
Amelia telah berlalu dari restoran Tiam. Ia berjalan menuju rumah pak Darsim. Ia memang berniat membantu lelaki itu sekaligus ia mencari bahan cadangan untuk tulisannya. Kali-kali ia tak dapat mengangkat topik pembunuhan ini dan menjadikannya sesuatu yang menarik, ia memiliki cadangan tulisan untuk dikirim ke editornya.
Kegiatan pak Darsim dan Ayu serta mungkin kisah hidupnya menjadi sesuatu yang menarik menurutnya untuk diangkat pada kolom khususnya.
Amelia memilih ojek online untuk mengantarkannya ke rumah pak Darsim dari restoran Tiam. Selain karena waktu tempuh yang pasti lebih cepat dengan naik motor, padatnya lalu lintas ibukota bisa membuat jenuh bagi Amelia jika ia harus naik bus.
Tak sampai 20 menit ia telah sampai di gang sempit menuju rumah pak Darsim. Ia turun tepat didepan gang. Bukan hanya karena gang yang terlalu sempit, tapi ia takut jika abang ojek mengantarkannya hingga ke depan rumah, akan sangat sulit, karena banyaknya aktifitas dan anak-anak kecil yang bermain di gang sempit itu.
Ia mengetuk pintu rumah tersebut. Tak ada sahutan. Ia mengetuk kembali beberapa kali. Tetap tak ada sahutan.
Hingga...
Seorang tetangganya menoleh dari balik pintu rumahnya.
"Mbak cari siapa ?" tanya seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan.
"Cari pak Darsim, mbak..Tapi kok gak ada orang ya ?" tanya Amelia pada tetangga pak Darsim itu.
__ADS_1
" Oalah... mbak...pak Darsim hari gini bekerja...dan Ayu pergi ke sekolah.." jawab tetangganya kembali.
Ya ampun ..bodohnya si Amelia ini. Ya iyalah ini hari senin. Hari kerja. Kau kira pak Darsim tidak punya kerjaan dan Ayu tak sekolah!Bodohnya kau Amelia!,umpatnya pada dirinya sendiri itu.
"Hmm...pak Darsim kerja dimana ya mbak ?" tanyanya kembali.
"Hmm..pak Darsim gak tentu mbak...Tapi coba mbak cari dimesjid Al Fatah biasanya dia bekerja disana, atau kalau tidak ada biasanya ia sedang mulung mbak..pulangnya sore..Kalau Ayu nanti jam 1 siang biasanya ia sudah pulang sekolah kok...Pak Darsim memang gak tahu mbak mau ke sini ?" tanya tetangganya itu.
Amelia hanya menggeleng lesu. Kok bisa-bisanya ia gak kepikiran pak Darsim bekerja dan Ayu sekolah! huh! Bodoh! rasanya ia ingin memaki dirinya sendiri.
"Mbak gak punya nomor handphone pak Darsim ?" tanya tetangga itu kembali.
"Hmm...tunggu sebentar ya, mbak..Saya ada nomor handphone pak Darsim. Mbak mungkin bisa meneleponnya. Sebentar saya lihat dulu ke dalam.."
Amelia yang mendengarnya baru teringat. Oh iya ..pak Darsim kan megang handphone waktu pertama kali ia bertemu.
Hingga beberapa saat kemudian...
__ADS_1
"Ini mbak nomornya : 081398700286..coba mbak telepon aja.." ucapnya kembali.
Amelia tengah menekan tombol angka pada handphonenya beberapa saat. Kemudian ia mengucapkan terima kasih.
Ia masih berada didepan rumah pak Darsim. Duduk disalah satu tangga depan pintu rumahnya. Ia menelponnya.
"Assalamualaikum..." ucap Amel ketika sambungan telepon diangkat dari seberang sana.
"Waalaikumsalam..ini siapa ?" jawab suara diseberang sana dengan nada tegas.
"Hmm....ini saya Amelia pak..yang kemarin ke rumah bapak...Saya lagi didepan rumah bapak..tapi ternyata bapak tak ada dirumah. Tetangga bapak memberikan nomor ini ke saya...Begini pak kalau bapak tak keberatan saya ingin wawancara dengan bapak...untuk bahan tulisan saya seperti yang saya katakan kemarin ke bapak..." jawab Amelia pada lelaki tua itu dengan sesopan mungkin. Ia merasa tidak enak hati, takut mengganggu pekerjaannya saat ini.
" Hmm...nak Amel...bapak lagi mulung diluar..kalau nak Amel mau, nak Amel tunggu saja dulu dimesjid waktu itu. Nanti bada Zuhur bapak kesana.." ucapnya kembali.
"jadi bapak tak keberatan hari ini saya wawancarai bapak ? "tanya Amel dengan nada senang.
"Iya..gak apa-apa nak.." ucapnya.
__ADS_1
"Baik pak...saya tunggu bapaknya di mesjid kemarin kita ketemu ya..."jawab Amelia dengan antusias dan senang. Akhirnya tak sia-sia rencananya hari ini.