
"Mo,dah ada kabar dari Pak De masalah kontrakan loe ?", tanya Junta pada rekannya. Hari masih sangat pagi, tapi gedung kepolisian telah ramai dengan para pekerja penegak hukum.
Bimo yang mengaduk secangkir black coffee hanya menjawab : "Belum, Jun...atau gw telepon aja ya ? Dah 2 hari dari kita kesana...menurut loe enak gak ya gw telepon ke orangnya ?"
"Yah...gpp, Mo. Sekalian ngingetin siapa tahu beliau lupa...lagian lebih cepat lebih baik..",jawab Junta. Bimo hanya menganggukkan kepalanya.
"Trus gimana ada petunjuk baru gak Jun mengenai kasus kita ?", tanya Bimo kembali.
"Belum, Mo...oh iya, cuma ada kejutan baru... Kemarin seorang lelaki paruh baya dateng..ia mengaku pengacara pribadi korban..namanya pak Jaya ..hari ini atau lusa mungkin dia akan datang kembali..mo ngambil surat keterangan dan kematian korban..tapi,dah gw titipin tadi dimeja depan..",ucap Junta pada rekannya.
"Wah..bagus tuh...dia bisa jadi salah satu saksi kunci, Jun...",ucap Bimo kembali.
"Saksi kunci gimana maksud loe,Jun ?",tanya Junta.
"Iya...dia ngaku pengacara pribadi korban bukan ? Pasti tahu segala hal pribadi tentang clientnya...dan mungkin mengenai si Mr.Chan itu ..dia bisa jadi kunci pembuka untuk kita memperoleh keterangan yang bersifat detail dan pribadi mengenai korban..",terang Bimo.
"Umm...bener juga sich, Mo..trus loe ada ide atau analisa baru mengenai kasus ini gak,Mo ?",tanya Junta kembali.
"Oh iya,Jun..untung loe ingetin gw..kemarin gw abis rembukan sama orang IT...masalah pengecekan tentang nomor si penelepon misterius di HP Darsim...loe tahu gak ? ternyata handphone Darsim memang bukan berasal dari sini. Alias bukan buatan Indonesia. Handphonenya adalah handphone keluaran pabrik di Hongkong. Dan mengenai penelepon misterius, bagian forensik IT sudah mengeluarkan data rekamnya..tanggal,waktu dan lokasi si penelepon semua terlacak didalam kota. alias si penelepon misterius tinggal di Jakarta..",ucap Bimo mulai bersemangat kembali.
"Umm..jadi ..kemungkinan besar si penelepon misterius dan orang yang memberikan handphone Darsim adalah dua orang yang berbeda ? berarti kita harus menghapusnya dari daftar tersangka kita Mo..terbukti pernyataan yang ia berikan benar..", Ucap Junta menegaskan.
"Eittts....tunggu dulu..loe jangan terburu-buru ambil kesimpulan Jun... Kita runut dulu ya..telepon milik Darsim memang bukan buatan dari pabrik lokal. Tapi masalah si penelepon misterius, kita belum tahu siapa orangnya..maksud gw, dari data yang dimiliki tim forensik IT terlacak pemilik SIM cardnya. Tapi menurut mereka data yang diberikan si pemilik adalah positif fake..alias palsu. Nomor NIK yang didaftarkan adalah NIK palsu..kita harus tetap curiga, bisa jadi ini merupakan permainan si Darsim..",ucap Bimo sambil menyeruput kopi ditangannya.
"ummm....okay...oh iya gimana kalo coba loe minta tracking IT untuk lokasi detail si penelepon ? Kita langsung coba susuri saja disana,Mo..kita gak punya banyak waktu...trus masalah kontrakan, loe telepon aja Pak De sekarang..gimana ?",ucap Junta memberikan usulan pada rekannya itu.
"okay...bentar gw call si Pak De dulu...",ucap Bimo sambil menekan nomor pada handphonenya. Tak lama nada sambung pun masuk.
Tuut...Tuut...
"Halo, assalamualaikum...bisa bicara dengan Pak De ? Saya Bimo yang kemarin datang mau nanyain masalah kontrakan, Pak ...gimana ya kira-kira saya bisa tinggal disana gak ya Pak ?", tanya Bimo to the point.
"Oh...iya waalaikumsalam mas Bimo...insyaa Allah bisa mas..kemarin sudah saya hubungi penghuninya..dia lagi pulang kampung..orangtuanya sakit keras. Jadi bulan depan tak akan lanjut mengontrak disini..hanya saja barang-barangnya masih ada dirumah. Tak banyak sepertinya...Nak Bimo mau masuk kapan ya ? Nanti biar barang-barangnya kalo belum bisa diambil penghuni lamanya, biar saya beresin dan saya taruh di gudang aja..",ucap Pak De pada Bimo yang ada diseberang.
"Baiklah pak..kalo besok pulang kerja saya langsung masuk bisa pak ?",tanya Bimo kembali.
__ADS_1
"Boleh...Boleh,Nak. Besok pagi bapak bereskan rumahnya..",Ucap Pak De kembali.
"Alhamdulillah ..baik pak..besok saya langsung bayar untuk 3 bulan kedepan dulu boleh pak ?",tanya Bimo kembali.
"Boleh, Nak Bimo..",jawab Pak De singkat.
"Kalau begitu besok saya langsung tempatin ya pak, sekaligus bayar untuk 3 bulan ke depan..",jawab Bimo kembali.
"Iya, baik Nak Bimo...",jawab pak De singkat.
"Baiklah pak, kalo begitu saya sudahi teleponnya ya..."
"..wassalamu'alaikum,Pak..",ucap Bimo memutuskan sambungan. Terdengar balasan salam dari seberang sana dan sambungan telepon pun terputus.
"Gimana ? Loe jadi kesana besok ?",tanya Junta memastikan percakapan yang ia dengar antara rekannya dengan Pak De pemilik kontrakan.
"Siap, Jun..besok gw mulai bisa tinggal disana..gw besok balik ngantor langsung kesana aja.."
"Yo wis...baguslah kali begitu..trus loe ke IT lagi..mintain rekam detail lokasi penelepon..biar siang ini kita bisa langsung gerak coba susuri aja..sapa tahu ada clue baru yang bisa segera mengungkap pelaku dibalik kasus ini semua..",ucap Junta.
"Jam 1 aja, habis ishoma lah ..",jawab Junta singkat.Bimo pun mengangguk dan berlalu keluar ruangan menuju bagian IT. Junta kembali berkutat dengan laporan yang ia buat dilaptopnya dan beberapa resume yang ia update hasil penyelidikannya sampai sekarang.
***
Nun jauh... Disebuah gerai pulsa...
Amelia tengah membeli sebuah nomor baru. Ia memang sudah mencatat nomor kontak si penelepon misterius Darsim. Terdengar klise dan bahkan diluar nalar..Gara-gara mimpinya, Amelia kali ini kembali mengikuti intuisinya.
Ia membeli sebuah SIM card baru. Untunglah hapenya merupakan keluaran terbaru. Yang bisa menggunakan double simcard. Ia menggunakan identitas palsu. Meminjam salah seorang teman kosannya untuk memasukkan nomor NIK miliknya dan nama samaran.
Ia coba menuliskan sebuah pesan singkat.
Hi, boleh kenalan ?
sebuah pesan tanpa nama dikirimkan gadis itu. Ia tunggu beberapa saat. 10 menit...20 menit...1 jam...2 jam...tak ada tanda-tanda balasan atas pesan yang ia kirimkan. Ia pun kembali balik menuju gedung kantornya. Ada beberapa tulisan yang harus ia selesaikan. Hingga ia dikejutkan sebuah bunyi notifikasi pesan masuk ketika siang tiba...tak ia duga sebuah pesan masuk ke nomor barunya .
__ADS_1
Beep...Beep...
Amelia membuka pesan yang masuk. Rasa kaget sekaligus senang kala melihat balasan dari nomor si penelepon misterius Darsim.
Hi...kau wanita atau pria ? Darimana kau dapatkan nomor ini ?
Amalia terdiam dan berpikir untuk beberapa saat. Kemudian ia membalas kembali pesan tersebut.
Umm..aku seorang wanita.Aku dapatkan nomormu random saja...Tidakkah kau melihat nomorku memiliki angka yang mirip dengan nomor teleponmu ?
Memang bukan kebetulan ia membeli nomor barunya. 4 angka dibelakang nomor barunya hampir serupa dengan nomor si penelepon misterius. Karena itulah ia membeli nomor baru tersebut.
Tak butuh waktu lama. Si penelepon misterius menjawab pesannya..
Umm...kau tampak menarik bagiku ..sebuah perkenalan baru yang menyenangkan. Kebetulan aku seorang pria. Siapa namamu cantik ?
Amalia kembali membalas pesan singkat tersebut.
Terima kasih untuk pujianmu. Namaku Rosi.
Kau sendiri siapa namamu ?
Amalia menunggu hingga hampir 30 menit lebih tak ada balasan dari si penelepon misterius. Tiba-tiba saja ia menghilang tanpa balasan kembali. Amalia masih melanjutkan tulisannya. Hingga seorang editor memanggil ke ruang kerjanya. Beberapa tulisannya harus direvisi sesuai standar korporasi tempat ia bekerja.
***
Sedangkan nun jauh...disebuah tempat di ibukota....
Si penelepon misterius menonaktifkan nomornya kembali dan mencopotnya dari handphone miliknya. Ia memang terbiasa melakukan itu. Untuk mengkamuflase keberadaannya. Hingga seolah-olah nomornya sudah tidak aktif lagi dan sulit terlacak.
Siang itu ia tengah berada disebuah rumah kontrakan miliknya. Tak banyak barang yang ia miliki didalamnya. Hanya sebuah kasur lipat dan lemari plastik tempat menyimpan pakaian. Diruang depan yang menjadi ruang tamu hanya ada sebuah tikar rotan dan sebuah meja lesehan panjang.
Ia hanya tinggal seorang diri dirumah itu. Hari itu ia izin kerja setengah hari. Badannya terasa agak demam. Kini ia berbaring diatas kasur lipatnya. Menggenggam handphone yang baru saja ia matikan. Ia memejamkan matanya. Kilatan pisau yang menggorok wanita itu selalu terbayang dalam ingatannya yang kuat. Ia dapat melihat bagaimana sorot mata kaget wanita itu yang perlahan memudar ketika darah mengalir deras dari lehernya..perlahan membuat matanya meredup dan terpejam...
***
__ADS_1