Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 28 : Klinik Cahaya Pelita


__ADS_3

"Tuh, parkir depan aja, Jun...kosong kayaknya..". Junta mengikuti saran Bimo. Ia parkir didekat sebuah rumah yang tampak tak berpenghuni. Berselang melewati satu rumah dari klinik yang mereka tuju.


Klinik Psikiater Cahaya Pelita.


Sebuah klinik yang nampak seperti sebuah rumah tinggal yang cukup besar pula. Tampak halaman depan ditumbuhi beberapa tanaman. Salah satu yang nampak rimbun adalah sebuah pohon mangga besar. Sisanya ada beberapa pot besar berisi berbagai jenis anthurium, aglonema, calathea serta beberapa tanaman hias lainnya.


Dari depan, klinik tersebut seperti tak banyak pengunjung. Begitu asri di siang hari. Tapi pada malam hari bisa berbeda suasana. Rimbunnya pohon mangga serta tanaman rambat yang menghiasi dan menutupi tembok pagar klinik membuat suasana klinik ini di malam hari sepertinya terlihat cukup horor.


Klinik ini berada di kawasan komplek perumahan, yang siang saja tampak sepi dan nyaris tak terlihat adanya tanda-tanda manusia menghuni disana.


"Jun...gila nih jalanan sepi amat..mana busyet...nih klinik kayak modelan rumah-rumah tempo dulu...loe lihat rimbun amat pohonnya dan itu...pagernya ketutup pohon rambat lebat gitu ..Hiii...ngeri gw...kayak serasa syuting film horor kita kesini..." ucap Bimo asal ngejeplak. Ia adalah kawan senasib seperjuangan semenjak mereka kuliah dan tinggal di asrama kepolisian. Bimo dan Junta terpaut 1 tahun. Bimo adalah juniornya sejak zaman kuliah.


"Hush...sembarangan loe ngomong...Wewe gombelnya muncul ngibrit loe..! udeh masuk aja...inget tujuan awal kita kesini...luruskan niat loe.." jawab Junta sambil menepuk pundak kawannya itu.


"Duile....dah kayak ustadz bener aje..lurus,Jun...gw lurus ..." balas Bimo sambil mereka memasuki pagar yang tak dikunci itu.


Mereka telah berada didepan teras klinik. Pintunya terkunci. Tak ada orang atau tanda kehidupan terlihat. Sunyi.


"Sepi, Jun...untung kita siang-siang kesini...coba kalo malem...busyet dah, Jun...ini rumah beneran, ape jadi-jadian ya..." ucap Bimo sambil melongok-longok dari jendela yang tertutup gordyn putih tipis.


"Lah ...loe makhluk jadi-jadiannya..sembarangan loe ngomong! loe ngapain ngelongok-ngelongok...Tuh..ada belnya.."ucap Junta sewot mencolek Bimo yang tengah melongok-longok ke dalam rumah. Ia menoleh ke arah Junta menunjuk. Terdapat sebuah tombol bel berwarna hitam disisi tembok dekat kusen pintu.


"Oh..iya...gak liat gw..." jawab Bimo sambil nyengir yang kemudian ia tekan tombol bel tersebut. sekali tombol ia tekan.terdengar suara bel berbunyi didalam rumah. Tak ada orang yang nampak keluar dari dalam. 2x..3x...barulah tampak terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah menuju ke teras tempat mereka berdiri sekarang .


Samar seorang wanita berusia sekitar 30- 40 tahunan lebih keluar dari dalam rumah.Ia membuka pintu rumah tersebut.Wajahnya tanpa polesan terlihat berkulit sawo matang.Kulitnya mulus tanpa jerawat dan terlihat cerah terawat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu ?" ucap wanita itu ketika pintu dibuka. Ia melihat dua orang lelaki berdiri didepannya. Mereka tampak rapi dengan setelan kemeja dan sepatu vantofel.


" Hmm...maaf..disini Klinik Cahaya Pelita ?" ucap Junta langsung merespon wanita dihadapannya itu.


" Iya...ada yang bisa saya bantu ?"


" Saya Junta dan ini kawan saya Bimo. Kami dari kepolisian..ada yang ingin kami tanyakan mengenai pasien disini yang bernama Rumayyah." ucap Junta kembali dengan nada sopan.


"Oh..dari kepolisian..Silahkan masuk dulu...silahkan duduk .."


Junta dan Bimo mengikuti wanita itu dibelakang. Mereka masuk ke dalam rumah tinggal yang juga sekaligus klinik itu.


"Maaf sebentar..saya ganti pakaian ke dalam dulu.." ucap wanita itu kembali. Junta dan Bimo hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian seorang pembantu yang nampaknya lebih tua dari si dokter tadi keluar dan membawa sebuah nampan berisi teh manis hangat dan dua buah toples berisi kue kering. Ia keluar melalui sebuah pintu geser yang nampaknya membatasi ruang klinik dengan bagian dalam rumah tinggal si penghuni.


"Silahkan mas..diminum dan dicicipi dulu makanannya...sambil menunggu Bu Dokter masih didalam...saya punten...permisi mas..." ucap pembantu itu yang mengenakan baju yang mirip dengan kebaya dan kain jarik dengan rambut digelung membentuk konde.


"Nggih...mbok...makasih banyak.." ucap Bimo dengan santun. Junta hanya ikut mangguk mengucapkan terima kasih. Si mbok pembantu itu pun kembali berlalu dari hadapan kedua polisi muda itu. Ia balik kedalam rumah.


Bimo dan Junta kembali menatap sekeliling ruangan klinik itu. Ruangan itu di cat berwarna putih bersih. Tak banyak pernak-pernik pada temboknya. Hanya sebuah lukisan pemandangan yang cukup besar dibalik meja untuk menerima pasien. Dekat dengan pintu masuk yang mereka masuki, terdapat sebuah sofa panjang empuk dan sebuah sofa single yang hanya dapat diduduki seorang saja serta sebuah meja kaca panjang. Perpaduan ruang klinik pada umumnya serta tampilan ruang tamu yang nyaman.

__ADS_1


Hanya selang beberapa saat, wanita itu tampak kembali dari dalam rumah. Ia tampak mengenakan sapuan make-up tipis sekarang serta setelan kemeja dan rok dengan jas putih yang biasa dipakai seorang dokter.


"Maaf membuat kalian berdua terlalu lama menunggu...perkenalkan saya dokter Anna. Saya psikiater di klinik sini. Sekaligus saya penghuni rumah disini.." wanita itu mengulurkan tangannya kepada Bimo dan Junta. Ia tersenyum ramah. Suaranya terdengar lembut dan santun.


" Ada yang bisa saya bantu ?"


"Saya Bimo dan ini kawan saya Junta", ucap Bimo memperkenalkan dirinya sambil menepuk lengan kawannya. Memperkenalkan pada wanita dihadapannya itu.


"Iya..kami dari kepolisian. Ingin bertanya-tanya pada dokter Anna...mengenai salah satu...hmm..mungkin pasien disini yang bernama Bu Rumayyah ?"


"...Anda kenal ,Dok ?"


" Iya...betul...saya kenal...Rumayyah salah satu pasien saya...tragis memang...saya sudah melihat berita kematiannya.."


" ...Apa yang bapak-bapak ini ingin ketahui tentang pasien saya ?"


" Hmm ...semua hal dok...oh iya...maaf,sebelumnya ..kayaknya kurang tepat kalo kami dipanggil pak...panggil saja kami Bimo dan Junta,Dok .."


"Iya, baik Mas Bimo dan Mas Junta.." ucap dokter itu sambil mengangguk dan tersenyum.


" Begini ,Dok ...korban yang sekaligus pasien anda, kami sedang telusuri...kami hanya mengetahui dahulu ia pasien di klinik ini. Kalau boleh tahu kenapa ia berobat disini ? Bolehkah kami melihat jejak rekam medis korban,Dok ?" ucap Junta tanpa basa-basi.


" Hmm...baiklah tunggu sebentar, saya akan ambilkan catatan medisnya..." ucap dokter Anna sambil berjalan menyusuri meja kerjanya. Ia mengambil sebuah map berisi berkas-berkas catatan pasiennya.


Dokter Anna membuka berkas pasiennya itu.


"...Dari beberapa kali hasil pemeriksaan saya terhadap Nyonya Rumayyah, ia mengalami depresi yang cukup berat serta adanya beberapa gejala BPD atau kepanjangan dari Borderline Personality Disorder.." terang dokter Anna. Dokter Anna adalah seorang dokter yang berusia 42 tahun. Meskipun sudah berkepala 4 dokter Anna nampaknya pandai merawat diri. Wajahnya masih terlihat seperti wanita berusia 35 tahunan.


"Hmm...BPD ? Bisa tolong jelaskan apa itu BPD, dok dan apa implikasi bagi korban dalam kehidupan sehari-harinya ?",tanya Junta mendengar penjelasan dokter Anna padanya.


"BPD adalah gangguan mental dimana si pasien mudah curiga, gampang cemas, emosi yang tidak stabil dan mudah naik turun dalam sekejap,perasaan takut ditinggalkan, merasa tak berguna, serta perasaan-perasaan takut ditolak/penolakan dari lingkungan maupun pergaulan, dan perasaan-perasaan negatif lainnya yang membuat si penderita sulit percaya dengan lingkungan dan membangun batasan-batasan atau circle dalam berhubungan interpersonal dengan orang lain.."


"...Pada kasus Nyonya Rumayyah seperti ada traumatis atau mungkin pengalaman hidup yang tidak menyenangkan yang membuat dirinya menutup diri dan menekan semua pengalaman hidup yang tidak menyenangkan dalam pikirannya...atau dengan kata lain si pasien berupaya melupakan dan menekan dalam pikirannya sendiri.."


"...Pada pasien saya inj, Nyonya Rumayyah tampak sudah cukup besar tekanan dan beban dalam dirinya ..sehingga emosi yang mudah naik dan turun dalam sekejap tanpa alasan jelas, depresi berat, mudah cemas dan insomnia yang akut menjadi salah satu dampak dari gangguan yang ia derita ini .." terang dokter Anna. Ia menjelaskan dengan cukup detail seperti seorang dosen yang sedangkan memberikan materi kuliah kepada mahasiswanya itu.


"Oo ...begitu. Dari kasus Nyonya Rumayyah ini, apa ia pernah bercerita sesuatu tentang masalahnya pada anda, Dok ? Maaf bukan saya lancang menanyakan hal yang mungkin tak sepatutnya saya tanyakan atau privacy mengenai pasien anda...tapi informasi seperti ini dapat berguna bagi kami dalam proses penyelidikan mengenai kasus kematian nyonya Rumayyah ini.." ucap Junta pada dokter tersebut.


"Ya..saya mengerti..Tuan-tuan...maksud saya mas Bimo dan mas Junta selaku polisi yang bertugas dalam masalah ini..saya akan coba membantu sebisa saya..."


" ...Setelah 3 kali pertemuan dengan Nyonya Rumayyah, saya memang tengah memberikan terapi padanya berupa pemberian obat penenang syaraf dan hipnoterapi...untuk memasukkan nilai-nilai positif sebagai booster dalam ia menjalani hidup serta untuk membuatnya melepaskan segala beban dalam kehidupannya..."


"...Dan...dari 2x hipnoterapi yang saya berikan padanya... saya menemukan sepertinya nyonya Rumayyah memiliki kecurigaan dan kecemasan berlebihan pada lingkungan pribadinya..."


"Maksudnya, Dok ?", tanya Bimo tiba-tiba menyela. Bimo memang lulusan akademi kepolisian yang kemudian ia melanjutkan gelar magister di bidang psikologi. Ia sedikit banyak mengerti dengan keterangan dokter Anna. Ia adalah salah satu polisi yang biasa bertugas dalam penyidikan kasus-kasus kriminal. Keahliannya dalam menganalisa mimik dan raut wajah seseorang membuatnya ditempatkan menjadi partner bagi rekan seniornya Junta.


"Maksudnya pada sesi hipnoterapi yang saya berikan...Nyonya Rumayyah selalu menyebut dan menunjukkan ketidaksukaan dan kecurigaan berlebih pada para pegawainya maupun pada setiap lelaki.."

__ADS_1


"Setiap kali saya lakukan sesi tanya jawab dalam keadaan dibawah alam sadarnya, atau dalam keadaan terhipnotis, ia selalu menjawab dengan hal yang sama. Tetapi saat dalam keadaan kesadaran penuh, nampaknya ia selalu menutup dan tak pernah menjawab secara gamblang masa lalunya...inilah yang kemudian dalam beberapa hal, keadaan alam bawah sadarnya pun telah kuat menekannya untuk melupakan masa lalunya...tetapi secara psikis hal ini menimbulkan depresi besar pada dirinya..." terang si dokter pada Bimo.


"Hmm...saya mengerti. Maaf sebelumnya,Dok apakah dokter punya video rekaman saat sesi hipnoterapi Nyonya Rumayyah ?" tanya Bimo pada sang dokter wanita dihadapannya itu.


"Saya tidak memiliki rekaman video mas Bimo. Tapi, saya memiliki rekaman suara saat Nyonya Rumayyah melakukan sesi terapi biasa maupun saat pasien melakukan sesi terapi berupa hipnoterapi untuk kepentingan saya dalam mendiagnosa pasien..",ucap dokter Anna pada kedua polisi lawan bicaranya itu.


"Kalau begitu bisakah kami meminta copy-an rekaman suara tersebut dok serta rekam medis pasien ?" tanya Junta menyela percakapan dokter tersebut dengan Bimo.


"Hmm...saya tahu kepentingan kalian berdua kesini, tapi, maaf selaku psikiater, kami memiliki etika kerja dalam profesi kami.."


"Setiap hasil rekam medis pasien,adalah bersifat rahasia dan pribadi.Tidak boleh diberikan kepada orang lain, bahkan terhadap pasien kami. Kecuali karena satu dan lain hal yang bersifat urgent seperti kedatangan mas Bimo dan Mas Junta sekarang, tentunya ada prosedural dari pihak kepolisian untuk memiliki surat izin permintaan kalian.."


" ...Jika ada maka saya baru dapat memberikannya. Mas Bimo dan Mas Junta pasti jauh lebih paham akan hal ini...agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan kedepannya..." jelas dokter Anna dengan sangat lembut dan penuh sopan santun.


"Anda benar dokter...Karena itu, kami sudah menyiapkan semuanya..."ucap Junta yang memang ia telah menyiapkan semua surat izin yang dibutuhkan sejak Bimo mengajaknya siang itu untuk langsung bertandang ke tempat ini.


"Ini, Dok surat resmi dari kami..." ucap Junta menyerahkan selembar kertas dengan lambang kepolisian dan cap stempel tertera didalamnya.


Dokter membaca surat tersebut. Beberapa saat setelahnya, ia tersenyum sambil berkata :


" Baiklah...anda membawa flashdisk ? saya akan copy kan untuk anda hasil rekaman suara maupun hasil tertulis kondisi pasien dalam bentuk softcopy..." ucap Dokter Anna kepada kedua polisi tersebut.


"Tentu,Dok...saya bawa..."


"Ini,Dok..saya ada USBnya..."


Kedua polisi tersebut secara kompak bersamaan menjulurkan USB dari kedua tangan mereka masing-masing. Bimo dan Junta saling melirik satu sama lain. Sang dokter yang melihat tertawa kecil kepada keduanya.


"Tak apa...saya akan copy kan kedua-duanya.." ucap Dokter Anna pada kedua polisi tersebut sambil ia mengambil kedua buah USB dari masing-masing polisi itu.


"Oh iya..sambil menunggu saya copy-kan didalam, silahkan mas Bimo dan mas Junta dicicipi minuman dan makanannya..", ucapnya kembali. Dokter itupun pergi berlalu masuk ke dalam rumah melalui sebuah sliding door yang membatasi ruang klinik tempat kerjanya dengan bagian rumah si dokter. Pintu yang juga dilalui oleh si mbok pembantu saat menyajikan suguhan pada kedua tamu itu.


Bimo dan Junta pun segera menghabiskan minuman mereka dan mencicipi beberapa kue cemilan kastengel dan nastar yang disajikan.


Selang beberapa menit kemudian...


Dokter Anna kembali ke ruangan klinik melalui pintu yang sama. Ia memberikan kembali dua buah USB milik Junta dan Bimo.


"Baiklah, Dok kalau begitu kami mohon undur diri dulu.Sebelumnya, boleh saya meminta nomor kontak dokter ? mungkin jika ada hal-hal yang perlu saya tanyakan kembali mengenai korban Rumayyah pada dokter, saya bisa hubungi anda kembali. Dan...ini kartu nama saya, jika ada hal-hal yang mungkin tertinggal yang ingin dokter sampaikan ke kami bisa hubungi melalui kontak saya disini..",ucap Junta kembali pada dokter tersebut sambil memberikan sebuah kartu nama miliknya.


"Baiklah...sebentar..." ucap dokter Anna sambil berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengambil selembar kartu nama miliknya.


"Ini kartu nama saya...anda bisa langsung hubungi lewat handphone pribadi saya atau telepon ke klinik ini.." ucapnya kembali menyerahkan selembar kartu namanya masing-masing pada Junta dan Bimo.


Kedua polisi itu pun segera pamit undur diri. Mereka berjalan menuju mobil yang mereka parkirkan selang satu rumah dari rumah dokter itu.


Selama perjalanan balik menuju kantor polisi Bimo dan Junta tak banyak bicara. Masing-masing tengah sibuk dengan pikiran mereka. Hanya senandung lagu-lagu slow yang menemani perjalanan keduanya kembali ke kantor.

__ADS_1


***


__ADS_2