Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 20 : Press Conference


__ADS_3

Selasa Pagi...


Amelia telah berada didepan gedung pusat kepolisian. Sebuah lambang besar kepolisian negara berada diatas gedung tersebut. Amelia seorang jurnalis, mudah baginya untuk mengetahui informasi berita terkini.


Menurut kawannya sesama jurnalis, pagi ini kepolisian akan melakukan konferensi pers terkait kasus pembunuhan yang terjadi. Beberapa para pencari kabar burung telah siap dengan alat tempur mereka. Ada yang menggunakan alat kuno seperti pena dan note, ada juga dengan kamera dan recorder -recorder tercanggih mereka yang bisa menyorot gambar dan merekam suara dengan jelas meski dari jarak berpuluh-puluh meter.


Beberapa dari mereka tak jarang membawa misi-misi penting lainnya..Ada yang coba menjadikan kasus pembunuhan ini sebagai momen untuk membela kasus-kasus kekerasan pada para TKW di negeri-negeri sebrang, ada juga yang menyorot masalah ini dan memblow-up menjadi masalah lainnya hingga ke masalah APBN...


ckckck...Amelia tengah melihat bagaimana kawan-kawannya telah bersiap-siap sejak pagi didepan gedung kepolisian negara itu. Ia pun sudah mempersiapkan semuanya. Sejak kemarin wawancaranya dengan pak Darsim, terlintas dibenaknya untuk menggunakan posisinya sebagai seorang jurnalis untuk mendapatkan informasi penting lainnya terkait kasus pembunuhan ini.


Seorang kepala kepolisian yang didampingi 2 orang polisi lainnya, salah satunya Junta keluar dari dalam gedung. Semua para pencari berita mengerubungi mereka. Seketika...lampu-lampu kamera tengah menyoroti ketiganya.


"Baiklah...rekan-rekan kami, para awak media, pagi ini kami pihak kepolisian telah menemukan bukti-bukti baru dari hasil forensik yang dilakukan dan keterangan para saksi..menemukan bahwa korban berusia 26 tahun, asal Wonosari, status janda tanpa anak, penyebab kematian karena kehabisan darah akibat luka gorokan dengan benda tajam", ucap seorang polisi yang merupakan kepala divisi tindak kriminalitas dan pembunuhan.


"Pak,apakah ada kekerasan seksual atau fisik pada korban ?" tanya salah seorang wartawan.


"Tidak ada. Tidak ada dugaan kekerasan seksual ataupun kekerasan fisik seperti pemukulan, mencekik,dll pada korban. Kematiannya murni karena luka gorokan yang ada pada leher korban.." jawab si polisi kembali.


"Bagaimana dengan benda tajam yang di gunakan pak ? Golok,pisau,atau apa pak ?" tanya wartawan lainnya.

__ADS_1


"Untuk benda tajam yang digunakan, kami belum menemukan barang bukti terkait di TKP...masih kami gali sampai sekarang.." jawab salah satu polisi lainnya.


"Pak menurut desas-desus, betulkah korban merupakan mantan TKW dan seorang owner restoran Tiam ?" seorang wartawan wanita berambut cepak menyerobot bertanya.


"Iya..betul... menurut keterangan ketua RT disana, korban dulunya adalah mantan TKW di Hongkong dan kemudian kembali kesini dan membuka sebuah usaha restoran Cina yang cukup terkenal dikawasan Jakarta yakni restoran Tiam..." jawab polisi satunya.


"Mungkinkah pembunuhan ini terjadi karena musuh atau persaingan usaha yang dimiliki korban ?" tanya wartawan berambut cepak itu kembali. Ia nampak seperti memburu dengan rentetan pertanyaan yang telah disiapkannya.


" Sampai saat ini ...kami belum tahu ...nanti akan coba kami gali kembali...terima kasih untuk masukannya.." jawab si polisi dengan santun dan tegas.


"Pak,apakah sudah ada pihak keluarga korban yang datang untuk mengambil jenazah ?" tanya wartawan lainnya lagi yang saling menyerbu memburu dengan banyak pertanyaan.


"Jika tidak ada keluarga yang datang bagaimana dengan nasib jenazah,Pak ?" tanya wartawan itu kembali.


"Ya...sudah tentu jika tak ada pihak keluarga yang mengakui kita akan kuburkan selayaknya di pemakaman umum.." jawab Junta kembali. Ketika polisi tersebut saling bergantian menjawab karena banyaknya serbuan pertanyaan dari para pemburu berita.


"Pak...Pak..tunggu Pak, jika boleh tahu siapakah nama lengkap korban pembunuhan ?" tanya Amelia yang tiba-tiba meringsek masuk ditengah kerumunan wartawan yang saling mendorong.


Junta melirik sesaat ke gadis itu. Seorang gadis yang nampaknya baru lulus dan baru menjadi wartawan berdiri dihadapan Junta. Wajahnya cukup manis dengan rambut hitam sepunggung yang dikunci kuda. Matanya tampak jernih dan cerdas.

__ADS_1


"Hmm...kau belum tahu ? nama korban seperti keterangan dari pihak ketua rukun tetangga adalah Rumayyah. Hal ini berdasarkan pada data kartu keluarga yang dipegang oleh ketua RT setempat. Ada lagi yang mau ditanyakan ?" tanya Junta yang matanya tertuju pada Amelia. Ia menatap Amelia yang tepat berhadapan dengannya saat ini.


"Ada...jika saya butuh informasi tambahan seputar kasus ini, bolehkah saya menghubungi bapak ?" tanyanya kembali yang tanpa tedeng aling.


Junta mengangguk tersenyum seraya menunjukkan badge/label nama pada seragam kepolisian yang ia kenakan.


"Terima kasih,Pak.." ,ucapnya membalas tersenyum kembali.


"Baiklah...rekan-rekan media semua..jika ada


perkembangan kasus ini kami akan segera release dan memberitahukan kepada rekan-rekan media semua. Terima kasih untuk kesediaan waktunya hari ini...Konferensi pers hari ini kami cukupkan sampai disini.."ucap salah satu diantara polisi tersebut. Menutup kerumunan wartawan yang berdesakan. Semua kamera tampak menyala dengan jepretan-jepretan yang saling bersahutan mengabadikan momen tersebut.


Amelia yang tengah keluar dari kerumunan nampak mematikan vidcam yang dibawanya. Hmm...ternyata benar. Semua cirinya mengarah pada istri pak Darsim.


Amel yang telah memiliki foto Mursidah, sepulangnya kemarin dari tempat pak Darsim, ia menuju ke sebuah studio foto langganannya. Ia membayar seseorang yang ia kenal disana, untuk menguji apakah kedua foto tersebut adalah orang yang sama atau bukan ?!. Ternyata...hasilnya mencengangkan. Hanya dalam waktu 1 jam, dengan sebuah aplikasi khusus, si tukang foto di studio memberitahukannya pada Amel tadi malam bahwa 97% kedua orang yang ada didalam foto adalah orang yang sama. Tetapi yang mengusik pikirannya saat ini, mengapa nama dan statusnya berbeda ?Apakah istri pak Darsim tengah menyembunyikan sesuatu ? Atau ia menyembunyikan diri dari seseorang ? .


Jauh didalam gedung kepolisian, Junta masih terngiang sosok wartawan muda dihadapannya. Entah mengapa bayangannya masih terlintas jelas dipikirannya sekarang.


"Hussh...jangan melamun...ada yang kau gebet ya diluar sana..."ucap salah seorang rekan polisinya sambil mengibaskan tangan didepan mukanya. Junta yang tampak kaget hanya tersenyum saja mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2