Malam Panjang Amelia

Malam Panjang Amelia
Bab 58 : Alibi Bimo


__ADS_3

"Siang,cantik. Bagaimana kabarmu ? Aku tahu siapa dirimu, manis...Hmm...apakah kau tengah menyelidiki sesuatu dariku ? Sebaiknya kau datang ke alamat ini sendiri saja...Aku hanya memberimu satu kesempatan..kalau kau ingin tahu...Aku tahu apa yang kau cari dariku...dan...kau pasti akan terkejut seandainya kau tahu orang yang ingin kau bantu...dan mungkin kau akan menjadi jurnalis pertama yang sanggup mengungkap kasus yang sedang kau cari..".


Sebuah pesan teks diterima Amelia. Ia tampak terkejut membacanya. Bagaimana mungkin lelaki ini dengan santainya mengirimi pesan seperti itu.


Entah mengapa Amelia merasa terjebak dengan posisinya. Disatu sisi ia merasa cemas,takut,ingin tahu siapakah sebenarnya pemilik nomor misterius ini.Sedangkan dilain sisi ,ia ingin mundur karena takut ia telah menyeret dirinya pada situasi yang membahayakan dirinya sendiri tapi ia merasa sudah kepalang tanggung untuk mundur dari kasus yang telah menyeret dirinya ke pusaran tak menentu.


Kasus pembunuhan ini hanya sekedarnya di publish di media cetak tempat ia bekerja. Disebuah kolom kecil dipojokan koran. Bahkan tidak terlalu mendapat perhatian banyak dari pembacanya. Tapi, entah mengapa ia merasa memiliki ikatan yang kuat dengan Darsim, lelaki yang telah menyeretnya dalam pusaran arus kasus pembunuhan yang belum terungkap ini.


Kakinya belum benar-benar pulih, tapi ia tak tahu harus membalas apa pesan yang masuk tiba-tiba ini. Ini kesempatannya menangkap pria ini dan mengungkap siapa dirinya sebenarnya.Haruskah ia mengabari Junta untuk masalah ini ? Ah ...kenapa ia jadi tergantung pada polisi muda itu ? Tapi, jika terjadi sesuatu padanya hanya lelaki itu yang mungkin sanggup menolongnya. Amelia berupaya menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya ia mengiyakan kembali si penelepon misterius itu untuk bertemu dengannya. Kali ini Amelia telah merencanakan segalanya dengan matang. Ia tak ingin gagal untuk kali ini.


***


Bimo tampak menatap layar handphonenya.Ternyata telah banyak panggilan tak terjawab dari rekan kerjanya. Bimo memang sibuk mengejar targetnya, Misa. Ia akhirnya memberanikan diri mendekati wanita itu secara langsung kala suaminya tengah bekerja menjadi satpam saat weekend. Ia menggunakan jurus dan trik seorang tetangga yang ingin berkenalan. Setelah satu dua kali ia berbasa-basi dengan wanita itu, akhirnya ia berhasil mengorek segala informasi yang dibutuhkannya.


"Jadi kau pegawai direstoran Tiam yang terkenal itu ? Hmm...bukankah diberita pemiliknya tewas karena dibunuh ?",tanya Bimo mengawali percakapannya dengan Misa.


" Iya..betul sekali bang",ucap Misa datar.

__ADS_1


"Kau masih bekerja disana ? tidak merasa takut ? Maksudku,memangnya restoran tersebut masih beroperasi ?",tanya Bimo belagak tak tahu sama sekali mengenai hal itu.


"Yah...masihlah...takut kenapa ? Setan gentayangan ?hehehe ....bang..bang...zaman sekarang mana ada lah arwah gentayangan begitu...lagipula kita tak ada urusan dengan kematiannya...toh bukan kita orang yang bunuh dia, dan kita orang bekerja butuhlah makan dan biaya hidup lain..tak ada pilihan lagilah bang...selama masih buka dan masih dipekerjakan toh aku ya..akan tetap bekerja disana...",jawab Misa santai sambil menyuapi anaknya yang tengah bermain dilapangan tak jauh dari mereka duduk saat ini.


"Mbaknya sendiri masih bekerja disana pasti karena teman kerja dan lingkungannya kondusif donk..asyik mungkin ya...makanya tak mau pindah dari sana...",sahut Bimo berupaya memancing topik pembicaraan untuk beralih pada sesuatu yang lebih intim.


"Hahahaha ....nggak jugalah bang...lingkunganku banyak yang munafik disana...sebetulnya kalau bukan karena aku butuh uang dan mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, aku mungkin sudah angkat kaki dari sana...",ucap Misa sambil tertawa getir dengan nada satir keluar dari mulutnya.


"Hmm...memang munafik seperti gimana mbak ?",timpal Bimo kembali menyulut wanita targetnya itu.


"Tenang saja mbak ...saya kan laki-laki...lagipula saya sudah kecapekan kerja tak sempat bergosip dengan tetangga dikontrakkan sini...",balas Bimo sambil mendekatkan wajahnya seolah tengah berbisik rahasia pada wanita itu dengan mimik meyakinkan.


"Hmm...munafik tuh contohnya kayak ...saya punya seorang teman kerja direstoran itu...namanya Reni. Awal aku mengenalnya ia tampak baik, profesional dan berpendidikan...tapi, ternyata ia seseorang yang picik. Suatu ketika aku pernah terhimpit masalah finansial...niatku ingin meminjam saat itu dengan salah seorang kawanku di bagian cashier,tapi tanpa sepengetahuan owner tempatku bekerja. Aku khawatir saat itu aku belum lama bekerja...kalau aku meminjamnya dari diri beliau aku takut dianggap pegawai tukang berhutang..akhirnya aku putuskan aku ingin meminta bantuan kawanku dicashier...untuk memberikan pinjaman hasil pendapatan resto saat itu...dan berniat memintanya untuk menutupinya hingga saat aku gajian aku akan menyicilnya untuk membayar melalui dirinya...",ucap Misa. Raut mimiknya gini berubah menjadi serius dan tampak menerawang.


"....tapi,kawanku Reni, saat tahu hal itu, ia menyarankanku untuk mencuri saja uang cashier dan nanti mengembalikannya saat ia punya tanpa ketahuan kawanku yang cashier itu...Ia bilang kalau aku bilang pada bagian cashier, sama juga aku bodoh ..toh kawanku dicashier adalah salah satu orang kepercayaan owner-nya...jika aku menjalankan niatku, maka sama juga bunuh diri, kawan cashierku akan mengadukannya pada si owner dan justru membuat namaku jauh lebih buruk ...",lanjut Misa.


"...saat itu aku percaya dengan omongannya setelah kupikir-pikir ada benarnya...", rautnya kali ini tampak sedih dan menyesal.

__ADS_1


"...aku pun akhirnya tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Reni, aku mencuri uang dimeja kasir..."


"...awal-awal tak ada yang curiga ..bagian kasir mengira ia salah hitung pemesanan..tapi, kebutuhan hidupku yang meningkat membuatku terpaksa mencuri kembali dan aku melakukannya beberapa kali...selama itu pula Reni mengetahuinya bahkan ia mendukungku..."


"...saat kasir mulai curiga akan adanya kehilangan uang, Reni tampak seolah menjadi pahlawan bagiku...ia tiba-tiba saja bilang bahwa ia lah yang meminjam uang dikasir karena keperluan mendadak dimana ATM habis untuk melakukan penarikan tunai ...jadi ia menggantinya lewat transfer rekening..aku pun selamat dari tuduhan...kami akhirnya berkawan..."


"...tapi ...perlahan waktu mulai mengungkapkan wujud asli kawanku itu...ia menolongku bukan tanpa sebab..wanita itu bermuka dua...ia meminta merahasiakan hubungannya dengan salah seorang pegawai diresto itu saat aku meng-gap-i nya tengah berciuman mesra dengan salah seorang rekan kerja kami di resto itu pula ...memang tak ada aturan tertulis disana untuk tidak boleh berpacaran dengan pegawai restoran...tapi ia menyuruhku menutup mulut...karena ia tak ingin hubungannya rusak dengan owner yang akan memilihnya menjadi salah satu manajer cabang untuk resto yang akan dibuka di Bali...karena...ia curiga ...antara si owner dan kekasihnya itu ada affair..maksudnya seperti si owner menyukai pria yang menjalin hubungan dengannya itu ..",ucap Misa tampak antara marah bercampur kecewa.


"Oo ..begitu ..",sahut Bimo menimpali seolah ia tak mengenal nama-nama yang disebutkan wanita itu padanya. Meskipun Bimo tampak sedikit terkejut mendengar cerita itu.


"Kok aneh ya ? Si Reni itu gak cemburu kekasihnya ada affair dengan si owner ?" tanya Bimo meresponnya.


" Yah..gak mungkin gak cemburu lah bang...pastilah ia cemburu ..sangat cemburu...tapi, kawanku Reni bukanlah orang bodoh yang mau merusak karirnya yang akan melejit disana...Ia lebih memilih diam dan pura-pura tak tahu mengenai itu...sebenarnya ia berniat membalas si owner dengan merebut kelak semua yang dimilikinya dan pada kekasihnya ia berniat memutuskan hubungannya kelak dan mencari pria lain kalau ia ditempatkan nanti di Bali..."


"...maka dari itu lah bang, kubilang munafik...yah seperti itulah contohnya ..yah..mungkin ditempat Abang bekerja pun pasti banyak modelan begitu munafik dan penjilat...bertahan karena menginginkan sesuatu...menusuk dari belakang menurutku...",sahut Misa kembali dengan nada geram.


Bimo mengangguk-angguk berupaya mencerna perkataan Misa. Hingga ia baru menyadari, jangan-jangan...astaga!! Jangan-jangan....Reni pembunuh dari pemilik restoran Tiam itu!,pikir Bimo.

__ADS_1


__ADS_2