Junta memberi notebook dihadapan lelaki itu. Ia membuka lembaran dimana telah tertulis nama-nama pegawai yang telah ia wawancarai serta nomor kontak mereka satu per satu. Anto pun mengikuti perintah sang polisi muda itu.
" Baik. Terima kasih mas Anto atas keteranganmu.." jawab Junta sambil berdiri dan menyalami pria dihadapannya itu.
Anto berjalan menjauhi meja Junta. Ia menuju dapur kembali. Hari mulai sore. Sinar matahari yang tadi tengah bersinar terik tampak mulai meredup cahayanya.
Didapur terlihat kawannya yang lain. Mereka telah sibuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tadi tertinggal. Misa sendiri berada di meja restoran melap dan membersihkan meja satu per satu. Sambil matanya melirik, mencuri-curi pandangan kepada polisi yang berada di salah satu meja tersebut. Telinganya tajam mendengarkan setiap pertanyaan yang diberikan polisi itu kepada setiap kawannya.
***
Giliran terakhir.
Puteri.
" Silahkan duduk.." ucap Junta. Sama seperti yang lainnya ia menyuruh wanita dihadapannya itu untuk memperkenal dirinya terlebih dahulu.
" Bisa anda jelaskan bagaimana anda masuk ke restoran ini dan apa saja tanggung jawab anda sebagai cashier disini ?"
" Saya masuk ke restoran ini karena sebuah info lowongan pekerjaan yang saya dapatkan dari sebuah aplikasi pencari kerja. Tugas saya sebagai cashier sama seperti petugas cashier lain pada umumnya. Saya bertugas untuk masalah pembayaran dan segala masalah keuangan atau pembukuan direstoran ini", ucap gadis muda itu sangat tenang dan santun.
" Hmm..anda bisa mengurus seluruh keuangan disini. Maaf..jika saya boleh tahu berarti anda memiliki latar belakang pendidikan ekonomi ?" tanya Junta pada gadis muda dihadapannya itu. Puteri seorang gadis berhijab. Kulitnya putih dengan raut muka lembut khas wanita Sunda.
"Iya, betul Pak. Saya lulusan SMEA kemudian saya sedang melanjutkan kuliah S1 akuntansi saya sampai sekarang untuk kelas Sabtu dan Minggu.." jawabnya tenang dan penuh percaya diri.
" Hmm...hebat. Kamu seorang mahasiswa ?"
" Iya,Pak. Setelah lulus SMEA, saya coba melamar bekerja disini. Kemudian ibu Rumayyah menerima saya untuk bekerja sebagai cashier disini. setelah beberapa bulan bekerja disini, saya mencoba melanjutkan studi saya untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi. Saya ambil kelas sore untuk karyawan di Sabtu dan Minggu",jawabnya kembali.
Junta mengangguk-angguk sambil tersenyum pada gadis dihadapannya itu.
"Bisa anda ceritakan mengenai pekerjaan anda disini dan hubungan anda dengan Bu Rumayyah ?"
Puteri menganggukkan kepala. Kemudian ia menjawab polisi muda itu :
__ADS_1
"Tugas saya berhubungan dengan masalah keuangan restoran dan pembayaran. Oleh karena itu, saya biasa berhubungan langsung dengan Bu Rumayyah, selalu pemilik restoran ini. Setiap hari segala pemasukan dan pengeluaran akan langsung dilaporkan pada Bu Rumayyah. Karena beliau pasti akan kerestoran ini setiap hari untuk memantau ", ucap gadis berhijab itu menerangkan.
" Bagaimana menurut anda sosok ibu Rumayyah sebagai seorang atasan ?"
" Bu Rumayyah orang yang tegas dan detail. Segala sesuatu harus berada dalam pengawasannya. Tetapi beliau orang yang cukup royal..Jika ia telah mempercayakan seorang pegawai, ia tak segan memberikan bonus atau reward besar padanya", ucapnya kembali.
"Hmm...Apakah anda pernah mendapatkan bonus atau reward itu selama anda bekerja disini ?"
" Tentu iya, Pak...saat itu karena restoran lagi naik daun..dan pengunjungnya meningkat drastis...saya sebagai cashier mendapatkan bonus yang cukup besar diluar gaji saya".
" Kalau boleh tahu berapa bonus yang kamu dapatkan saat itu ?" tanya Junta kembali.
" Yah..sekitar 30% dari gaji yang saya terima..", ucap puteri tersenyum.
" Apakah anda menyukai bekerja disini dengan atasan anda Bu Rumayyah langsung ?".
" Tentu, Pak. Saya sangat menyukai pekerjaan saya. Selain ilmu ekonomi saya terpakai, saya mendapatkan gaji yang cukup sebagai seorang cashier dan dari hasil gaji saya itu saya dapat melanjutkan studi saya pak sampai sekarang..."jawabnya tampak bersemangat.
" Berapa usia anda sekarang jika saya boleh tahu ?"
" 19 tahun,Pak.."
"Hmm...oh iya, bagaimana masalah laporan keuangan yang anda tangani saat ini. Maksud saya setelah kematian ibu Rumayyah, sebagai cashier yang bertugas terhadap pembukuan dan keuangan restoran,kepada siapa anda bertanggung jawab ?"
"Hmm...setelah Bu Rumayyah pergi..saya tidak memiliki atasan untuk melaporkan masalah keuangan harian...Tetapi, saya memiliki rekening tabungan untuk restoran ini. Bu Rumayyah mempercayakan saya untuk memegangnya. Hingga sekarang setiap uang hasil pendapatan restoran, saya setorkan langsung ke rekening tersebut.." terang gadis itu dengan lembut.
"Hmm...Pak, apakah setelah kepergian Bu Rumayyah, apakah restoran ini akan tutup dan...kami harus mundur dari pekerjaan kami ini ?", tanya gadis itu tampak sedih dan sedikit tertunduk. Junta yang mendengar pertanyaan gadis itu sontak terkejut tak menyangka ia akan menanyakan masalah ini padanya.
"Hmm...saya belum tahu, Dik Puteri. Nanti kami pun akan mencari tahu...Dik Puteri, tak perlu bersedih...kalaupun restoran ini ditutup, Dik Puteri bisa mencari pekerjaan lainnya. Yang mungkin...jauh lebih baik dari disini. Saya doakan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Dik Puteri.." ucap Junta dewasa. Ia tampak jauh lebih matang saat ini. Ia bisa merasakan kecemasan yang dirasakan dari pegawai disini akan hal ini.
"Baiklah kalau ada sesuatu, bisa saya nanti menghubungi Dik Puteri kembali ?" ,tanya Junta begitu ramah dan lembut pada gadis dihadapannya itu.
"Insyaa Allah...tentu bisa,Pak.." jawab gadis itu sambil mengangguk.
Junta pun menyodorkan sebuah pena dan notebook yang sebelumnya telah ia lakukan hal yang sama pada seluruh pegawai restoran Tiam ini.
Setelah semua pegawai mendapatkan giliran interview, Junta membereskan semua peralatannya. Memasukkannya ke dalam sebuah ransel berukuran sedang. Ia menghampiri seluruh pegawai yang telah berbaris rapi. Menyalami mereka satu per satu.
"Terima kasih atas segala informasi yang kalian berikan...Semoga akan membantu proses penyelidikan atas kematian Bu Rumayyah. Jika saya butuh informasi lebih lanjut saya akan menghubungi kalian. Dan..ini nomor kontak saya..jika mungkin ada informasi lain yang ingin kalian berikan guna membantu proses penyelidikan.." ucap Junta sambil memberikan kepada masing-masing orang selembar kartu namanya dengan sebuah lambang kepolisian kecil disudutnya.
Junta kemudian berpaling dan menuju motor yang ada dihalaman parkir itu. Para pegawai itu saling memandang satu sama lain, setelah polisi muda itu pergi menjauh. Suara derum motornya terdengar begitu kencang ditelinga mereka yang masih deg-degan dengan kejadian hari ini. Perlahan suara derum itu menjauh di tengah langit senja yang tampak berwarna orange kebiruan.
__ADS_1
***