
Pagi itu kawasan petakan tampak mulai ramai. Hari itu adalah hari Sabtu. Bimo tengah menyapu dihalaman teras rumah barunya untuk 3 bulan ke depan. Ketika seorang bapak-bapak disebelahnya menegur.
"Oh..penghuni baru disini ya,mas ?", tanya si bapak padanya.
"Iya,Pak..kenalkan nama saya Bimo",ucap Bimo mengulurkan tangannya.
"Saya Pak Gunadi..udah berapa lama,Dik ? Saya baru lihat adiknya..maaf ya..bapak baru tahu ada tetangga baru..butuh bantuan buat angkut barang Dik ? Biar saya bantu...",tawar si tetangganya itu. Bimo memang mendapatkan kamar paling pojok sebelah kiri. Tidak banyak hingar bingar terdengar dari tetangga lainnya. Sedangkan targetnya, berada di petakan nomor 3,alias tepat dikamar sebelah Gunadi ini.
"Oh..gak apa-apa pak...saya juga baru masuk semalam...barang saya juga gak banyak kok...maklum bujangan pak..",jawab Bimo sekenanya. Ia sebenarnya malas berbasa-basi. Tapi ia punya misi tinggal disana. Jadi ia harus pandai-pandai bersosialisasi dengan penduduk disitu mencari tahu tentang targetnya.
"Oo..begitu...kerja atau kuliah,Dik ?",tanya Gunadi kembali.
"Saya kerja,Pak..",jawab Bimo singkat. Berharap lelaki itu berhenti bertanya. Tetapi nyatanya tidak. Tetangga barunya itu nampak seperti seorang bapak-bapak yang doyan mengobrol.
"Oo..kerja dimana,Dik ?",tanyanya kembali.
"Itu..di mall Silvermoon...",jawab Bimo sekenanya. Kebetulan tak jauh dari kantor kepolisian tempat ia bekerja terdapat sebuah Mall cukup besar.Mall Silvermoon.
"Oo...pelayan disana,Dik ?", ucap Gunadi kembali, yang hanya dibalas dengan senyum dan anggukan Bimo.
"Kalau saya disini juga tinggal sendiri,Dik..anak dan istri saya dikampung...biasanya 3 bulan sekali saya pulang kampung..mereka tinggal di Cianjur. Maklum...saya kerja jadi buruh pabrik yang bagian ngepa-ngepakin makanan kaleng...",terang Gunadi tanpa ditanya. Bimo yang merasa serba salah jadi terpaksa duduk ditembok pembatas yang menghalangi rumahnya dan tetangganya itu. Tembok yang setinggi paha orang dewasa bisa dijadikan tempat duduk di teras untuk sekedar ngobrol. Ia menyandarkan sapunya di pinggir tembok.
"Duh...dik Bimo...jadi sampai berhenti kerjanya...maaf ya..bapak banyak mulut...maklumlah...orang tua kesepian...Bapak jadi gak enak...oh iya...Dik Bimo lanjutkan saja dulu bebersihnya..nanti kalau sudah selesai ke tempat bapak saja..Dik Bimo belum sarapan pagi kan ?",tawar Gunadi pada tetangga barunya itu.
"Ii..iya...anu pak..saya jadi gak enak ngerepotin tetangga..",jawab Bimo pada pria itu.
"Aah ...gak apa-apa,Dik..sarapan tempat bapak aja..hanya saja lauknya sekedarnya ..kebetulan bapak masak nasi banyak ..",ucap Gunadi kembali pada Bimo. Bimo yang merasa tak enak menolak, ia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah,pak...kalau tak merepotkan bapak...saya nanti ketempat bapak kalau sudah bebersih..."ucap Bimo kembali. Gunadi pun mengangguk sambil mematikan puntung rokok yang sedari tadi dihisapnya.
"Kalau begitu,bapak kedalam mandi dulu ya..",ucap Gunadi sambil tersenyum ramah.Bimo hanya membalas dengan senyuman sambil menganggukkan kepala.
Bimo pun kembali bebersih, menyapu dan mengepel seluruh ruangan dan bergegas mandi setelah badannya mulai berkeringat akibat menyapu dan mengepel. Kini wangi harum semerbak menyejukkan begitu terasa.
***
__ADS_1
Bimo baru saja akan mengunci pintu rumahnya, ketika seorang pria berteriak dengan suara yang cukup keras membentak.
"Keluar cepat...lamban sekali kau jadi perempuan!...bersolek macam seperti ***** saja !",ucap seorang lelaki yang tampak masih cukup muda untuk seorang ayah.
Seorang perempuan dengan dandanan yang tampak murahan dan rambut kepang digelung keluar dari dalam rumah. Ia nampak panik dan terburu-buru. Bimo yang kaget karena teriakan lelaki itu pun menoleh. Ternyata itu adalah targetnya, Misa. Lelaki yang ada dihadapannya nampak seperti suaminya. Bimo memperhatikan sambil belagak membuka pintu rumahnya kembali.Ia belagak seolah dari luar dan akan masuk ke dalam rumah. Ia masuk dan menutup kembali pintu rumahnya. Mengintip dari gordyn jendela.
"Sabar donk..mas..aku juga buru-buru ini...",ucap Misa pada suaminya itu. Ia nampak panik sambil memegang kunci. Ketiga anaknya yang berdiri dibelakangnya tampak takut melihat kemarahan ayahnya. Pria itu tampak mengenakan kaos berkerah yang dimasukkan kedalam celana panjang berwarna hitam. Ia mengenakan belt. Tampak sangat necis. Kumis tipis menghiasi wajahnya yang sangar tanpa senyum. Berbeda dengan Misa,sang istri. Ia mengenakan baju terusan selutut berlengan pendek. Serta sepatu sandal berhak sekitar 2 cm.Rambutnya dikepang dan digelung membentuk sanggul. Wajahnya nampak putih kontras dengan kulit tangannya yang sawo matang. Macam ibu-ibu kampung yang bersolek. Alisnya bak celurit tebal dengan gincu merah. Wajah gadis itu tak terlalu buruk sebenarnya hanya saja make up-nya membuat terlihat kampungan dan murahan.
Wanita itu mengunci pintu rumahnya dan berjalan menggandeng kedua anaknya. Seorang anak perempuan yang paling besar berjalan bersama ayahnya. Hingga mereka menghilang dari pandangan Bimo, barulah ia keluar rumah kembali. Mengunci pintu dan bertamu ke tempat Gunadi.
***
"Masuk aja..Dik Bimo..tak dikunci kok pintunya..", ucap Gunadi dari dalam rumah. Rumah tetangganya tak jauh berbeda dengan Bimo. Minim dengan peralatan. Bagian depan multifungsi. Menjadi ruang tamu,ruang makan dan ruang TV sekaligus. Sebuah meja TV kecil lengkap dengan TV layar datar 21 inch serta sebuah meja panjang, yang kini ditata diatasnya dengan piring dan sebuah magic com ukuran kecil serta lauk sepiring sardines dan sepiring sayur tumis buncis. Lantainya dialasi karpet berbulu halus. Sebuah kipas angin menyala tergantung diatas dinding.
"Maaf ya..ala kadarnya..",ucap Gunadi pada tamu sekaligus tetangga barunya itu.
"Ini cobain,Dik Bimo...ikan sardines dari tempat kerja bapak...maklum buruh disana..kalau ada barang sortiran reject pabrik, biasanya jadi incaran para pegawai karena harganya dibandrol jadi setengah harga pasaran..",ucap pak Gunadi.
"Eh..tapi jangan salah..ini bapak bukan lagi promosi loh ya...",ucapnya kembali dengan nada candaan sambil mengangkat-angkat alis. Bimo hanya tertawa menanggapi tetangganya itu. Hanya dengan sekilas perkenalan, Bimo merasa tetangganya itu tipe yang ramah dan cukup ceplas-ceplos dalam berbicara.
"Gimana,Dik Bimo ?Enak tak Dik ?",tanya Gunadi.
"He-em, Pak...enak sekali...",ucap Bimo sambil mengunyah. Ia berkata jujur. Sardines tersebut berbumbu agak sedikit beda dari sardines kalengan yang biasa ditemukan. Rasa pedas manis dan sedikit asam dari rasa saus tomat serta daging ikan yang bumbunya terasa meresap sampai kedalam. Pas dengan sayur tumis buncis yang terasa garing dan manis.
"Pak Gun masak sendiri sayurnya ?",tanya Bimo berbasa-basi sedikit sambil makan.
"Iya,Dik...sayur tumis buncis gini doank mah..bapak bisalah masak sendiri...",jawab Gunadi sambil ikut melahap piring nasinya sendiri.
"Oh iya,ngomong-ngomong Dik Bimo sudah kenalan dengan tetangga yang lainnya ?",tanya Gunadi kembali padanya.
Kesempatan emas!,pikir Bimo mendengar pertanyaan Gunadi padanya.
"Belum,Pak",ucap Bimo kembali.
"Memang kalau 3 kamar sebelah lainnya bapak kenal dekat ?",tanya Bimo sambil mulai menyelidiki.
__ADS_1
"yah..gak Deket banget sich..tapi bapak kenal..",jawab Gunadi.
"Kalau yang sebelah rumah bapak ini siapa ya, Pak ?",tanya Bimo to the point pada Gunadi.
"Oo..sebelah ? itu pak Markus dan istrinya. Mereka punya 3 anak...cuma..yah..gitulah..Dik Bimo tadi denger sendiri kan ? kalau bicara memang suka kasar dan keras...maklum orang sebrang...cuma kadang baik kok istrinya..saya suka lihat kadang bersosialisasi sama tetangga lainnya..kalau saya pribadi, jaranglah Dik...apalagi suaminya keras begitu..nanti bisa runyam...",terang pak Gunadi.
"Kalau yang sebelahnya lagi itu ditempati sama mbak Tina dan mbak Tini...kakak beradik yang merantau dan kerja di sebuah perusahaan..tapi lupa bapak namanya...Nah kalau yang paling ujung itu dah berkeluarga juga,Dik..tapi belum punya anak...namanya mas Agung dan mbak Tarni..suaminya sales kendaraan bermotor di perusahaan Hyumai dan istrinya juga penjaga counter toko kosmetik besar gitu..kalau bapak tak salah inget..",lanjut Gunadi kembali.
"Gak apa-apa nanti lama-lama,Dik Bimo juga kenal kok...cuma kalau tetangga ya ini..nih..",ucap pak Gunadi sambil menunjukkan jari ke sebelah (rumah Misa,si target Bimo).
"Iya kenapa pak ?",tanya Bimo penasaran.
"Sebaiknya sich jangan terlalu dekat...suaminya mudah curigaan dan pemarah...jadi harus hati-hati bergaulnya..kalau istrinya sich, mungkin karena ibu-ibu ya..cukup ramah dan masih bisa berbasa-basi ..anak-anaknya juga cukup sopan kok...kadang mereka suka main keluar...ke sana tuh..ke sebuah lapangan basket.. (sambil memberi kode dengan gelengan kepala,yang maksudnya keluar)...",jelas pak Gunadi.
"Disana suka banyak main bocah-bocah kalau sore hari...",ucap pak Gunadi.
"Nanti kalau ada waktu coba saja,Dik Bimo muter-muter daerah sini...supaya kenal juga daerah sini...Maaf,Dik Gunadi ada motorkah ?",pak Gunadi menjelaskan sambil melahap nasi suapan terakhirnya.
"Nggih..pak ..ntar saya pasti muter-muter...iya pak saya ada motor ..oh iya daerah sini amankah taruh motor diteras depan pak ?",tanya Bimo kembali.
"Yah...gimana ya...belum ada kejadian maling sich dikontrakkan kita...tapi..yah .buat jaga-jaga mendingan taruh didalam aja,Dik kalau malem atau mau pergi jauh...daripada kenapa-kenapa..",jawab Gunadi kembali. Kali ini ia menenggak air putih dingin digelasnya.
Bimo yang mendengarnya hanya mangguk-mangguk saja. Sambil ia merekam dalam memorinya pembicaraannya mengenai si target.
***
Disebuah kosannya yang ramai di setiap weekend pagi..
Amelia baru saja bebersih dan menjemur baju yang baru dicucinya. Ia tengah berselonjor santai sambil berselancar didunia Maya lewat laptopnya,ketika sebuah notifikasi dari akun media sosialnya. Sebuah tanda approval pertemanan dari pemilik akun Toni Forever. Gayung bersambut baginya.
Ia menegakkan posisi duduknya. Semangatnya mulai muncul kembali. Ia membuka akunnnya dan melihat kepada sipemilik akun yang baru saja mengapprovenya.
Mata Amelia tebelalak tatkala ia membuka sebuah album profile. Ia menemukan salah satu foto dimana salah satunya ia mengenalinya. Itu adalah foto salah seorang pelayan direstoran Tiam yang pernah ia ajak ngobrol pertama kali. Misa.
Foto tersebut seperti disebuah taman. Dimana terdapat beberapa kawannya. Amelia tak terlalu mengenali yang lainnya. Tapi sepertinya itu adalah para pegawai di restoran Tiam. Ia dapat menerka begitu karena dalam foto mereka mengenakan kaos dengan warna merah maroon. Seperti sebuah foto piknik bersama.Entahlah..
__ADS_1
Mendadak kecurigaan Amelia muncul seketika.Halusinasinya mulai menerka-nerka. Mungkinkah sang bos pemilik restoran Tiam adalah korban pembunuhan berencana dari para pegawainya sendiri ? Atau salah seorang diantara mereka adalah pengkhianat yang membunuh atasannya sendiri tanpa ada yang mengetahuinya ?