
"Selamat siang pemirsa "Kabar Berita Teraktual", kembali kami kabarkan mengenai kasus pembunuhan mantan TKW Hongkong sekaligus pemilik restoran Tiam,sampai saat ini belum ada tanda-tanda titik terang kasus ini. Pihak kepolisian belum menetapkan seorang tersangka pun dalam kasus pembunuhan ini. Konferensi pers yang telah digelar pada Selasa lalu, menyebutkan bahwa korban tewas dibunuh karena luka sayatan akibat benda tajam.."
"...tetapi hingga kini polisi belum menemukan barang bukti yang membunuh korban. Korban yang diketahui bernama Rumayyah adalah seorang janda tanpa anak..."
"...Dahulu korban adalah seorang mantan TKW di Hongkong. Kesuksesannya bekerja di sana, membuatnya membuka sebuah kedai makanan cina di kawasan bisnis di ibukota dengan nama Restoran Tiam. Restoran Tiam yang baru berdiri sekitar 2 tahun lebih ini, termasuk restoran yang viral dan ramai pengunjung. Kematian sang pemilik tentu menjadi sorotan umum karena tak disangka. Menurut para pegawai dan warga disekitar tempat tinggal korban yang juga TKP, menyebutkan bahwa korban adalah seseorang yang dikenal baik dan jarang bergaul dengan tetangga sekitar..."
Kamera tivi kemudian menyorot gambar rumah korban dan tampilan foto korban sekaligus pemilik restoran Tiam. Darsim yang tengah makan di sebuah warteg selepas ia pulang dari menukar hasil barang rongsokan yang ia dapatkan, nampak menyimak tayangan berita yang tengah ditampilkan di layar televisi 14 inch yang ada di warteg tersebut. Ia tampak sedikit terkejut melihat foto korban yang mirip dengan Mursidah mantan istrinya itu. Ia memang tak terlalu kaget dengan berita itu. Toh, ia sudah tahu perihal ini dari Amalia si jurnalis kenalannya itu.
"...polisi menyatakan hingga kini tak ada satu pun pihak anggota keluarga atau kerabat yang datang menghubungi pihak kepolisian menanyakan tentang korban. Menurut pihak kepolisian jika sampai hari ini tak orang yang mengakui korban, maka jenazah akan langsung disemayamkan esok pagi dengan layak sesuai agama yang tertera pada identitas diri korban di TPU Taman Bunga. Bagi pemirsa yang mengenal korban, dapat menghubungi pihak kepolisian secara langsung atau lewat call center di 08954765321.Sekian Kabar Berita Teraktual siang ini. Saya Melanie undur diri dari hadapan anda dan selamat siang", ucap pembawa berita.
Darsim terkejut dengan kalimat penutupnya. Haruskah ia datang ke kantor polisi dan menceritakan semuanya seperti yang telah ia ceritakan pada Amalia si jurnalis itu ?. Tapi ia ragu. Hanya ini seperti kesempatan terakhirnya menemukan keberadaan Mursidah mantan istrinya itu.Jika ia tak menemui pihak kepolisian, maka mungkin ia akan menyesalinya. Mungkin saja benar jenazah itu adalah mantan istrinya. Tapi mengapa namanya berbeda ? Mungkinkah Mursidah mengganti namanya demi menutupi pernikahannya dengan lelaki lain di Hongkong sana ? Darsim sedikit cemburu dengan prasangkanya itu selama ini. Setelah ia mendapatkan telepon dari lelaki yang mengaku suami baru istrinya itu. Darsim tampak sedikit bimbang. Tapi hati kecilnya seperti memaksa dirinya untuk menuju ke kepolisian. Melihat langsung jenazah korban. Memastikan betul-betul apakah itu Mursidah atau bukan.
Darsim ingat betul Mursidah memiliki sebuah tanda lahir berupa tompel hitam sebesar uang koin dibagian dalam paha sebelah kirinya. Jika ia bisa melihat mayat itu dari dekat, tentu ia bisa melihat dan memastikan apakah besar kemungkinan korban adalah istrinya yang selama ini dicarinya dan telah menghilang tanpa kabar.
Setelah menimbang beberapa saat, Darsim akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor polisi sekarang. Ia membayar makannya tersebut dan membungkus pula sebungkus nasi dengan sayur tauge serta lauk tahu seperti yang ia makan untuk Ayu,putri semata wayangnya dirumah.
Darsim berjalan dengan karung kosong disebelah tangan kirinya dan sebuah kantong plastik hitam berisi nasi bungkus ditangan kanannya. Ia berjalan menuju rumahnya.
Sesampai dirumahnya....
Selang beberapa menit, Darsim bebersih diri dan mengganti pakaian yang layak. Ia berniat berangkat ke kantor polisi. Selama ini Ayu tak pernah tahu mengenai kondisi Mursidah, ibu kandungnya itu. Gadis kecil itu hanya tahu ibunya telah meninggal semenjak ia berusia 5 tahun karena sakit keras.
"Nak, Bapak pergi keluar dulu sebentar ya...kau kunci pintu rumah. Kalau ada tamu tak dikenal jangan kau bukakan pintu. Diam saja dirumah sampai bapak datang..dan itu tadi bapak belikan makan siang untukmu. Kau makan ya..",ucap Darsim sebelum pamit pada anaknya itu. Ayu hanya mengangguk sambil mencium punggung tangan ayahnya itu. Ia menutup dan mengunci pintu selepas ayahnya pergi dan hilang dari penglihatannya.
***
Siang itu di kepolisian ...
Junta tampak sibuk dengan segala barang bukti yang ia kumpulkan dalam proses penyidikannya. Pagi tadi ia telah berkoordinasi dengan ahli IT mengenai foto yang ia dapatkan dari Amalia. Ternyata dugaannya benar. Menurut hasil uji kedua gambar foto tersebut menunjukkan indikasi bahwa itu adalah satu foto dari orang yang sama. Sayangnya, ia lupa menanyakan kontak narasumber pemilik foto yang diambil oleh Amalia. Untunglah Junta memiliki nomor handphone gadis itu. Ia menuliskan sebuah pesan text pada jurnalis itu tanpa banyak basa-basi. Sebuah pesan singkat memberitahukan mengenai hasil uji kedua gambar foto tersebut dan perihal kontak si narasumber tempat ia mendapatkan foto itu. Pesan sudah terkirim. Ia belum melihat tanda notifikasi pesannya dibaca oleh gadis itu.
Belum ada 10 menit dari ia mengirimkan pesan, seorang polisi di bagian informasi menelepon melalui sambungan ekstensi ke mejanya. Memberitahukan bahwa seorang lelaki yang mengaku mengenal Rumayyah,si korban pembunuhan ada di meja depan.
***
Junta menatap seorang lelaki berkulit gelap dengan garis wajah jelas menampakkan kerasnya kehidupannya dengan kepala dipenuhi uban. Lelaki itu tampak begitu sederhana.
__ADS_1
" Mas Junta, bapak ini mencari anda.." ucap seorang petugas dibagian meja informasi.
"Saya Junta, ada yang bisa saya bantu ?" ucap Junta dengan nada yang sangat sopan dan ramah.
"Eh...ii-iya..Pak..saya melihat berita mengenai korban kasus pembunuhan pemilik restoran Tiam. A-a anu pak..saya boleh lihat jenazahnya ? soalnya wajahnya mirip dengan istri saya yang hilang.."ucap Darsim tergagap-gagap karena saking gugupnya berhadapan dengan polisi muda dihadapannya itu.
"Boleh..tentu boleh pak. Kita duduk saja dulu disebelah sana.." ucap Junta menunjuk sebuah kursi tunggu panjang disudut ruangan. Mereka berjalan dan duduk disana.
" Kalau saya boleh tahu, nama bapak siapa ?" tanya Junta kembali.
"Anu...nama saya Darsim, pak.." ucap pak Darsim menjawab pertanyaan polisi itu.
"Darsim ?!! Maksud saya pak Darsim ?", ulang Junta tampak kaget. Bak pucuk dicinta ulam datang tiba-tiba. Mungkinkah lelaki ini yang namanya disebut korban dalam rekaman suara yang ia dapatkan dari dokter Anna ?.
"Kalau boleh tahu, tadi bapak bilang, istri bapak hilang ?"
"Ii-iya,pak..."
" Jadi...anda suaminya ? maksud saya saat istri anda hilang, anda masih berstatus sebagai seorang suami dari si korban ? Maksud saya saat itu anda belum bercerai ?" tanya Junta keheranan sekaligus penuh rasa ingin tahu.
"Hmm..bapak punya nomor kontak dan alamat yang bisa saya hubungi ? ",tanya Junta kemudian. Darsim mengangguk. Ia memberikan nomor handphone dan alamat rumahnya itu.
"Baiklah...mari saya antarkan ke kamar jenazah di gedung sebelah sana.." ucap Junta menunjuk kearah luar ruang gedung tempat ia berada. Mereka berjalan menuju sebuah gedung yang menyerupai gedung tadi. Tetapi yang membedakan, diatas gedung ini tertulis Laboratorium Forensik. Mereka memasuki gedung tersebut. Seorang petugas informasi didepannya hanya tersenyum melihat Junta berjalan dengan Darsim. Mereka menuju sebuah kamar dengan ruangan AC yang sangat dingin. Melebihi dinginnya AC diluar ruangan ini. Terdapat meja laci besar terbuat stainless tempat menyimpan mayat. Junta menariknya. Sesosok mayat tertutup kain hitam. Junta menariknya. Kini tampak mayat yang membeku dan telah membiru.
"Silahkan anda lihat dengan seksama pak Darsim, apakah ini istri anda yang hilang dan anda cari selama ini ?" ucap Junta sambil bergeser membiarkan lelaki itu melihat sendiri mayat yang telah terbujur kaku dengan luka sayatan dileher yang telah dijahit oleh dokter.
Darsim menatap wajah mayat itu. Jantungnya berdegup kencang.
"Bolehkah saya melihat anggota tubuh lainnya pak ? maksud saya bagian kaki kirinya. Karena istri saya memiliki tanda lahir berupa tompel hitam sebesar uang koin logam di paha bagian dalam sebelah kiri..",ucap Darsim menoleh pada Junta. Ia meminta izin persetujuan dari polisi itu untuk membuka bagian tubuh vital korban. Junta maju sambil menyingkap bagian kakinya yang tertutup kain. Ia menatap pak Darsim sambil mengangguk. Tanda mempersilahkan kepada lelaki itu untuk melihatnya. Darsim tampak sedikit gemetar memegang mayat yang sangat dingin dan telah kaku itu. Hingga matanya membelalak kala melihat apa yang ia cari ada didepan matanya. Sebuah tompel hitam terlihat dipaha dalam sebelah kiri korban.
" Benar, Pak !! ii..ini ada tompelnya. Saya yakin ini mayat istri saya.." ucap Darsim yang kini mulai terdengar suara sesenggukan yang coba ditahannya.
"Bapak...yang sabar ya...Untuk lebih detailnya nanti kita bicarakan diluar saja..",ucap Junta sambil mengelus punggung lelaki itu. Airmata mulai menetes dari kedua matanya. Junta membenarkan kembali posisi kain yang menutup mayat dan mendorong menutup lemari penyimpanan jenazah itu.
"Baiklah...Mari kita bicarakan lebih detailnya lagi diluar saja..".
__ADS_1
Darsim mengangguk mengikuti lelaki itu melangkah keluar ruangan yang sangat dingin. Hatinya terasa kosong dan hampa. Setelah sekitar 5 tahunan ia mencari keberadaan istrinya itu, kini ia harus berjumpa dalam keadaan seperti ini. Pikirannya kusut. Bahkan ia belum dapat berfikir. Junta memegang pundak lelaki yang tampak tua dari raut wajahnya itu. Mereka berjalan keluar gedung. Junta membawa Darsim ke kantin tempat biasa para polisi menikmati rehat sejenak.
" Ras..bikinkan aku kopi susu dan.."
"Pak Darsim mau minum apa ? Kopi, teh, air jeruk atau jus ?" tawar Junta ramah kepada lelaki disebelahnya itu.
"Teh manis hangat saja, pak.."
"Ras, tolong buatkan kopi susu hangat dan teh manis hangat sekarang ya...",ucap Junta pada pelayan kantin yang sudah sangat dikenal baik oleh para polisi disana.
"Baik, Mas Junta...saya buatkan segera..", ucap pelayan itu sambil mengangguk.
"Pak Darsim, bisakah anda menceritakan sesuatu tentang istri anda ? Maksud saya, anda bilang istri anda telah menghilang tanpa kabar ? bisakah anda kronologisnya pak ?", tanya Junta sambil berpindah duduk.Ia kini duduk didepan lelaki tua itu. Junta memang menyukai posisi duduk berhadap-hadapan agar ia dapat menatap wajah lawan bicaranya dengan jelas.
"Hmm...begini awal ceritanya pak..."
Darsim pun mulai menjelaskan kronologis cerita tentang pernikahannya dengan istrinya sampai ia pergi ke Hongkong untuk mendaftar menjadi seorang TKW disana. Hingga kemudian ia hilang tanpa kabar. Darsim memberitahukan segalanya kepada polisi muda itu. Begitupun perihal seseorang yang menghubunginya dan mengaku sebagai suami baru istrinya itu. Ia pun menceritakan tentang hal Ikhwal lelaki yang menghubunginya saat pertama kali polisi menemukan mayat wanita itu dirumahnya. Semuanya telah Darsim ceritakan tanpa ada satupun yang ditutup-tutupinya, seperti ia menceritakan kepada Amalia pada polisi muda dihadapannya itu.
"Hmm...begitu ya ceritanya..." ucap Junta pelan sambil mengangguk-angguk. Ia merekam semuanya dalam memori voice recorder di handphonenya.
"Maaf, tadi bapak bilang nama istri bapak Mursidah ?", tanya Junta kembali pada lelaki dihadapannya itu.
"Ya...namanya Mursidah,Pak. Itulah mengapa saya sempat ragu dengan korban...yang namanya berbeda dengan istri saya..." ucap Darsim termenung.
Tak selang lama kopi susu dan teh manis hangat yang telah disajikan sejak beberapa menit yang lalu telah habis diseruput oleh keduanya.
"Pak Darsim, boleh saya tahu nomor kontak dan alamat rumah anda ? Karena keterangan anda sangat berguna bagi kami dalam proses penyelidikan kasus pembunuhan istri anda ini..",ucap Junta kembali pada Darsim.
" Hmm...tapi pak...apa tidak apa-apa ?" ucap Darsim sedikit ragu. Ia takut kalau-kalau polisi muda ini datang dengan seragamnya, akan mencolok bagi lingkungannya. Dan...yang paling dikhawatirkannya si pria misterius yang menghubunginya..
"Maksudnya,Pak ?tentang si penelepon yang mengancam bapak ?" tanya Junta memastikan dugaannya itu.
"Pak Darsim, tak perlu takut..posisi bapak disini sebagai saksi dalam kasus pembunuhan ini. Jika ada sesuatu yang membahayakan, anda mendapatkan perlindungan dari pihak kepolisian..atau anda bisa hubungi nomor kontak saya langsung...",ucap Junta menenangkan pria dihadapannya itu. Sambil ia membuka dompet dan menyerahkan selembar kartu namanya pada Darsim.
***
__ADS_1