
Minggu pagi itu udara terasa sangat sejuk. Dini hari tadi hujan turun rintik-rintik. Menyisakan hawa dingin bercampur dengan bau tanah dan rerumputan yang menyeruak masuk melalui kisi-kisi dan jendela kamar Junta.
Pagi itu ia mencoba beberapa barang yang baru ia beli kemarin. Sebuah RAM dengan memori yang cukup besar untuk mengupgrade laptopnya. Junta nampak bersemangat membuka dan memasangkan RAM baru yang ia beli kemarin. Setelah berhasil ia mengetes dan mencek laptopnya.
Berhasil! Kini kapasitas dan kecepatan memori laptopnya jauh lebih oke. Ketika tengah sibuk bermain dengan laptopnya. Juna, adiknya mengetuk pintu kamar dan belum sempat Junta memberi izin, adiknya sudah membuka pintu kamarnya dan nyelonong masuk ke kamarnya.
Juna yang melihat kantong besar bertuliskan warehouse elektronik terkemuka itu, langsung mendekati kakaknya.
"Wah, Mas Jun baru beli laptop baru lagi ya ?",tanya Juna menghampiri dan mendekat ke abangnya itu yang tengah duduk dikursi kerjanya.
"Nggak kok...cuma upgrade laptop Abang yang lama...",ucap Junta pada adik bungsunya itu.
"Waah...banyak duit nich, Abangnya Juna..",seloroh Juna adiknya.
"Aiiih..aamiin..aamiin ya rabbal 'alamiin..",balas Junta mendengar ucapan adik laki-lakinya itu.
"Eh iya, Jun, kamu kan jurusan tehnik informatika...bisa donk ngehack-ngehack sedikit akun medsos atau email orang gitu ?", ucap Junta pada adiknya itu.
"Hmm...kalau cuma buka password email dan medsos doank mah,insyaa Allah Juna bisa donk mas..",balas Juna kembali.
"Emang mas mau ngehack email sapa ? Wiiiw...ceweknya Abang ya ? Selingkuh ya ? Mau di intelin ya ? Diih..bang Jun jealous ya...mana..mana..Jun mau lihat juga donk bang...",ucap Juna menggoda kakak sulungnya itu.
"Halah...mana sempet Abang nyari cewek...bukan! Abang lagi nanganin kasus..panjanglah kalau diceritain...ini lagi investigasi orang..",jawab Junta kembali.
__ADS_1
"Oo..investigasi tersangkanya gitu ya ?",balas Juna kembali sambil mengangguk-angguk gak jelas. Sok ngerti aja dia. Juna memang berlawanan dengan Junta. Juna bukan tipe yang demen ngepoin orang lain atau berbau-bau investigasi ala detektif. Kalau sekedar nonton film model detektif atau thriller-thriller pembunuhan gitu, dia suka. Tapi untuk urusan kerja atau karir, ia bukan tipe yang demen dengan hukum atau perpolitikan. Njelimet dan membosankan melihat orang adu argumen sampai berotot dan bertengkar. Juna lebih tertarik kerjaan yang mendem dan nyepi.Hanya berkutat dibalik komputer. Ia sanggup dan kuat mengutak-ngatik dengan komputernya semalaman suntuk. Makanya sejak zaman di bangku SMA, Juna bahkan tidak menyukai pelajaran sosial yang membuatnya setengah mati harus menghafal segala hal. Nilai 6 atau 7 adalah keberuntungan baginya dalam pelajaran sosial terutama sejarah.
Ia lebih menyukai hitung-hitungan yang menurutnya menarik. Mencari sebuah rumus untuk memecahkan dan menemukan sebuah jawaban dari setiap angka-angka adalah salah satu minatnya, yang hampir bagi sebagian besar orang justru sebaliknya, menjemukan.Oleh karena itulah ia sudah bertekad ia ingin menjadi seorang ahli programmer sejak masuk SMA. Apalagi salah satu ikon yang ia jadikan panutan saat masanya itu adalah Bill Gates. Jadilah sekarang ia ambil jurusan tehnik informatika di salah satu kampus negeri di Jakarta.
"Mana mas..coba sini...Juna lihat..akun yang mana yang mau masnya hack ?", tanya Juna pada kakak sulungnya itu.
"Ini ..",jawab Junta menunjukkan sebuah nama dan nomor kontak yang ditulis oleh orangnya sendiri di sebuah notebook sebesar telapak tangan yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Dari data ini doank kamu bisa nyari tahu,Dek ?",tanya Junta pada adik bontotnya itu.
"Umm...iya bisa kok..",jawab adiknya itu singkat. Junta pun bergeser pindah duduk ke sisi tempat tidurnya. Membiarkan adiknya itu mengambil alih laptopnya. Juna pun mulai sibuk dengan jari-jemarinya mengutak-atik laptop milik abangnya itu. Berbagai lambang dan bilangan angka ia ketikkan.
Butuh sekitar 30 menitan lebih baginya sampai...
"Ini bukan orang yang mas Junta cari ?", tanya Juna pada abangnya itu. Sambil mengarahkan laptopnya ke depan wajah Junta agar ia bisa melihatnya sendiri.
Junta yang melihat adiknya sudah masuk ke sebuah album foto di media sosial si pemilik,dimana terdapat sebuah foto close up milik Misa, Junta pun mengangguk senang.
"Kalau begitu, kamu bisa donk ngehack beberapa orang lainnya lagi ?",ucap Junta meminta adiknya melakukan hal yang sama pada orang lain lagi.
"Emang masih ada berapa orang lagi mas ? Kalau kebanyakan Juna khawatirnya ketahuan dari pihak aplikasi email dan media sosialnya..bahaya nanti account dan IP address masnya bisa ke banned atau semacam ditandai gitu..dianggap peretas berbahaya.. ",terang Juna sang adik pada kakak sulungnya itu.
"Oo..begitu...kalau 1 orang lagi gak kenapa-kenapa donk ? ",tanya Junta lagi pada adiknya itu.
__ADS_1
"Umm..1 orang lagi ? kayaknya sich gak kenapa-kenapa..asalkan jangan terlalu lama. Takutnya si pemilik akun asli, diseberang sana saat bersamaan ia mau membuka akunnya, ia akan melihat sebuah notifikasi kalau akunnya tengah dibuka seseorang..jadi mas Jun jangan lama-lama..ambil saja data yang mas butuhkan..trus sign out seperti biasa mas sign out gunakan email atau medsos mas sendiri..",terang Juna kembali pada Abang sulungnya itu.
Junta yang menyimak kata-kata Juna hanya manggut-manggut saja. Ia pun memberikan sebuah nama lainnya,yang tak lain Anto. Yang juga tertulis pada notebook miliknya. Ia menunjuk dengan jari telunjuknya. Juna pun mulai sibuk kembali mengutak-ngatik dan mencari data yang diminta.
Kali ini ia butuh sekitar 25 menit sampai sebuah email terbuka. Milik si empunya alias target Junta, Anto.
"Mas Jun, aku gak bisa buka medsosnya..soalnya ini kan lagi ngebuka punya si Misa..gak bisa double dalam satu aplikasi sama..dan ini emailnya aja. Untung dia pakai aplikasi email yang berbeda dengan orang ini. Jadi Juna bisa retas...",ucap adik bungsunya itu.
"Oh..oke..gak apa-apa,Jun..",jawab Abang sulungnya lagi. Junta tampak berseri-seri.
"Segini juga cukup kok..Makasih ya adik kesayangan Abang..",lanjut Junta lagi sambil menjembil pipi Juna.
"Ehem...maaf bang...gak ada yang gratis...",ucap Juna sambil cengar-cengir menengadahkan dan menyodorkan tangannya dihadapan abangnya itu.
"Oalah..ama abangnya pake hitung-hitungan juga ya..",balas Junta dengan nada candaan.
" Yah..Mas Junta kayak gak tahu...ke toilet aja bayar mas..apalagi ini..butuh tenaga dan otak terkuras..hehehe..."balas adiknya kembali cengengesan. Junta pun mengambil 4 lembar uang pecahan seratus ribuan dari dompetnya.
"Nich...segini cukup kan ?inget! Jangan buat pacaran! Tapi buat biaya skripsimu..biar cepet lulus !", ucap Junta sembari menyerahkan duit ke tangan adiknya itu.
Juna melebarkan uangnya membentuk kipas. Sambil mengipas-ngipaskan uangnya didepan Junta.
"Nah...gini donk...kan jadi enak kerja barengnya...lain kali boleh mas..kalau butuh bantuan lagi..",balas adiknya meledek. Sambil buru-buru ia keluar kamar sebelum abangnya melempar sesuatu kedirinya. Junta hanya tertawa cekikikan melihat adik bungsunya itu. Ia pun lanjut fokus dengan laptop diatas mejanya itu.
__ADS_1
***