Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 16 : Hasil Forensik


__ADS_3

Bagaimana hasilnya,Dok ? tanya Junta pada seorang pria muda cukup tampan. Usianya hanya terpaut 3 tahun lebih tua dari investigator itu.


"Tidak ada tanda kekerasan fisik pada mayat. Tidak ada luka pukulan atau bekas jeratan sesuatu.." dokter itu berkerenyit.


"Luka sayatan dileher cukup dalam..hingga memutuskan syaraf yang menghubungkan ke saluran tracheanya..luka presisi...maksudku, pelaku sepertinya cukup ahli dan mengerti cara menyembelihnya dengan cepat, hingga dengan keadaan seperti itu pasti langsung membuat korban meninggal..." tambah dokter itu sambil mengusap-ngusap dagunya.


"Pada sampel darah yang telah dicek dalam tubuhnya terdapat kandungan zat penenang syaraf yang sepertinya bagian dari pengobatan medis yang dijalani si korban dalam jangka waktu yang cukup lama...serta terdapat kandungan obat tidur dengan jenis berbeda.."


"Tidak ada tanda-tanda bekas hubungan seksual pada organ intim korban sebelum terjadi eksekusi padanya ..."

__ADS_1


"Menurut dugaan saya pribadi : Korban dibunuh dengan cara membuatnya atau saat dirinya telah tertidur terlebih dahulu karena obat tidur dan penenang syaraf yang ia minum. Kemudian di gorok dengan benda tajam entah sejenis pisau daging atau golok dengan sayatan yang tepat untuk memutuskan saluran pernapasannya.."


"Karena saya tidak menemukan luka bekas pukulan dengan benda tumpul ataupun sesuatu yang menunjukkan adanya kekerasan fisik dan seksual pada tubuh si mayat ini ", ucap dokter Hermanto dengan jelas dan detail mengenai hasil forensik yang ia temukan pada mayat wanita yang ia tangani.


"Tubuh si mayat bersih. Bahkan saya dapat mengatakan jika tak ada luka sayatan benda tajam dilehernya, saya menduga korban melakukan percobaan bunuh diri dan bukan dibunuh.." jawab dokter kembali.


"Mungkinkah dok luka sayatan pada lehernya dapat dilakukan korban secara sendiri ? Maksud saya, bisa jadi memang korban bunuh diri tetapi untuk menghilangkan rasa sakit karena gorokan dileher korban meminum obat penenang untuk membantu mengurangi rasa sakitnya ?", selidik Junta, meskipun ia sendiri ragu dengan pernyataannya tersebut.


"Hmm...bahkan jika berlebih maka dapat membuat si korban overdosis dan meninggal.." jawab si dokter dengan nada yakin.

__ADS_1


Junta mengangguk-angguk.


"Dokter apakah mungkin kondisi korban meninggal terlebih dahulu kemudian si pelaku menggorok leher setelahnya ?" tanya Junta kembali tiba-tiba saja setelah mendengar penjelasan tersebut.


"Hmm...saya rasa tidak. Karena saya tidak menemukan tanda-tanda korban meninggal sebelum digorok. Apalagi karena overdosis...tidak ada memar/lebam pada tubuhnya...atau sesuatu yang menunjukkan gejala adanya serangan jantung mendadak...maksud saya..pada orang yang mengalami overdosis, biasanya ada luka memar/lebam yang menandakan aliran darah tidak mengalir dengan baik dan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik hingga membuat si korban kesulitan bernafas yang kemudian membuatnya meninggal.." jawab dokter dengan detail.


"Jadi menurut dokter korban digorok saat kondisinya masih hidup ? " tanya Junta kembali memastikan analisa si dokter forensik.


"Ya..tapi dalam keadaan kondisi kesadarannya hilang dan tak berdaya...penyebab kematian si korban adalah karena kehabisan darah akibat luka gorok dilehernya.." ucap dokter kembali.

__ADS_1


"Baiklah dokter Hermanto..Terima kasih atas keterangan anda.." ucap Junta sambil berlalu. Ia berjalan berlalu. Titik terang bagaimana si korban tewas telah ia dapatkan. Hanya siapa kira-kira pelakunya ?


__ADS_2