Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
bab 29 : Hasil Rekam Psikiater


__ADS_3

Sesampainya dikantor kembali Bimo dan Junta membuka laptop kerjanya. Ia tak sabar ingin mendengar hasil rekaman suara si korban. Sedangkan Junta lebih memilih berkutat dengan hasil catatan medis yang diberikan dokter Anna padanya. Ia membuka softcopy hasil rekam medis dilaptopnya. Ada beberapa file yang diberikan dalam bentuk JPG. Tertulis tanggal dan waktunya dalam setiap lembaran tersebut dengan jelas. Ada beberapa diagnosa dokter Anna dari setiap pertemuan korban dengannya.


Junta butuh penglihatan yang jeli. Tulisan dokter Anna seperti kebanyakan dokter pada umumnya. Tulisan tegak bersambung yang sulit dibaca.


pertemuan I :


Nama : Ny.Rumayyah


Usia : 26 tahun


Tanggal : 18 Mei 2021


Waktu : 16.00 -17.00


Keluhan : Sakit kepala berkepanjangan,mudah lelah,sulit tidur, jantung berdebar-debar.


Diagnosa : Keletihan dan stress pekerjaan.


Treatment : pemberian obat penenang jenis lorazepam. 1x1 malam hari sebelum tidur.


Junta mulai meraba bagaimana sosok si korban ketika masih hidup. Rekam medis yang diberikan dokter Anna padanya tidak banyak menunjukkan sesuatu yang bisa mengkaitkannya dalam pembunuhan ini. Rekam medis tertulis dari awal pertemuan sampai terakhir di pertemuan kelima dengan dokter pada si korban tidaklah jauh berbeda. hanya saja di pertemuan ketiga sampai kelima dokter sudah mendiagnosis kondisi kejiwaan si korban serta beberapa treatment tambahan yang diberikan sebagai bentuk pengobatannya.


"Jun..sini.. coba loe kesini...", Bimo tak lama memanggil kawannya itu. Meja kerja Bimo dan Junta terletak bersebelahan. Mereka berada dalam satu divisi yang sama dan saat ini mereka pun menjadi satu tim dalam memecahkan kasus pembunuhan ini.


" Kenapa, Mo ?", tanya Junta penasaran. Ia menggeser kursinya bersebelahan dengan Bimo.


"Nich...loe dengerin sendiri !", ucap Bimo mencopot headset yang dikenakannya itu. Ia membiarkan suara speaker laptop menyaringkan suara rekaman si korban.


"....Hmm ..yah....hariku selalu berat. Aku harus mengurus usahaku sendiri ...aku ..aku tidak bisa mempercayakan pada siapapun disana...Mereka bermuka dua...didepanku mereka berkata hal-hal indah tentangku..tapi dibelakangku mereka siap menerkamku..."


" Mereka ? siapa mereka yang anda maksud nyonya Rumayyah ?"


" Mereka...mereka itu.. para pegawaiku.."


"Nah..gimana menurut loe,Jun ?",tanya Bimo mempause rekaman itu tiba-tiba.


"Hmm...kayaknya hubungan si korban dengan para pegawai sangat kurang baik..." ucap Junta.


"Itu...Jun..aku rasa ada hubungannya dengan hasil interview loe sama para pegawainya...loe inget kan yang cewe itu ?pelayan sapa tuh..yang gw bilang dari awal Aer mukanya mencurigakan.... sama...si Anto itu...saksi pertama yang ada di TKP saat mayat si korban ditemukan..kayaknya dia tahu sesuatu tapi ditutup-tutupi..."


"Iya..loe bener,Mo...gw kok malah jadi curiga ada sesuatu antara korban dengan si pegawainya...dan...kayaknya cukup serius,Mo.."


"...Suaranya disini kok kayak kedengeran benci sekali...kayak emosional gitu..."Ucap Junta pada rekannya itu.

__ADS_1


"Coba lanjutin lagi, Jun rekamannya..."Bimo merespon kawannya itu sambil menganggukkan kepala.


"...Hmm..baiklah saya mengerti bagaimana perasaan anda. Para pegawai anda...apa yang mereka perbuat kepada anda hingga anda merasa marah kepada mereka ? Apa hanya karena mereka membicarakan sesuatu yang buruk tentang anda dibelakang anda,Nyonya ?"


" Hmm ..yah...itu hanya salah satu dari keburukan mereka pada saya...Tapi..Dia..dia yang paling saya benci..."


Dia..Dia siapa yang anda maksud,Nyonya ?"


"Dia...lelaki semua bejat...mereka mendekatiku..mereka hanya ingin memerasku...tapi Dia...dia beda...


"Siapa yang anda maksud berbeda ?"


"Dia ..Dia.. Suamiku..."


"Stop..Stop ...Mo.." ucap Junta seketika menekan tombol pause di laptop Bimo.


"Coba loe perhatikan dan dengarkan seksama...", ucap Junta.


"Hmm ..si korban tampak dalam kondisi tertekan sekali...sepertinya ada seseorang yang tengah mengancamnya...coba loe dengarkan sekali lagi ...",terang Junta sambil merewind kembali rekaman tersebut.


"Oh..iya...si korban menyebut kata-kata memeras...apa mungkin ini ada hubungannya dengan si pelaku yang membunuh korban,Jun ?" ucap Bimo manggut-manggut.


"Nah..bener loe,Mo...itu juga yang ada dipikiran gw..."


"Iya..gw juga ngerasa sama,Jun...coba lanjutin dulu rekamannya sampai habis ..." ucap Bimo kembali.


"Hmm...suamimu ? Siapa namanya ?"


"Darsim ..Darsim... Andai saja...andai..aku..bisa kembali memutar waktu..tapi nasi telah menjadi bubur..."


"Huuuh..."(sebuah suara helaan nafas panjang dan berat)


"Apakah kau ingin kembali bersama suamimu Darsim ?"


"Aku..aku..tidak akan pernah mungkin kembali padanya.."


"Jika ia ada dihadapanmu saat ini..adakah sesuatu yang ingin kau ungkapkan padanya ?"


"Ya..aku..hanya..ingin meminta maaf padanya...aku..tidak akan mungkin bisa kembali padanya... dan..tidak akan mungkin untuk kami bertemu lagi..Biarlah ia hanya menjadi masa laluku...masa lalu yang indah sekaligus penyesalanku yang tak berujung..."


Bimo langsung menstop rekaman


dilaptopnya itu.

__ADS_1


"Darsim..!" ucap Junta dan Bimo nyaris bersamaan. Keduanya saling mengangguk.


"Mo,apa jangan-jangan si Darsim ini pelaku pembunuhan terhadap istrinya ?",Junta mengeluarkan pendapatnya meskipun ia sendiri ragu dengan tebakannya itu.


"Hush..inget...asas praduga tak bersalah, bro..tapi kalau dari suara dan kalimat si korban..sepertinya ia justru tampak mencintai suaminya itu,Jun...tidak seperti saat ia berkata mengenai para pegawainya tadi...penuh kebencian ..." jawab Bimo menepis tebakan seniornya itu.


"Iya sich..loe bener...cuma namanya suami istri...who knows Mo ...mungkin ada sebuah pertengkaran hebat atau hal lain yang membuat keduanya berpisah sampai si korban akhirnya menjanda. Loe denger juga tadi...si korban bilang kalau ia tak mungkin kembali pada suaminya itu. Pasti masalah besar dan berat, Mo.Dan... mungkin karena alasan itu, mungkin bisa jadi motif seseorang melakukan pembunuhan pada orang yang dicintainya sekalipun.." terang Junta pada Bimo. Meskipun ia tak menepis jua analisa Bimo dari hasil rekaman suara yang ada.


"Sebaiknya kita cari tahu dulu tentang Darsim ini..mungkin korban juga sempat menghubungi suaminya itu sebelum meninggal...dan bisa membawa clue yang lebih dekat kepada kita, siapa dalang pembunuhan sebenarnya.." ucap Bimo pada Junta.


"He-eh, Mo loe benar.." balas Junta pada rekannya itu.


"Eh iya...Jun..lah si korban kan Janda tanpa anak...pak RT di TKP gak tahu siapa mantan suami si korban atau masalah yang sifatnya terlalu privacy...kita mulai mencari darimana ?", ucap Bimo mengingatkan.


"Ih..bloon banget sich nich anak ! yah..kita tracking lewat kecamatan atau kelurahan yang mengeluarkan kartu keluarga si korban..pasti kan punya data diri lengkap...atau kalau perlu kita tracking ke KUA setempat yang mengurus surat perceraian..pokoknya kita cari sampai dapat segala keterangan mengenai si Darsim ini..masa gitu aja harus gw jelasin ke loe sich...Bloon loe jangan loe keluarin donk..tadi dah rada bener loe...!" Jelas Junta rada sewot denger pertanyaan kawannya itu.


"Duilee....sewot ama mas Junta...ntar gak ada cewek yang mau sama loe loh..." jawab Bimo menggoda rekannya itu.


"Apaan sich loe,Mo...lagi serius gini..beresin inj dulu...mikirin cewek mulu loe...playboy cap dua kelinci loe!.." ucap Junta sambil mentoyor kepala kawannya itu. Junta dan Bimo memang sudah seperti kakak beradik. Mereka sudah saling mengenal sejak seasrama bareng, ketika bersama-sama menempuh pendidikan di akademi kepolisian sampai meniti karir hingga sekarang. Keduanya masih membujang, yang membuat keduanya terkadang terlihat seperti kekanak-kanakan saat bercanda. Tapi mereka adalah tim solid yang terkenal cekatan dalam menangani berbagai kasus kriminal yang ada dikepolisian.


"Ya elah ...Jun..cap dua kelinci..kacang kulit donk gw...eh..by the way...loe bukannya tadi pagi gw denger telponan ada janji di kantin sore ini kan ?" ucap Bimo sembari cengengesan. Bimo memang junior yang usil. Meski usianya hanya terpaut 1 tahun dibawah Junta tetapi Bimo jauh lebih luwes dalam bergaul, kebalikan dari kawannya itu.Ia juga seseorang yang cukup humoris. Junta dan Bimo seperti pasangan yang ideal dalam pekerjaan.


"Astagfirullah..iya bener,Mo...hampir aja gw lupa...jam berapa nich ?" tanya Junta pada kawannya itu.


"Jam 16.10,Jun..Cie...by the way...janjian Ama cewek ya ? kok gak ngajak-ngajak gw, Jun ? takut saingan ama junior ya...kenalin donk .." ledek Bimo cengengesan sambil mencolek lengan besar dan berotot seniornya itu.


"Duh...otak loe...iya gw janjian mo ngedate ama cewek...makanya gw gak mau kenalin dan ngajak-ngajak loe...kasian ceweknya takut ngeri ngeliat loe...!",balas Junta kembali.


"Sialan loe...",sahut Bimo sambil kemudian keduanya tertawa bersama.


***


Di sebuah parkiran motor dekat dengan kantor kepolisian, seorang wanita mengenakan jeans dan sepatu kets mencopot helm dan maskernya. Parasnya yang rupawan dengan rambutnya yang hitam dan panjang sepunggung dikuncir kuda. Ia menyemprotkan wewangian yang dibawa didalam tas ranselnya itu. Aroma harum floral lembut semerbak tercium dari badannya. Amalia masih terlihat cantik meskipun asap kendaraan bermotor menerpa kulit wajahnya. Bibirnya yang dibiarkan alami tanpa sapuan make up tampak merah merekah menambah pesona kecantikan dirinya. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana jeans-nya dan mengetikkan pesan text kepada polisi yang tadi pagi ditelponnya.Junta.


Sore Pak, saya Amalia sudah sampai dikantor bapak. Saya tunggu dikantin pak.terima kasih.


Tek. tombol terkirim telah dipencetnya. Amalia pun berjalan menuju kantin kepolisian.


Dan...


didalam kantor Junta yang tengah tertawa bersama Bimo tiba-tiba terdiam, ketika suara getar handphone terdengar dari saku celananya. Sebuah pesan masuk. Ia membuka dan bergegas berjalan keluar dari ruangannya diikuti dengan teriakan Bimo dibelakangnya.


"Semoga sukses datingnya..." ledek Bimo kembali. Junta hanya cengengesan mendengar celotehan Bimo dibelakangnya sambil melambaikan tangan. Ia berlalu dari ruangan menuju kantin.

__ADS_1


***


__ADS_2