
Junta tengah memantau gerak-gerik Reni. Setelah informasi tentang Reni yang ia dapat maupun dari penuturan Bimo. Junta berbagi tugas dengan Bimo. Ia memantau gerak-gerik Reni dan Bimo fokus pada Misa.
Petang itu,Junta coba mengikuti Reni pulang kerja. Junta mengira wanita itu akan pulang dianter oleh Anto. Ternyata, ia salah prediksi. Reni tidak diantar lelaki itu. Selepas resto bersiap tutup, Reni telah mengganti pakaian seragam restonya. Ia pergi menaiki sebuah bus bersama putri. Mereka berada dalam satu bus bersama. Junta yang mengikuti arah bus itu dari belakang dengan motor dan slayernya, tentu tak dapat dikenali.
Junta tampak kaget. Ia melewati jalanan ini saat membeli keperluan laptopnya. Keterkejutannya kembali bertambah saat tak lama ia mengikuti bus yang membawa Reni dan Putri, mereka tampak berhenti disebuah gang. Junta mundur pelan-pelan. Ia kelewatan beberapa jarak dari tempat Reni dan Putri berhenti. Sengaja, karena khawatir mereka akan curiga diikuti seseorang. Junta coba memastikan dahulu kedua gadis itu tak mengetahui keberadaan dirinya. Baru kemudian ia kembali masuk ke gang dimana mereka berdua masuk kedalamnya. Ia melihat Reni dan Putri asyik mengobrol sambil berjalan. Hingga kemudian,mereka berhenti disebuah rumah. Reni dan Putri tampak ikut masuk ke dalamnya.
Junta menunggu beberapa saat. Sambil memastikan keduanya betul-betul masuk ke dalam rumah. Ia menunggu disebuah warung minuman.Membeli sebotol minuman sambil meminumnya tanpa melepaskan helmnya. Ia menunggu sekitar 20 menit diwarung itu. Tapi tak nampak Reni ataupun Putri keluar dari dalam rumah itu kembali.
"Hmm...berarti mereka tinggal bersama didalam rumah ini",batin Junta.
"Pak, daerah sini ada kos-kosan gak ya ?",tanya Junta pada bapak penjual warung dimana ia duduk sekarang.
"Oh..banyak mas..buat siapa ? Masnya ? Atau buat temennya cewek atau cowok ?",tanya si bapak warung kembali pada Junta.
"Hmm...buat saya dan buat temen saya cewek...",ucap Junta kembali.
"Oalah...kalau kosan campur ada..tapi saran saya hati-hati banyak yang gak bener...kalau dah berkeluarga disekitar sana banyak kontrakan kok...mendingan ngontrak..",jawab si bapak warung. Junta yang mendengarnya hampir tepok jidat. Si bapak salah menangkap maksud dirinya.
__ADS_1
"Ooh..bukan pak..maksud saya,kalau yang disana itu,rumah atau kosan ya,pak ? Soalnya saya suka lihat beberapa perempuan keluar dari sana..",tanya Junta akhirnya straight to the point pada bapak warung itu.
"Oh...kalau itu mah kosan khusus wanita..emang masnya mau nyari kosan cewek ?",tanya bapak warung itu bingung.
"Hehehe...iya pak..buat adik saya..baru pertama kali mau kos...jadi, saya khawatir..takut salah pergaulan,pak..makanya saya yang bantu pilihkan tempatnya...",ucap Junta asal. Untung saat itu ia mendapatkan ide mencari alasan.
"Ooh..iya bener dek..pergaulan anak zaman sekarang..edan!! Adek ini bener sebaiknya kalau punya adik perempuan dipantau terus pergaulannya..",ucap sang bapak warung.
"i-iiya pak...",ucap Junta kikuk.
"Dah mau pergi,mas ?",tanya bapak warung kembali sambil memberikan kembalian pecahan sepuluh ribuan dan lima ribuan pada Junta.
"Iya,pak..takut kemalaman..masih muter nyari yang lain..",Jawab junta asal jeplak saja.Kemudian tanpa banyak basa-basi ia pamit pada bapak itu. Jam masih menunjukkan pukul setengah 6 sore.
Langit masih tampak kemerahan tapi mulai gelap.
Junta mengendarai motornya. Hingga tiba-tiba disuatu gang dilain jalan tak jauh dari rumah kosan putri dan Reni, ia melihat sesuatu yang tak asing dari kejauhan. Seorang pria keluar dari warteg. Pria itu tak lain,Anto. Entah kebetulan atau ini yang disebut takdir, Junta pun mengikuti lelaki itu. Ia mengendarai sepeda motornya. Berjalan belok ke kanan dan ke kiri memasuki gang-gang. Hingga sampailah disalah satu tempat dimana berjejer rumah-rumah petakan. Lelaki itu memarkirkan motornya. Junta yang berupaya berjalan melewati tempat motor itu berhenti. Dari kejauhan,ia melihat lelaki itu mengeluarkan kunci dari ranselnya. Ia masuk ke dalam salah satu petakan itu.
__ADS_1
"Hmm...berarti lelaki itu tinggal disini",gumam Junta. Junta pun lanjut melajukan motornya, hingga ia keluar disebuah gang yang sangat ia kenali. Didepannya terdapat sebuah warung pecel aneka ayam,bebek dan lele. Tempat yang tak asing baginya.Warung makan saat ia mampir pulang dari belanja keperluan laptopnya.
"Loh,ternyata jalan ini nembus ke tempat makan waktu itu",ucap Junta pelan pada dirinya sendiri. Dari situ jalan besar yang ia lalui mulai terlihat sangat familiar. Ia pun dapat pulang tanpa halangan.
***
Sedangkan Amelia masih lembur ditempat kerjanya karena ia harus membantu seorang wartawan senior yang tengah izin sakit. Jadi, ia yang diminta menghandle pekerjaan wartawan senior itu. Suara handphonenya berdering. Sebuah pesan masuk dari seorang pria yang mengiyakan ajakan pertemuannya. Si penelepon misterius. Begitulah ia menambahkan kontaknya di handphonenya.
Lelaki misterius itu memberikan sebuah alamat tempat makan dan waktunya. Amelia tidak serta merta menjawab pesan tersebut. Ia hanya membacanya saja. Hati dan otaknya telah berpikir berputar.
Ada sedikit antusias bercampur cemas didalam hatinya. Ia tak tahu bagaimana rupa dan watak lelaki ini. Mungkin saja ia sesosok pria kuat yang kasar dan tipe pembunuh. Ingat, ia tengah berbincang dengan seseorang yang dicurigai ada sangkut paut dengan pembunuh dari korban mantan TKW itu. Jadi dalam bayangan Amelia mungkin sosok lelaki ini bertubuh kekar atau kalaupun tidak kekar dan berotot, mungkin ia tipe pembunuh berdarah dingin tanpa ampun.
Amelia berpikir bagaimana caranya agar ia dapat bertemu langsung pria misterius itu tanpa sedikitpun membahayakan dirinya. Hingga sebuah ide terlintas dibenaknya.
"Aha!aku tahu apa yang aku harus perbuat terhadapnya",ucapnya spontan saja. Amelia tersenyum sendiri. Ia yakin kali ini ia akan berhasil mengungkap siapa lelaki penelepon misterius yang selama ini selalu menghubungi Darsim.
***
__ADS_1