
Seorang wanita cantik dengan celana jeans dan sepatu sneaker serta baju Sabrina berwarna lemon tampak menonjol didalam sebuah restoran sederhana itu. Rambutnya ikal sebahu dibiarkan terurai dengan sebuah jepit rambut lidi dikiri dan kanan berwarna emas. Sebuah sapuan make up tipis menghiasi wajahnya yang cukup rupawan. Ia mengambil salah satu meja didalam resto itu. Ia memesan sebuah minuman jus alpukat. Sambil matanya menoleh mencari-cari pria yang akan bertemu dengannya.
Ia membalas pesan pria tersebut.
"Aku sudah berada diresto Manchiatos dengan baju sabrina berwarna lemon",tulisnya dalam sebuah pesan yang ia kirimkan ke sebuah nomor.
Ia menunggu balasan pesan. Tapi tak ada balasan apapun. Di sudut pojok yang berlawanan, Amelia dengan mengenakan celana jeans dan kaos lengan pendek berwarna hitam serta sepatu kets dan topi bucket lebar. Berwarna senada bajunya,hitam. Menutupi sepintas wajahnya.
Ia melirik kekanan dan kekiri.Berupaya mencari-cari sosok pria yang mungkin menggenggam handphone ditangannya. Tapi ia tak melihat satupun orang yang sibuk dengan handphonenya.
Hari itu ia memenuhi janji bertemu dengan si penelepon misterius. Ia meminta bantuan pada salah seorang kawan jurnalisnya yang parasnya rupawan. Ia memberi kode pada kawannya itu dengan kerlingan mata. Tak ada yang tahu mereka saling mengenal. Kawan Amelia memilih spot duduk ditengah. Sedangkan Amelia sendiri memilih bangku pojokan diresto itu yang bisa melihat ke seluruh area ruangan hingga pintu masuk.
Amelia menatap ke setiap sudut dengan tenang. Hanya matanya saja yang tampak berputar-putar melirik ke kanan dan ke kiri. Ia tak melihat seseorang memegang handphonenya. Tak mungin si penelepon misterius itu tak datang. Lelaki itu yang lebih dahulu mengajaknya bertemu dan ia pula yang memilih tempat itu.
10 menit...20 menit...25 menit...hampir setengah jam Ia dan kawannya duduk disana. Mereka sudah memesan menu sejak tadi. Amelia mulai tampak gelisah dan geram Ia merasa dipermainkan si penelepon misterius itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke handphonenya.
Aku bisa melihatmu cantik. Tapi aku terlalu malu untuk mendekatimu. Coba kau tengok sisi parkiran motor samping. Aku mengenakan jaket hitam tanpa helm.
Amelia sontak kaget mendapat pesan tersebut. Sisi parkiran motor tepat disebelahnya. Ia duduk dipojokan samping jendela. Pemandangan disebelahnya adalah parkiran sepeda motor. Ia belagak menelepon seseorang. Seolah tengah berbicara dengan seseorang.Padahal Amelia tengah menyalakan kamera video handphonenya. Kawannya yang duduk ditengah restoran seolah mengerti dengan gelagat kawannya itu. Amelia memberikan kode kerlingan dengan sebelah mata kirinya. Sambil terus seolah bicara dengan seseorang diseberang sana,ia pelan-pelan menengok ke arah samping parkiran motor. Dan...
Ia melihat seorang lelaki tengah berdiri diantara motor yang terparkir. Ia tak mengenakan masker apapun tapi mengenakan sebuah jaket hitam bertudung menutupi sedikit bagian atas wajahnya. Lelaki itu tampak tersenyum melihat Amelia. Seakan ia tahu siapa dirinya. Jantung Amelia seketika berdegup kencang. Kamera videonya masih merekam lelaki itu. Tak lama ia berbalik dan mengambil sebuah helm serta menaiki salah satu motor yang terparkir. Saat itu juga Amelia merekam dengan jelas motor dan plat nomor motor yang digunakan lelaki itu. Ia melaju tanpa menoleh dengan helm fullface yang terpasang.
Kawannya hanya melihat gerak gerik Amelia yang tampak kaget. Tak tahu harus berbuat apa. Kawannya pun seketika mengeluarkan handphone dan menuliskan pesan pada Amelia.
"Hei,temanmu jadi datang ?".
" Tidak...orang itu baru saja pergi,Mel".
Balas pesan Amelia pada Melani, temannya yang ia mintai bantuan. Melani tidak tahu sepenuhnya lelaki yang akan ditemuinya itu. Amelia hanya berkata seorang penelepon tanpa nama selama ini berkontak dengannya dan ingin bertemu dengan dirinya. Tapi karena ia curiga takut seorang psychopath, ia meminta bantuan Melani teman semasa kuliah dulu sekaligus sesama jurnalis saat ini. Melani dengan senang hati membantu. Wanita itu cukup pandai untuk masalah seperti ini. Ia cukup pintar bertutur kata dan berhadapan dengan orang lain sambil mencari tahu tentang diri lawan bicaranya.
__ADS_1
Amelia seketika melihat handphonenya yang telah mensave rekaman kamera video handphonenya. Ia membuka hasil rekamannya. Sial! Wajah lelaki itu terpotong dalam rekaman.padahal cukup terlihat jelas. Amelia tahu wajah lelaki itu.Tampilannya tampak berkumis dan berjenggot tipis. Tetapi rekaman video motor lelaki itu dan platnya tampak sangat jelas. Karena saat itu kondisinya lelaki itu memunggunginya. Hingga Amelia dapat mengarahkan handphonenya dengan benar dan merekam motor yang dikendarai lelaki itu dari belakang. Ia merekam dengan jelas bagian plat nomornya.
Paling tidak ia tak sia-sia dengan apa yang dimilikinya saat ini.Ini akan menjadi barang bukti untuk mengungkap siapa sebenarnya penelepon misterius pak Darsim selama ini.
Melani yang mendapatkan balasan pesan seperti itu dari Amelia pun akhirnya menghampiri gadis itu ke mejanya.
"Mel,kok loe gak bilang gw tuh cowok dah dateng ?",tanya Melanie sambil menepuk bahu kawannya. Amelia kaget sesaat. Nyaris saja ia lupa keberadaan Melani disana.
"Sorry, Mel...Gw sendiri baru tahu tadi.Gw juga kaget..nich loe baca aja pesannya..",ucap Amelia menunjukkan pesan yang didapatnya tadi dari si penelepon misterius.
"Wah...loe berarti lihat dia donk tadi...cakep gak, Mel ?" tanya Melani kembali pada Amelia. Kawannya itu tak tahu masalah sesungguhnya. Melani mengira itu hanya lelaki misterius yang menyukai Amelia. Semacam secret admirer kawannya itu.
"Gak tahu...gw gak lihat jelas..",jawab Amelia singkat. Ia tak memberitahukan ke Melani perihal rekaman video yang ia buat tadi. Ia tak ingin melibatkan kawannya itu terlalu jauh. Khawatir akan membahayakan keselamatan diri temannya itu.
"Yah...sia-sia donk gw dandan kece...ya udah kita jalan ngemall aja yuk cuci mata...ntar gw anterin loe pulang balik sampai kosan..",ucap Melani pada Amelia. Ia tadi memang naik mobil wanita itu. Melani menjemput gadis itu dikosannya. Amelia hanya mengangguk. Ia mendengarkan Melani bicara tapi pikirannya entah kemana.
__ADS_1
Apa yang didapat Amelia hari ini akan menjadi sebuah informasi berharga yang mungkin akan menjadi titik terang bagi penyelidikan kasus pembunuhan ini. Haruskah ia memberitahukannya pada Junta,si polisi muda itu ?,bisik pikirannya saat ini. Melani yang menggandeng tangan Amelia bergegas keluar dari resto itu. Amelia tak banyak bicara,ia hanya mengikuti langkah kawannya itu. Mereka berdua kini masuk kedalam mobil dan melaju pergi dari resto disana.
***