
Junta dan Bimo terpaksa menunggu di mesjid kecil itu sampai adzan magrib. Karena hanya tinggal 10 menit lagi adzan magrib akan tiba.
"Jun, dah malem gini ..rencana kita apa nich ?",tanya Bimo sambil menunggu adzan tiba.
" Kita ketempat pemilik kontrakan itu, Mo. Kita belagak tanya-tanya saja seolah kita akan menyewa salah satunya. Kemudian pelan mencari tahu tentang wanita tadi..",jawab Junta kembali. Bimo mengangguk-angguk.
Adzan magrib pun tiba. Mereka segera shalat magrib dan tak lama menuju ke rumah sang pemilik kontrakan petakan. Rumah Pak De. Mereka menyusuri jalanan yang mulai gelap dan hanya disinari lampu jalan digang-gang yang berpendar kuning redup. Laju motor Junta pun berhenti disebuah rumah berpagar hitam dengan tembok hijau.
"Assalamualaikum ...", jawab Junta dan Bimo. Keduanya melepaskan helm dan masker slayer yang menutupi wajah keduanya.
"Waalaikumsalam...",sayup terdengar suara seseorang menyahut dari dalam. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster berlengan pendek membuka pintu.Ia masih berdiri didepan pintu sambil bertanya.
"Siapa ya ? Ada perlu apa ?", tanya wanita itu tampak curiga. Ia tak beranjak sedikitpun menuju pagar besi rumahnya.
"Kami...mencari rumah Pak De pemilik kontrakan. Apa ini betul rumahnya Bu ?", jawab Bimo lembut dan sopan. Awalnya wanita itu tampak ragu. Tetapi perlahan ia berjalan mendekati pagar besi rumahnya. Ia melihat kearah Bimo dan Junta. Setelah dirasanya tidak ada tanda wajah-wajah penjahat dari wajah kedua lelaki itu, ia pun kemudian membukakan gembok pagar rumahnya.
"Oh..maaf mas-mas ini nyari Pak De mau apa ya ?",selidik wanita itu kembali.
"Kami mau menanyakan tentang kontrakan Pak De...maaf malem-malem begini..kami sempatnya sekarang karena pulang kerja...",ujar Junta pada wanita tersebut .
"Oh..begitu ...silahkan masuk kalau begitu...",ucap wanita itu mendorong membuka celah agar kedua pria itu dapat masuk kedalam rumah.
"Ibu ini... maaf, istri Pak De ?", sela Bimo sambil masuk mengikuti langkah sang pemilik rumah.
"Iya, mas...oh iya, motornya taruh dalem saja...bahaya jam segini diparkir diluar...takut ada maling motor ..",ucap wanita itu kembali. Junta pun kemudian mendorong motornya memasuki teras rumah. memarkirkannya disana.
"Silahkan masuk ...silahkan duduk dulu...saya panggilkan Pak De didalam...", ucap wanita itu kembali.
Tak lama berselang, Pak De keluar dari kamar tidurnya. Ia baru saja selesai melaksanakan shalat magribnya.
" Assalamualaikum...,maaf saya baru selesai shalat magrib. Adik-adik ini ada perlu apa ya ?", tanya Pak De pada kedua tamu dihadapannya itu.
"Wa'alaikumsalam Pak...perkenalkan saya Bimo dan ini rekan saya Junta..kami tertarik menanyakan seputar kontrakan petakan yang ada tak jauh dari depan gang yang dekat jalan raya,Pak ?",ucap Bimo membuka percakapan.
"Oo...iya itu punya saya...tapi saat ini semuanya penuh ..hanya ada 1 rumah paling ujung yang penghuninya jarang tempati...kemungkinan bulan depan kalau tidak jadi diteruskan ia akan pindah...",ucap Pak De.
__ADS_1
"Oo ...begitu toh, Pak...kalau begitu saya tinggalkan nomor saya saja sama Pak De,kali kalau bisa lebih cepat ada yang kosong,bapak bisa langsung hubungi saya ?",tanya Bimo kembali.
"Oo...tentu...boleh-boleh,Dik..",jawab Pak De sambil tersenyum. Bimo pun menuliskan nama dan nomor kontaknya pada pria yang telah berusia paruh baya itu. Hampir sebagian besar kepalanya telah dipenuhi uban.
"Kalau begitu, kami langsung pamit saja, Pak..sudah malam...tidak enak bertamu malam-malam...",jawab Bimo kembali sambil melirik ke Junta meminta persetujuan. Junta pun hanya ikut manggut dengan perkataan kawannya itu.
"Wis,toh Dik, pada gak minum dulu ?", tanya Pak De kembali.
"Ndak usah, Pak..wis, Ndak usah repot-repot..kami mau langsung buru-buru balik pulang saja...takut kemalaman..", sahut Bimo kembali. Mereka pun buru-buru menyalami lelaki itu. Sambil bangkit berdiri dari duduknya. Pria itu pun membalas salaman keduanya sambil menghantarkan keduanya kedepan pagar rumah. Sampai keduanya menghilang dari pandangan, lelaki itu pun mengunci kembali pagar rumahnya.
***
Di jalan...
"Mo, loe ngomong kagak ngasih gw kesempatan, Mo...loe mendominasi percakapan tadi ...",ucap Junta diperjalanan pulang. Deru suara kendaraan bermotor yang masih berseliweran membuat Junta setengah berteriak berbicara dengan kawannya itu.
"Maaf, Jun..tapi, tadi gw tiba-tiba dapet ide, Jun...",sahut Bimo dengan nada senang.
"Ide apaan, Mo ?", tanya Junta kembali. Kali ini suaranya lebih pelan karena jalanan yang masih agak macet membuat kendaraan lebih banyak berhenti.
"Hmm...boleh juga sich, Mo..tapi loe yakin ? Maksud gw,kecurigaan kita pada si pegawai cewek itu kan belum ada landasan yang berarti banget...loe mau ngorbanin duit loe ngontrak disitu,Mo ?", tanya Junta kembali pada rekannya itu.
"Ya elah ...Jun...kalo soal duit mah, tenang aja...tadi dah gw sempat pikirin ..toh jarak kontrakan dengan rumah gw ke kantor lebih jauh rumah gw...mana macet pula kalo pagi ..itung-itung hemat tenaga dan waktu gw juga..kalo masalah landasan kita mengintai tuh cewek..justru itu Jun, kenapa kita perlu cari tahu.. Firasat gw dia tahu sesuatu...mungkin dari dia.. sapa tahu kita bisa dapet informasi lebih detail mengenai kawan-kawannya yang lain...gimana menurut loe ?",tanya Bimo kembali.
"Kalo loe gak ada masalah,Mo..gw sich setuju banget...",jawab Junta kembali.
Tak terasa setelah hampir 1 jam lebih dalam perjalanan, mereka telah sampai ke tempat tujuan. Junta terpaksa mengantarkan Bimo sampai ke rumahnya. Tanpa mampir, Junta pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya sendiri. Jarak dari rumah Bimo menuju rumah Junta hanya membutuhkan waktu 45 menit lebih jika tanpa kemacetan. Untunglah saat itu jalanan telah lenggang. Ia dapat melajukan motor bututnya dengan maksimal. Meskipun tidak seperti kebanyakan motor lain, yang jika digas poll bisa langsung ngebut kencang. Maklum motor Junta hanya motor bebek keluaran lama yang lajunya tak sekencang motor-motor matic saat ini. Tapi ia sangat mencintai motor bututnya itu. Motor penuh kenangan. Peninggalan ayah Junta yang telah tiada.
***
Junta telah sampai dirumahnya. Rasa letih yang teramat sangat membuat lelaki itu lekas membersihkan diri. Hingga tanpa menyentuh sedikitpun lauk yang tersedia dimeja makan, lelaki itu telah beranjak ke kamar tidurnya.
"Jun, gak makan dulu,Nak ?" tanya ibunya yang telah lanjut. Junta adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Adik nomor duanya perempuan bernama Syila, dan adik bungsunya adalah lelaki bernama Arjuna biasa dipanggil dengan Juna.
"Gak, Mak..Junta mau langsung tidur saja, besok Jun masih banyak kerjaan harus bangun pagi-pagi..",ucap Junta sekenanya.
__ADS_1
" Ya sudah kalo begitu...Istirahat yang nyenyak, Mak matikan lampunya ya...",jawab sang ibu pada anaknya tersebut.
Rasa letih teramat sangat membuat pria itu dengan cepatnya tertidur hanya dalam beberapa menit saja.
"Mas Jun...tolong mas...tolong...tolong mas...", ucap seorang wanita berambut panjang yang sudah tak asing bagi Junta beberapa hari ini. Wanita itu tampak terikat didalam sebuah ruangan pengap.
"Mas...tolong mas..bukakan ikatan ini...cepat sebelum orang itu datang mas..", ucap Amalia pada pria dihadapannya itu.
"Siapa..siapa mbak ? Dimana orang itu ?", tanya Junta yang tampak terkejut melihat gadis dihadapannya itu terikat tali dibagian kaki dan tangannya. Mulutnya yang tampak disekap dengan sebuah sapu tangan kumal tampak setengah terbuka karena upaya yang dilakukan gadis itu.
"Mbak...mbak...mbak tidak apa-apa ?bagaimana mbak bisa ada disini ?", tanya Junta kembali yang matanya tampak jelalatan memperhatikan ruangan dimana ia dan Amalia berada. ruangan itu tampak sangat redup hanya diterangi lampu kuning 5 Watt. Yang sesekali tampak berpendar kelap kelip seperti lampu yang hampir kehabisan energi. Tanda akan mati.
"Nanti saja, mas...saya jelaskan...tolong buka sekarang...",ujar Amalia kembali sambil menggerakkan tangannya yang terikat kebelakang dan kedua kakinya yang tertekuk terikat. Belum Junta melepaskan ikatan suara langkah kaki yang berat terdengar jelas dari luar pintu ruangan ini. Ia pun buru-buru melepaskan ikatan yang mengikat Amalia. Hingga tepat saat ikatan kakinya akan terlepas...Braaak..suara pintu terbuka dan saat itulah Junta terbangun dari mimpinya.
Lelaki itu mengusap-ngusap wajahnya. Jantungnya tampak masih berdegup kencang. Mimpi itu tampak nyata. Ia mengambil handphone yang diletakkan disisi meja samping tempat tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul 02.00 wib dini hari. Entah kenapa mimpi yang baru saja datang tampak begitu nyata baginya.
Ia teringat gadis wartawan itu.Wajahnya terngiang jelas dalam ingatan Junta saat ini.Tak biasanya ia memikirkan seorang gadis tengah malam begini. Junta membuka handphonenya sambil ia masih terbaring diatas kasurnya.
Ia membuka-buka inbox chatnya dengan gadis wartawan itu. Entah mengapa ada perasaan tenang sekarang. Apa yang baru dilihatnya tentang gadis ini hanyalah sebuah mimpi belaka yang tengah membangunkan tidur lelapnya.
Junta ingin memejamkan matanya kembali. Tapi, ia tak bisa. Akhirnya ia lebih memilih terjaga sambil otaknya mulai berpikir mengenai kasus yang ia tangani. Ia nyalakan lampu kamarnya. Junta mulai menyalakan laptopnya. Laptop yang telah ia miliki sejak zaman kuliah ketika ia duduk di bangku akpol. Ia merunut setiap informasi yang telah ia dapatkan. Menyusunnya menjadi sebuah skema yang mudah dibaca dan diingat.
Ia menuliskan fakta dan dugaan yang masih diragukan dalam kasus pembunuhan yang ia tangani ini. Tak lupa dalam skema yang ia buat, ia pun menuliskan rencana yang akan ia lakukan nanti bersama rekannya Bimo. Junta berkutat dengan laptopnya hingga tak terasa ia baru menyelesaikan semuanya beberapa menit sebelum adzan subuh datang.
***
Sedangkan nun jauh disebuah kamar kosan...
Amalia yang tengah terbangun dari tidurnya masih terduduk diatas ranjangnya tengah malam itu. Ia melihat jam telah menunjukkan pukul 01.00 wib dini hari.
Ia terjaga karena mimpi yang datang padanya. Ia melihat dalam mimpinya seorang pria tengah mengejar dengan sebilah pisau ditangannya. Ia tak tahu ada dimana. Pemandangannya begitu gelap. Lelaki itu mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hitam sehitam dan sepekat kondisi sekitarnya. Ia hanya melihat sebilah pisau berwarna keperakan mengkilat ditangan lelaki itu. Ia tak dapat melihatnya. Dalam mimpinya bagian kepala lelaki itu tampak sangat samar. Ia hanya dapat merasakan lelaki itu menyeringai kepadanya. Seringai jahat. Lelaki yang ada dihadapannya perlahan berjalan maju mendekati Amalia. Amalia mulai bergerak mundur hingga ketika ia memiliki kesempatan, ia pun memutarbalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin dalam gelap yang pekat. Dan...tak lama kemudian, ia pun terjaga dari tidurnya..
Sebuah mimpi datang kembali. Semenjak sebelumnya ia bermimpi mengenai si perempuan yang ternyata korban pembunuhan itu.
Aneh...tapi kali ini mampu membuat dirinya merasa takut tatkala ia terbangun. Entah kenapa disaat napasnya masih tersengal-sengal akibat mimpi itu, Amalia teringat wajah polisi muda itu. Ia dapat melihat wajah Junta dengan jelas dalam ingatannya. Junta bukanlah pria tampan. Tapi wajah karismatik dan menarik. Senyumnya menunjukkan kematangan dan kedewasaan melebihi usianya. Amalia mengurut-ngurut keningnya. Matanya perlahan ia pejamkan. Dan tak lama kemudian ia pun tertidur kembali.
__ADS_1
***